Andrew Lumban Gaol, street artist berusia 32 tahun asal Yogyakarta. Poster buatanya mengangkat kritik ekonomi, sosial, dan politik. Dikenal dengan inisial Anti-Tank, karakter karyanya nakal dan jenaka. Foto diambil pada Rabu, 31 Januari 2018 di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta.
Andrew Lumban Gaol, street artist berusia 32 tahun asal Yogyakarta. Poster buatanya mengangkat kritik ekonomi, sosial, dan politik. Dikenal dengan inisial Anti-Tank, karakter karyanya nakal dan jenaka. Foto diambil pada Rabu, 31 Januari 2018 di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta. Anang Zakaria / Beritagar.id
FIGUR

Medan perang Andrew Anti-Tank

Berkali-kali posternya dimusnahkan tapi ia tak kapok. Menurut dia, ruang publik harus direbut untuk kepentingan seni dan juga kritik.

Kalimat seperti apa yang tepat untuk menggambarkan kepedihan penggusuran?

Empat bulan lalu, Andrew Lumban Gaol harus memutar otak menjawab pertanyaan itu. Bergaul dengan warga Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarata, selama setahun terakhir membuatnya paham susahnya jadi orang tergusur.

Atas nama pembangunan bandara, rumah dan ladang warga dicabik-cabik traktor. "Tapi susah banget mau ngomong penggusuran," katanya.

Susah ngomong tak berarti diam. Lewat poster, ia bersuara.

Akhir Oktober 2017, ia menempel poster di dinding Jembatan Kewek. Jembatan yang menghubungkan dua stasiun di Yogyakarta, Tugu dan Lempuyangan.

Gambarnya, demonstrasi petani. Ada yang membawa cangkul dan hasil ladang, ada pula yang membawa pengeras suara. Sebait kalimat tertulis di bawahnya. "Penggusuran! Di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Selang sebulan setelah ditempel -- beberapa hari pasca aksi penggusuran yang tambah menjadi-jadi pada 27 November 2017 -- poster itu disabotase orang tak dikenal. Gambar petani utuh, teksnya terkelupas.

Andrew kecewa tapi berusaha rela. Lagi pula, ia sudah memperkirakan nasib posternya tak bertahan lama. "Sudah terprediksi," katanya, tertawa.

Kami bertemu Senin, 29 Januari 2018. Permintaan wawancara saya kirimkan melalui pesan singkat ke telepon genggamnya sepekan sebelumnya. Ia langsung menyanggupi tapi tak bisa segera memenuhi.

Bersama mahasiswa dan kelompok sipil demokratis di Yogyakarta, keterlibatannya dalam advokasi warga membuatnya wara-wiri Yogya-Kulonprogo. Hari itu kami bertemu di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta. Sejak tiga tahun terakhir, ia dekat dengan wartawan di sana.

Bermula pada 2014 mereka kerja bareng dalam kampanye pengusutan kematian wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin (Udin). Udin tewas dianiaya orang tak dikenal di depan rumahnya di Bantul pada 1996. Setelah 22 tahun berlalu, polisi tak mampu menemukan pelakunya.

Andrew membuatkan poster untuk AJI. Gambarnya wajah Udin dengan teks "Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita". Poster itu menjadi populer dan ikonik. Ditempel di dinding-dinding kota, dicetak di kaos.

Bagi dia, sulit membayangkan seniman yang mengangkat tema kerakyatan berjarak dengan massa yang dibelanya. Seperti reportase bagi jurnalis, seniman harus sedekat mungkin melihat persoalan di masyarakat.

Turun ke lapangan, lanjut dia, juga menjadi cara untuk mengasah keterampilan dan kepekaan terhadap realitas di masyarakat. Jika bangku kuliah menyediakan segudang teori dan tool, inilah saat uji cobanya. Seberapa manjur teori dalam praktik. "Ini semacam laboratorium," katanya.

Tanpa praktek, tak mungkin ada perubahan. Toh, seni tak mengubah dunia. "Music can't change the world because it can change people," katanya mengutip ucapan Bono, vokalis grup rock Irlandia, U2.

Tentu saja, manusialah yang mengubah dunia. Dan manusia bisa berubah karena seni.

Seniman Andrew Lumban Gaol berpose untuk Beritatar.id pada Rabu (31/01/2018) di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta.
Seniman Andrew Lumban Gaol berpose untuk Beritatar.id pada Rabu (31/01/2018) di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Dari Munir sampai Che Guevara

Andrew seorang seniman jalanan. Lazimnya street artist, ia memiliki sign khusus untuk karyanya. Ia memilih nama Anti-Tank untuk inisialnya dan huruf "A" anarki untuk logonya.

Lahir di Pematang Siantar, Sumater Utara, 32 tahun silam, ia bergabung dengan kelompok punk ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Di sinilah ketertarikannya pada gambar-menggambar muncul.

Meski terbilang kecil, komunitas punknya rutin menerbitkan majalah. Andrew bertugas mendesain majalah sekaligus menghiasnya dengan gambar-gambar.

Anti-Tank, yang kini menjadi tanda karyanya, sejatinya adalah nama yang ia usulkan untuk menamai band semasa SMA. Nama itu terinspirasi dari granat berpeluncur roket (anti-tank) yang mampu menghancurkan kendaraan tempur lapis baja. Sayangnya, nama itu ditolak teman-temannya.

Tahun 2005 ia hijrah ke Yogyakarta. Ketertarikannya pada desain dan gambar mengantarkannya kuliah di Modern School of Design Yogyakarta.

Poster pertamanya lahir pada 2008. Gambarnya pohon bonsai. Judulnya Too Many Bonsai Too Many Destruction. Ketika itu ia menyorot demam bonsai. Pohon-pohon yang semestinya bisa tumbuh membesar malah dikerdilkan oleh manusia.

Di tahun yang sama, ia mendesain poster bergambar wajah Munir Said Thalib, pejuang hak asasi manusia yang tewas dalam perjalanan ke Amsterdam pada 2004. Poster ini muncul sebagai respon poster Munir yang beredar kala itu. Bergambar wajah munir dengan latar belakang merah, di bawahnya bertuliskan "Keadilan Untuk Munir, Keadilan Untuk Semua".

"Itu gambar bagus tapi kalo diproduksi susah karena warnanya beragam," katanya.

Ia pun mendesain gambar serupa. Bedanya ini siluet. Cukup dengan hitam dan putih, lengkap dengan teks "Menolak Lupa".

Dalam sekejap, poster itu ngehits. Bentuknya lugas dan bisa diunduh bebas di blog Anti-Tank. "Aku ingin Munir ini seperti Che Guevara," katanya merujuk gambar Che karya fotografer Kuba, Alberto Korda.

Tak banyak orang tahu, mungkin, siapa Ernesto "Che" Guevara, dokter kelahiran Argentina, menjadi tokoh revolusi Kuba, dan meninggal di Bolivia. Tapi hari ini, kaos bergambar wajahnya dengan mudah ditemui di pasar tradisional hingga mall.

Orang akrab dengan "Che". Mereka tak ragu memakai kaos bergambar wajahnya meski ideologinya dibenci habis-habisan di negeri ini.

Seorang wartawan sedang menulis berita di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta, pada Kamis (01/02/2018). Tampak di dinding belakangnya terpajang poster-poster karya Anti-Tank.
Seorang wartawan sedang menulis berita di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta, pada Kamis (01/02/2018). Tampak di dinding belakangnya terpajang poster-poster karya Anti-Tank. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Begitulah Andrew mengenalkan Munir pada masyarakat. Ia mengajak orang meneladani perjuangan Munir.

Menurut dia, poster Munir itu adalah desain kedua yang ia buat. Poster pertama gambarnya sama. Hanya teksnya yang berbeda, "Orang Baik Pasti Dibunuh". Gagasan mengubah teks jadi "Menolak Lupa" muncul setelah ia tertangkap petugas Satpol PP Kota Yogyakarta.

Ceritanya, satu malam diam-diam ia menempel poster itu di jalanan. Apes. Serombongan petugas melintas dan memergoki. Andrew digelandang ke kantor. Diinterogasi, dituding merusak keindahan kota.

Pada Andrew, seorang petugas mengaku tahu itu gambar Munir. Ia mengagumi perjuangannya. Tapi petugas itu sedikit terganggu dengan teks yang tertulis. Kalimat "Orang Baik Pasti Dibunuh" dianggap terlalu keras dan frontal.

Penangkapan itu membuka matanya. Ia sadar kekuatan kata. "Saya bersyukur dengan penangkapan itu," katanya.

Kini, ia cenderung menghindari penggunaan kalimat keras dan konfrontatif. Misalnya, dibanding memakai "Lawan Penggusuran", ia memilih memodifikasi penggalan kalimat dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi "Penggusuran di atas bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

Pada karyanya yang lain, posternya muncul dengan "Bhinneka Tinggal Hoax" untuk menyorot marak dan bahaya kabar palsu. Ia pernah membuat poster "Ketuhanan Yang Maha Ormas" untuk mengkritisi tabiat ormas-ormas yang bertindak sok benar sendiri.

Pada kesempatan lain, ia membuat poster bergambar Abdurrahman Wahid. Presiden RI ke-4 itu digambar berpakaian motif bunga-bunga bertopi ala remaja lengkap dengan tulisan "Bring Back Peace".

Baginya, Gus Dur adalah tokoh pemersatu. Sosok dan pemikirannya dalam hal menjaga keberagaman Indonesia masih relevan hingga saat ini.

Nakal tapi jenaka. Itulah karakter poster Anti-Tank. Nakal karena ia kritis dan mengulik kesadaran. Jenaka karena membuat penikmat poster tersenyum ketika membaca teksnya.

Jika marah setelah membacanya, bisa jadi kritiknya mengarah ke Anda. Lihatlah poster buatannya beberapa tahun lalu. Bergambar Wakil Presiden Boediono dengan teks "Antara Ada dan Tiada".

Menurut dia, gagasan poster itu muncul spontan. "Pas di warnet baca-baca berita dengar lagunya Utopia," katanya merujuk lagu berjudul "Antara Ada Dan Tiada".

Judul lagu Utopia itu, muncul di album pertama mereka pada 2003, mengingatkan Andrew pada peran Boediono semasa mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Gara-gara irit bicara, muncul opini di masyarakat Boediono seperti ban serep.

Poster ini pernah bertebaran di penjuru kota Yogyakarta. Dari Jalan Mataram, Jalan Mangkubumi, sampai Jalan Solo. Bertahan beberapa saat hingga akhirnya poster itu hilang dalam sekejap. "Dihapus orang," katanya.

Seorang kawan mengirimkan foto pelaku penghapus poster itu. Seorang warganet juga menyampaikan informasi serupa melalui akun facebook. "Ternyata dihapus tentara," katanya. "Malam-malam satu truk bawa tangga membersihkan."

Toh, gambarnya hanya dihapus. Ia tak sampai mendapat ancaman atau tuntutan hukum.

Semasa pemerintahan SBY, kata dia, kritik tak selalu ditanggapi dengan kriminalisasi. SBY, lanjutnya, presiden yang mampu berbesar hati menghadapi kritik. Bahkan ketika kritik itu diarahkan padanya.

Salah satu poster Anti-Tank yang kritis terhadap SBY adalah "Maaf Presiden Sedang Rekaman, Jangan Diganggu". Teks itu melengkapi gambar podium kepresidenan yang kosong.

Poster itu muncul di tengah riuh pertarungan Cicak versus Buaya, perselisihan yang berujung pada kriminalisasi sejumlah pimpinan komisi anti-rasuah alias KPK. Di tengah hiruk pikuk semacam itu muncul kabar presiden meluncurkan album lagu. "SBY lebih slow menghadapi kritik," katanya.

Yang berkuping tipis akibat kritiknya justru ormas. Gara-garanya, melalui media sosial, Andrew mengkritisi pemakaian wajah Subcomandante Marcos dalam spanduk anti-LGBT yang terpasang di satu kawasan di Yogyakarta. "Itu konyol," katanya.

Marcos tokoh komunis Meksiko yang keras menolak penindasan. Pada siapa pun, di mana pun. Dalam satu catatan, ia pernah berujar, "Marcos is gay in San Fransisco, black in South Africa, a Palestinian in Israel" untuk mempelihatkan sikapnya pada kaum mustadh'afin.

Alih-alih, spanduk itu dikoreksi. Andrew malah dipersekusi.

Poster Anti-Tank bergambar Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid menempel di dinding pertokoan di Jalan Gayam, Yogyakarta. Foto diambil pada Kamis (01/02/2018).
Poster Anti-Tank bergambar Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid menempel di dinding pertokoan di Jalan Gayam, Yogyakarta. Foto diambil pada Kamis (01/02/2018). | Anang Zakaria /Beritagar.id

Sampah di sini, emas di sana

Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi, pernah bilang, siapa menguasai jalanan dia menguasai negara. Orang boleh membenci Hitler dan Nazi, tapi adagium itu mengejawantah di banyak sendi-sendi masyarakat hari ini.

Partai politik menggelar konvoi dalam kampanyenya, baliho bergambar produk komersial menjamur, organisasi kemasyarakatan unjuk massa di jalanan. "Ruang publik selalu menjadi rebutan. Ada pertarungan ide dan gagasan," kata Andrew.

Karya street art, apapun bentuknya, dari mural, grafiti, hingga poster, adalah upaya merebut kembali ruang publik itu. "Kalau kita enggak pakai, orang lain akan memakainya," katanya.

Karena tahu itu ruang publik, ia mengatakan, menjadi seorang street artist pun harus tahu diri. Tak seperti galeri indoor, karya mereka bisa rusak dan hilang sewaktu-waktu. Berganti dengan karya seniman jalanan lain, iklan komersial, atau malah jadi sasaran pembersihan petugas kota karena dianggap merusak keindahan.

Bagi Andrew, publik berhak menilai. "Sampah bagi sebagian orang bisa jadi emas untuk orang lain," katanya.

"Ruang publik selalu menjadi rebutan. Ada pertarungan ide dan gagasan."

Andrew "Anti Tank"

Suatu hari, sebuah surat mendarat di alamat surelnya. Pengirimnya, seorang ibu rumah tangga di Jakarta. Ia berkisah tentang liburannya di Yogyakarta. Ketika melintas di jembatan Janti, si ibu ini melihat poster Munir Menolak Lupa menempel di salah tiang.

Perempuan itu mengatakan tahu Munir, apa yang diperjuangkan, dan bagaimana meninggalnya. Di suratnya, ia mengungkapkan geram dan sesalnya. Betapa keji pembunuh Munir. Tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya sekadar ibu rumah tangga. "Ibu itu cerita poster itu mewakili perasaannya," kata Andrew, menceritakan isi surat itu.

Jika seni adalah keindahan, bukankah kisah ibu itu juga keindahan? Karya street art yang oleh sebagian orang dianggap perusak kecantikan kota, ternyata mampu mengekspresikan perasaan orang lain. Ia hadir sebagai keindahan dalam bentuk lain.

Lantas, mana yang lebih indah?

Terlepas dari perdebatan bentuk keindahan, bagi Andrew, salah satu tugas seniman adalah mempertanyakan kemapanan. Seperti ungkapan Banksy, inisial seorangstreet artist asal Inggris, yang populer di kalangan seniman jalanan. "Art should comfort the disturbed and disturb the comfortable."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR