Robi Navicula saat berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Ubud, Bali, Senin (25/2/2019).
Robi Navicula saat berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Ubud, Bali, Senin (25/2/2019). Wayan Martino
FIGUR

Melodi Robi Navicula untuk membela bumi

Robi Navicula merasa musik bukan cuma medium ekspresi pribadi, tapi juga wadah untuk berkampanye demi kelestarian lingkungan.

Dengan bertopang dua kruk, Gede Robi Supriyanto memasak sendiri di rumahnya pada Senin sore (25/02/19).

Vokalis sekaligus pentolan band grunge psychedelic, Navicula, tersebut menggoreng ikan asin. Pun membuat kuah sayur rebung--irisan daging bambu--khas Bali. Dia ditemani Palel Atmoko, penabuh drum Navicula. Palel membantu menyiapkan piring dan nasi.

Robi melengkapi masakannya dengan sambal roa botolan siap saji. Sambil bersantap bareng Palel, Robi bercerita soal sayur rebung yang dia masak.

“Ini sayurnya pakai tiying tabah, bambu endemik Tabanan yang sekarang dikembangkan juga di tempat lain termasuk Bangli. Tiying tabah agak berbeda dengan bambu jenis lain. Makanya sampai diekspor ke Jepang,” kata Robi menyebut jenis bambu dengan nama latin Gigantochloa nigrociliata tersebut.

Usai makan, Robi beranjak ke meja. Masih dengan penyangga kaki, yang telah dua pekan belakangan menuntunnya. Dia pakai itu karena kaki kirinya habis dioperasi.

Pasalnya, tulang telapak kakinya, terutama bagian jari kelingking, patah. Gara-gara aksi panggung. Dia meloncat saat menjalani sebuah konser.

Walau cedera, Robi tetap menghadiri beberapa pertunjukan Navicula. Bahkan mempromosikan Pulau Plastik, serial dokumenter terbaru yang dia bikin dan pandu.

Setelah dua kali batal bertemu untuk wawancara--semuanya akibat berbenturan dengan jadwal perawatan pascaoperasi kaki--akhirnya Robi pun menerima saya di rumahnya di Desa Nyuh Kuning, Ubud, pada Senin (25/2).

Selama lebih dari dua jam suami dari Lakota Moira itu bercerita tentang pelbagai hal: mulai pengalamannya tinggal (ngubu) di kebun kopi, musisi yang mempengaruhi, hingga kegelisahannya terhadap masa depan Bali.

Sarat protes

Dalam bionya di Twitter dan Instagram, Robi menyebut dirinya musisi dan petani.

Atribut pertama muncul karena dia mendirikan Navicula, kelompok musik yang juga diisi Dadang S.H. Pranoto (gitar), Palel Atmoko (drum), dan Krishna Adipurba (bas).

Sejak berdiri pada 1996, band tersebut masyhur lewat lirik-lirik lagunya yang tajam menombak isu lingkungan, politik, korupsi, untuk menyebut beberapa.

Pada pertengahan Februari lalu, band yang sudah mengeluarkan delapan album ini juga meluncurkan single untuk menolak Rencana Undang-Undang (RUU) Permusikan. RUU dimaksud dianggap rentan memberangus kebebasan berekspresi. Navicula sendiri termasuk anggota Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan.

Robi Navicula di antara musik dan lingkungan /Beritagar ID

Protes Navicula dalam lagu berjudul "Dagelan Penipu Rakyat" itu sangat tebal:

Kau gila, bisa kau memutar logika massa
Ku jadi gila, karena mencoba membuat waras dunia
Penguasa, suka manipulasi janji surga
Etika, integritas adalah sesuatu yang langka

Bila gedung rakyat dijajah pendusta
Maka hanya ada satu kata dari kita
Lawan

Kecaman sedemikian lazim pada lagu-lagu Navicula. Simak saja misalnya "Orang Utan", yang merespons maraknya pembunuhan orangutan untuk membuka lahan kelapa sawit. Atau "Mafia Hukum", tembang yang menyoroti kriminalisasi atas seorang aktivis lingkungan

Robi membidani kelahiran melodi dan lirik-lirik Navicula yang sarat kritik itu. Namun, dia tak sekadar menyanyi. Bapak satu anak ini juga aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan, termasuk pertanian dengan sistem permakultur.

Dia satu dari sedikit orang Indonesia yang menjadi pengajar permakultur resmi dan bersertifikat. Robi pun salah satu aktivis lokal yang pernah belajar langsung dari Vandana Shiva, seorang tokoh gerakan antiglobalisasi dunia.

Lelaki bertarikh lahir 1979 itu juga bilang masih bertani di kampung halamannya di Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali, daerah sejuk penghasil kopi robusta nan berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Denpasar. Halaman di rumahnya ditumbuhi sayur-mayur seperti cabai, tomat, dan lain-lain.

Tinggal di kebun

Kesadaran dan kepedulian Robi pada lingkungan, terutama pertanian, tak muncul begitu saja. Dia mengaku bahwa pertanian permakultur sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.

Ketika masih SMA, Robi sering dipaksa bapaknya untuk bekerja di kebun jika minta sesuatu.

“Kalau aku mau minta sepatu Doc Martens, misalnya, ya aku harus bekerja di kebun kopi. Awalnya merasa terpaksa, tetapi kemudian menikmati. Aku jadi merasa lebih dekat dengan kebunku,” kata Robi.

Salah satu cara hidup petani Bali adalah tinggal berbulan-bulan di tengah kebun. Istilahnya ngubu. Sebagai anak desa pada saat itu, Robi pun melakukan hal sama bersama kakeknya.

“Itu membuat pengetahuanku tentang pertanian berkelanjutan itu aku dapatkan dari praktik,” lanjutnya.

Hemat Robi, sistem pertanian tradisional adalah keseimbangan. Dalam penemuan dan praktik. Jika menginginkan sesuatu, petani akan membudidayakannya sendiri.

Dia ingat bahwa kakeknya, Ketut Pegeng, yang lebih akrab dipanggil Pekak Jaling, memilih untuk menanam lerek untuk mandi daripada jalan 2 km untuk membeli sabun di desa lain.

“Ada romantisme di kebun pada waktu itu. Orang-orang di kampung seperti kakekku tipikal orang-orang yang mempraktikkan zero carbon. Kalau mau merokok, ya, harus nanam tembakau sendiri. Kalau mau makanan bervariasi, ya, tanam lebih bervariasi,” katanya.

Gede Robi Supriyanto saat berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Ubud, Bali, Senin (25/2/2019)
Gede Robi Supriyanto saat berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Ubud, Bali, Senin (25/2/2019) | Wayan Martino

Tak hanya menerapkan laku zero carbon, pola hidup semacam itu, menurut Robi, juga lekat dengan langgam DIY--akronim dari do it yourself--yang menjadi jargon anak-anak indie kiwari. Prinsip langgam itu, alih-alih menyewa jasa profesional, hal-hal tertentu lebih baik dilakukan sendiri.

Pengalaman masa kecil tersebut kemudian sangat mempengaruhi Robi untuk peduli pada lingkungan dan pertanian.

“Pengetahuan seperti itu tertanam di kepalaku. Bahwa kemewahan pertanian itu bisa terjadi jika ada keseimbangan,” ujarnya.

Belajar dari Vandana Shiva

Saat masih kuliah di Jurusan Pariwisata, Universitas Dhyana Pura, Bali, Robi kian intim dengan dunia aktivisme. Dia bergaul dengan beberapa mahasiswa yang memang paham isu pertanian, lingkungan, dan pariwisata berkelanjutan.

Bersama teman-temannya, dia mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Bali Ecotourism Care (BEC).

“Iseng-iseng saja meskipun kami tidak tahu bagaimana menjalankannya. Ha-ha-ha,” kata Robi.

Bagi Robi dan kawan-kawannya, BEC hanya menjadi semacam pakaian kelembagaan jika mereka akan hadir di acara-acara ihwal lingkungan dan pertanian. Sebagai aktivis LSM, mereka bisa hadir tanpa harus membayar. Saat itu, akses bagi mereka sungguh mahal.

Keterlibatannya dalam jagat aktivisme semakin intens saat menjadi sukarelawan IDEP, sebuah LSM di Bali yang dari awal berfokus pada pertanian permakultur. Dalam sebuah penugasan di Timor Leste, Robi bertemu ahli permakultur tropis, Lachlan McKenzie. Kerja sama mereka terus berlanjut ketika di Bali.

“Begitu melihat panduan permakultur, aku langsung teringat semua pengetahuan dan pengalaman dari kakekku di kampung dulu,” kata Robi.

Dia lalu terlibat menyusun buku panduan pertanian permakultur yang diterbitkan IDEP Tugasnya menyunting dan membuat ilustrasi.

Robi memutuskan belajar lebih serius tentang permakultur, termasuk kursus bersertifikat dari dua ahli permakultur Australia, John Champagne dan Robyn Francis.

Dia bahkan termasuk satu dari sedikit orang Indonesia yang pernah belajar dari aktivis terkemuka, seorang juru kritik globalisasi dan Revolusi Hijau, Vandana Shiva.

Robi beroleh peluang itu ketika bersama sepuluh pegiat pertanian organik Indonesia--salah satunya pengelola pesantren ekologi di Garut, Jawa Barat--mendapatkan beasiswa belajar tentang pertanian organik di Navdanya University.

“Di sana kami lebih banyak belajar ideologi. Kami belajar buku-bukunya dia. Bagaimana melihat pertanian tak sekadar tanam bibit tumbuh taoge, tetapi juga bagaimana sistem di baliknya,” ujarnya.

Momen itu dia reguk untuk memperdalam kecakapan analisisnya atas sistem global di balik pertanian ataupun lingkungan. Di sisi lain, dia juga terus memperluas jaringan: tidak hanya di kalangan seniman, tetapi juga aktivis lingkungan dan pertanian.

Menyebarkan kepedulian

Berbekal pengalaman sebagai petani dan aktivis lingkungan, Robi memanfaatkan kemampuannya di bidang musik.

Waktu berumur 13, dia mulai belajar main gitar. Robi tergabung dalam band ketika berseragam putih abu-abu. Selagi duduk di bangku SMA pula dia mulai terpapar dengan segala yang menyangkut musisi penggerak perubahan seperti John Lennon dan Joni Mitchell.

John Lennon pentolan grup Inggris, The Beatles. Salah satu karya besarnya lagu "Imagine". Menurut Robi, di antara hal yang bikin Lennon keren adalah kemampuannya menggerakkan orang untuk beraksi menolak Perang Vietnam.

Akan hal Joni Mitchell, dia penyanyi Kanada terlibat konser amal pada 1970 yang ditujukan untuk membantu peluncuran misi Greenpeace.

“Ini ‘kan gagasan-gagasan keren bagi seorang Robi yang saat itu masih ABG,” kata Robi merujuk pada dukungan Lennon dan Mitchell untuk perubahan. “Maka begitu aku bikin lagu, ada semacam ilham. Semacam gagasan. Kayaknya di Bali belum ada yang khusus mengangkat isu lingkungan dalam musiknya. Cuma ya ekosistemnya belum terbentuk. Jadi yang bangga, ya, kita-kita saja".

Saat Robi baru memulai pada 1996, isu lingkungan belum menjadi topik arus utama. Karenanya, banyak orang belum bisa mengapresiasi karya-karya mereka saat itu.

Namun, 20 tahun lebih setelah Navicula intens menyuarakan berbagai isu lingkungan lewat lagu, isu ini kian menjadi perhatian.

Ini setimpal dengan posisi Bali sebagai titik hubung internasional. Pariwisata massal memberikan tekanan lebih besar pada masyarakat dan lingkungan. Padahal, secara kultural, Bali memiliki nilai-nilai khas yang penting bagi keseimbangan lingkungan.

Tentang ini, Robi fasih menerangkan. Dia mencontohkan tempat sembahyang umat Hindu Bali (padmasana) sebagai simbol keseimbangan. Situs yang menyimpan Bedawang Nala sebagai simbol Bumi. Agar tetap seimbang, ia dijaga dua naga, yaitu Anantaboga sebagai simbol kemakmuran, dan Taksaka sebagai simbol kecerdasan.

“Artinya, Bumi bisa seimbang jika dijaga dengan kemakmuran dan kecerdasan,” kata Robi.

Bagian lain dari padmasana adalah Karang Bhoma sebagai simbol hutan, Gajah Mina sebagai simbol laut, dan Garuda sebagai simbol udara. Di atasnya baru ada Wisnu sebagai simbol manusia.

Maknanya, menurut Robi, manusia harus menjaga keseimbangan hutan, laut, dan udara agar dapat hidup dengan layak.

“Cara Bali mengajarkan ya begitu itu. Simbolik. Tidak bertutur,” ujarnya.

Robi menyayangkan nilai-nilai semacam itu kini tak saja kian tak dipahami, tetapi juga tidak diterapkan dalam pembangunan di Bali.

”Karena tidak terjadi transfer of knowledge. Orang mau praktis saja,” ujarnya.

Dia mengambil misal ritus odalan yang biasa berlangsung di Pura. Tujuan upacara itu sebenarnya membersihkan makrokosmos.

"Tetapi kalau sampah plastik makin banyak--sampai tiga kali lipat--saat odalan, ya kita harus bertanya ulang: masih perlukah odalan?" katanya.

Sebagai seorang musikus, Robi merasa bertanggung jawab untuk terus menarasikan dan mengampanyekan nilai-nilai lokal yang penting bagi keseimbangan lingkungan dalam karyanya. Melalui melodi, Robi mengajak agar orang lebih peduli pada Bumi.

Robi Navicula berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Ubud, Bali, Senin (25/2/2019)
Robi Navicula berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Ubud, Bali, Senin (25/2/2019) /Wayan Martino
BIODATA Diperbarui: 01 Maret 2019

Gede Robi Supriyanto

Tempat lahir:
Palu, Sulawesi Tengah

Tanggal lahir:
7 April 1979

Pekerjaan:
Musikus, aktivis, penulis, petani

Pengalaman:
Vokalis/Gitaris band Navicula (Juli 1996 - sekarang)
Direktur Utama PT Akarumput (2011 - sekarang)
Co-Host Viva Barista (2015 - sekarang)
Scoring/Soundtrack untuk Film&TV (2013 - sekarang)

Pencapaian:
2016: Asia Young Leader Award, Asia Society
2016: Sosok Kompas bulan ini, Harian Kompas
2014: Rolling Stone Indonesia, editors choice award for Rock Ambassador (Navicula)
2013: GIN (Global Issues Network) Conference Bali Co-founder
2012: First winner of RØDE Rockers International Competition (Navicula)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR