Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Tebet Square pada Kamis (18/7/2019).
Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Tebet Square pada Kamis (18/7/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Memori Andjas Asmara dengan Kempes, Cruyff, dan Eusebio

Kenangan hampir setengah dekade lalu membawa Andjas pada kesenangan, kebanggaan, sekaligus kekecewaan. Harley menjadi tempat pelampiasannya kini.

Panjang jarak itu paling hanya sekitar 45 meter. Namun, bagi Andjas Asmara, jarak tersebut layaknya ia berjalan dari Jakarta hingga Surabaya, Jawa Timur. Berlangsung lama, dengan kondisi mental yang tegang, dan penuh emosi.

Ia seperti ragu untuk melangkahkan kakinya di hadapan lebih dari 120 ribu penonton di Stadion Utama Senayan, yang kini berubah nama menjadi Gelora Bung Karno.

Tarikh terjadi pada 26 Februari 1976. Andjas bersama tim nasional sepak bola Indonesia tengah menghadapi detik-detik yang menegangkan untuk meraih tiket ke Olimpiade 1976 di Montreal, Kanada,

Syaratnya sederhana, tapi sulit untuk ditunaikan. Yakni, mengalahkan Korea Utara di babak final kualifikasi Olimpiade zona Asia Grup 2.

Waktu pertandingan 2x45 menit menghasilkan skor 0-0. Pun, saat memasuki babak tambahan waktu, 2x15 menit, skor masih kaca mata. Laga pun harus menapak babak adu penalti.

Di sinilah perasaan Andjas tadi terjadi. Tiga penendang pertama Indonesia, Iswadi Idris, Junaedi Abdillah, dan Waskito, berhasil memperdaya penjaga gawang Korut, Jin In Chol. Penendang keempat, Oyong Liza, gagal menunaikan tugasnya.

Andjas pun maju sebagai algojo kelima. Tendangan Andjas ke sisi kiri gawang, mampu ditangkap oleh Chol dan membuat Indonesia kalah dengan skor akhir 3-4. Indonesia pun gagal melangkah ke Montreal.

"Peristiwa itu tak mungkin bisa saya lupakan. Saya kecewa luar biasa sampai sekarang," kata Andjas penuh emosi. "Saat saya jalan dari tengah untuk mengambil tendangan, seperti perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, lama dan tegang."

Pada dekade 1970-an, persepakbolaan Indonesia bisa dibilang tengah berada dalam salah satu masa jayanya--selain pertengahan tahun 1950-an hingga 60-an. Dan, pada dekade 70-an itu, Andjas menjadi salah satu pemain andalan tim Merah-Putih.

Tim yang menjadi lawan tanding Indonesia bukanlah klub ecek-ecek. Benfica, Ajax Amsterdam, Manchester United, hingga raksasa Amerika Selatan seperti Independiente serta Santos menjadi sparring partner Indonesia. Pun negara macam Denmark.

"Kami saat itu mainnya sangat cepat. Lawan-lawan dari Asia kami libas. Kalau pun kalah, skornya paling 1-0 atau 2-1, tidak pernah telak," ucap Andjas menceritakan bagaimana Indonesia saat itu menjadi barometer sepak bola Asia.

Penampilan Indonesia kala itu, tak lepas dari polesan dua pelatih asing: Wiel Coerver dan Tony Pogacnik. Coerver menangani skill individu pemain, sedangkan Tony berurusan dengan teknik permainan.

Andjas masih ingat betul pesan yang disampaikan Coerver kepada anak asuhnya. Pelatih asal Belanda itu selalu mengingatkan untuk tidak pernah takut dengan siapa pun lawannya. "Kalian punya hak yang sama dengan siapa pun," begitu petuah Coerver.

Rangkaian kata itulah yang sepertinya benar-benar dipegang Andjas sampai saat ini. Andjas bukanlah tipikal orang yang takut dengan siapa pun. Ia akan berbicara apa adanya, sejauh yang ia yakini.

Wejangan Coerver plus darah Medan-nya yang membuat Andjas kerap tampil meledak dan apa adanya di muka media. Andai tak suka, dia akan bilang apa adanya.

"Tapi nanti kau saring lah omonganku. Aku memang keras ngomongnya, tapi untuk kebaikan, khususnya sepak bola Indonesia," pintanya kepada saya dan Muammar Fikrie, dari Beritagar.id, Senin (15/7/2019).

Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Senin (15/7/2019).
Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Senin (15/7/2019). | Raudhatul Jumala /Beritagar.id

Perjumpaan dengan pemain dunia

Dunia sepak bola memang sudah lekat dengan Andjas sedari kecil. Sang ayah, Umar Bin Chatab, adalah pemilik klub Medan Utara. Maka tak heran, kala berojol pada 30 April 1952 di Medan, Sumatra Utara (Sumut) ia sudah karib dengan si kulit bundar.

Waktu beranjak, dan kegemarannya dengan bola sepak tak luntur. Masalahnya adalah, tingkat kedisiplinan. Ia bukan lah pria yang berjalan lurus untuk menekuni kariernya itu.

Hobinya mengendarai sepeda motor, melek semalam suntuk, hingga meminum alkohol menjadi beberapa kelemahan dia dalam hal disiplin. Apa pun, toh dia tetap mahir bermain bola.

Sehingga pada 1968, dia masuk ke dalam tim PSMS Junior. Setahun berselang, ia menjadi skuat PSMS Junior untuk mewakili Sumut di ajang Piala Suratin di Jakarta.

Capaiannya itu sebenarnya bukan tanpa aral. Bisik-bisik masyarakat Medan berujar bahwa keberhasilan menjadi skuat PSMS Junior tak lepas dari peran sang ayah. Kesal tentu saja, tapi ia menolak untuk tunduk pada gunjingan itu.

"Saya sempat sakit hati dengan ucapan-ucapan itu," ujarnya. "Pada 1970 saya pindah ke Jakarta dan bergabung dengan PS Jayakarta, anggota klub Persija Jakarta."

Hidup merantau dan jauh dari kebiasaan buruknya di Medan membuat kemampuan bermain bola Andjas semakin terasah. Sebagai gelandang tengah, ia menjadi penjelajah lapangan bagi PS Jayakarta yang tak kenal lelah mengejar bola.

Sesumbarnya, "VO2max (jumlah maksimal oksigen yang diproses oleh tubuh manusia) saya sampai 7.000. Cristiano Ronaldo VO2max-nya juga di angka 7.000-an," katanya. "Dari kecil saya selalu lari marathon."

Benar atau tidaknya jumlah VO2max tersebut mungkin hanya dia saja yang tahu, atau segelintir lainnya. Namun, soal kemampuannya yang beranjak naik, bukan sesumbar. Dari waktu ke waktu, ia menjadi bagian penting dari timnya, Persija, dan timnas.

Periode 1973 hingga jelang 1980-an, ia kerap menghiasi skuat Merah-Putih. Mulai dari kualifikasi World Cup, Merdeka Cup, hingga kualifikasi Piala Asia pada masa-masa itu, Andjas kerap menghiasi Skuat Garuda.

Pada saat itulah Indonesia sering melakukan lawan tanding dengan klub-klub besar Eropa mau pun Amerika Selatan. Dan, ia serta tim selalu bertemu dengan pemain-pemain kelas dunia.

Johan Cruyff, Eusebio da Silva Ferreira (Eusebio), hingga Mario Kempes, adalah beberapa nama besar yang pernah dia hadapi. Bertanding melawan tim kelas dunia yang bermaterikan pemain kelas wahid membuat kemampuan dia dan tim meningkat.

"Melawan mereka membuat skill kita terasah. Jadi kita tambah percaya diri. Itu penting,' kata Anjas. "Kami tidak pernah merasa kecil melawan mereka. Coerver selalu menanamkan rasa berani ke kami."

Dari pertandingan melawan pemain-pemain tersebut, yang paling berkesan adalah Cruyff. Di mata Andjas, Cruyff adalah jenderal sejati di lapangan sepak bola. Ia mampu mengorganisasi tim dengan baik, bermain cepat, dan lihai.

"Dia jenius, cepat dan meledak mainnya. Driblenya oke banget dan cerdas. Jenderal lapangan sejati dia," kata Andjas, yang kala bermain berposisi sebagai gelandang.

Andjas memang memberikan ruang spesial dalam ingatannya kala bertanding melawan Cruyff. Namun, bukan berarti pengalaman-pengalaman melawan pemain besar lainnya tak cukup spesial.

Salah satunya adalah, kala bertukar baju dengan beberapa di antara mereka. "Kita (saya) pernah ngobrol dengan mereka. Kita juga main bareng dan tukar-tukeran baju," kata Andjas.

Sayang, karier sepak bola Andjas terhitung pendek. Dia memutuskan pensiun kala berusia 30 tahun. Penyebabnya adalah, cedera di kaki kanannya, kala Persija bertemu Arseto FC di sebuah laga pada 1979.

Sejatinya, cedera itu sudah ia obati di tanah air. Namun, kondisinya tak berangsur pulih, hingga akhirnya ia memutuskan ke Belanda untuk berobat. Bak palu godam, dokter yang menanganinya di sana memvonis Andjas untuk pensiun dari dunia sepak bola.

"Operasinya yang di Indonesia salah. Saya bawa ke Belanda. Dokternya bilang 'Yang operasi Anda siapa?' saya jawab, profesor di Indonesia. Ini salah operasi dan Anda tak boleh bermain bola lagi," katanya.

Andjas menerima vonis itu dengan besar hati. Vonis itu pula yang membuat Andjas menjadi salah satu pemain yang unik. Yakni, hanya membela satu klub sepanjang kariernya, yakni Persija.

"Dulu banyak yang nawarin saya (pindah klub). Tapi mau bagaimana, nggak boleh keluar," ucapnya.

Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Senin (15/7/2019).
Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Senin (15/7/2019). | Raudhatul Jumala /Beritagar.id

Muda dengan suara motor

Andjas merupakan pribadi yang akan bicara apa adanya, meledak-ledak, dan terkadang emosional, terlebih kala berbicara mengenai perkembangan sepak bola Indonesia saat ini. Namun, ia memiliki satu sisi yang akan sangat rapat untuk ditutup.

Yaitu kehidupannya di luar sepak bola saat ia aktif menjadi pemain profesional. Ia tak ingin kehidupannya di luar sepak bola diketahui banyak oleh publik. "Soal sepak bola saja. Di luar itu nanti malah berantem," ucapnya tanpa merinci lebih jauh kata terakhir.

Di masa mudanya, Andjas merupakan pemain yang memiliki kelebihan selain bermain sepak bola: fisiknya. Wajahnya cenderung tirus, hidung mancung, matanya agak bulat.

Semua itu, dipadukan dengan rambutnya yang selalu gondrong sebahu, khas pemuda di era 70-an hingga 80-an. Tak salah bila menyebut dia sebagai pria flamboyan di masanya. "Rambut gue nggak pernah pendek. Biar jadi ciri khas aja," ucapnya.

Kini semua itu telah termakan usia. Rambut dan jenggotnya memutih. Kerut kulit sudah memenuhi wajahnya. Semua ini bisa dimaklumi, mengingat usia Andjas kini menginjak 67 tahun.

Namun, ia menganggap usia hanyalah angka. Dia seolah menolak untuk tunduk pada waktu, paling tidak dalam semangat. Untuk itu, ia mencoba untuk tetap muda dengan menyalurkan hobinya sejak remaja: naik motor.

Motor yang Andjas pilih saat ini adalah Harley Davidson, si kuda besi yang sudah menemaninya selama 15 tahun terakhir. Andjas memiliki dua Harley yang bersamanya pada akhir pekan, jenis fat boy dan goldwing.

"Suara Harley yang menggelegar itu seperti membuat saya awet muda," ucapnya.

Satu dekade lalu, Andjas kerap berpergian hingga ke Medan atau Bali. Untuk aspal Jawa, sudah tak terhitung berapa kali ia lintasi. "Dulu suka touring-touring. Ke Medan, Bali, atau Jawa. Pulang kan 'digendong'," katanya.

Waktu lah yang memberi kesempatan, waktu pula lah yang membatasinya. Di usianya kini, Andjas dilarang oleh keluarga untuk melakukan perjalanan jauh. Ia bukan lagi Andjas muda yang liar. Permintaan keluarga pun ia turuti.

"Sekarang paling akhir pekan saja kumpul dengan teman-teman HOG (Harley Owners Group)," ujarnya.

Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Tebet Square pada Kamis (18/7/2019).
Andjas Asmara tengah berpose untuk Beritagar.id di kawasan Tebet Square pada Kamis (18/7/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Catatan redaksi: Ada perubahan judul setelah kami mengkonfirmasi ulang narasumber. Nama Pele dihapus dan diganti Kempes
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR