Seniman dan musisi Marzuki Mohamad alias Kill The DJ berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/02/2019) di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan.
Seniman dan musisi Marzuki Mohamad alias Kill The DJ berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/02/2019) di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
FIGUR

Memori purba Kill The DJ

Ia bercerita soal perjalanan karier, diving, pilpres, dan "Jogja Istimewa".

Kaget. Itu yang ia rasakan ketika tahu lagu ciptaannya "Jogja Istimewa" dipakai untuk kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 pada pertengahan bulan lalu. Lebih terkejut lagi saat ia mendengarkan liriknya.

"Aku hampir muntah loh. Pengen tak banting hape pas dengernya," kata Marzuki "Kill The DJ" Mohamad pada Rabu (06/02/2019).

Secara moral dan spiritual ia sangat dirugikan. Apalagi saat ia melihat banyak pihak memanfaatkan kasus tersebut menjadi ranah dukung-mendukung antara paslon 01 dan 02.

Padahal, menurut dia, ini urusan etika. "Ketika kamu memakai karya orang lain, harusnya minta izin. Manner is matter," ujar pria yang kerap dipanggil Zuki itu.

Baginya, membuat karya seni, termasuk "Jogja Istimewa", seperti melahirkan anak. Jadi, kalau ada yang mencederainya, ia pasti akan marah.

Ia telah membawa kasus itu ke kepolisian. "Prosesnya masih penyidikan lebih lanjut," katanya.

"Jogja Istimewa" tercipta bertepatan ketika masyarakat Kota Gudeg menuntut keistimewaan Yogyakarta di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sempat terjadi demonstrasi besar di sana ketika itu dan lagu ini pun berkumandang di jalanan.

Tapi pada 2014, selama dua tahun Zuki puasa dengan tembang tersebut. Ia kecewa. Keistimewaan Yogyakarta yang seharusnya dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat tak terbukti.

"Yang istimewa seharusnya bukan status politik saja tapi membuktikan keistimewaannya," ujarnya kepada Sorta Tobing, Wisnu Agung Prasetyo, dan Tri Aryono Maelite.

Sebagai respon kekecewaan tersebut, Zuki lalu membuat lagu "Jogja Ora Didol". Artinya, Yogyakarta tidak dijual. Ia mengkritik cara pemerintah setempat dalam mengelola kota.

Selama satu jam kami berbincang dengannya di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan.

Ia berbicara soal perjalanan kariernya dari mulai menjadi desainer grafis, perupa hingga musisi.

Saat kami tanya profesi mana yang paling nyaman melekat padanya, ia menjawab, "Seniman aja deh," kata Zuki tersenyum. Berikut kisahnya.

Seniman dan musisi Marzuki Mohamad alias Kill The DJ berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/02/2019) di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan.
Seniman dan musisi Marzuki Mohamad alias Kill The DJ berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/02/2019) di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Gamelan dan shalawatan

Ia lahir dari keluarga petani sederhana di sebuah desa dekat Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Letaknya berbatasan dengan Yogyakarta.

Selain bekerja sebagai petani, ayahnya juga seorang guru agama. "Waktu kecil saya lebih banyak belajar agama," kata anak keempat dari lima bersaudara itu.

Tapi musik dan seni menjadi kesukaannya. Ia masih ingat ketika Sekolah Menengah Atas, waktunya lebih banyak untuk berkesenian.

Zuki sering bolos sekolah dan memilih menggambar. Kegiatan teater dan membuat desain majalah sekolah lebih sering ia kerjakan ketimbang tugas dari gurunya.

Setelah lulus SMA, ia mendirikan biro desain grafis. Ia tak sempat kuliah. Tapi dari sini ia berkesempatan mengerjakan proyek besar.

Ia pernah membuat poster dan logo Jogja-NETPAC Asian Film Festival. "Film-film Garin Nugroho beberapa kali aku bikin," kata pria berusia 42 tahun yang akan berulang tahun pada 21 Februari ini.

Di saat yang sama, Zuki juga berkarya sebagai perupa instalasi dan musisi elektronik. Ia sempat diundang ke Eropa untuk menampilkan karyanya.

"Saya nggak pernah belajar musik."

Zuki "Kill The DJ"

Berhasil di skena seni kontemporer, pada 2003, ia mendirikan Jogja Hip-Hop Foundation. Awalnya, ia sekadar ingin mengumpulkan musisi skena hip-hop di sana yang sedang berkembang. Zuki juga tak ingin hip-hop ala Jawa mati suri.

Lalu ia tertarik membuat grup musik hip-hop sendiri. Ia mencoba bikin lagu dan lirik. Nama panggungnya, Kill The DJ. Personil lainnya yang aktif bergabung saat itu, yaitu G-Tribe, Rotra, dan Jahanam.

Ia banyak bereksperimen dengan musik, padahal buta nada. Komputer dan perangkat lunak menjadi alat bantunya.

Alunan gamelan Jawa dan lantunan shalawatan ia masukkan. Tujuannya semata untuk menampilkan budaya Jawa yang ia kenal dari kecil. "Saya nggak pernah belajar musik," ujarnya.

Proyek awal Jogja Hip-Hop Foundation adalah mengubah puisi menjadi lagu. Teks Serat Centhini yang sensual, salah satu yang Zuki nadakan.

Ada dua album yang berhasil muncul dari proyek ini, yaitu Poetry Battle 1 dan Poetry Battle 2. Nama Jogja Hip-Hop Foundation kemudian melambung dan dikenal hingga dunia internasional.

Tanpa perhiasan bling-bling, tapi berkemeja batik, mereka berhasil tampil di panggung hip-hop Amerika Serikat dan Eropa. Pesinden Soimah aktif manggung bersama Jogja Hip-Hop Foundation, sebelum akhirnya ia lebih popular muncul di acara televisi seperti sekarang.

Seniman dan musisi Marzuki Mohamad alias Kill The DJ berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/02/2019) di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan.
Seniman dan musisi Marzuki Mohamad alias Kill The DJ berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/02/2019) di Lawless Burger Bar, Jalan Kemang Selatan VIII Nomor 67K, Bangka, Jakarta Selatan. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Mitologi laut

Sejak 2012, Zuki memilih kembali ke desanya. Semua bermula ketika ia pulang dari East to West Tour di AS bersama Jogja Hip-Hop Foundation.

"Selama perjalanan pulang saya cuma berpikir untuk hidup di lingkungan lebih sepi, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk," katanya.

Ia mendapatkan itu di Klaten. Tapi menemukan tantangan lain, yaitu memberi nilai tambah ke lingkungan sekitarnya.

Dari situ, ia tertarik mengembangkan sektor pertanian. "Dulu saya setiap hari diajak ke sawah. Itu seperti memori purba yang memanggil-manggil saya," ujar Zuki.

Awalnya, ia membuat kelompok tani muda. Proses mengajak anak-anak muda untuk menjadi petani tak ia lakukan dengan cara konvensional.

"Mereka sering nongkrong di rumah, mabuk. Saya kasih hal-hal yang nggak masuk di pikiran mereka, malah seneng banget," katanya tertawa.

Beberapa kali panen padinya gagal, tapi lebih banyak yang berhasil. Sampai sekarang pun Zuki mengaku belum untung dari penjualan beras yang ia beri nama Anarkisari. Yang penting, menurut dia, para petani mendapatkan haknya.

Selain bertani, ia sekarang menggandrungi olahraga menyelam alias diving. Ia memulainya pada 2014 karena dipaksa oleh pacarnya.

Sebenarnya Zuki tipikal orang Jawa yang percaya dengan mitologi laut yang seram, contohnya Nyi Roro Kidul. "Dulu kalau lihat laut biru yang dalam dan kosong, saya takut. Nggak ngerti batasan dalamnya," katanya.

Ia sempat panik pas awal mencoba. Tapi ketika ia memberanikan diri melihat dunia laut, Zuki malah kecanduan. Baginya, menyelam seperti semadi.

"Saya melihat dunia yang berbeda dari apa yang ada di permukaan," ujarnya. "Tak ada manusia-manusia menyebalkan dan peradaban sombong."

Pasca gonjang-ganjing lagunya terpakai dalam kampanye, Zuki pergi ke Raja Ampat. Selama delapan hari ia menyelam di sana.

Pulang dari Papua, ia kembali dihadapkan masalah baru gara-gara kemunculan Rancangan Undang-Undang Permusikan.

"Aku nggak ngerti orang yang bikin draft seperti itu," kata Zuki. "Sangat otoriter dan berbahaya."

Ia khawatir kebebasan berekspresi akan terbelenggu. Kontrol negara atas musisi menjadi kuat. Mau nyanyi jadi pakai aturan. Tapi ia tak mau terlalu ikut campur dalam masalah ini.

Sama halnya dengan urusan pemilihan presiden, Zuki tak lagi terlibat dalam kampanye seperti pada 2014. Padahal dulu ia sampai membuat lagu khusus untuk Joko Widodo.

Ia mengaku pilihannya masih sama dengan lima tahun lalu. "Aku pilih Jokowi supaya Prabowo tidak menang karena dia punya ketidakjelasan masa lalu. Demokrasi itu mencegah hal terburuk terjadi," katanya.

Zuki "Kill The DJ", cerita tentang istimewanya Jogja /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR