Agen pemain sepak bola Indonesia, Mulyawan Munial berpose untuk Beritagar.id di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2018).
Agen pemain sepak bola Indonesia, Mulyawan Munial berpose untuk Beritagar.id di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2018). Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Muly Munial dan inspirasi Jerry Maguire

Mulyawan Munial termasuk agen atlet berpengaruh di Indonesia. Beberapa nama beken, terutama sepak bola, menjadi anak asuhnya.

Pertemuan dengan Mulyawan "Muly" Munial di lobby lounge sebuah hotel berbintang lima di Jakarta sore itu mengingatkan kami pada sebuah adegan dalam film Jerry Maguire.

Dalam fragmen pembuka film, Jerry Maguire, sang tokoh utama, digambarkan menyapa dan menyalami beberapa atlet bintang Amerika Serikat yang ditemuinya.

Muly pun memberikan gestur serupa. Di tengah perbincangan dengan kami di Hotel Sultan, dia acap kali meladeni sapaan sejumlah pemain sepak bola.

Hanya saja, dia tampil kasual. Di badannya cuma melekat kaus berkerah keluaran Under Armour. Sedangkan Maguire, yang dimainkan aktor beken Tom Cruise, bergaya perlente dengan jas.

Bukan cuma sikap serupa dari keduanya yang membuat benak kami melayang pada film produksi Hollywood yang dirilis pada 1996 tersebut. Pula kesamaan profesi mereka. Baik Muly maupun Maguire sama-sama bekerja sebagai agen atlet.

Memang, tempat kami berbincang hari itu, Kamis (28/2/2019), sedang ramai. Hotel Sultan menjadi lokasi awal tim sepak bola nasional mengarak Piala AFF U-22 dari Kamboja.

Hotel pun kian ramai karena di saat bersamaan, PT Liga Indonesia Baru menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Muly tak menjadi bintang utama dalam riuh pesta dan rapat di hotel itu. Sama seperti Maguire yang fotonya dipotong menyisakan seperempat badannya. Hanya pemain American football dan pemilik klub yang muncul dalam foto utama sebuah koran.

Posisi sedemikian sejalan dengan pengantar Jerry Maguire dalam filmnya: Sosok agen atlet memang selalu berada di belakang layar olah raga.

Tak salah pula kisah Jerry Maguire menjadi inspirasi bagi perjalanan karier Muly. Pemegang gelar master bisnis dari Universitas Bond Australia itu terjun ke dunia agen atlet sejak tahun 2000. Empat tahun setelah film Jerry Maguire beredar luas.

Padahal, dia bisa saja berada di atas 'panggung'. Sebab, Muly terbilang agen atlet berpengaruh di Indonesia. Beberapa nama beken, terutama sepak bola, menjadi "anak asuh"-nya. Di antaranya Bambang Pamungkas.

Sekarang, dia menangani 60 pemain sepak bola. Enam di antaranya mengisi tim U-22 yang menjadi juara di Kamboja. Banyaknya pemain di bawah keagenan Muly itu sempat memunculkan tudingan pemain titipan Muly.

"Kalau saya titip pemain, artinya mencoret idealisme untuk merah putih," ujarnya. "Bola itu tidak bisa titip-titipan pemain."

Selain sepak bola, Muly pun menggarap atlet cabang olahraga lain seperti badminton, bola basket, dan lari.

Belum lagi kalau bicara sosok bintang sepak bola internasional. Muly menjadi sosok di balik kedatangan Cristiano Ronaldo ke Indonesia pada 2005.

Lelaki kelahiran Medan itu pun pernah mendatangkan Rio Ferdinand, Cesc Fabregas, Jose Antonio Reyes, dan Pep Guardiola.

Lagi-lagi, kebintangan tak ingin dia sambar. Muly teramat meresapi peran di belakang layar sehingga tak mau menjadi sasaran bidik kamera.

"Cek aja di Google. Tidak ada foto saya yang seperti model," katanya kepada Yandi M. Rofiyandi, Nunung Nur, dan fotografer Bismo Agung.

Dia lebih nyaman berbicara panjang lebar ketimbang lima menit berpose di depan kamera. Setelah berbincang sekitar dua jam dan mesti menjalani sesi pemotretan, Muly terbilang sulit diarahkan.

Agen pemain sepak bola Indonesia, Mulyawan Munial berpose untuk Beritagar.id di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2018).
Agen pemain sepak bola Indonesia, Mulyawan Munial berpose untuk Beritagar.id di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Tahajud dan pemain beken dunia

Tahun 2010 menjadi momen yang paling sulit dia lupakan. Ketika itu, Spanyol menjadi Juara Dunia. Muly telah menjalin kerja sama dengan Fernando Torres untuk menjadi bintang iklan sebuah produk rokok.

Penyerang tim nasional Spanyol itu tak bisa datang ke Indonesia. Muly dan agen Torres akhirnya menyetujui pengambilan gambar dilakukan di Liverpool. Sehari sebelum pengambilan gambar, agen Torres belum memberikan kepastian.

Muly hampir lempar handuk. Putus asa. Sampai malam ia menanti kabar dari agen Torres. Muly kemudian salat malam. Bertahajud.

"Pas salam, telepon berbunyi dan mengabarkan Torres siap," katanya.

Setahun berikutnya, kejadian serupa terjadi ketika berurusan dengan Francesc Fabregas. Sehari sebelum syuting, Cesc, yang ketika itu bermain di Arsenal, cedera.

Muly pergi salat duha. Tak berapa lama, tim Cesc mengabarkan cederanya masih bisa diatasi sehingga masih bisa syuting untuk produk biskuit.

Beres syuting iklan, Cesc diagendakan untuk datang ke Indonesia. Cobaan kali ini datang dari keluarga Muly. Ketika mau tanda tangan kontrak, ayah Muly masuk rumah sakit. Di Inggris, Muly hanya tanda tangan lalu pulang lagi ke Indonesia.

"Bapak saya meninggal itu pas tanda tangan kontrak Fabregas," ujarnya.

Torres dan Cesc adalah dua bintang sepak bola dunia pernah didatangkan Muly ke Indonesia. Ada deretan pemain beken dunia lain yang mampir ke Indonesia.

Cristiano Ronaldo yang memulai jejak sukses Muly dalam urusan mendatangkan para bintang sepak bola ke tanah air.

Ketika mendatangkan Ronaldo pada 2005, Muly perlu berjuang. Ia menerima konfirmasi dari manajemen Ronaldo di dini hari.

Ronaldo sanggup datang ke Indonesia. Penyerang asal Portugal itu lalu menyempatkan datang ke Aceh yang baru diterjang tsunami.

Selama rangkaian kunjungan itu, Muly melihat raut muka tak bersahabat dari Ronaldo. Ia pun menelisik ke sejumlah orang dekat Ronaldo. Muly baru tahu ternyata Ronaldo agak jutek karena dikasih tahu manajernya akan liburan di Indonesia.

Dalam bisnis mendatangkan pemain, Muly menganggap kredibilitas sangat penting. Ia pernah datang ke New York, Amerika Serikat hanya untuk meminta maaf.

"Kalau kredibilitas saya hilang, ya sudah tidak ada yang mau lagi," katanya.

Agen pemain sepak bola Indonesia, Mulyawan Munial berpose untuk Beritagar.id di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2018).
Agen pemain sepak bola Indonesia, Mulyawan Munial berpose untuk Beritagar.id di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2018). Beritagar.id /Bismo Agung
BIODATA Diperbarui: 11 Maret 2019

Mulyawan Munial

Tempat tanggal lahir:
Medan, 1 Agustus 1974

Pendidikan:
- S1 Keuangan, Universitas Bond Australia
- S2 MBA Marketing Manajemen, Universitas Bond Australia

Karier:
- 1997: Pegawai Bank
- 2000: IMG (International Management Group)
- 2002: Pendiri perusahaan sports agency/marketing PT For You Indonesia
- 2002: Pendiri perusahaan sports agency/marketing Munial Sport Group

Pencapaian:
- Mendatangkan Christiano Ronaldo 2005, Fernando Torres 2010, Jose Antonio Reyes 2010, Francesc Fabregas 2010-2012, Rio Ferdinand 2011, Edwin Van Der Sar 2012.
- Agen dan manajer 60 pemain sepak bola Indonesia.

Passion dan pemain muda

Muly menghabiskan masa SMA di Australia. Di Negeri Kanguru itu, Muly menggandrungi olahraga seperti tenis dan sepak bola. Kegandrungan terhadap olahraga itu terus dalam kariernya sekarang.

Passion. Muly menyebutkan satu kata itu untuk kariernya. Baginya, kata itu memberikan motivasi untuk terus terjun sebagai agen olahraga.

Ia ingat, ketika memulai bisnis pada tahun 2000, ibunya pernah bilang, "Kamu kuliah jauh-jauh kerjaan seperti ini, seharusnya kamu sudah menjadi direktur".

Pernyataan ibu Muly itu menggambarkan pandangan masyarakat kebanyakan bahwa agen olahragawan bukan profesi mentereng. Bekal passion, kepercayaan diri, dan totalitas membuat Muly terus menjalani bisnisnya.

Muly melihat bahwa dunia keagenan olahraga akan terus berkembang. Olahraga telah menjadi bagian dari tayangan hiburan dengan berbagai gemerlapnya. Ia percaya olahraga di Indonesia pun akan terus melaju, mengikuti perkembangan dunia.

Adalah Bambang Pamungkas, bintang sepak bola Indonesia, yang menjadi klien pertamanya. Setelah itu, ia mengembangkan sayap dengan mendatangkan pemain top dunia.

Pemain bintang dunia dan nasional sudah dilewati Muly. Sekarang ia mengkhususkan menjadi manajer pemain muda. Setidaknya bakal calon bintang dalam pengamatannya.

Meyakinkan pemain muda untuk mau bekerja sama dengannya bukan perkara mudah. Ia tahu, awalnya banyak pemain yang enggan bergabung dengannya. Pangkalnya adalah pikiran bahwa kehadiran agen bakal mengurangi penghasilan.

Masih banyak pemain yang punya pandangan begitu. Penghasilan pemain Rp100 juta, misalnya, akan dipotong untuk agen sehingga menjadi Rp90 juta.

Padahal, kata Muly, pemain seharusnya bisa berpikir lebih jauh. Bahwa seorang agen bisa memungkinkan mereka mendapat Rp200 juta. Dipotong komisi agen sekitar 10-15 persen, angkanya jelas masih lebih menguntungkan.

Berbagai pendekatan dilakukan Muly. Termasuk ihwal longgarnya kesepakatan kontrak.

"Ya sudah, kita tak usah bikin kesepakatan," ujar Muly. "Kamu lihat cara saya kerja bagaimana. Kalau kamu nyaman, kita pacaran dulu deh."

Hingga saat ini, ada 60 pemain sepak bola, di tangan Muly. Mayoritas pemain muda. Selama menjalankan bisnis keagenannya, Muly bisa disebut berperan sebagai bapak angkat. Tak heran, tempat tinggalnya sering dijadikan markas pemain sepak bola. Di antara yang kerap berkunjung, Hanif Sjahbandi, Bagas Adi Nugroho, dan Gavin Kwan Adsit.

Muly 24 jam membuka celah komunikasi bagi anak asuhnya. Agen, kata Muly, menjadi perisai anak asuhnya. Kalau ada apa-apa sama pemain, agenlah yang maju.

Baginya, pemain harus melihat peran agen dalam membantu mendapatkan hak-haknya. Muly bahkan memberikan konseling para pemain muda dalam mengembangkan karier dan mempersiapkan masa pensiun.

"Bukan mau menyombongkan diri, saya ini MBA, tahu sedikitlah," kata Muly.

Muly pun bermimpi standar pemain di Indonesia bisa setara dengan pemain di Eropa, dan mereka dapat bermain di luar negeri. Dalam pandangan Muly, pemain Indonesia harus belajar dari berbagai negara sehingga lebih kaya pengalaman.

Ia mencontohkan, satu pemain dikirim ke Inggris, Italia, Brasil, Argentina, dan lain-lain. Setelah itu, mereka akan berbagi pengalaman dan ilmunya. Untuk itu, Muly rela membiayai training anak asuhnya.

"Saya sampai jual mobil buat mereka training ke luar negeri," kata Muly. "Tapi sekali lagi yang saya kerjakan karena ini hobi."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR