Najwa Shihab

Penulis: Heru Triyono
Fotografer: Bismo Agung Sukarno

“Sudah waktunya memulai pertualangan baru”

Najwa Sihab Najwa Sihab Najwa Sihab Najwa Sihab Najwa Sihab Najwa Sihab Najwa Sihab Najwa Sihab

Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno

Nana--begitu perempuan mata belok ini disapa--merasa mujur bisa terjun ke alam jurnalistik. Di alam ini ia jadi punya beragam pengalaman.

Pengalaman paling diingat adalah ketika berebut wawancara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan di Bandara Soekarno-Hatta, Januari 2000. Nana, yang statusnya masih magang di sebuah stasiun televisi, justru diberi kesempatan bertanya lebih dulu.

Padahal, banyak jurnalis senior yang mengacungkan tangan lebih lekas darinya. "Itu karena saya kasih kode senyum manis ke om yang duduk di samping Annan," kata Nana tertawa.

Menteri Luar Negeri Alwi Shihab yang duduk di sebelah Annan adalah pamannya. Kode senyum ke sang paman ternyata tokcer--sehingga ia dipilih untuk bertanya.

Saat itu, sesi tanya-jawab amat singkat, sehingga banyak media luar dan lokal memakai pertanyaannya untuk dimuat. Isunya adalah pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur. "Saya juga tanya soal Wiranto," ujarnya. Wiranto saat itu merupakan Panglima Tentara Nasional Indonesia.

Nana mulai menaruh cinta pada jurnalistik ketika kuliah hukum di Universitas Indonesia. Kala itu ia dapat peluang magang selama tiga bulan di PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dari Desember 1999 hingga Februari 2000. Selanjutnya, ia berkarier di Metro TV selama 17 tahun.

Bermula sebagai reporter dan pembaca berita sejak 2000, Nana dipercaya menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV pada 2011. Ia menggantikan Makroen Sanjaya. Nana merupakan reporter pertama di televisi berita tersebut. "Kartu karyawan saya saja bernomor 001," katanya.

Dalam perjalanan kariernya, Nana memiliki acara talkshow sendiri. Namanya Mata Najwa. Di acara itu ia bertanya-tanya kepada tamu tentang suatu tema. Mulai dari politik, ekonomi sampai soal seni dan hiburan. Namun, tayangan itu telah berhenti 30 Agustus silam.

Beberapa pihak menghubungkannya dengan tamu terakhir yang diwawancara Nana di Singapura: Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. "Saya rasa tidak ada hubungannya dengan Novel ya," ujar dia.

Jagat maya pun ribut ketika Nana mengumumkan wawancara Novel merupakan tayangan live terakhirnya. Hal itu ia sampaikan melalui akun Instagram-nya @najwashihab. Menurutnya, Metro TV dan pihaknya sepakat untuk tidak memperpanjang kontrak.

"Sebenarnya saya sudah tak lagi jadi karyawan Metro TV sejak tahun lalu--setelah tak lagi menjabat wakil pemimpin redaksi," kata Nana saat wawancara dengan Fajar WH, Heru Triyono, Kania Luthfiani dan fotografer Bismo Agung. "Sudah waktunya memulai petualangan baru," ia menambahkan.

Bagaimanapun, Metro TV adalah tempatnya menimba ilmu. Nana punya banyak kenangan di sana. Mulai dari nongkrong di teras belakang, hingga kebiasaannya melahap soto ayam dan mi instan di warung depan kantor--saban hari--selesai liputan. "Itu kenangan enggak terlupakan," katanya.

Meski sementara mundur dari layar kaca, kesibukan Nana tetap tak berkurang. Status sebagai Duta Baca yang diembannya sejak 2016 menuntutnya keliling Indonesia. Bertemu pegiat literasi, komunitas penerbit dan juga penulis.

Kini, ia mengaku tengah negosiasi dengan beberapa televisi. Hal itu dilakukan sembari menimbang pindah ke medium lain seperti digital. Konsepnya tak jauh beda: mengasuh program berbincang dengan nama yang sama, yakni Mata Najwa.

"Saya berdiskusi juga dengan Antonny Liem (CEO MCM Group) soal platform yang akan dipilih nanti," kata perempuan berusia 40 ini.

Pagi itu, Nana memakai gaun hitam sebetis dengan wajah dirias tipis. Dengan suara cempreng dan tempo bicara cepat, ia berbagi kisah kepada Beritagar.id mulai dari isu jadi menteri, dapurnya Mata Najwa hingga independensi berbusana di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).

Narasi adalah perusahaan manajemen produk dan konten. Di antaranya Mata Najwa. Nana merupakan salah satu pendirinya.

Najwa Shihab di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
Najwa Shihab di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
© Bismo Agung Sukarno

Dipanggil Mbak Metro

Sebenarnya cita-cita Nana adalah pengacara. Namun ketika magang di RCTI, cita-citanya tadi buyar. Di RCTI, ia belajar banyak dan menikmati bagaimana cara memburu sumber. "Kadang sampai pulang larut malam," ujarnya.

Pulang malam jadi kebiasaan Nana. Tugasnya sebagai jurnalis kerap memaksanya kerja sampai larut. Terkadang, hanya sempat tidur ayam, dan kembali bangun keesokan paginya.

Tidur ayam ini juga ia lakukan ketika meliput tsunami Aceh, tiga belas tahun lalu. Baru sebentar tidur, tiba-tiba semuanya berguncang karena gempa susulan. Itu terjadi berulang. Untuk jaga-jaga, Nana tidur dengan pakaian lengkap, termasuk memakai sepatu dan tas ransel dipelukan. "Sehingga bisa lari sewaktu-waktu," katanya, lantas tertawa.

Hari pertama tiba di Aceh, dirinya syok. Nana melihat ratusan jenazah berjajar seperti ikan pindang. Ia sampai meminta tisu basah ke rekannya karena bau mayat menyengat. Tetapi, pada hari berikutnya, ia malah akrab dengan mayat. Bahkan kerap menumpang truk yang mengangkut jenazah.

Di sana, Najwa mengalami trauma. Ia tak berani membuka telepon selulernya karena banjir pesan pendek dari warga yang minta pertolongan. Teleponnya sampai rusak. Waktu itu, warga memanggilnya dengan sebutan "Mbak Metro".

"Kalau anak saya sampai meninggal, itu tanggung jawab Mbak ya, karena tidak mengecek ke rumah," begitu salah satu isi pesan pendeknya.

Liputannya di Aceh itu memperoleh penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, yakni Hari Pers Nasional Award dan Reporter Televisi Terbaik. Tapi, ia juga banyak dapat kritik tajam. Ia dianggap melanggar asas jurnalistik, ketika terlibat emosi dengan peristiwa yang dilaporkan.

"Tangis saya tidak dibuat-buat. Minimal menumbuhkan empati dan mendorong bantuan kemanusiaan ke Aceh," kata Nana.

Dari liputan tsunami itu pemirsa televisi semakin akrab dengan sosok Nana. Puncak kemasyhurannya adalah ketika ia memainkan peran kunci dalam membentuk identitas dan pengembangan acara bercakap-cakap Mata Najwa--selama tujuh tahun.

Tetapi, program itu telah berhenti Agustus lalu. Kedua pihak, baik itu Metro TV dan dia, sepakat untuk tidak memperpanjang acara itu lagi. Nana juga sudah tak lagi jadi karyawan Metro TV sejak tahun lalu--setelah tak lagi menjabat wakil pemimpin redaksi.

Dasar mundurnya Nana adalah ia ingin mencoba berkarya di medium lain, yang bukan cuma di televisi, melainkan digital.

Ia merasa format digital itu menarik. Bahkan Nana sudah rutin siaran setiap Rabu pukul 20.00 WIB di Facebook dan Instagram. Rencananya akan dilakukan secara reguler tiap pekan dengan berbagai format. "Nama programnya tetap Mata Najwa," tuturnya.

Nana optimis dengan eksperimen itu, meski ia tahu, kebanyakan orang Indonesia masih dapat informasi dari televisi. Tetapi ia percaya, isi program yang bagus akan tetap menarik minat orang.

Mundurnya Nana ini menuai spekulasi. Selain dikaitkan wawancaranya dengan Novel, juga dikabarkan karena ia mempersiapkan diri masuk kabinet Presiden Joko Widodo. Nana disebut-sebut bakal mengisi posisi Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa.

Karena spekulasi itu ia didatangi beberapa orang untuk melobi. Bahkan sudah ada pihak yang mengirim dokumen-dokumen untuk dipelajari jika jadi menteri sosial. "Lucu kan, saya tanggapi dengan tawa saja," katanya.

Najwa Shihab di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
Najwa Shihab di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
© Bismo Agung Sukarno

Dapur Mata Najwa

Nana ingat betul edisi pertama Mata Najwa yang tayang 25 November 2009. Judulnya: Dunia dalam Kotak Ajaib. Waktu itu Mata Najwa menyoroti fungsi edukasi televisi untuk masyarakat. Ia mengundang pengamat televisi yang kritis Galih Nugroho, untuk bicara terbuka mengenai dosa-dosa televisi.

Rasa deg-degan yang tak karuan menyelimuti Nana pada edisi itu. Padahal ia dinilai cukup sukses. Yang jadi beban adalah karena atribusi nama. Ada rasa khawatir kalau saja program itu tidak berhasil--notabene tertera nama dia di program tersebut. "Perasaan sama saya rasakan sekarang ketika hendak memulai sesuatu yang baru juga," katanya.

Nana banyak mendapat ilmu dari Mata Najwa. Ia jadi tahu bagaimana memburu sumber dan menyusun strategi menghadapi politisi yang jago berkelit. Ia sudah siap dengan riset kuat, rekaman verbatim dan informasi valid dalam menghadapi tamunya.

"Yang terang, bukan cuma riset Google saja," ujar pengidola Rachel Anne Maddow, pemandu acara talkshow The Rachel Maddow Show di MSNBC ini.

Menurut Nana, riset kuat akan membuatnya terus punya peluru untuk bertanya. Ia juga selalu menyusun sendiri daftar pertanyaan. Sementara data-data dipasok dari tim riset.

Untuk penentuan topik, semuanya dilakukan lewat rapat redaksi yang digelar seminggu tiga kali. Topik yang potensial akan dibahas dan diperdebatkan. Tetapi keputusan akhir tetap ada pada Nana. "Prinsipnya, kita mau Mata Najwa itu mengajak orang untuk berani bicara, berani beda, antikorupsi, cinta tanah air dan menghargai keberagaman," katanya.

Nana mengakui ada dinamika di rapat redaksi saat memilih topik Novel Baswedan. Dia salah satu yang kekeh untuk menghadirkan penyidik KPK itu. Menurutnya, kesepakatan tayang wawancara Novel itu terjadi di menit-menit akhir. "Poinnya kan tetap tayang," ujarnya.

Ia merasa bersyukur bisa wawancara Novel. Sebab tayangan itu diklaim Nana cukup berdampak terhadap kebijakan. Selang beberapa hari wawancaranya dengan Novel, Presiden memanggil Kapolri Tito Karnavian--untuk menjelaskan perkembangan kasusnya.

"Yang selalu diidamkan oleh wartawan adalah ketika hasil karyanya bisa memberikan pengaruh," katanya.

Mata Najwa mulai menunjukkan pengaruhnya pada tahun kedua. Waktu itu program ini masuk nominasi talkshow paling baik se-Asia dari Asian Television Award. Wawancara BJ Habibie dengan judul Separuh Jiwaku Pergi dianggap memiliki pengaruh besar.

Sejak itu program berdurasi satu setengah jam ini diperhitungkan. Nana pun semakin semangat menyajikan sesuatu yang berbeda di setiap episodenya. "Harus berbeda dan inovatif, kalau enggak ya ditinggal," ujarnya.

Maksud Nana, jangan sampai sebuah program nasibnya seperti pelukis Ernest Meissonier. Dia begitu terkenal di Prancis karena bisa melukis wajah persis aslinya. Tapi, setelah lahir kamera, nama Meissonier tenggelam--karena dinilai usang. Bahkan lukisan-lukisannya diturunkan dari museum, karena orang tak butuh dia lagi.

Najwa Shihab di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
Najwa Shihab di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
© Bismo Agung Sukarno

Busana sang duta baca

Nana tetap aktif meski tak lagi di televisi. Ia punya beberapa rencana terkait perannya sebagai duta baca, tugas yang diembannya sejak 2016.

Setelah melalui seleksi, Nana ditunjuk Perpustakaan Nasional jadi duta baca ketiga setelah Tantowi Yahya yang mengemban tugas pada 2006 hingga 2010, dan Andy F. Noya yang bertugas mulai 2011 hingga 2015.

Ia jadi sering keliling daerah dan menemui pegiat literasi. Dalam sebulan, ia bisa berkampanye hingga tiga kali di sebuah daerah. Programnya paling dekat adalah membangun Pojok Baca di tempat umum. Dirinya kerja sama dengan kepolisian hingga level Polsek. "Di Samsat dan bandara akan ada Pojok Baca," ujarnya.

Nana mengaku memakai jaringannya sebagai wartawan selama 17 tahun--untuk mendatangkan tokoh penting. Mereka ia hubungi untuk diajak terlibat dalam gerakan literasi yang ia kampanyekan. "Syukurlah, para pejabat itu masih mau angkat telepon saya, he-he."

Ia menepis status Duta Baca digunakan sebagai pintu masuk untuk dapat jabatan. Dugaan itu menurutnya agak jauh. Dirinya memandang, tugas itu adalah kelanjutan dari apa yang selama ini sudah dilakukannya sebagai jurnalis. Sebab, sebagai jurnalis ia merasa harus baca dan kebiasaan itu yang ia tularkan ke orang lain.

"Yang diidamkan wartawan adalah ketika hasil karyanya bisa memberi pengaruh"

Najwa Shihab

Nana sejak belia memang suka buku. Ia memiliki perpustakaan kecil di rumah. Apalagi orang tuanya adalah pendidik, sehingga sudah amat familier dengan buku. "Hidup saya selama ini ya baca," katanya.

Di tengah kesibukannya mengurus buku dan Mata Najwa format baru, Nana juga sangat mengurus penampilannya. Saat sesi foto dengan Beritagar.id, ia selalu didampingi penasihat pribadi urusan tata rias dan tata busana.

Meski selalu ingin tampil modis dan menarik, ia tetap mengindahkan kepantasan. Ia tak selalu menggunakan busana yang sedang tren. "Yang penting pakaiannya terhormat," ujarnya.

Menurut Nana, karena ayahnya, Quraish Shihab, adalah ulama, ada yang bertanya, kenapa ia tak berjilbab. Ia menjawab, sejak kecil ia diberi kebebasan oleh ayahnya. Quraish juga yang beri tahu bahwa batasan aurat itu multitafsir. Sehingga ia berpersepsi jilbab itu bukan tolak ukur kesalehan.

Artinya, kata Nana, bukan berarti yang tak berjilbab itu tidak beriman. "Berpakaian itu independensi, yang penting terhormat," ujar Nana.

Yang juga pasti menarik dari sosok Nana adalah matanya. Karena itu acara bincang yang ia bawakan bernama Mata Najwa. Nama itu diusulkan oleh salah seorang produser setelah berdiskusi dengan pemirsa. Beberapa pemirsa diketahui memberi perhatian lebih kepada mata Nana yang besar.

"Filosofinya, pemirsa menitipkan mata kepada saya untuk melihat sebuah perspektif," ujarnya.

Sebenarnya Nana tak merasa indra penglihatannya bagus. Matanya minus delapan, kanan dan kiri. Pada usia 10 tahun saja, ia sudah pakai kacamata. Masing-masing matanya minus dua setengah.

Keadaan itu sempat membuatnya minder. Namun sang ayah membesarkan hati dia kembali. Quraish mengajak Nana kecil ke Optik Melawai untuk membelikannya kacamata merek Rodenstock. Nana masih ingat harga kacamata itu: Rp400 ribu. "Carikan anak saya kacamata paling bagus. Begitu kata Abi ke petugas optiknya," kisah Nana.

Ia merasa, sikap sang ayah yang membelikannya kacamata mahal itu telah mengangkat moralnya--yang ketika itu sedang minder. "Sejak pakai Rodenstock itu, gue kembali percaya diri he-he. Norak ya?," tuturnya terbahak.

Saban hari, Nana memang terbiasa pakai lensa kontak. Karena mengidap silinder, ia juga harus pakai kacamata saat baca. Tetapi, ia mengharamkan dirinya tampil berkacamata di depan umum. "Kalau pakai, nanti jadi Kacamata Najwa," ujarnya.

Najwa Shihab usai wawancara dengan Beritagar.id di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
Najwa Shihab usai wawancara dengan Beritagar.id di kantor Narasi, bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017).
© Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno
BIODATA Diperbarui: 03 Oktober 2017

Najwa Shihab

Lahir: Makassar, 16 September 1977

Pendidikan: S-1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Penghargaan:

- Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia atas laporannya saat bencana tsunami di Aceh (2005)

- Jurnalis terbaik Metro TV (2006)

- Highly Commended for the Best Current Affairs Presenter di Asian Television Award (2007 dan 2009)

- Young Global Leader dari World Economic Forum (2011)

-National Award for the Journalistic Contribution to Democracy from The Indonesian Association to Democracy from The Indonesian Association of Journalist (2011)

- Best Current Affairs Presenter dalam acara Mata Najwa oleh Asian Television Awards (2011)

- Journalist Award from USAID and Jawa Post Institute (2014)

- Most Inspiring Women by Indihome Telkom Indonesia (2014)

- Rolling Stone's Editore Choice Award Talk Show of the Year (2014)

- Presenter Talkshow Berita & Informasi Terfavorit Panasonic Gobel Awards (2015)

- Most Progressive Figure oleh Forbes (2015)

- Insan Pertelevisian Terbaik Panasonic Gobel Awards (2016)

- The Influential Woman of the Year dari Elle Magazine (2016)

- TV Program of the Year Indonesian Choice Awards (2017)


MUAT LAGI