Sutradara peraih Citra 2017, Edwin, memanggul kamera Arriflex 35mm lawas ketika berpose untuk Beritagar.id, Senin (17/6/2019), di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan.
Sutradara peraih Citra 2017, Edwin, memanggul kamera Arriflex 35mm lawas ketika berpose untuk Beritagar.id, Senin (17/6/2019), di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan. Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Namanya Edwin saja, bikin Posesif dan Babi Buta

Edwin lebih dulu dikenal sebagai salah satu jagoan film pendek Indonesia. Mulai coba mendekati lebih banyak penonton lewat Posesif serta Aruna dan Lidahnya.

Penampilan Edwin tak menonjol. Unassuming. Macam pemuda kebanyakan. Padanya menempel kemeja pola kotak, celana chino, sneakers kanvas. Kapan saja dia masuk restoran atau kafetaria, mungkin takkan ada pengunjung terpancing buat bisik-bisik.

Padahal, bintang seperti Dian Sastrowardoyo kebelet berakting di bawah arahannya. Wartawan cum penulis, Seno Gumira Ajidarma--yang rambut peraknya dibiarkan gondrong bak Simon "Drunken Master" Yuen--dulu sempat menyebutnya avant-garde.

Namanya masuk lis 100 sutradara menjanjikan dunia dalam buku Take 100 - The Future of Film: 100 New Directors (Phaidon:2010) bareng, di antaranya, Zack Snyder (300, Watchmen, Aquaman), Ari Folman (Waltz with Bashir), dan Florian Henckel von Donnersmarck (The Lives of Others).

Pada 2017, Festival Film Indonesia (FFI) mengganjarnya dengan Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik untuk film Posesif. Bikin dia bisa sejajar dengan Riri Riza dan Joko Anwar, untuk menyebut sedikit nama.

Tetap saja. Lelaki berusia 41 asal Surabaya itu tak berlagak. Mungkin ini memang penilaian prematur. Cuma bertolak dari pertemuan kurang dari 1,5 jam. Tetapi, rasanya perjumpaan singkat masih lebih baik ketimbang 1001 kabar burung.

Siang itu, bukannya congkak dia malah diterjang kikuk. Terlebih waktu sadar ada kamera. Dia curiga kami akan bikin video. Sebuah pertanyaan lalu menyambarnya: Kok bisa sutradara tegang di depan lensa? Dia bilang, lihat kamera bikin tak enak. Mengganggu.

"Saya ngambil minum dulu, deh," ujarnya ketika ditemui di kantor Palari Films di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019), ketika berupaya mengalihkan rasa gugup.

Palari rumah produksi yang menggarap Posesif. Juga Aruna dan Lidahnya. Posesif menjadi wadah bagi Putri Marino terjun perdana sebagai pemain film. Dia beroleh Citra sebagai Aktris Terbaik atas perannya sebagai Lala Anindhita. Aruna dan Lidahnya mempertemukan kembali Dian Sastro dan Nicholas Saputra.

Meski sudah bikin film sejak 2002, baru dua film panjang karya Edwin diputar di bioskop Indonesia. Film-film yang barusan disebut di atas. Dua film panjangnya terdahulu--Postcards from the Zoo (2012) dan Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)--cuma tayang di lokasi-lokasi tertentu.

Sebelum itu, namanya cuma semerbak di kalangan penikmat film-film pendek. Produk yang sering dikata eksperimental. Meski, nyatanya, sudah lumrah bagi para pencipta karya untuk melakukan eksperimen. Sebab penjelajahan isi dan bentuk agaknya sulit mengelak dari percobaan terus-menerus.

Beberapa di antara pengungkapan estetikanya bisa terlihat pada A Very Slow Breakfast (2002), Dajang Soembi: Perempoean jang Dikawini Andjing (2004), dan Kara, Anak Sebatang Pohon (2005). Kritikus film, Eric Sasono, mengatakan ketiganya bersentral pada keluarga. Yang dalam ekspresi Edwin direken tak sempurna. Tak ideal. Tak serupa gambaran rutin dalam iklan sirup atau bumbu masak.

Posesif --melahirkan pasangan yang mungkin kelak dikenang layaknya pasangan film lain seperti Rangga dan Cinta--bersandar pada isu keluarga juga. Pada relasi grogi orang tua-anak. Kecanggungan itu akhirnya mengantar Yudhis--sang tokoh pria yang tergencet dominasi ibunya--memasuki zona kuasa. Dia tak memiliki suara di rumahnya. Karena itu, dia menguji kekuasaannya pada sang kekasih, Lala.

Film terbaru Edwin--yang rencananya mulai ambil gambar pada 2020--bakal mengelola gagasan nan berkenaan dengan relasi kekuasaan lagi. Seperti Aruna dan Lidahnya, film itu mengadaptasi sebuah prosa. Kali ini diambil dari katalog milik salah satu penulis cemerlang Indonesia, Eka Kurniawan. Judulnya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Meski mengaku "jarang tertarik memfilmkan buku," Edwin merasa Seperti Dendam begitu "mengundang" karena "secara visual banyak sekali yang bisa dimainkan". Dia mempersiapkan skenario bersama Eka. Hingga kini, sudah tiba pada draf kelima.

"Ada-lah adegan-adegan disturbing," ujarnya mengenai karya Eka itu. "Kalau dibaca saja, dibayang-bayangkan saja, bisa sangat mengganggu. Tapi akhirnya (film ini) bukan mau mengeksploitasi kekerasan walau kekerasan itu sendiri merupakan bagian cerita yang penting".

Edwin saat berpose untuk Beritagar.id di kantor Palari Films, di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019).
Edwin saat berpose untuk Beritagar.id di kantor Palari Films, di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Untuk latar tempat, Edwin sudah menengok sejumlah daerah seperti Rembang dan Kudus di pesisir utara Jawa. Tentu tidak berhenti di sana. Pencarian masih berlangsung. Dan dia merasa sanggup mengerjakannya karena secara personal mengenal situasinya.

"Settingnya cukup (mewakili dekade) '80-an. Karakter-karakternya dilihat-lihat ya umurnya sama dengan saya. Pengaruh-pengaruh gaya hidup anak laki-laki yang ada di kota agak-agak panas ada-lah," katanya sedikit menyinggung hawa di Surabaya. "Walau sebenarnya tidak seekstrem Ajo Kawir," ujarnya lagi mengutip nama tokoh utama Seperti Dendam.

Anak dokter dan arsitek

Setelah memetik nama Ajo Kawir, Edwin merujuk ke masa kanak dan remajanya yang, menurutnya, "enggak terlalu menarik", sebagai pembanding.

Dia besar dalam keluarga kelas menengah berpendidikan tinggi di Mulyosari, Kenjeran, kawasan pesisir timur laut Surabaya. Lokasi yang sekarang berada tak jauh dari jembatan penghubung Surabaya dan Pulau Madura, Suramadu.

Ayahnya seorang dokter Spesialis Patologi Klinik, dan ibunya tamatan jurusan Arsitektur. Sejak TK sampai SMA, dia selalu bersekolah di institusi berbasis Katolik di Surabaya.

Dasawarsa 1980-an merupakan masa ketika perekonomian Indonesia lari kencang, dan kekuasaan Soeharto begitu kuat menggigit pelbagai sendi. Orang seperti ayahnya--Cina plus Katolik--terikat dalam situasi menggelisahkan. Satu misal, bukan perkara mudah baginya dapat gelar dokter.

Karena identitas sebagai minoritas itu Edwin sempat kena celaka. Waktu masih kanak, dia pernah dilempari batu. Adik perempuannya pun jadi target olok-olok. Kalau sudah begitu, mereka biasanya berlari menghindar ke tempat sepi. Sebab, saat itu menjadi Cina di tengah orang banyak bisa memunculkan rasa tak nyaman.

Nama Edwin cuma satu kata. Dia juga tak punya nama Cina. Dia tak tahu pula orang tuanya dari generasi keberapa. Menurutnya, mereka terlalu tertutup. "Sampai sekarang kalau ditanya juga enggak mau jawab. Dibilang, 'enggak usah tanya-tanya'," katanya mengutip perkataan ayahnya. Karena itu, persentuhan dengan kecinaan justru nihil. "Sekalipun ada, suka makan makanan Cina aja. Itu pun yang peranakan, yang sudah tercampur Jawa".

Makanya saat ditanya apakah akan bikin karya yang menelusuri akar kulturalnya, dia menggeleng. "Enggak merasa perlu," ujarnya. Dia tak punya urusan dengan negara Cina. Memang kebetulan saja dilahirkan sebagai Cina-Jawa. "Saya enggak bisa pilih (dilahirkan sebagai etnis apa). Saya lebih tertarik justru untuk mencari tahu tentang menjadi orang Indonesia. Justru di situ yang lebih menarik," katanya.

Untungnya, dia masih bisa dapat penghiburan di tengah situasi sosial cukup menekan. Menurutnya, orang tuanya ikut andil akan itu. Mereka masih berupaya mengenalkannya pada hal-hal yang mengasah kepekaan rasa. Memang bukan kelas berat seperti menikmati pameran di galeri atau museum, tapi sekadar menonton film.

"Sampai SMA saya masih ingat diajak nonton bioskop berdua (oleh ayah). Nonton film-film hiburan. Home Alone. Rocky. Saya juga ingat bisa nonton Silence of the Lambs. The Last of the Mohicans. Enggak semua orang ngajakin anaknya nonton itu," ujar penyuka lagu mellow tersebut.

Bioskop di Surabaya yang kerap mereka datangi Mitra dan Indra, dua dari belasan bioskop Kelas AA. Ke sana karena dekat dengan lokasi kerja ayahnya. Selesai nonton, biasanya dia suka diajak bersantap di Ayam Goreng Pemuda.

Di luar sinema, dia acap kali mampir ke tempat penyewaan video berformat Betamax. Juga tak jauh dari tempat praktik bapaknya. Ke situ karena mesti menunggu sang ayah kelar bertugas. Kalau sudah di dalam, dia bisa anteng. Sebabnya satu. Bisa menyimak film-film yang sedang dicoba calon penyewa. Berbagai jenis film. Dari komedi, hingga bokep.

Kecuali soal film, dia "lumayan sering" pergi ke Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Menonton pertunjukan Srimulat. Pemain yang paling dia gandrungi adalah Paul "Drakula" Polii.

"Film waktu itu belum jadi obsesi. Masih jadi hiburan aja," katanya.

Sutradara film Posesif dan Aruna dan Lidahnya, Edwin, saat berpose dengan Beritagar.id di kantor Palari Films di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019).
Sutradara film Posesif dan Aruna dan Lidahnya, Edwin, saat berpose dengan Beritagar.id di kantor Palari Films di kawasan Pela Mampang, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Merekam manusia

Setelah lulus dari SMA Frateran, Edwin memutuskan ambil jurusan desain grafis di Universitas Petra Surabaya. Tetapi, keputusan itu semata salah kira. Dia pikir mata kuliah Animasi bertautan dengan elemen yang bikin studio Disney kesohor dengan film-film animasinya. Ternyata, "cuma dapat motion graphics," katanya, "bukan storytelling".

Di situ dia merasa terpukul. Semua jadi berlangsung lambat. Apalagi di tahun kedua kuliah pada 1998, situasi politik dan sosial nasional memanas. Demonstrasi berkecambah di sejumlah tempat. Mahasiswa di Jakarta ada yang mati kena tembak. Kerusuhan meletus.

Surabaya dapat imbas. Dan Edwin yang merasa abai politik pelan-pelan membuka diri. Dia tak sungkan menyimak orasi-orasi politik. Dia mulai sadar Orde Baru represif. Tetapi, ketakutannya tak besar, berbeda dari mereka yang di Jakarta. Dan meski tak turun ke jalan, dia sudi bergadang di kampus untuk ikut bikin patung-patung Soeharto. Patung-patung yang esoknya bakal dibakar.

Setelah Reformasi dan Soeharto mengundurkan diri, Edwin secara kebetulan menonton Daun di Atas Bantal (1998). Film tentang anak jalanan karya Garin Nugroho. Dia juga melihat wawancara dengan sang sutradara di televisi.

Di situ, Garin menyinggung Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebuah perguruan tinggi seni di Jakarta yang salah satu program studinya perfilman. Saat itu Edwin langsung merasa film sepertinya lebih asyik ketimbang desain grafis.

"Beneran abis ngelihat acara TV itu, besoknya saya jalan ke Jakarta naik kereta. Naik Jayabaya. Kereta malam, sampai pagi. Kebetulan turunnya enggak jauh, di Gambir. Dari situ terus ke TIM (Taman Ismail Marzuki, lokasi IKJ). Nanya-nanya aja sama mahasiswa-mahasiswa situ. Tahun depannya baru saya daftar, setelah lulus dari Petra tahun 1999," ujarnya.

Di IKJ, dia tidak tamat. Tapi sejarah dirinya justru baru dimulai. Dia sudah sukses menemu medium pas berekspresi. Di dalam wadah itu, keinginannya untuk merekam manusia--pun merekam emosi manusia saat merespons pilihan-pilihan hidupnya atau ketika mesti bertahan dalam sebuah sistem--mewujud.

"Kalau melihat manusia pasti melihat sistem yang berlaku di hidupnya. Mau enggak mau politiknya pasti kelihatan juga. Bukan berarti itu yang menjadi agenda utama. Bagaimana saya bisa merasa karakter-karakter di film saya itu, karakter-karakter yang saya kenal. Itu lebih mungkin bisa dibilang tujuannya. Mendokumentasikan sebuah zaman di sekitar saya melalui karakter-karakter dalam film saya," katanya.

Emosi butuh pengakuan. Butuh dikenali. Karena biasanya tersangkut dalam rimba lebat kisah personal. Film, dengan caranya sendiri, dapat menjadi perkakas untuk mengidentifikasinya.

Lewat Halim, Lana, Kara, Lala, atau Aruna--tokoh-tokoh dalam beberapa filmnya--Edwin berupaya menghamparkan ceceran emosi itu. Mengubah para penontonnya menjadi seperti para pelajar kelas menengah pada mikroskop di sebuah laboratorium praktik biologi. Mata mereka menyaksikan hal yang sebelumnya tak terindra. Dan tentu saja, urusan paham jadi perkara belakangan.

"Karya-karya saya pasti ada hubungan personal dengan saya. Tapi itu bukan berarti sama dengan saya pernah mengalami. Ketertarikan personal pasti ada, cara melihat sesuatu yang personal. Kalau di Babi Buta mungkin 30 persen saya pernah mengalami, ada di bagian apanya gitu. Makin ke sini makin berkurang yang saya alami. Tapi bukan berarti enggak dekat juga," ujarnya.

Bagian "berkurang" itu salah satunya mungkin bisa ditengok pada Aruna dan Lidahnya. Film yang bikin perasaan ringan dan riang usai ditonton. Berbeda dari film-film Edwin sebelumnya yang cenderung bikin dada sesak.

"Aruna bisa begitu karena saya juga berteman dengan orang-orang yang riang juga. Untuk berapa tahun saya berada dengan mereka. Orang-orang umur 30-an, dengan sedikit keraguan, sedikit permasalahan sebagai orang Ibu Kota. Karakter-karakter seperti Aruna, Bono, dll., itu bagian dari hidup saya juga," katanya.

Beritagar.id /Bismo Agung
BIODATA Diperbarui: 21 Juni 2019

Edwin

Lahir: Surabaya, 1978

Pendidikan:

- Desain Grafis, Universitas Kristen Petra Surabaya
- Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (tidak tamat)

Film Panjang:
– 2018: Aruna dan Lidahnya
– 2017: POSESIF
– 2012: Postcards from The Zoo,
– 2008: Babi Buta yang Ingin Terbang

Film Pendek:
– 2018: Variable No.3, Asian Three-Fold Mirror: Journey, Tokyo International Film Festival.
– 2014: Hortus
– 2010: Roller Coaster
– 2009: Nairobi Notes
– 2008: Hulahoop Soundings
– 2007: Trip To The Wound
– 2006: A Very Boring Conversation
– 2005: Kara, Anak Sebatang Pohon
– 2004: Dajang Soembi: Perempoean jang Dikawini Andjing
– 2002: A Very Slow Breakfast

Penghargaan, antara lain:
– 2017: Sutradara Terbaik (Piala Citra), Festival Film Indonesia untuk Posesif
– 2012: Edward Yang New Talent Award, 6th Asian Film Awards untuk Postcards from The Zoo
– 2009: NETPAC Award, Taipei Golden Horse International Film Festival untuk Babi Buta yang Ingin Terbang

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR