Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/2019).
Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/2019). Beritagar.id / Bismo Agung
FIGUR

Nugroho, anak gunung pecinta laut

Terinspirasi buku dan film karya Jacques Cousteau. Nugroho akhirnya mewujudkan mimpinya menekuni masalah kelautan. Seperti apa petualangannya?

Sehabis Natal 2018 lalu, Nugroho Dwi Hananto berencana reuni dengan teman-teman Sekolah Dasarnya. Sambil berbincang dengan istrinya, periset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu teringat masa kecilnya dulu.

Meski tinggal di deket lereng gunung Merbabu di Salatiga, namun hatinya jatuh cinta pada laut yang hanya identik dengan ikan. “Itu gara-gara Jacques Cousteau,” katanya saat ditemui di Toko You Bandung, Senin (31/12/18).

Di perpustakaan Sekolah Dasarnya, ia berkenalan dengan buku-buku karya saintis yang juga penjelajah lautan asal Prancis itu. Nugroho kesengsem berat dengan tulisan-tulisan Cousteau. Imajinasinya terbangun. Misalnya dengan alat untuk menyelam buatan Cousteau, juga kapal selam mini. “Kayaknya bagus kalau ke depannya saya meneliti tentang kelautan ini,” ujar lelaki berkacamata kelahiran Salatiga, 7 Juni 1972 itu.

Selain buku, ia pun gandrung menonton film-film petualangan bawah laut Cousteau di bawah laut. Dia pun berkhayal bisa menyelam juga, tapi setelah dewasa malah jadi takut. Sampai sekarang juga ia belum pernah naik kapal selam.

Pengalaman menyelamnya terhitung jarang dan sebatas melihat karang laut. “Akhirnya saya terubah dari dunia menyelam geologi ke geofisika kelautan,” kata bapak dua orang anak ini.

Tekadnya mendalami masalah kelautan makin kuat saat SMA. Karenanya, begitu lulus SMA ia masuk Fakultas MIPA jurusan Fisika ITB pada 1992. Lulus ITB pada 1998, ia masuk ke Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan pada 2000. Sambil bekerja anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Soekardjo Setyopranoto dan Sri Maryati ini melanjutkan S2 Geofisika di ITB dan lulus pada 2001.

Untuk melengkapi ilmu, ia pun mengambil gelar doktor pada 2011 di Institut de Physique du Globe de Paris, Prancis di bawah bimbingan Prof. Satish C. Singh.

Penasaran

Masalah kelautan terus membuatnya penasaran. Rasa keingintahuannya tergugah saat terjadi gempa bumi dan tsunami di pesisir selatan Jawa Timur, 1994. Penasaran dengan peristiwa yang terjadi itu, Nugroho langsung bagaimana peristiwa tsunami itu terjadi.

Ia belajar pemodelan laut, bagaimana tsunami dipicu, dan perjalanannya. “Saya mulai mengasah ke arah sana untuk melihat struktur seperti apa yang menghubungkan antara gempa dan tsunami.”

Berbekal metode magnetotelurik untuk melihat potensi panas bumi, Nugroho .membuat pemodelan dan coding komputer. Ilmu itu ia gunakan untuk mempelajari struktur bawah permukaan daerah sumber panas bumi. Saat itu kebetulan LIPI baru kedatangan kapal baru yaitu KR Baruna Jaya VIII pada 1998. Pimpinan LIPI kemudian menugasi dia untuk mempelajari marine seismic.

Sejak itu ia mengasah diri untuk menggambarkan struktur pelapisan di bawah laut, mencari kerak samudera yang tersubduksi atau penunjaman lempeng, serta bagaimana dinamika dan strukturnya. Pentingnya gawean itu adalah untuk merancang mitigasi bencana. “Untuk memahami gempa dan tsunami kita harus tahu karakteristik sumbernya dulu,” ujar penggemar seafood ini.

Peneliti Oseanografi LIPU, Nugroho Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/2019).
Peneliti Oseanografi LIPU, Nugroho Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Selain pemetaan potensi gempa besar yang bisa menciptakan tsunami, kawasan laut yang berpotensi gempa cukup besar juga perlu diperhitungkan karena bisa juga menimbulkan tsunami. Beberapa contoh kejadian seperti gempa Pangandaran 2006, Mentawai 2010, Palu 2018, dan yang teranyar tsunami Selat Sunda. “Itulah pentingnya kita pelajari sumber gempa sebelum mendesain mitigasinya, supaya lebih efektif.”

Tanpa harus menyelam hingga kedalaman 4.000 meter misalnya, ia melihat struktur geologi di dasar laut secara tidak langsung dengan metode geofisika. “Lihat gambarnya berdasarkan sifat akustik, gelombang suara yang dipancarkan ke dalam laut lalu kita hitung waktu baliknya kemudian kita rekonstruksi lagi struktur bawah lautnya,” kata dia.

Bidang kerjanya ini memerlukan kemampuan modifikasi penggunaan alat seperti refleksi seismik. Perangkat yang lazim dipakai untuk mencari sumber minyak di cekungan bumi itu bisa diulik untuk melihat struktur gempa pada kedalaman hingga 30-40 kilometer di bawah permukaan laut.

Penelitian bawah laut itu kerap bekerjasama dengan industri minyak dan gas. Perusahaan seperti itu biasanya punya instrumentasi dengan teknologi yang mumpuni.

Dengan alat yang sama, pengumpulan datanya pun serupa yaitu seperti batimetri dan seismik. Bedanya, perusahaan untuk mencari potensi migas, peneliti guna mengusut masalah kegempaan wilayah. “Kita gunakan fasiltas mereka untuk lakukan riset sesuai keperluan kita.”

Di perairan Aceh dan Mentawai misalnya, tim riset pernah bekerjasama dengan perusahaan swasta penyedia data seismik untuk menggunakan streamer. Alat perekam gelombang seismik itu ditarik oleh kapal.

Kesempatan itu dipakai Nugroho untuk mendapatkan citra terbaik sumber gempa megathrust pada kedalaman 30-50 kilometer di bawah dasar laut. Pada saat itu timnya juga menemukan gunung bawah laut di kerak Samudera Hindia dekat dengan zona subduksi, serta pengaruhnya terhadap kegempaan di daerah Mentawai.

Sudah belasan lokasi lautan Indonesia yang pernah ditelitinya. Di Selat Sunda, ia jadi mengetahui ada aktivitas panas bumi di bawah laut. Interaksi magma dengan air laut bisa menghasilkan mineral seperti emas, tembaga dan lainnya. “Di bawah situ muncul kehidupan bawah laut seperti kepiting, udang, cumi-cumi yang bentuknya aneh-aneh karena di lingkungan laut dalam.”

Sementara di Teluk Tomini dan Sangir Talaud risetnya terkait dengan aktivitas hidrotermal dan gunung api bawah laut.

Kini riset untuk gempa bumi yang masih berlangsung berlokasi di lautan barat Sumatera. Bersama tim dari Institut de Physique du Globe de Paris, Prancis dan Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University Singapura, mereka meneliti potensi dan sumber gempa di Wharton Basin. Lokasinya berada di sebelah barat zona subduksi di kerak samudera.

Riset lain yang sedang berjalan yaitu di perairan selatan Jawa, Palu, sekitar Pulau Lombok, dan utara Papua. “Yang belum banyak diketahuinya yaitu struktur seismik bawah laut selatan Jawa, juga Maluku.”

Pengalaman mendebarkan

Selain itu semasa kuliah S-3 di Prancis, ia pernah ikut riset bawah laut di Samudera Atlantik. Baginya, perjalanan pada 2008 itu mengerikan. Saat itu mereka memakai kapal yang relatif kecil, kembaran kapal Baruna Jaya yang dipakai BPPT buatan Prancis. Ombak setinggi lima meter menghantam bertubi-tubi ditambah angin kencang.

Nyali Nugroho sempat ciut, takut kapalnya tergulung ombak. Mabuk laut pun muncul. Namun setelah melihat orang lain di kapal itu tenang-tenang saja, Nugroho lanjut bekerja selama 20 hari untuk mempelajari alat yang harus dikuasainya sesuai pelajaran di Laboratorium Marine Geoscience. Setelah memaksakan diri bersikap normal, mabuk lautnya bisa hilang. “Akhirnya kita lihat, memang butuh nyali bekerja di laut lepas.”

Melaut bersama kapal riset asing juga memberi wawasan soal manajemen ekspedisi. Pengalaman paling lama di laut, kata dia, selama 30 bersama tim peneliti Prancis. Memakai kapal riset khusus kelautan di wilayah kutub selatan, RV Marion Dufresne dari Prancis, lokasi sasarannya ke Wharton Basin. Kapal itu tergolong besar dengan panjang 120 meter, lebar sekitar 20 meter.

Kapal itu dirancang sanggup hidup di laut selama 40 hari tanpa isi ulang bahan bakar ke daratan, juga bahan makanan. Kapal riset Indonesia, menurut Nugroho, belum ada yang seperti itu. Paling banter 20 hari lalu balik lagi, itu juga lokasi mantengnya tidak jauh dari pangkalan di darat.

Kapal riset Prancis itu, kata Nugroho, punya pembagian divisi. Kru kapal, kargo, bahan bakar, air minum, pengolahan air laut jadi tawar, kelistrikan, mesin, di bawah komando kapten kapal. Adapun instrumen ilmiah yang digunakan ditangani khusus oleh tim teknisi dan saintis peralatan. Kemudian ada tim saintis yang menentukan kemana harus mengambil data.

Selama 30 hari di laut, ada pengalaman spritual yang membuat Nugroho merasa kerdil sebagai manusia di alam raya. Tanpa bisa melihat daratan di sekeliling kapal bahkan nihil kapal lain yang lewat, interaksi hanya dengan sesama penghuni kapal yang berjumlah total 60 orang.

Bertemu aneka orang dari berbagai negara juga kebiasaannya setiap hari, membuatnya harus belajar mawas diri dan berkomunikasi. “Bukan untuk menyenangkan semua orang tapi bagaimana agar tujuannya semua tercapai,” katanya.

Peneliti Oseanografi LIPU, Nugroho Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/2019)
Peneliti Oseanografi LIPU, Nugroho Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Dari perencanaan kerja misalnya, sejak awal sudah dirancang ketat. Mereka menerapkan prinsip zero delay tolerance. Molor dari jadwal berarti kerugian. Sebab biaya operasional kapal ekspedisi itu dihitung sekitar 40-50 ribu euro per hari.

Senangnya ikut kapal riset kata Nugroho karena selalu menawarkan kebaruan. Tidak saja terkait sisi saintifiknya, tapi orang, suasana, pengalaman, dan instrumen riset yang berbeda sehingga menantang. Kondisi laut juga dinilainya tidak selalu membosankan. Kadang hujan, muncul pelangi.

Paling sebentar ia riset di laut pada 2003. Bersama tim peneliti dari Jerman yang berangkat dari Cilacap, mereka menebarkan alat Ocean Bottom Seismometer (OBS) di beberapa lokasi di perairan selatan Jawa. Ombak besar membuatnya mabuk laut, sementara mitra penelitinya dari Jerman masih gagah. Selama di kapal, Nugroho bekerja dengan kepala pusing dan badan lemas dan bisa seketika mengantuk. “Begitu selesai mabuk, selesai juga risetnya.”

Sekarang studi yang masih intens dilakukan di Wharton Basin sejak 2015. Rintisannya dimulai setelah gempa Aceh pada 2005-2006 di perairan barat Sumatera. Tidak setiap tahun mereka ke lokasi mengambil data, karena perlu waktu 2-3 tahun juga untuk mengolah data hingga publikasi ilmiah. “Pendanaan juga tidak langsung dapat.”

Riset Selat Sunda diakuinya belum dilakukan. Menurut Nugroho, situasi dan kondisi wilayah itu kompleks pun aspek kegempaannya. Selain dari subduksi, juga ada gunung berapi Anak Krakatau, serta penerusan sesar besar Sumatera yang menerus dari laut Andaman.

Jejaknya terus ke selatan Sumatera, masuk Selat Sunda dan berakhir di palung selatan Jawa. “Aspek hazard-nya kita belum banyak tahu, perlu studi yang komprehensif di sana.”

Menurutnya, sumber gempa di Selat Sunda terhitung tidak banyak, namun kondisinya sangat kompleks. Karena itu untuk mitigasi bencananya, tidak bisa hanya mengandalkan pada satu institusi namun harus dikeroyok bersama untuk dipelajari.

Bekerja tanpa jam kantor kerap dilakoninya sebagai peneliti. Sampai jatah cuti tahunannya pada 2018 pun hangus tak terpakai. Di sela kesibukannya, Nugroho menyempatkan diri kumpul bersama keluarganya di Bandung.

Dari kantornya di Jakarta atau tempat lain tugasnya, ia pulang pakai mobil travel. Komunikasi hubungan jarak jauh tetap dijalin bersama keluarga. “Sekarang lebih enak, dulu peneliti 3 bulan bisa nggak ada kabar.”

Agar anak-anak paham pekerjaan ayahnya, Nugroho kadang membawa mereka ke kantor untuk bertemu dan berkenalan dengan para koleganya. “Kerja bapaknya nggak kayak orang lain seperti dokter yang bisa jemput sekolah,” katanya.

Di rumah jika kumpul bersama, mereka tidur bersama sekasur, jalan-jalan di Bandung, atau piknik ke Pantai Pangandaran sambil menikmati hidangan laut.

Peneliti Oseanografi LIPU, Nugroho Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/201
Peneliti Oseanografi LIPU, Nugroho Dwi Hartanto di kantor Pusat Penelitian Oceanografi LIPI di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (3/1/201 Beritagar.id /Bismo Agung
BIODATA Diperbarui: 04 Januari 2019

Nugroho Dwi Hananto

Nama: Nugroho Dwi Hananto
Pekerjaan: Research Center for Oceanography –Indonesian Institute of Sciences

Nama Istri: Ute Lies Siti Khadijah

Anak:
1. Muhammad Arya Bima Hananto
2. Siti Sarah Shafa Hananto

Education

Institut de Physique du Globe de Paris, France Geophysics Dr. 2011
Institut Teknologi Bandung, Indonesia Geophysics M.Sc 2001
Institut Teknologi Bandung, Indonesia Physics BSc 1998

Professional Experience

2017 - recent Head Division of Management and Data Dissemination, Research Center for Oceanography – Indonesian Institute of Sciences
2014 - 2017 Head of Collaboration and Dissemination, Research Center for Geotechnology – Indonesian Institute of Sciences
2000 – recent Researcher, Research Center for Geotechnology – Indonesian Institute of Sciences

Awards Anda Honors

Myanmar Applied Earth Sciences Association (MAESA), Workshop Steering Committee, 2017
Indonesian-American Kavli Frontier of Science Symposium 2017
Invited Researcher at Professor's level (2 months), Institut de Physique du Globe de Paris 2016
Invited Researcher (1 months), Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University, 2016
Invited Researcher (1 months), Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University, 2015
Invited Researcher (2 months), Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University, 2013
Invited Researcher (2 months), Institut de Physique du Globe de Paris, 2012
CSIRO- LIPI Awards, 2 months visit at CSIRO Petroleum Perth, Australia 2003

MARINE EXPEDITION SINCE 2001

Scientist, Operasi Bhakti Teknologi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Palu 2018
Co-Chief Scientist, MIRAGE 2 R/V Marion Dufresne 2017, Wharton Basin, Indian Ocean
Chief Scientist, MIRAGE 1 R/V Marion Dufresne 2016, Wharton Basin, Indian Ocean
Co-Chief Scientist, MEGATERA R/V Falkor 2015, Wharton Basin and Mentawai Island.
Scientist, Indonesia Extended Continental Shelf North Papua, 2014, R/V Geomarine 3, Papua
Scientist, Indonesia Extended Continental Shelf North Papua, 2013, R/V Geomarine 3, Papua
Scientist, TIDES Survey, 2009, CGGVeritas M/V Geowave Champion
Scientist, BBOBS, 2008, R/V Le Suroit, Atlantic Ocean
Scientist, PreTI-Gap cruise, 2008, R/V Baruna Jaya, Sumatra
Scientist, Sumatra-Deep Seismic Cruise, 2006, WesternGeco M/V Geco Searcher, Sumatra
Scientist, Tomini Basin , 2004, R/V Baruna Jaya VIII, Sulawesi
Chief-Scientist, Tomori-Buton-Manui Basin , 2004, R/V Baruna Jaya VIII, Sulawesi
Scientist, IASSHA cruise, 2002, R/V Baruna Jaya VIII, Sulawesi
Scientist, IASSHA cruise, 2001, R/V Baruna Jaya VIII, Sulawesi

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR