Fotografer, kamerawan, dan konservasionis, Alain Compost, berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Desa Cijeruk, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (23/10/2018).
Fotografer, kamerawan, dan konservasionis, Alain Compost, berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Desa Cijeruk, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (23/10/2018). Beritagar.id / Bismo Agung
FIGUR

Penjelajahan visual Alain Compost

Selama lebih 40 tahun ia dedikasikan hidupnya untuk mengabadikan satwa liar di Indonesia.

Sebenarnya ia benci melakukan ini. Memberi makanan manusia ke hewan liar. Tapi beberapa bulan terakhir ia terpaksa melanggar keyakinannya. Penyebabnya hanya satu, rasa iba.

Kawanan monyet ekor panjang yang sudah menjadi tetangganya selama bertahun-tahun kondisinya kian memprihatikan. Tubuh mereka semakin kurus karena sulit mendapat makanan.

Siang itu, di samping teras rumahnya yang menghadap ke hutan dan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Alain Compost menyobek-nyobek sebungkus roti cokelat. Setiap sobekan ia lempar ke arah belakang teras.

"Moooonyeeettt! Mooonyeeettt!" Suara Alain membahana hingga ke tengah hutan.

Tak sampai lima menit, dua sampai tiga monyet datang. Mereka langsung menyambar roti-roti yang jatuh di lantai dan meja panjang.

Alain tahu diri. Ia menjaga jarak dengan mereka. Tak ada kontak fisik. Tak ada nama panggilan selain monyet untuk semuanya. Ia pun tidak setiap hari memberi mereka makan. "Mereka harus tetap menjadi hewan liar untuk bertahan hidup," katanya.

Monyet-monyet itu gesit mengambil roti. Mata mereka tampak awas melihat kehadiran kami berempat, Fajar WH, Sorta Tobing, Bismo Agung, dan Mellyana Desi Shara.

Apa yang ditunjukkan Alain ini sebenarnya bukan hiburan untuk para tamu. Ia lalu memberi tahu kami kehidupan para monyet ini terancam pembangunan masif di Bogor.

"Mereka awalnya hidup di hutan yang sekarang sudah menjadi kawasan Rancamaya. Karena habitatnya tergusur jadi mereka pindah ke sini," ujar Alain di rumahnya kawasan Desa Cijeruk, tak jauh dari Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (23/10/2018).

Alain tak merasa terganggu apalagi takut dengan kehadiran monyet-monyet itu. Ia hanya tersenyum ketika pernah suatu hari mereka mengambil seluruh pisang di meja makan, memecahkan kaca jendela, atau memakan habis matoa di kebunnya.

Menurut dia, hal itu wajar. Mereka melakukannya untuk bertahan hidup. Berbagi habitat sudah menjadi keharusan bagi manusia dan hewan untuk menjaga kelangsungan hidup alam.

Bahkan para monyet terlihat bebas keluar-masuk kandang delapan ekor kambing peliharaan Alain. "Belum ada yang berhasil mengambil gambar monyet-monyet ini sambil mengambil kutu kambing saya," katanya tertawa.

Urusan hewan liar dan konservasi memang tidak pernah jauh dari Alain. Lebih 40 tahun ia bekerja di bidang ini. Hasil penelitiannya bukan berupa karya ilmiah atau diktat setebal kamus. Tapi melalui gambar.

Di dunia fotografi Alain adalah maestro. Karyanya kekal di berbagai media asing, antara lain National Geographic, BBC, Science and Nature, Paris Match, dan Figaro.

Lalu, sebagai kamerawan, ia juga pernah berkontribusi untuk karya-karya dokumenter stasiun televisi Animal Planet, Discovery, BBC, National Geographic, TV1, dan Natural History New Zealand.

Soal cerita menegangkan di hutan, Alain punya banyak cerita. Mengambil gambar satwa liar bukan hanya perlu ketangguhan fisik, tapi juga kesabaran. Ia tak ingin hasil kerjanya hanya menampilkan tubuh satwa. "Saya ingin mendapatkan emosinya," ujarnya.

Lebih satu jam kami berbincang dengan Alain di ruang kantornya. Di satu sisi dindingnya terdapat jendela kaca besar dengan pemandangan rimbunnya pepohonan. Di sinilah ia kerap bekerja dalam dua hal yang ia sukai, kesunyian dan hutan.

Berikut kisah hidupnya.

Fotografer, kamerawan, dan konservasionis, Alain Compost, berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Desa Cijeruk, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (23/10/2018).
Fotografer, kamerawan, dan konservasionis, Alain Compost, berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Desa Cijeruk, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (23/10/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Penjaga kebun binatang

Para monyet bebas mengambil buah yang ada di kebunnya. Tapi ada satu bagian yang Alain tak rela untuk berbagi, yaitu tomat dan timun.

"Saya harus pasang kandang supaya tidak diambil mereka," katanya. Di sebelah kandang itu, ia menanam daun mint, pakchoy, dan dandelion. Semua untuk konsumsi Alain beserta istri dan dua anaknya.

Sudah lebih 20 tahun Alain menempati rumah ini. Lahannya sekitar delapan ribu meter persegi. "Saya dulu beli dari mertua harganya Rp10 ribu per meter," ujar pria kelahiran Paris, 18 Mei 1952.

Hutan di belakang rumah itu awalnya adalah kebun nanas. Alain pelan-pelan menanam berbagai macam pepohonan. Setelah rimbun, masuklah tetangga dekatnya, kawanan monyet ekor panjang. Sekarang jumlah mereka sekitar 20 ekor, terdiri dari dua kelompok.

Di bawah teras, persis di tepi jurang, ada kandang kambing. Bukan untuk konsumsi. Memelihara binatang ini menjadi cara Alain untuk tetap merasa di kampungnya.

Ketika kecil dan tinggal di Prancis, ia sering ke rumah tetangganya yang punya kambing. "Bau (kambing) memberikan saya rasa nyaman," kata ayah dengan empat anak ini.

Ayah dan ibunya guru pelajaran teknis. Ibunya pintar menjahit. Ayahnya bertukang kayu. Alain masih ingat kampung halamannya kecil sekali, hanya terdiri dari 100 penduduk.

Ada hutan di sekitar kampung yang sering ia datangi. Gara-gara ini sejak kecil ia jadi tahu cita-citanya, bekerja dekat dengan satwa liar.

Ia hanya sanggup dua tahun kuliah di jurusan peternakan. Alasan memilih jurusan itu pun demi menjadi dokter hewan. Tapi karena prosesnya panjang dan bertele-tele ia banting stir jadi penjaga hewan di kebun binatang di Paris.

Menurut saya, pariwisata itu satu musibah. Banyak hutan yang bagus di Indonesia sekarang jadi rusak karena mass tourism

Alain Compost

Awalnya, Alain senang bisa mengurus dan bertemu binatang liar hampir setiap hari. Tapi ketika musim dingin tiba, kengerian muncul di hadapannya. Binatang besar yang biasa hidup di iklim tropis mulai stres karena tidak bisa keluar ruangan. Mereka harus tetap berada di kandang tertutup untuk menjaga suhu tubuhnya.

Selama lima tahun ia harus menghadapi hal tersebut. Sampai satu titik ia merasa tak sanggup lagi. Ketika itu seekor badak India dengan sengaja menabrakkan culanya ke batang besi sampai berdarah. Alain tak mau lagi bekerja di kebun binatang.

Ia lalu beralih ke pekerjaan sebagai kepala penjaga di konservasi simpanse. Tragedi terjadi. Tangannya digigit oleh primata tersebut. Penyebabnya, simpanse jantan itu cemburu dengan Alain yang terlalu dekat dengan betina. Alain maklum tapi dua jari tangan kanannya cacat hingga sekarang.

Jiwa muda masih membara kala itu. Usianya 20 tahunan. Ia ingin berpetualang. Duitnya pas-pasan. Ia menuju Malaysia untuk melihat orangutan. Tapi di sana hanya sebentar karena ia salah arah. Tak ada orangutan di wilayah barat Negeri Jiran.

Seorang kawan lalu mengusulkannya pergi ke Sumatera. "Di sana lagi banyak perburuan. Pasti banyak orangutan," ujar Alain mengingat perkataan temannya itu.

Alain sampai di Medan pada 1975, lalu bekerja di kawasan konservasi orangutan di Bohorok, Langkat, Sumatera Utara. Sambil berada di sana, Alain mengerjakan proyek foto untuk majalah bergengsi di Prancis, Paris Match.

Dari sanalah kehidupannya lalu berjalan terus hingga sekarang. Menjadi fotografer, kamerawan, dan konservasionis. Tiga profesi yang ia jalani sekaligus selama 40 tahun.

Alain Compost, 40 tahun dedikasinya untuk satwa liar Indonesia /Beritagar ID

Ke Kutub Utara

Alain sebenarnya tak sekadar maestro. Dialah salah satu pionir fotografer alam, terutama satwa liar, di Indonesia. Ketika ia memulai profesi ini masih sedikit sekali jumlahnya.

"Sekarang sudah banyak. Tapi saya tidak tahu mereka sekadar untuk trophy hunting atau mengirim pesan soal konservasi ke masyarakat. Bisa dilihat dari caption-nya," kata kakek lima cucu itu.

Ia enggan memotret untuk memanjakan mata orang yang melihat. Baginya, setiap proyek yang ia kerjakan harus ada pesan untuk melestarikan alam. Prinsip ini yang kukuh ia pegang sejak awal berkarier.

Dari situ, ia bekerja tanpa mengenal waktu dan lelah. Fotonya yang paling fenomenal, yaitu badak bercula satu atau badak Jawa, pada 1986 di Ujung Kulon, Jawa Barat, lahir dari hasil kerja kerasnya.

Butuh waktu berhari-hari hingga ia bisa menemukan keberadaan makhluk pemalu tersebut. Ia setia menanti, tanpa bersuara, bahkan menahan napas supaya tidak menakuti badak. Sempat pula ia melumuri badannya dengan kotoran badak untuk menutupi bau manusia.

Saat badak muncul, hatinya berdegup kencang karena sangat gembira. Tapi ia menahan diri, menyentuh tombol klik kameranya beberapa kali, sampai berhasil mendapatkan gambar yang bagus.

Saat itu baru Alain yang sukses mengabadikan gambar satwa tersebut dengan hasil yang baik. Tapi bukan untuk terakhir kalinya. Ia beberapa kali melakukan hal yang sama. Bahkan pernah dalam satu hari ia berhasil bertemu dengan badak bercula satu. Keberuntungan yang rasanya hampir mustahil terjadi.

Pesanan lalu datang bertubi-tubi untuknya. Tapi jelang pergantian abad, ia fokus mengabadikan gambar yang bergerak, yaitu film. Menjadi kamerawan juga menantang dirinya untuk menangkap emosi para satwa liar dengan baik.

April lalu ia mendapat order dari sebuah televisi Inggris. Permintaannya cukup spesifik. Mengambil gambar dua babi rusa jantan yang sedang berantem di Sulawesi.

Alain awalnya ragu untuk menerima permintaan tersebut karena waktunya hanya seminggu. Tapi akhirnya ia mengiyakan.

Setiap hari Alain bekerja dari setengah tujuh pagi sampai magrib, menunggu babi rusa berantem. "Baru hari kesembilan saya berhasil dapat gambarnya. Jadi saya hitung lebih 100 jam saya menunggu babi rusa berantem," katanya tertawa.

Alain Compost saat mengabadikan gambar di Kutub Utara sekitar dua tahun lalu untuk sebuah televisi Prancis.
Alain Compost saat mengabadikan gambar di Kutub Utara sekitar dua tahun lalu untuk sebuah televisi Prancis. | /dokumentasi pribadi Alain Compost

Yang paling ekstrem mungkin pengalamannya meliput beruang kutub di Kutub Utara dua tahun lalu. Kali ini ia bekerja untuk televisi asal negaranya.

Cuaca di Arktik saat itu minus 25 derajat Celcius. Biasa bekerja di daerah tropis, Alain sempat kagok menyesuaikan diri dengan baju dingin yang ia kenakan.

Untuk mengatur kamera, terpaksa ia melepas sarung tangan. Tapi itu pun tak lebih dari lima menit karena takut jari tangannya membeku.

Lalu, urusan buang air pun lebih sulit lagi. Ia terpaksa menahan tiga hari untuk kebutuhan pokok tersebut. Sampai akhirnya ia sudah tak tahan dan pergi mencari lubang pembuangan. Dasar apes, tisu untuk membersihkan dirinya terbang. Alain terpaksa pakai tangannya langsung.

Benar saja yang ditakutkan terjadi, tangannya kena frostbite alias radang dingin. "Sampai balik ke Prancis, tangan masih terasa beku," katanya. Untungnya Alain tak mengalami amputasi. Tangannya sekarang sudah kembali normal.

Berkali-kali mendapat tugas berat, Alain tak pernah kapok. Ia malah tertawa ketika menceritakannya ulang.

Hutan Indonesia menjadi spesialisasinya. Sayangnya, hutan yang ia cintai ini perlahan-lahan mengalami kehancuran. Ujung Kulon yang punya tempat spesial di hatinya pun berubah menjadi tempat yang kotor dan berisik. "Bagaimana bisa melihat badak kalau berisik?" katanya.

Restoran dan tempat souvenir juga berkontribusi pada perubahan fungsi hutan. "Menurut saya, pariwisata itu satu musibah. Banyak hutan yang bagus di Indonesia sekarang jadi rusak karena mass tourism," ujar Alain. "Jadi, nikmatnya sudah lain."

Tak terhitung berapa jumlah gambar alam dan satwa yang telah ia abadikan. Ia melintasi zaman, bahkan kemajuan kamera dari analog ke digital.

Semua dokumentasi itu tersusun rapi di dalam rumahnya. Ada ribuan klise positif Alain simpan dalam 13 rak lemarinya. Beberapa sudah ia simpan digital. Kalau ingin melihat suku Asmat pada awal 1990an, sila cek ke Alain. Ia punya gambar otentik saat suku di Papua tersebut sedang melaksanakan upacara adat.

Belum lagi gambar satwa liar di Indonesia. Orangutan, gajah, badak, musang, monyet, cendrawasih. Khusus binatang yang terakhir, karya Alain yang mengabadikan satwa itu sempat tercetak pada pecahan uang Rp20 ribu pada era 1990an.

Ribuan klise ini sekarang menjadi ganjalan di pikirannya. Sejak setahun lalu ia sudah mewarkan ke pemerintah agar mau merawatnya. "Saya tak sanggup karena ruangannya butuh AC dan bayar listrik jadi mahal," katanya.

Sampai sekarang tak ada yang mengambilnya. "LIPI pernah bilang mau ambil tapi mereka tidak pernah datang," ujar Alain.

Ia tak mau memberikannya ke pihak swasta. "Mereka kepentingannya bisnis. Saya mau kasih ini untuk kepentingan sejarah," katanya.

Fotografer, kamerawan, dan konservasionis, Alain Compost, di rumahnya, Bogor Jawa Barat pada Selasa (23/10/2018).
Fotografer, kamerawan, dan konservasionis, Alain Compost, di rumahnya, Bogor Jawa Barat pada Selasa (23/10/2018). Bismo Agung /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 25 Oktober 2018

Alain Compost

Tempat, tanggal lahir:
Paris, 18 Mei 1952

Kewarganegaraan:
Prancis

Pendidikan:

  • Jurusan Agronomi/Zoologi/Biologi/Fisika, Magny Cours Agriculture, School-Nevers, Prancis (1965-1967)

Karier dan beberapa karyanya:

  • Penjaga hewan di Paris Zoological Park (1968-1972)
  • Chief Ranger, St. Augustin Reserve (1972-1974)
  • Reporter Foto, majalah Paris Match (1974-1975)
  • Reportase rehabilitasi orangutan di Bohorok, Sumatera Utara untuk majalah Paris Match (1975-1976)
  • Reportase rehabilitasi orangutam untuk Join Bruce Coleman Photo-Agency, Inggris (1975-1976)
  • Konsultan audio visual, fotografer khusus konservasi alam dan lingkungan, Yayasan Hijau Indonesia, Bogor (1977-1984)
  • Asisten kamerawan untuk Anglia TV dalam proyek dokumenter badak bercula satu, Ujung Kulon, Jawa Barat (1981-1982)
  • Kamerawan untuk BBC Natural History Unit dalam film Which Side of the Line, Sulawesi (1983-1984)
  • Reportase foto soal satwa liar Jawa untuk National Geographic (Juni 1983)
  • Kamerawan untuk Wolfgang Bayer's on Rhinos of the World, Ujung Kulon, Jawa Barat (1985)
  • Sinematografer film dokumenter Gramedia Wildlife of a Garden, Ujung Kulon, Jawa Barat (1985)
  • Sinematografer untuk Kebung Binatang Howletts untuk film dokumenter badak Sumatera, Wanted Alive, Sumatera (1986)
  • Join Bios Photo Agency, reportase kehidupan hewan liar Jawa untuk majalah Terres Sauvages Figaro dan buku terbitan Gramedia, The Wildlife of Indonesia (1987-1989)
  • Dokumentasi proyek pertambangan PT INCO Nickel, Sulawesi (1987-1989)
  • Bergabung dengan Gemini Satria Film, Jakarta (1989)
  • Kumpulan fotonya terbit dalam buku Photos of Indonesia, Periplus Guide Books (1990)
  • Foto burung cendrawasih karyanya tercetak dalam uang rupiah pecahan 20 ribu (1990)
  • Foto dokumentasi di suku Asmat, Papua (1990)
  • Kamerawan untuk BBC Natural History Unit untuk film dokumenter An Island Apart, Papua (1991)
  • Fotografer utama untuk APA Guide Book onSouth (1991)
  • Film dokumenter karyanya Les Forçats du Souffre memenangkan penghargaan (1991)
  • Kamerawan video untuk serial TF1, Ushuaia, Jawa-Kalimantan-Sumatera-Sumba-Jakarta (1992)
  • Fotografer dan co-author untuk buku Oxford University Press berjudul Green Indonesia, Jawa-Kalimantan-Sumatera-Sumba-Jakarta (1992)
  • Kamerawan untuk Marathon Productions Documentary dalam film Flying Foxes, Darwin, Australia (1992)
  • Fotografer untuk foto A Dugong in the Family yang terbit dalam majalah Figaro, Papua (1993)
  • Konsultan untuk Impact/APHI Indonesian Wildlife Commercial, Jawa (1993)
  • Fotografer dan kamerawan untuk ekspedisi BIOTROP/APHI di Gunung Kerinci untuk film dokumenter Boreales Production Documentary berjudul Les Cuilleurs de Ciel, Sumatera (1994)
  • Fotografer untuk Didier Millet Editions berjudul Tanah Air, Jawa (1994)
  • Foto dokumentasi untuk PT Badak Natural Gas Liquefaction Industry, Gemini Films, Kalimantan (1994)
  • Hasil fotonya masuk dalam Didier Millet Editions seri Heritage, Jawa (1995)
  • Fotografer utama untuk buku berjudul Fruit of Indonesia yang diterbitkan Taman Buah Mekar Sari, Jawa (1996)
  • Foto dokumentasi untuk WWF Belanda di Taka Bone, Sulawesi (1997)
  • Foto dokumentasi untuk WWF Holand di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan (1997)
  • Foto dokumentasi untuk UNESCO di Taman Nasional Kutai, Kalimantan (1997)
  • Foto industri dan aerial untuk Kiani Kertas Pulp Facotyr, Kalimantan (1997)
  • Fotografer utama untuk buku berjudul Birding Indonesia terbitan Bird Life International, Kalimantan (1997)
  • Sinematografer untuk film La Forêt de Cendres, Télé Image Nature tentang orangutan Kalimatan (1997)
  • Fotografer untuk seri prangko Istana Presiden Indonesia, Jawa (1998)
  • Kamerawan untuk serial televisi Islands di Selandia Baru tentang badak Jawa (1998)
  • Fotografer utama untuk buku terbitan Periplus Tropical Mamals (1998)
  • Kamerawan untuk Animal Planet (Amerika Serikat) tentang badak Sumatera (1999)
  • Kamerawan untuk TF1 tentang suku Koroway, Papua (1999)
  • Foto proyek konservasi burung di Sangih Talaud, Sulawesi (1999)
  • Fotografer untuk Canal+ untuk film Dans La Nature tentang Suku Kerulu. Foto-fotonya terbit dalam majalah Paris Matcn, papua (1999)
  • Fotografer utama untuk Kementerian Kehutanan dalam proyek buku Pembangunan Hutan Berkelanjutan Cerminan Iman dan Taqwa (1999)
  • Fotonya tentang badak Jawa terbit dalam majalah Science News (AS) (1999)
  • Berkontribusi untuk buku Hot Spots of The World yang diterbitkan oleh Conservation International, Meksiko (2000)
  • Kamerawan untuk TF1 serial Ushuaia, Sabah, Malaysia (2000)
  • Foto dokumentasi Taman Nasional Kerinci Seblat untuk World Bank Biodiversity Project, Sumatera (2000)
  • Berkontribusi dalam buku Sanctuaries of The World yang diterbitkan di Meksiko (2000)
  • Mendirikan yayasan Wanamedia Lestari, aktif dalam memproduksi materi audio visual tentang konservasi alam, Jawa (2000)
  • Memproduksi film tentang orangutan untuk televisi di Swiss (2000)
  • Ditunjuk sebagai penanggung jawab seluruh konten gambar kawasan konservasi badak di Taman Nasional Way Kambas, Sumatera (2001)
  • Membuat film tentang orangutan untuk Swiss TV, Sumatera (2001)
  • Membuat film dokumentasi Taman Nasional Kerinci untuk WWF, Sumatera (2002)
  • Membuat film tentang badak Jawa di Ujung Kulon untuk Animal Planet, Jawa (2002)
  • Membuat film serial Ushuaia untuk TF1, Mongolia (2003)
  • Foto dokumentasi Bukit 12 dan Bukit 13, Orang Rimba, Sumatera (2003)
  • Sutradara dan kamerawan film tentang hutan jadi untuk WWF, yang diproduseri oleh WanaMedia, Jawa (2003)
  • Sutradara dan kamerawan film The Story of Rimba untuk WanaMedia for The Gibbon Foundation (2004)
  • Kamerawan film Equator untuk National History New Zealand, Papua Nugini-Sumatera-Jawa (2004)
  • Berkontribusi dalam film Heart of Borneo untuk kampanye Borneo WWF Belanda dan WWF International, Kalimantan (2005)
  • Sutradara, kamerawan, dan editor film Oil Palm Invasion Our Forests Destruction untuk BOS Foundation (2005)
  • Sinematografer film Les Fondus de La Forest untuk FR3/Teleimage Nature (Prancis) yang memenangkan penghargaan (2005)
  • Sinematografer untuk 13 episode serial televisi yang memenangkan penghargaan berjudul Orang Utan Island, Kalimantan (2006)
  • Fotografer macan dahan untuk National Geographic International, Kalimantan (2007)
  • Kamerawan tentang orangutan dan efek kehidupan mereka ketika habitat hutan rawa gambut semakin hancur untuk Primate Productions/Monkey World, Kalimantan (2008)
  • Kamerawan erupsi Anak Krakatau untuk Pioneer Productions, Jawa (2008)
  • Sinematografer untuk serial Ushuaia TF1 (Prancis) untuk film kelelawar vampir, hewan liar, piramid suku Maya, dan buaya di Amerika Tengah (2008)
  • Fotografer Taman Nasional Gunung Leuser untuk UNESCO, Sumatera (2008)
  • Sinematografer Monkeys in The CIty of Bridavan untuk serial Ushuaia TV1 (Prancis), India (2009)
  • Menyiapkan film The Reed Ape untuk Copenhage Climate Change Summit (2010)
  • Mendokumentasikan badak Sumatera, Way Kambang, Lampung (2010)
  • Sinematografer Vivre ou mourrir a Dongi Dongi untuk Jangal Production La Cinque-France, Sulawesi Tengah (2010)
  • Kamerawan utama untuk One Planet Productions (Prancis) berjudul Orphans of The Wild, Sumatera (2010)
  • Kamerawan untuk film Jangal Productions berjudul La Lune et Le Bananier, Madagaskar (2011)
  • Mendokumentasikan upaya konservasi APP, RIau, Sumatera (2011)
  • Kamerawn untuk BBC Panorama Investigation untuk film Dying for a Biscuit (2011)
  • Mendokumentasikan tradisi dan festival budaya Asmat, Papua untuk produksi televisi Prancis (2011)
  • Membuat film tentang orangutan yang hamil kembar untuk produksi televisi Jerman berjudul The Story of Gober (2011)
  • Bekerja sama dengan APP dan SMART dalam membuat film untuk mengedukasi para pekerja sawit tentang proyek konservasi dan orangutan (2012)
  • Menyutradari film BBC berjudul Operation Wild, Kalimantan Tengah (2012)
  • Menyutradari film Si Belang tentang harimau Sumatera (2012)
  • Kamerawan untuk BBC Jersey Production untuk YEL Orangutan Conservation Project, Sumatera (2013)
  • Fotografer buku 7 Days in Myanmar dengan 30 fotografer lainnya dari seluruh dunia, Myanmar (2013)
  • Produser dan kamerawan untuk Verein-fascination-regenwald (Jerman) dalam film Expedition Meratus, Kalimantan Timur (2013)
  • Pekerjaannya ketika mengabadikan badak Jawa masuk dalam salah satu episode Vue Sur Terre, La Cinq Channel, Prancis (2013)
  • Memproduksi film tentang Tony Junifer berkunjung ke Konservasi APP dan inisaitf keberlanjutan, Jakarta, Riau, Sumatera (2014)
  • Berkontribusi dalam Joseph Pondocorvo Film untuk National Geographic, Aceh (2014)
  • Sutradara film RAN (Rain Forest Action Network), Kalimantan Tengah (2014)
  • Kamerawan untuk ARTE, Jawa, Bali, Papua (2015)
  • Kamerawan hewan liar Sumatera untuk serial Instinct Sauvage, Sumatera (2015)
  • Dokumentasi perkebunan sawit di Sumatera untuk Kementerian Luar Negeri (2015)
  • Sinematografer untuk film dokumenter Bavarian TV berjudul The Story of Gober, Sumatera (2015)
  • Persiapan membuat buku dan proyek dokumentasi 40 Tahun in Indonesia yang disponsori oleh National Geographic Asia (2016)
  • Sinematografer untuk Antenne2 Documentary tentang bagaimana hewan liar tidur di hutan tropis Sumatera (2016)
BACA JUGA