Andi Riccardi Jatmiko berpose untuk Beritagar.id di halaman kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019)
Andi Riccardi Jatmiko berpose untuk Beritagar.id di halaman kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Perang dan luka Andi Riccardi Jatmiko

Selama 22 tahun bertugas, Andi Jatmiko beroleh luka dan pengalaman. Tak pernah merasa trauma meski nyawa jadi taruhan.

"Gue pernah lihat orang dieksekusi. 12 peluru bersarang di badannya. Gue pernah ikutin orang dari hidupnya sampai matinya waktu kepalanya dipenggal," demikian Andi Riccardi Jatmiko, 54, berujar. "Gue enggak punya belas kasihan kalau lihat kekerasan kayak begitu".

Kalau sekadar mencocokkan lisan dan perawakannya, orang mungkin berpikir Andi seorang jagal. Badannya tampak biasa menyerap latihan beban, dengan dua lengan bertato yang terlihat tangkas berkelebat. Air mukanya meniru kebekuan arca, plus ketenangan ala Clint Eastwood dalam film A Fistful of Dollars waktu aktor Amerika itu bilang, "siapkan tiga peti mati".

Andi berbicara tentang lantai bangunan berlapis genangan darah dan peluru menembus kepala sekalem dia bercerita mengenai perjumpaan dengan kawan lama. Dia memutar balik pengalamannya berhadap-hadapan dengan sisi kelam manusia tanpa menyisakan ruang bagi lawan bicaranya untuk sekadar membatin: apakah orang ini sudah tak punya hati?

"Gue masuk, mayat sudah gosong semua. Gue berjalan di antara tengkorak-tengkorak," begitu ujarnya waktu mengenangkan suasana Yogya Plaza, Klender, Jakarta Timur, usai bangunan itu terbakar dalam huru-hara Mei 1998.

Meski begitu, Andi tak selalu lancar berkisah. Di sela penceritaan, dia beberapa kali minta waktu menyalakan rokok. Itu mungkin jadi semacam jeda bagi denting kegelapan yang merambat dari piano ingatannya. Sigaret itu memang tak dia isap dengan konstan. Namun, sekali menyedot asapnya, dia melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti tak ingin lagi mengembuskannya.

Bagaimana mengelola emosi ketika berada dalam situasi sedemikian, Andi tak sanggup memastikan. Dia cuma bilang bahwa paparan atas satu kekerasan ke kekerasan lain bisa jadi bikin dia "makin lama makin kebal." Dia jadi "terbiasa" dengan wajah kekerasan. Dan, "akhirnya, enggak punya rasa lagi".

Situasi desensitisasi.

Pada kali lain, batu yang dia sangka bersemayam di dadanya itu ternyata masih bisa dipecahkan. Salah satu momennya terjadi pada Desember 2004, yakni sehari usai gempa dan tsunami memakan ratusan ribu nyawa di Aceh dan sejumlah negara yang bersemuka dengan Samudra Hindia.

Andi bertolak dari Jakarta dan tiba di Medan pada sore 26 Desember, hampir setengah hari usai petaka itu pecah dan tersiar. Di Medan, dia membeli Kijang Super seharga Rp70 juta karena tidak beroleh mobil sewaan. Dia penuhi kendaraan itu dengan bensin cadangan, makanan, dan generator.

Pada 27 Desember, dia sudah di Banda Aceh. Sebuah titik di muka Hotel Kuala Tripa, tempat Andi biasa bermalam, membuatnya terpaku.

"Ada ibu-ibu sama anak kecil yang mungkin berumur dua tahun. Berlepotan lumpur. Dua-duanya sudah mati. Yang membuat gue nangis, di muka anaknya ada bekas sapuan tangan. Gue langsung berpikir. Si ibu pas sekarat pasti masih sempat bersihin saluran nafas (anaknya)," katanya.

Pilihan tak disengaja

Apa yang dia saksikan dan alami selama lebih dari dua dasawarsa belakangan di lingkup nasional atau internasional mungkin melampaui apa yang rata-rata manusia Indonesia dapati dan rasakan dalam jangka waktu sama.

Pasalnya tunggal. Dia bekerja di tempat yang memungkinkannya untuk merekam peristiwa-peristiwa menonjol, baik lewat mata atau lensa.

Andi sudah 22 tahun menjadi juru kamera bagi Associated Press Television News (APTN) cabang Jakarta. APTN merupakan stasiun televisi berskala global yang digerakkan oleh Associated Press, kantor berita tertua sejagat yang bermarkas di Amerika Serikat.

"Gue adalah orang yang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Pas masuk ke dunia jurnalistik, pas Suharto jatuh. (Pas) kerusuhan. Ada (konflik) Timor Timur, Ambon. Enggak berhenti. (Lalu) mulai ada Bom Bali, teroris, pengeboman di mana-mana," ujarnya.

Portofolionya pun berderet-deret. Sebagian kecil di antaranya--selain yang disebut barusan: Perang Afghanistan (2001, 2007, 2009); Perang Irak (2003); konflik Israel (2004, 2005, 2006); Burma (2008); Mesir (2011); Tsunami Aceh (2004); Tsunami Jepang (2011); Gunung Merapi (2010).

Di luar lis itu, rupa-rupa hal sebenarnya juga dia liput. Mulai ajang olahraga hingga kontes kecantikan, atau peristiwa politik, bencana alam, hingga kecelakaan transportasi. Namun, Andi merasa nyaman ketika kali pertama mendapat penugasan ke wilayah konflik.

"Adrenalin naik, dan hasil bagus," katanya. Tetapi, "ketakutan itu ada. Gue bukan Superman. Awal-awal gue juga takut. Tapi setelah di sana, gue menikmati. Rasa takut itu pun tertutup, jadi tantangan".

Andi Riccardi Jatmiko berpose untuk Beritagar.id di halaman kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019).
Andi Riccardi Jatmiko berpose untuk Beritagar.id di halaman kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Anak kedua pasangan Lastyo Jatmiko dan Ermestin itu padahal tak pernah berminat menjadi pewarta. Sebelum bergabung dengan APTN pada 1997, Andi adalah seorang produser di Axis--rumah produksi di Jakarta yang biasa menggarap iklan-iklan produk rokok--pada rentang 1992-1996.

Dia punya dua kenangan kuat di kantor itu. Pertama ketika ikut mengerjakan iklan Gudang Garam berisi karnaval ribuan orang membawa bendera merah putih dari Gunung Bromo, Jawa Timur, hingga kawasan Jendral Sudirman, Jakarta. Lalu saat mengisi peran pengganti iklan Gudang Garam Merah pada 1994 tentang percobaan menghentikan tabrakan kereta dan truk.

"Gue soalnya juga pernah jadi stuntman di film Perawan Rimba," ujarnya mengenai karya arahan Danu Umbara pada 1982.

Bagaimanapun, kenyamanan di Axis menggelisahkannya. Suatu hari pada 1997, dia pun iseng menarik taksi. Ayahnya punya saham di Sri Medali, dan Andi menyewa salah satu unitnya. Di muka Wisma Antara, Jakarta Pusat, seorang kulit putih menenteng kamera menyetop taksinya. Dia Tim Deagle, perintis APTN Jakarta.

"(Kami) ngobrol, dan nyambung. Sampai rumahnya, dia enggak mau turun. Akhirnya dia nanya: 'Lo mau kerja sama gue?'" kata Andi tentang pintu masuknya ke jagat jurnalistik.

Kegemparan di Timor Timur

Andi tak serta-merta mengambil gambar setelah di APTN. Sebagai asisten Tim Deagle, dia mesti memastikan perangkat rekam siap dioperasikan kapan saja. Kesempatan merekam gambar datang setelah Tim merasa Andi punya kemauan belajar tinggi.

Kebetulan, kondisi sosial dan politik di Jakarta tengah menghangat. Sebab, krisis moneter menguji ketahanan Indonesia. Ujian itu terbukti terlalu sulit. Nilai rupiah terhadap dolar AS merosot drastis. Harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik. Akhirnya, ketegangan merebak di tengah khalayak.

Jalanan mulai sering menjadi panggung unjuk rasa. Ketidakpastian akhirnya berujung kerusuhan, serta pernyataan mundur Suharto.

"Saat itu luar biasa kerja gue. Hampir 24 jam. Enggak ada istirahat. Setiap hari mobile. Hampir ke semua tempat (di Jakarta). Yang miss cuma penembakan (di) Trisakti," ujarnya.

Setelah Suharto tak lagi menjadi presiden, wakilnya, B.J. Habibie, menggantikan. Kondisi ini menggiring Andi ke Timor Timur (Timtim). Sebab, pada masa pemerintahan Habibie, rakyat Timtim beroleh kesempatan untuk terlibat dalam jajak pendapat. Mereka punya dua pilihan: ikut Indonesia dengan otonomi khusus, atau merdeka.

"Penugasan di (Timtim) termasuk yang paling lama. Bisa di sana dua minggu, dan seminggu di Jakarta. Dari mulai pecah konflik, hingga terbentuk pemerintahan baru," kata Andi.

Baginya, daerah bekas koloni Portugal itu merupakan gudang kekejaman, kekejian, dan penderitaan menjelang dan sesudah referendum.

Contohnya ketika terjadi pembantaian di sebuah gereja di Liquica, sebuah kota pantai berjarak lebih 30 km dari Dili, pada April 1999. Di sebuah rumah di sisi gereja, Andi menyaksikan orang-orang bergeletakan. Di sana-sini darah. Udara hanya amis dan pengap.

"Di gereja, suara tembakan masih berbunyi. Kalau gue ke sana, mungkin gue menjadi salah satu mayat yang diangkut ke truk. Gue melihat truk penuh mayat itu jalan entah ke mana," ujarnya.

Di Timtim pula Andi mengenal Eurico Guterres, komandan kelompok milisi terbesar Dili, Aitarak. Di belakang hari, Guterres dituding terlibat dalam kejahatan kemanusiaan di Timtim. Pada November 2002, Pengadilan HAM Ad Hoc pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonisnya 10 tahun penjara atas dugaan tersebut.

"Eurico Guterres pada satu kesempatan bilang, 'Kita akan bumihanguskan Timor'," ujar Andi saat memberi prolog akan sebuah momen menggentarkan.

Andi menganggap serius pernyataan itu. Dia pun meminta enam koleganya di AP--lima di antaranya warga negara asing--untuk pindah dari rumah kontrakan mereka di daerah Audian, Dili, ke Hotel Mahkota yang dijaga Brimob dan terletak dekat pusat kota.

Pada 4 September, hasil referendum diumumkan. Lebih dari 78 persen suara pilih merdeka. Esoknya, Aitarak mengamuk. Letusan senjata menyalak di mana-mana. Rumah yang Andi huni juga jadi sasaran tembak. Segerombolan orang berseragam Aitarak memberondong kontrakan yang sudah ditinggal pergi para kolega Andi.

Dalam kekalutan, Andi menelepon ibunya. Mereka berbincang seakan-akan itu bakal menjadi kali terakhir. Di ujung pembicaraan, ibunya menguatkan Andi, mengirim dukungan.

"(Lalu), ada tenaga dari mana, gue enggak ngerti. Gue punya baju Aitarak dikasih Eurico. Punya topi hitam berlambang belati punya Kopassus. Gue keluar sambil nendang pintu. (Mereka) kaget lihat gue. 'Hei, primo!' gue teriak 'Bangsat kalian! Apa yang kalian lakukan di sini?!'" Andi berseru. Dia nekat.

Para milisi terperanjat. Mereka cepat kasih Andi hormat. "Maaf komandan," kata Andi menirukan ucapan seorang di antara milisi bersenjata, "kita enggak tahu komandan tinggal di sini".

Andi Riccardi Jatmiko berpose untuk Beritagar.id di halaman kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019)
Andi Riccardi Jatmiko berpose untuk Beritagar.id di halaman kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Sebenarnya, bukan serangan itu belaka yang membuat Andi bergidik. Kenyataan bahwa halaman belakang rumah itu dijadikan tempat berlindung sekitar 60 perempuan dan anak-anak asal keluarga prokemerdekaan Timtim justru menyengatnya.

Dia tak mengetahui kapan para pengungsi itu menyusup ke pekarangan berpohon jambu itu. Informasi lengkap dia peroleh dari pembantunya, yang ikut berhimpun di situ.

"Mereka orang belakang (rumah). Suami-suami mereka dibunuh lalu mereka lari ke sini (dengan menjebol tembok batako). Kalau orang-orang Aitarak itu masuk, bisa celaka semua mereka," ujarnya.

Ledakan ranjau dan tulang rusuk patah

Timtim semacam menjadi jembatan bagi Andi untuk menjelajahi pelbagai arena konflik dan peperangan di dalam negeri atau mancanegara. Selepas meliput di teritori yang sekarang menjadi negara merdeka itu, dia beberapa kali ke Maluku untuk mengabadikan konflik sektarian yang berlangsung pada1999-2002.

Beberapa insiden di Ambon menetap di pikirannya. Misalnya, gambaran bagaimana orang-orang mati diberondong dan "jatuh bergelimpangan seperti pohon pisang roboh". Atau pemuda berusia belasan yang tewas ditembak setelah meminjam koreknya. Atau bahkan upaya Andi berpura-pura menjadi mayat untuk bisa selamat, dalam satu skenario pelarian yang dia sebut sebagai "The Great Escape".

Selain ke Maluku, dia juga dikirim ke Fiji--penugasan pertamanya ke luar negeri--pada 2000 untuk meliput aksi kudeta menggantikan juru kamera AP Bangkok, Thailand, yang tertembak. Lalu berturut-turut setelah itu, Andi berangkat ke Pakistan, Irak, atau Afghanistan.

Pertama kali Andi meliput Perang Afghanistan pada 2001, punggungnya kena nahas. Dia jadi target penembakan waktu mencoba masuk ke Kabul dari Peshawar, Pakistan, lewat jalan darat. Rute dimaksud kesohor dengan eksistensi pelbagai pasukan swasta yang menjaga lahan-lahan opium.

Andi beruntung karena pakai rompi pelindung. Pakaian itu menjinakkan peluru. Sialnya, lapisan pelindung pada rompi sempat terkoyak. Pecahannya pun menusuk daging.

"Waktu itu sih enggak mikir apa-apa. Lihat berdarah, terus biasa lagi. Justru yang bikin deg-degan kalau mengingatnya," katanya.

Delapan tahun kemudian, dalam perang sama, Andi, sekali lagi, nyaris kehilangan nyawa. Dia masih ingat hari celaka itu: 11 Agustus 2009. Seminggu lagi dia bakal pulang ke tanah air.

Kecelakaan terjadi saat dia sedang berada di dalam satu dari empat kendaraan Tim Tempur Brigade Kelima Stryker dari Batalion Pertama Angkatan Darat Amerika Serikat yang sedang berpatroli di dekat kawasan Spin Boldak, Kandahar, Afghanistan.

"Itu hari checking out setelah penyerangan. Aku sama Emilio Morenatti. Stryker itu sempit banget. Untuk duduk aja susah. Enggak bisa adu dengkul. Harus buka kaki," ujarnya tentang kendaraan tempur lapis baja yang tengah mengarah ke satu kampung itu.

Morenatti fotografer AP peraih penghargaan. Dia juga berpengalaman meliput di medan perang.

Sekitar pukul 15, terdengar ledakan. Andi yang tertidur, geragapan. Dia merasa Stryker itu terlontar ke udara. Kondisi seketika gelap. Telinganya menangkap rintihan: "Oh, my God. I'm gonna die". "Help....Help".

"Gue pegang kepala gue, darah," kata Andy. "Di tangan gue potongan kaki. Sebelah gue, kaki hancur. Gue sama Emilio buka-bukaan kaki (berhadap-hadapan). Kakinya yang satu hancur. Orang yang setelah kejadian itu masih punya kaki cuma gue dan driver".

Stryker yang dia tumpangi melindas ranjau rakitan yang biasa disebut IED atau improvised explosive device. Kala itu, banyak tentara AS dan NATO di Afghanistan mati karena IED. Risiko pun akhirnya menghinggapi jurnalis yang acap kali membonceng tentara Barat yang berpatroli atau melangsungkan penyerangan.

Andi dan Emilio segera dilarikan ke rumah sakit militer di Kandahar dengan helikopter. Dari sana, mereka dijemput oleh pesawat evakuasi medis sewaan kantor, dan diterbangkan ke Dubai. Kaki kiri Emilio akhirnya diamputasi. Andi kena patah tujuh rusuk dan pergelangan kaki.

"Kaki justru sembuh sama tukang patah tulang di Solo. Rasa diobatinnya lebih sakit daripada pas kena ranjau," ujarnya.

Usai peristiwa, Pingkan, istri Andi, meminta agar suaminya tak lagi dikirim ke zona bahaya karena anak-anaknya masih kecil. Sejak itu, meski tak terjerat trauma, Andi tak lagi beroleh giliran ke kawasan konflik.

"Gue mampu mengatasi trauma dan rasa takut. Tapi, di sisi lain, gue enggak sekuat orang lain," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR