Pembalap sepeda downhill, Popo Ario, berpose untuk Beritagar.id pada Selasa (02/10/2018) di Velodrome, Sawojajar, Malang, Jawa Timur. Tampak di dada sebelah kanannya terdapat luka jahitan akibat terjatuh saat mengikuti lomba sepeda downhill pada ajang Asian Games 2018 Agustus lalu.
Pembalap sepeda downhill, Popo Ario, berpose untuk Beritagar.id pada Selasa (02/10/2018) di Velodrome, Sawojajar, Malang, Jawa Timur. Tampak di dada sebelah kanannya terdapat luka jahitan akibat terjatuh saat mengikuti lomba sepeda downhill pada ajang Asian Games 2018 Agustus lalu. Beritagar.id / Bismo Agung
FIGUR

Popo Ario bersepeda lagi

Ia batal pensiun. Jadi juara dunia downhill masih menjadi obsesinya.

Peristiwa apes itu sudah lepas sebulan lalu. Tapi ia belum bisa melupakannya.

Hampir saja ia bisa menyentuh finis. Medali emas Asian Games 2018 tinggal beberapa kayuh lagi ada di tangannya. Nahas! Ia jatuh.

"Saya tidak tahu ada akar di sana," kata pembalap sepeda downhill Popo Ario Sejati pada Selasa (02/10/2018) di rumahnya, kawasan Sawojajar, Malang, Jawa Timur.

Gara-gara akar, pedal sepedanya nyangkut, ia roboh ke kanan. Sialnya lagi, peristiwa tersebut terjadi di tempat yang ia sudah hafal medannya. Selama tiga bulan ia sudah berlatih di sana. Lokasinya di hutan kota Ranggawulung, Subang, Jawa Barat.

Ia kesal, frustasi, dan kecewa. Helm langsung ia lepas dan banting ke tanah. Tak ada lagi niat untuk melanjutkan pertandingan. Sudah pasti kalah. Ia juga merasakan tulang selangka di bahu kanannya patah.

Popo langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat. Dokter memasang pelat pada tulang selangkanya. Selama sebulan ia tak bisa bersepeda. Bekas jahitan tampak jelas di bahu atas sebelah kanannya.

Kalau ditotal, sudah tiga kali ia jatuh dalam perlombaan skala regional. Dua kali di Sea Games dan terakhir Asian Games. Keinginan untuk pensiun sempat terlintas dalam benaknya.

Kegagalan ini selalu terbayang-bayang. Bahkan ketika kami mau mewawancarainya, Popo mengaku malu berbicara di depan media. "Karena saya tiga kali gagal," ujar laki-laki berusia 32 tahun itu.

Tapi dari keterpurukan, ia menemukan kembali semangat. Ia masih ingin mengayuh sepeda dan menuruni bukit yang curam. "Cita-cita saya menjadi juara dunia," katanya.

Pembalap sepeda downhill, Popo Ario Sejati, beraksi di sela-sela pelatnas Asian Games 2018 di hutan kota Ranggawulung, Subang, Jawa Barat, Sabtu (04/08/2018).
Pembalap sepeda downhill, Popo Ario Sejati, beraksi di sela-sela pelatnas Asian Games 2018 di hutan kota Ranggawulung, Subang, Jawa Barat, Sabtu (04/08/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Berlatih dan jadi pelatih

Pagi itu, Popo berbaik hati menjemput kami di Bandar Udara Abdul Rachman Saleh, Malang. Rumahnya di daerah Sawojajar hanya 10 menit dari bandara.

Mobil Honda Freed berwarna putih berplat AG ia kendarai sendiri. Plat ini khusus ia buat di kota kelahirannya, Blitar. "Jadi kalau ada pertandingan sepak bola Arema (Malang) lawan Persebaya (Surabaya), mobil saya enggak kena rusuh," ujar Popo tertawa.

Kami bersantap nasi rawon sebelum ke rumahnya. Dalam warung Depot Pagi di daerah Pakis, Popo bercerita dirinya sudah mulai latihan rutin.

Latihan untuk downhill ia lakukan di Kota Batu. Ia juga rutin menjajal rute sepeda motocross (BMX) di Pusat Pelatihan dan Latihan Pelajar khusus balap sepeda. Nama tempat itu kerap disebut Velodrome. Letaknya kurang dari satu kilometer dari rumahnya.

Setiap hari ia juga berolahraga fitness untuk melatih ototnya. Hanya pada Ahad ia libur.

Selain berlatih, ia juga menjadi pelatih di Popo Ario Racing School. Sekolah ini resmi berdiri pada 2017 lalu. "Saya buat sekolah karena awalnya melatih adik saya," kata sulung dari empat bersaudara ini.

Adik nomor dua, Arinda Novitasari, saat ini menjadi bibit unggul atlet downhill perempuan di tanah air. Pada perlombaan tingkat nasional di Subang, Jawa Barat beberapa waktu lalu, Arinda menempati juara dua.

Keinginan perempuan berusia 21 tahun ini untuk menjadi atlet tak lepas dari peran Popo. "Sebenarnya dia sudah dari dulu pengen. Cuma takut kalau saya enggak bolehin," katanya.

"Cita-cita saya menjadi juara dunia."

Popo Ario Sejati

Pada akhirnya Popo mau melatih Arinda . Ia juga yang mencarikan sponsor untuk berlomba.

Awalnya, Arinda sama seperti Popo, menjajal perlombaan BMX. Lalu, karena pemberani, Popo menawarinya untuk mencoba downhill. Arinda ternyata berbakat pula di olahraga ekstrem ini.

Murid di sekolahnya saat ini tak banyak. Ia fokus mengajar beberapa orang saja untuk mencari bibit baru. Selain itu, ia juga harus konsentrasi dengan latihan rutin untuk dirinya. Tanggal 12 Oktober nanti ia kembali berlomba di Wonogiri, Jawa Tengah.

Popo kemudian bercerita baru saja mengalami peristiwa tegang karena adiknya. Bukan patah tulang karena jatuh saat lomba. "Adik saya terjebak di gempa Palu," katanya.

Sehari sebelum gempa berskala 7,4 skala Richter, Arinda tiba di Palu, Sulawesi Tenggara. Ia datang untuk mengikuti perlombaan sepeda downhill.

Saat lindu datang pada Jumat pekan lalu, Arinda bersama tujuh orang anggota tim sedang menginap di Hotel Amazing City Beach Resort. "Saya ditelpon terus sama bapak untuk mencari adik saya," ujar Popo.

Butuh waktu lama sampai ada satu anggota tim yang bisa dihubungi. Popo mendapat kabar kedelapan orang itu selamat dan berhasil menyelamatkan diri ke pegunungan.

Nanda Putra, rekan Arinda dan juga murid Popo, saat kejadian sampai berlari tanpa sehelai benang pun dari kamar mandi hotel menuju tempat tinggi. Di pegunungan itu mereka tidur semalam.

Esoknya, langsung ke bandara. Arinda lalu pulang ke Malang, lanjut ke rumah orang tuanya di Blitar. "Alhamdulillah, tidak ada yang terluka, semua sehat," kata Popo.

Popo Ario, kembali mengayuh sepeda /Beritagar ID

Berdamai dengan diri sendiri

Selesai makan, kami langsung menuju rumah Popo. Rumah berpagar putih itu terletak di kompleks perumahan yang lengang. Ia tinggal bersama istri, Meitha Surya Pradikta, dan anak, Keenan Rayyan Alfarezel.

Rezel yang berusia dua tahun bergerak hilir mudik di rumah dengan sepeda roda dua tanpa pedal. Popo mengatakan, anaknya sudah bisa naik-turun dengan sepeda kecil itu di lintasan BMX. "Saya yang takut melihatnya," kata Popo tertawa.

Lalu, kami berbincang di bengkel sepeda Popo yang letaknya di muka rumah. Ada lebih dari enam sepeda di sana. Yang paling berkesan adalah sepeda merek Patrol berwarna merah dan putih.

"Sepeda ini khusus untuk Asian Games," ujar Popo. Harganya Rp60 juta. Sepeda itu pula yang kerap mengingatkannya dengan insiden jatuh di Subang.

"Dua hari selama dirawat di Bandung, saya mikir terus apa yang salah," ujarnya. Ia menutup media sosialnya. Bahkan minim berkomunikasi dengan keluarga.

Sempat diminta datang acara penutupan, tapi ia tolak. "Daripada nanti saya kepikiran," kata Popo. Saat itu ia ingin cepat-cepat melupakan Asian Games. Ia pun segera pulang ke Malang.

Pikirannya kalut dan hampir gantung sepeda. Namun, Popo masih bisa menemukan akal sehat. Rezel salah satu yang memicu hal tersebut. Ia ingin membanggakan anaknya. Beberapa minggu kemudian, Popo bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

Terlepas dari insiden itu, Popo memang sulit lepas dari sepeda. Sejak kecil ayahnya, Seger Triyono, sudah mengenalkannya dengan olahraga ini. "Bapak dulu pembalap BMX juga tapi balap kampung. Terus saya diajarin," ujarnya.

Seger ingin anaknya seperti dirinya. Nama Popo pun diambil dari nama pembalap motocross legendaris Popo Hartopo. "Tapi saya enggak boleh balap motor. Bahaya kata bapak," kata Popo.

Dari usia taman kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Pertama, Popo terus mengikuti balap sepeda. Pada 2001, ia melihat tak mungkin maju jika masih di Blitar. Ia hijrah ke Malang untuk fokus pada pembinaan atlet sepeda.

Pelatihnya, Zainul Siswanto, lalu menawarkannya ke kelas downhill. "Dia melihat kemampuan saya pas turunan lebih berani dan kenceng," kata Popo. Pada 2007, ia mulai masuk ke cabang olahraga ekstrem ini.

Berbagai kejuaraan daerah, nasional, hingga regional telah ia raih. Namanya semakin harum. Berkat prestasinya, ia mendapat status pegawai negeri sipil untuk Kementerian Pemuda dan Olahraga sejak 2009.

Lantas, apa yang membuatnya cinta dengan olahraga downhill? "Tantangannya, pas turunan, belok, jumping. Saya suka yang ekstrem," katanya.

Pembalap sepeda downhill, Popo Ario Sejati, berpose untuk Beritagar.id pada Selasa (02/01/2018) di Velodrome, Sawojajar, Malang, Jawa Timur.
Pembalap sepeda downhill, Popo Ario Sejati, berpose untuk Beritagar.id pada Selasa (02/01/2018) di Velodrome, Sawojajar, Malang, Jawa Timur. Bismo Agung /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 04 Oktober 2018

Popo Ario Sejati

Tempat, tanggal lahir:
Blitar, 24 Juli 1986

Profesi:
Atlet sepeda gunung. Popo pernah menjadi atlet downhill peringkat pertama Asia pada 2009 dan 2013. Lalu, peringkat tiga Asia pada 2015.

Prestasi:

  • Peringkat 52 dari 80 atlet sepeda downhill di World Championship Australia (2017)
  • Peringkat empat kejuaraan nasional seri empat di Semarang, Jawa Tengah (2017)
  • Peringkat 54 Crankwork Downhill, Selandia Baru (2017)
  • Peringkat lima Asian Championship, China (2017)
  • Peringkat satu kejuaraan nasional di Sumatera Selatan (2017)
  • Peringkat lima International UCI C2, Sumatera Selatan (2017)
  • Medali emas PON Jawa Barat (2016)
  • Peringkat dua kejuaraan nasional RD 1, Umbul, Jawa Tengah (2016)
  • Peringkat tiga kejuaraan nasional RD 3, Batu, Jawa Timur (2016)
  • Peringkat dua kejuaraan ASEAN di Yogyakarta (2015)
  • Peringkat 26 kejuaraan Australia (2015)
  • Peringkat 120 Worldcup Forwilliam, Inggris (2015)
  • Peringkat 150 Worldcup Leogang, Australia (2015)
  • Peringkat tiga kejuaraan Asia, Malaysia (2015)
  • Peringkat satu pra-PON, Garut, Jawat Barat (2015)
  • Peringkat tiga kejuaraan nasional seri empat, Batu, Jawa Timur (2015)
  • Peringkat satu IDH Seri 2, Umbul Sidomukti, Jawa Tengah (2014)
  • Peringkat satu IDH Seri 1, Sarangan, Jawa Timur (2014)
  • Peringkat 45 World Championship, Australia (2013)
  • Peringkat satu Asian Championship, China (2013)
  • Peringkat satu IDH Seri 2, Tulungagung, Jawa Timur (2013)
  • Peringkat tiga IDH Seri 1, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur (2013)
  • Peringkat 127 World Championship, Italia (2012)
  • Peringkat tiga PON, Riau (2012)
  • Juara Umum IDH (2012)
  • Peringkat lima ASia Pasific, Cikole, Bandung, Jawa Barat (2012)
  • Medali emas Sea Games, Myanmar (2009)
  • Mendali perak Sea Games, Thailand (2007)

BACA JUGA