Rafa Jafar melakukan sesi pemotretan untuk Beritagar.id di Kafe Beranda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jum'at lalu (10/3/2017).
Rafa Jafar melakukan sesi pemotretan untuk Beritagar.id di Kafe Beranda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jum'at lalu (10/3/2017). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Rafa Jafar, bocah pengumpul sampah elektronik

Bagi Rafa, mengurus sampah khususnya sampah elektronik sudah mendarah daging dalam kehidupannya

Sebuah kotak berwarna hijau tampak mentereng di dalam Sekolah Labschool, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tinggi kotak itu tidak lebih dari satu meter dan bertuliskan, "Drop Your E-Waste Here." Itulah tempat sampah elektronik buatan Rafa Jafar. Bocah berumur 14 tahun itu memang sengaja mengumpulkan sampah-sampah itu untuk didaur ulang.

Siang itu, saya dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo diajak langsung oleh RJ, begitu biasa Rafa dipanggil, untuk melihat apa saja yang ada di dalam kotak hijau tersebut. Hanya ada kabel-kabel sekitar satu gulungan.

Kami pun bertanya mengapa isinya sedikit sekali. "Karena ditaruh di sekolah, makanya dikit banget yang membuang sampah elektronik," kata Ketua OSIS SMP Labschool itu.

Suasana di dalam sekolah sedang ramai pada Jum'at lalu (10/03/2017) karena kami datang pada saat jam sekolah selesai. Kawan-kawan RJ pun terlihat ingin tahu siapa kami. "Oh, ini dari media yang mau meliput Dropbox E-Waste," ujar RJ.

Teman-temannya langsung mafhum dengan hal itu. RJ memang telah dikenal di lingkungan sekolahnya sebagai penggiat pengelola sampah elektronik. Bisa dibilang, dia salah satu pionir di Indonesia yang melakukan hal tersebut.

Gerakan Dropbox E-Waste yang ia lakukan memang belum dalam skala nasional. Tapi keberhasilannya dalam mengangkat isu tersebut membuat RJ ditunjuk sebagai duta cilik dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Maroko pada November 2016.

Kami pun penasaran bagaimana RJ bisa memulai gerakan peduli sampah elektronik. Ia menerima waktu wawancara dengan Beritagar.id dengan satu syarat. "Wawancaranya enggak lama kan? Setengah jam saja ya," katanya. Ia mengaku harus menghadiri rapat OSIS setelah wawancara selesai. Kami menyetujui syarat itu.

Rafa Jafar
Rafa Jafar | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ide Sampah Elektronik

Di Beranda Kafe, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pembicaraan kami berlanjut. RJ lagi-lagi mengingatkan kami agar wawancaranya jangan terlalu lama. Saat itu ia masih mengenakan seragam sekolah, berkemeja putih dan celana panjang berwarna biru gelap.

Rekan kami, Sorta Tobing sudah menunggu. Ibunda RJ, Faradhiba Tenrilemba, datang tak lama kemudian bersama adik kecilnya yang berambut keriting. Sang ibu, yang kerap dipanggil Diba, sempat menawarkan RJ untuk mengganti seragamnya dengan kaos hitam. Tapi dia menolak.

RJ bercerita ketika duduk di bangku kelas lima sekolah dasar di Sekolah Cikal, Jakarta Selatan, ia mendapat tugas dari gurunya untuk membuat laporan. Tema besarnya ketika itu adalah soal gaya hidup. Lalu tema tersebut mengerucut ke overused electronic devices atau peralatan elektronik yang sudah tidak dipakai.

"Kami disuruh riset, masalahnya di mana, apa dampaknya bagi lingkungan sekitar dan solusinya bagaimana," ujar RJ. Tema ini sangat mengena untuk anak penyuka gawai tersebut. Ia langsung melihat fenomena masyarakat yang memiliki telepon selular lebih dari satu.

"Aku langsung keinget dan aku pikir buat apa ya? Lalu setelah tidak dipakai mau diapain (telepon selulernya), jadi sampah elektronik dong," pikirnya kala itu.

Menurut dia, orang zaman sekarang sangat konsumtif dalam menggunakan gawai, terutama telepon seluler pintar. Setiap ada teknologi baru, pasti yang lama tidak terpakai dan dibuang begitu saja. Tapi hal itu tidak diimbangi dengan kesadaran untuk membuang gawai tidak terpakai dengan benar.

Apalagi, saat ini pemerintah dan masyarakat masih lebih fokus pada sampah plastik. RJ jadi sangat penasaran bagaimana cara mengelola limbah elektronik. Sampai akhirnya ia menemukan pengelola limbah tersebut, yaitu PT WMI (Waste Managemen Indonesia), yang sekarang telah berganti nama menjadi PT PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri).

RJ melakukan riset pengelolaan limbah elektronik bersama teman-teman satu kelompoknya. Kebetulan di saat yang sama, RJ kala itu juga sedang gemar melakukan percobaan dengan gawainya. Seperti menyambungkan LCD (penampil kristal cair) ke komputer jinjing, lalu menduplikasi LCD agar tersambung dengan LCD lainnya.

Selama tiga bulan riset, hasil akhirnya adalah laporan, presentasi dan memamerkannya pada Februari 2014. Kakek RJ, Muhammad Jafar Hafsah, yang datang pada acara tersebut membaca sekilas laporan yang dibuat cucunya.

"Laporan ini tidak bisa ditinggal begini saja, harus bisa dikembangkan menjadi sebuah karya," ujar Hafsah, seperti ditirukan RJ.

Ia pun menjadi percaya diri untuk menuliskan hasil laporan itu ke dalam buku. Dibantu ibunya, Diba, ia mencari banyak referensi dan pihak yang mengurus sampah elektronik. Hal tersebut mempertemukannya dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.

Di saat yang sama, ia juga mencari penerbit. Ada tiga penerbit yang menjadi pilihannya, tapi Penerbit Buah Hati yang paling cepat tanggap merespon keinginan RJ.

Proses pembuatan buku ini tidak mudah. Ada kalanya ia tidak fokus menulis hingga Diba terpaksa menginapkan RJ sehari di hotel. "Ada tiga sampai empat kalilah dia harus dibawa ke hotel supaya konsentrasi dan risetnya cepat selesai," kata Diba.

RJ penggiat sampah elektronik /Beritagar ID

Pada 7 Februari 2015, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-12, RJ menerbitkan bukunya yang pertama berjudul E-Waste: Sampah Elektronik. Ia senang sekali dengan hasilnya. "Saya juga bangga melihat dia bisa begitu," ujar Diba.

Tahun berikutnya, di bulan yang sama, RJ mengembangkan proyek ini dengan membuat gerakan E-Waste Drop Box. Ibarat sebuah tempat sampah, setiap orang bisa membuang peralatan elektroniknya di situ yang tidak terpakai, termasuk baterai, komputer, televisi, telepon genggam, dan lainnya, agar dapat didaur ulang.

Sampah-sampah elektronik yang sudah terkumpul akan didaur ulang oleh PT Tes-Amm Indonesia. Perusahaan tersebut memiliki mesin khusus yang bisa mengelola limbah elektronik.

Sampai sekarang ada empat dropbox yang telah tersedia, di SD Cikal, SMP Labschool, Sekolah Tunas Muda, dan yang portable atau bisa berpindah-pindah. Kadang dropbox yang berpindah tersebut RJ bawa ketika melakukan presentasi atau pameran.

Harapan RJ

Rafa Jafar
Rafa Jafar | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dengan gerakan ini, RJ berharapan kesadaran orang-orang kalau sampah elektronik itu sangat berbahaya akan meningkat.

"Aku membuat dropbox itu memang untuk menyediakan tempat sampah elektronik, dan aku peduli akan hal tersebut, seperti sudah mendarah daging," tegas RJ.

Menurut buku E-Waste yang ditulis oleh RJ, "Pada 2017 sampah elektronik seperti kulkas, televisi, telepon genggam, komputer, monitor, dan jenis sampah elektronik lainnya diperkirakan setara dengan 200 Empire State Buildings, gedung di New York yang memiliki tinggi puncak 381 meter."

Padahal setiap barang elektronik yang dibuang sembarangan sangat berbahaya terutama racun yang dihasilkan dalam baterai yang biasa disebut dengan B3, yakni Bahan Beracun Berbahaya.

Kandungan B3 berasal dari komponen logam berat (merkuri, timbal, kronium, kadmium, arsenik, dan sebagainya) yang digunakan untuk mengurangi tingkat panas pada bagian produk elektronik seperti komponen konektor, kabel, dan plastik penutup TV.

Buat mereka yang memiliki hobi menyimpan gawai-gawai untuk dijadikan koleksi juga harus berhati-hati karena kandungan cairan yang ada di dalam baterai sangat berbahaya.

Logam merkuri dapat meracuni manusia dan merusak sistem saraf otak, bisa pula menyebabkan cacat bawaan. Khususnya bagi para ibu-ibu hamil, jika si bayi dalam kandungan mengisap bahan beracun tersebut dampaknya sangat fatal sekali hingga meninggal dunia.

Bagi mereka yang berada di luar kota atau tidak tahu cara menyalurkan sampah-sampah elektroniknya, mereka bisa mengirimkan sampah-sampah tersebut ke sekretariat E-Waste RJ. Di laman http://ewasterj.com pun diberi tahu cara-caranya "How to Wrap" sampah-sampah elektronik yang benar dan aman.

Jadi mereka harus memasukkan sampah-sampah tersebut ke dalam kotak, kemudian dibungkus jangan sampai ada yang bolong, lalu bisa langsung dikirimkan ke sekretariat E-Waste RJ. Setelah itu, dia langsung menyerahkan ke pihak Tes-Amm.

Langkah sederhana untuk mengurangi limbah elektronik, menurut RJ, sebenarnya sangat sederhana. "Pilih gawai yang tahan lama bisa dipakai dua hingga tiga tahun," katanya. Semakin sedikit pembuangan sampah elektronik maka bahayanya akan berkurang.

Kehidupan sehari-hari

Rafa Jafar
Rafa Jafar | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Diba mengatakan, RJ dari kecil memang sudah banyak gerak. Jadi, tak heran ia pernah mengikuti banyak kegiatan, dari les nari, bulu tangkis, piano, dan tenis meja.

Tapi keaktifannya tak serta-merta membuat RJ menjadi anak sulit diatur. Diba justru mengatakan sebaliknya. "Saya merasa diberkati. RJ anak yang kritis dan senang diajak diskusi," kata Diba.

Sehari-hari RJ sibuk dengan aktivitasnya di sekolah. Dari jam lima pagi ia berangkat, dari baru pulang pukul sembilan malam dari sekolahnya. "Melebihi dari jam kerja orang dewasa. Ha-ha-ha...," kata Diba.

Selain sibuk menjadi Ketua OSIS, ia juga baru saja menyelenggarakan kompetisi antar sekolah bernama ACEX (Art, Culture, Education, and Sport Exhibition). Kompetisi ini diikuti oleh 50 SMP dan 30 SD yang berlangsung selama tiga minggu.

RJ sangat sibuk menyelenggarakan acara itu. Tapi dia masih menyempatkan diri mengikuti lomba tenis meja dan meraih juara umum. Ia dengan bangga menunjukkan uang Rp500 ribu yang berhasil ia peroleh dari kejuaraan tersebut. Diba menanggapinya dengan santai.

Sehari setelah kemenangan, para orang tua diundang untuk mengikuti acara penutupan. Saat nama RJ disebut sebagai juara pertama, Diba pun terkaget-kaget. "Oh lu beneran menang ya? Ha-ha-ha...," kata Diba.

RJ masih memiliki keinginan untuk menerbitkan bukunya yang kedua. Topiknya tidak jauh-jauh dari masalah sampah dan limbah. Tapi ia belum bisa menjelaskan dengan detail isi buku tersebut. "Rafa punya cita-cita yang berhubungan dengan lingkungan dan dia sangat sibuk sekali dengan hal itu," kata sang ibu.

Penggiat sampah elektronik, Rafa Jafar, berpose di depan kamera di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu
Penggiat sampah elektronik, Rafa Jafar, berpose di depan kamera di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu Beritagar.id /Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 22 Maret 2017

Rafa Jafar

Nama:

Muhammad Rafa Ibnusina Jafar

Tempat/Tanggal lahir:

Jakarta, 7 Februari 2003

Pendidikan:

  • SD Cikal TB Simatupang
  • SMP Labschool Kebayoran

Karier:

  • Kapten dari Cikal Sport Team (sepanjang tahun 2014)
  • Meluncurkan buku E-Waste (7 Februari 2015)
  • Mendirikan gerakan E-Waste dropbox (2016)
  • Duta cilik konferensi perubahan iklim PBB di Maroko (7-8 November 2016)
  • Ketua Umum OSIS SMP Labschool Kebayoran periode 2016-2017




BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR