Rafiq Hakim Radinal, 56, saat berpose untuk Beritagar.id di Arthayasa Stables & Country Club, Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019)
Rafiq Hakim Radinal, 56, saat berpose untuk Beritagar.id di Arthayasa Stables & Country Club, Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Rafiq Radinal di antara kuda, doberman, dan jet ski

Rafiq Hakim Radinal tak cuma piawai di bidang kuda. Dia pun jago menundukkan anjing. Berhasrat bikin lembaga seperti Cesar Milan punya.

Dalam urusan perkudaan, punya uang bukan jaminan tunggal. Sebab bebannya berat. Dunia itu menagih komitmen tinggi pemiliknya. Beda dari membeli kendaraan. Jika motor atau mobil sudah ditebus, mau dionggokkan sampai berkarat pun tak masalah. Asal ikhlas.

"Kuda seminggu minimal empat kali harus dinaiki," ujar Rafiq Hakim Radinal. "Kalau kita enggak bisa, orang lain harus ada yang naikin, dan dia harus dibayar. Jadi, sebelum pengin punya kuda, harus dipikirkan. Supaya enggak merugikan kuda dan yang punya."

Belum lagi menyangkut urusan lain yang tabah menguntit. Sewa kandang, misalnya. Atau kasih pakan. Bahkan, sekadar sedia layanan-layanan printilan yang kalau dikerjakan sendiri bisa bikin hilang akal.

"Meski orang enggak harus kaya banget untuk ke kuda. Tergantung maunya apa. Jadi pemilik kuda atau jadi atlet? Kalau kita lihat, 80 persen atlet (berkuda) di Indonesia rata-rata bukan pemilik kuda dan bukan orang mampu," begitu dia bilang. "Kalau kaya pun, tergantung kudanya. Kuda kelas berapa. Di Indonesia banyak yang beli kuda harganya berapa, tapi ngakunya berapa".

Laki-laki yang barusan bicara itu lama istikamah di bidang perkudaan. Bil khusus, equestrian atau ketangkasan berkuda. Dia masyhur sebagai pemilik Arthayasa Stables & Country Club.

Dalam semesta equestrian, wibawa Arthayasa tak hanya mencakup Indonesia, tapi juga Asia Tenggara. Padahal lokasinya menyempil di Limo, Depok, daerah dengan jejaring jalan-jalan kecil yang gampang bikin orang tersesat.

Sudah banyak orang menangguk faedah dari lokus yang berdiri sebelum usia Rafiq menyentuh 30 tersebut. Salah satunya Ece Dail Falahudin, seorang farrier atawa juru pasang ladam. Ece asal Cianjur, dan kini dikenal sebagai jago menapal. Reputasinya melampaui batas-batas wilayah Indonesia.

Sebelum jadi besar, Ece pernah berlatih intensif di Arthayasa. Untuk menyempurnakan kecakapan Ece, Rafiq membiayainya untuk kursus ke Singapura.

Rafiq Hakim Radinal ketika berpose untuk Beritagar.id di istal Arthayasa Stables & Country Club di Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019)
Rafiq Hakim Radinal ketika berpose untuk Beritagar.id di istal Arthayasa Stables & Country Club di Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

"Ada juga farrier lain namanya Budi," kata Rafiq menyebut nama seorang penapal yang hari itu, Sabtu (10/08/2019) kebetulan berada di Arthayasa saat Beritagar.id datang. "Dia sekarang di Virginia (Amerika Serikat)," mengurus klien-klien privat.

Arthayasa juga menjadi ruang berlatih bagi para dokter hewan yang ingin menajamkan fokus pada kesehatan kuda. Hingga kini--dalam urusan kesehatan dan reproduksi kuda--Arthayasa masih bekerja sama dengan Sydney University dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Dan kalau bicara inseminasi buatan kuda ketangkasan di Indonesia, susah berpaling dari nama Arthayasa sebagai pionir.

"Prosesnya di sini. Pakai kandang jepit saja. Pak Bambang kasih scanner, kita USG. Lalu cek bukaan berapa, dan kita estimasi jam sekian. Kalau waktunya pas, baru dimasukin (benih). Perlu kesabaran," katanya tentang proses inseminasi sembari memetik nama Bambang Purwantara, seorang profesor dari IPB yang punya bidang keahlian bioteknologi reproduksi. "1995 udah mulai".

Di bidang olahraga, sumbangsihnya pun tak terbantahkan. Pelbagai kejuaraan bertaraf regional atau dunia pernah berlangsung di Limo.

Rupa-rupa atlet nasional pernah pakai kuda dari sana. Selain Rafiq sendiri--yang menekuni disiplin lompat rintangan dengan kuda warmblood Belanda, Femke van het Berkenbos--ada, misalnya, Ferry Wahyu Hadiyanto dan Denies Cristian Sanjaya.

"1997 kami pernah host PON Jakarta. Sea Games 2011 kami jalanin di sini. 1996, 1997, 1998, Piala Dunia untuk Liga Asia Tenggara," ujarnya menyebut sejumlah kompetisi.

Arthayasa bisa begitu karena memiliki standar tinggi untuk fasilitasnya. Hampir mirip dengan Jakarta International Equestrian Park Pulomas (JIEPP), Jakarta Timur, yang direstorasi belakangan.

JIEPP diklaim sebagai fasilitas berkuda terbaik di belahan bumi selatan. Dianggap lebih baik dari Tyron International Equestrian Center (untuk World Equestrian Games). Pada 2018, kompleks itu digunakan menggelar ajang ketangkasan berkuda Asian Games. Pembangunannya memakai jasa Rafiq Radinal sebagai konsultan teknis.

"Kesulitan waktu membangun Pulomas itu, lahannya dari nol. Rumputnya masih tinggi. Masuk rekomendasi lahan banjir oleh PU. Sehingga harus ditimbun dua meter. Ularnya banyak bener," katanya. "Waktu itu Ahok (Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama) bilang, tolong dibuat satu fasilitas yang nantinya bisa dipakai untuk kepentingan atlet, sehingga atlet bisa bertanding dan diharapkan bisa berprestasi ke depannya.

Rafiq Hakim Radinal saat berpose di istal Arthayasa Stables & Country Club di Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019)
Rafiq Hakim Radinal saat berpose di istal Arthayasa Stables & Country Club di Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Kenal kuda sejak kanak

"Kuda udah di darah," demikian Rafiq menyebut kecintaannya akan hewan yang biasa menjadi perlambang untuk kebebasan itu. "Kakek saya dulu punya kuda di Bandung. Kakek dari pihak ibu".

Namun, karena masih terlalu belia--hingga usia dua tahun, Rafiq tinggal di Bandung--dia baru mulai menunggang kuda saat berumur sembilan, "di Pamulang, dengan kakak (-nya), dengan keluarganya kakaknya ibu".

Pengalaman pertama tersebut agaknya membuat Rafiq kecanduan. Makanya, selama menjadi pelajar sekolah menengah, dia beberapa kali bisa tidur di kandang kuda milik Oetari Soehardjono, istri mendiang Mayor Jenderal Soehardjono, ketua umum kedua Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi).

(Di jagat perkudaan lokal, Oetari punya peran penting dalam pembentukan rumpun kuda pacu Indonesia. Dia juga dikenal sebagai pemilik ranch dan stadion berkuda seluas 14 hektare di Pamulang.)

Selepas lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti, Jakarta, keintiman Rafiq dengan kuda sejenak lepas. Soalnya, dia mesti ke Amerika Serikat untuk ambil studi bidang bisnis di New Hampshire. Namun, sepulang dari sana pada 1992, Rafiq mulai giat lagi. Dia pun merintis Arthayasa.

"Awalnya 1500 meter persegi. Lalu beli sebelah-sebelahnya. Baru pelan-pelan nambah terus. Makanya bentuk (kompleks Arthayasa sekarang) aneh karena belinya sesuai waktu. Dulu masih susah banget ke sini. Masuknya cuma bisa dari Cinere," ujar pria yang anaknya--Reshwara Argya Radinal, suami pesohor Nabila Syakieb--juga menekuni ketangkasan berkuda.

Mula-mula, kuda di sana hanya satu. Cuma Rafiq punya. Untuk memudahkan kuda itu bergerak, Rafiq bikin lapangan kecil.

Seturut waktu, beberapa kawannya yang punya kuda bergabung. Mereka akhirnya jadi sering latihan bareng. Karena kerap berkumpul, lingkaran itu pun membesar.

Pemilihan nama Arthayasa pun bertolak dari pengalaman personalnya dengan kuda.

Ceritanya, Rafiq pernah sewa kuda. Kalau sudah berkompetisi pakai kuda itu, dia selalu menang. Karena acap kali juara, kuda itu berpindah tangan. Majikannya yang baru bernama Anton Soedjarwo, eks Kapolri pada awal dasawarsa 1980-an. Anton punya klub bernama Pelita. Dia menawarkan Rafiq untuk menunggang di klub itu.

Kuda itu berjenis Warmblood (darah hangat) asal Australia. Di kerajaan kuda, kastanya lebih rendah dari Warmblood Eropa. Sebab, ia hasil pembiakan Warmblood Eropa berkualitas rendah yang dilempar ke Australia.

Karena merasa sudah sehati dengan kuda itu, Rafiq membelinya pada 1992. Harganya Rp40 juta. Waktu itu Indonesia belum tersambar krisis ekonomi. Nilai dolar AS terhadap rupiah masih sekitar Rp2000-an. Upah minimum di DKI Jakarta kira-kira Rp75 ribu.

"Namanya Arthayasa," kata penyuka cerutu ini tentang kuda impresif itu.

Setelah itu, Rafiq mulai lebih sungguh-sungguh. Dia secara berkala ambil kuda-kuda dari Belanda. Juga dari Jerman. Upaya itu ditempuh untuk mengerek level persaingan.

"Saya berangkat karena saat itu kalau mau bicara kuda sports, kita harus bicara apple to apple. Artinya materinya setara. Dulu kita selalu bersaing dengan eks kuda pacu. Kuda pacu yang sudah pensiun kita pakai untuk equestrian (ketangkasan). Tapi itu enggak cukup," katanya.

Koleksi kuda menjanjikan akhirnya mendongkrak kepercayaan diri. Dia pun mulai mendatangkan pelatih berskala internasional. Eric Naberink asal Belanda pernah membagi ilmunya di Limo.

"Dia tiga tahun di Indonesia. Lalu kita kembangkan olahraga (berkuda). Kita mulai bertanding di Asia," ujar Rafiq.

Pada 1993, kejuaraan lompat rintangan Asia ketiga digelar di Malaysia. Dia dikirim ke negeri itu dengan seorang atlet. "Piala itu akhirnya ke Indonesia," kata anak kedua Radinal Mochtar, Menteri Pekerjaan Umum era Suharto, itu. Selama di sana, dia ditanyai tentang kemungkinan Indonesia menjadi tuan rumah. Setahun berikutnya, jawaban muncul.

"1994, Asian Championship keempat diadakan di Limo. Saya mulai ketemu ofisial-ofisial Asia Tenggara," ujarnya mengenai mula keterlibatan Arthayasa pada kejuaraan antarnegara.

Walau reputasi Arthayasa sudah jauh melebihi niat pendiriannya dulu, Rafiq tidak besar kepala. Dia tahu semata sebuah tekad hanya sanggup terwujud melalui andil banyak tangan. Dia tak merasa bikin Arthayasa untuk "cari nama. Tapi bagaimana berkembang bersama supaya olahraga ini lebih baik".

"Mengembangkan perkudaan sebagai olahraga enggak bisa sendiri. Kegiatannya harus terus-menerus. Apalagi kalau mau prestasi. Ada step-step yang harus dilalui. Tanpa itu, enggak mungkin," kata mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Equestrian Indonesia (EFI) itu.

Rafiq Hakim Radinal waktu berpose untuk Beritagar.id di lapangan rumput Arthayasa Stables & Country Club, Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019)
Rafiq Hakim Radinal waktu berpose untuk Beritagar.id di lapangan rumput Arthayasa Stables & Country Club, Limo, Depok, Sabtu (10/08/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Tak hanya berkuda

Istal Arthayasa kini menyimpan enam kuda kompetisi. Namun, Rafiq juga menyimpan tiga kuda di Belanda agar terbiasa dengan turnamen dan rivalitas berbobot ala Eropa.

Kuda-kuda di Belanda itu rata-rata dipakai istrinya, seorang atlet tunggang serasi (dressage) berdarah Rusia, Alla Poloumieva. Sikap taktis itu diambil karena kuda dan penunggangnya juga mesti menguatkan karakter.

"Kuda sama persis sama orang. Misalnya ada orang Jawa, orang Sunda, orang Medan punya karakter yang gimana. Kuda juga sama. Ada yang gampang gugup. Kita harus cepat dekat dan feeling kita sama kuda harus lebih cepat reaksinya," katanya.

Satu yang sulit ditanggalkan itu, bonding. Penyatuan rasa. Rafiq mengalami bagaimana bonding itu begitu menyamankan tapi sekaligus penuh tuntutan. Makanya, jika ikatan itu dilepaskan oleh, misalnya, kematian, rasanya seperti kehilangan teman.

"Ada satu kuda yang biasa saya pakai di piala dunia meninggal. Namanya Isabel. Sampai dua-tiga hari, dia sama saya tidur di lapangan. Dia tiduran, saya tiduran," ujarnya.

Tetapi, dia tak berhenti di situ, seakan bonding dengan kuda bukan problem besar bagi sosok yang juga menggemari kegiatan menembak, kungfu, taekwondo, dan menembak itu. Rafiq mengikat diri juga dengan anjing. Dengan banyak anjing dari berbagai jenis. Di antaranya, rottweiler, golden retriever, chow chow, atau herder. Di satu masa, dia pernah memelihara 16 ekor.

Waktu saya dan fotografer Bismo Agung menemuinya di Arthayasa, dia sedang bawa doberman gesit bernama Donna, enam tahun, dan Fidel, dua tahun. Berkali-kali di tengah wawancara Rafiq memanggil dua nama itu dengan otoritas seorang pack leader atau pemimpin kawanan.

Pemilik anjing mesti punya kualitas karisma sedemikian agar selalu sanggup menguji kontrolnya atas anjing. Dalam bahasa Rafiq, "anjing harus tahu siapa alfa-nya".

"Saya latih sendiri mereka. Orang enggak ada punya doberman bisa dilepas begini. Kalau enggak bisa dikontrol, ada orang lari pasti langsung diuber. Kami ada empat, semuanya dilepas," katanya. "Saya pilih doberman karena dia cepat reaksinya. Cuma, konsentrasinya enggak mudah. Melatihnya agak susah karena (perhatiannya mudah teralihkan). Donna itu butuh dua tahun untuk nurut".

Bukan hanya dia yang bisa begitu. Istri dan anak-anaknya pun. Bahkan, kini cucunya sudah mulai main-main dengan anjing besar.

"Insya allah nanti bikin juga kayak punya Cesar Milan," ujarnya seraya mencomot nama seorang pawang anjing bereputasi internasional asal Meksiko yang tinggal di Amerika Serikat.

Waktu seekor dobermannya yang berusia 10 tahun mati, dia merasakan bolong di dadanya. Sebelum dijemput Sang Ajal, tulang belakang anjing bernama Bella itu sudah dioperasi karena artritis. Karena itu, jalannya agak pincang. Untuk memudahkan gerak, Rafiq memasang semacam roda pada tubuhnya.

"Donna udah dua kali operasi tumor. Kalau enggak sayang, ya enggak sampai segitunya," katanya.

"Banyak orang punya anjing salah urus. Seandainya dikeluarin pun, cuma ditaruh di teras. Atau, pembantu yang suruh jalanin. Enggak bisa begitu. Kalau mau anjing besar, harus benar-benar dekat," ujarnya.

Apakah seorang penunggang kuda berarti meminjam kebebasan dari kudanya, dan pemilik anjing menyerap loyalitas serta komitmen dari anjingnya? Rafiq tak tahu itu. Namun, mungkin, satu peristiwa pada pertengahan dekade 1990-an dapat turut melengkapi kepingan puzzle karakternya.

"Dulu saya pernah dari Jakarta ke Surabaya pakai jet ski. Dua hari total. Kalau mau makan, berhenti mengapung di laut tenang. Terus lanjut lagi. Enggak pernah ke daratan. 12 jet ski waktu itu. Dikawal kapal dari belakang," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR