Legenda pesepak bola nasional, Rochy Putiray, berpose pada Selasa (08/01/2019) di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.
Legenda pesepak bola nasional, Rochy Putiray, berpose pada Selasa (08/01/2019) di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
FIGUR

Ramalan Rochy Putiray

Ia legenda sepak bola yang tak suka menonton pertandingan bola, tapi berani bicara soal mafia.

Sebulan terakhir ia kerap mendapat teror di akun sosial medianya. Ada yang menghina dengan kata-kata kasar, ada pula ancaman fisik.

"Saya DM mereka satu per satu, kasih nomor WA dan alamat saya. Biar bisa ketemu langsung," kata legenda sepak bola, Rochy Putiray, ketika kami temui pada Selasa (08/01/2019).

Tak ada yang berani menghubunginya. Rochy tahu lawannya hanya para remaja tanggung usia 15-16 tahun.

Ancaman muncul karena aksi Rochy pada awal Desember lalu. Ibarat Nostradamus, ia meramal klub sepak bola asal Jakarta, Persija, bakal menjadi juara pertama kompetisi liga utama.

Rochy mengatakannya di kanal Youtube, Asumsi, dan tak sembarangan berbicara. Ia bahkan berani bertaruh untuk itu.

Ada gejala yang sudah ia lihat sejak awal musim kompetisi. Di putaran pertama, Persib dan Sriwijaya FC poinnya jauh dibanding lawan lainnya. "Lalu, digembosin pelan-pelan. Putaran kedua, Persija mulai naik," katanya ketika kami temui pada Selasa (08/01/2019).

Ia juga melihat keanehan ketika Persija menang di kandang Persipura. Hal ini jarang sekali terjadi. "Di luar (kandang) saja mereka (Persipura) lebih banyak menangnya," ujar pria kelahiran Ambon, 26 Juni 1970 itu.

Seminggu setelah ramalannya, Persija menang. Hal ini semakin meyakinkan publik soal adanya pengaturan pertandingan pada kompetisi sepak bola di negara ini.

Fans fanatik Persija, Jakmania, tentu tak bisa terima ucapan Rochy. Ia dianggap mencemarkan nama baik klub.

Sore itu kami menemuinya di Lapangan ABC, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Ia baru saja melatih sebuah klub . Dari situ, ia mandi dan berganti pakaian di Lapangan Hoki.

Rochy terlihat bugar di usianya yang hampir setengah abad. Tubuhnya langsing. Rambutnya yang dulu kerap berwarna-warni di lapangan, sekarang ia gulung setengahnya membentuk sanggul kecil di atas kepala.

Aksi nyentriknya masih terlihat. Sepatunya yang kiri berwarna jingga, sebelahnya biru muda kehijauan. "Saya beli dua sepatu beda warna," ujar pria yang irit senyum tersebut.

Di tengah hujan deras, kami berbincang dengannya di tribune penonton Lapangan Hoki. Ia berbicara blak-blakan soal perjalanan kariernya. Berikut kisah Rochy.

Legenda pesepak bola nasional, Rochy Putiray, berpose pada Selasa (08/01/2019) di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.
Legenda pesepak bola nasional, Rochy Putiray, berpose pada Selasa (08/01/2019) di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Di Hongkong

Dalam sejarah sepak bola Indonesia, sedikit sekali pemain yang bisa berprestasi di luar negeri. Rochy adalah manusia langka. Ia tak hanya menjadi legenda tanah air, tapi juga di Hongkong, tempatnya dulu pernah berlaga.

Pecinta olahraga ini tentu tak pernah lupa aksi Rochy saat membela salah satu klub besar di negara itu, Kitchee SC, melawan AC Milan. Ia berhasil mengecoh dan membobol pertahanan Paolo Maldini, lalu melesatkan gol.

Kitchee menang dengan skor akhir 2-1. Rochy sebagai penyumbang seluruh gol tersebut.

Ia tak melihat itu sebagai prestasi terbesarnya. "Kebetulan mereka ke sana untuk liburan kok. Tapi memang orang selalu lihat hasil akhir saja," katanya.

Kebanggaannya justru ketika membuat gol internasional pertamanya di Thailand. Ketika itu lawannya adalah Kenya. "Pemainnya lebih tinggi, tapi saya bisa nyolong depan mereka dan membuat gol," katanya.

Keberhasilan Rochy menembus klub sepak bola Hongkong tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia melewati proses yang panjang. Kariernya dimulai pada 1986. Di usia 16 tahun ia hijrah dari Ambon ke Jakarta.

Rochy ketika itu mengikuti seleksi PSSI Garuda untuk 1987. Ia berhasil masuk. Pada 1991 ia berlaga di pertandingan pra olimpiade.

Lalu, ia mengikuti Sea Games 1991 di Manila, Filipina. Pada final melawan Thailand, Indonesia berhasil meraih emas. Sebuah kemenangan yang sampai sekarang belum pernah terjadi lagi.

Rochy Putiray, kisah legenda sepak bola Indonesia /Beritagar ID

Karier Rochy sebagai penyerang melesat. Ia sempat membela Arseto Solo, Persijatim, dan tim nasional.

Setelah itu, ia sempat mendapat tawaran untuk seleksi masuk ke klub Prancis, AJ Auxerre. Tapi gagal karena usianya 24 tahun, sementara lawannya kebanyakan berusia 13 tahun.

Rochy kemudian memilih Hongkong. Pada 2000 tepatnya ia mulai unjuk gigi di sana. Dimulai dari klub Instant-Dict FC, lalu Happy Valley, lanjut ke South China AA, dan terakhir Kitchee SC.

Sekitar empat tahun merumput di sana, ia belajar menjadi pemain bola profesional. Secara kompetisi, liga di Indonesia, ia akui, lebih bagus ketimbang Hongkong. "Penonton di sini lebih antusias," ujar pria yang bermukim di Solo tersebut.

Tapi Hongkong punya managemen klub yang lebih bagus. Rochy tak pernah menerima gaji dan bonus secara tunai, tapi transfer.

Ada tolak ukur yang jelas untuk para pemain. Yang tidak berprestasi langsung turun ke liga dua. Buntutnya, gaji dan bonus terpangkas. "Pemain jadi bertanggung jawab," katanya.

Legenda pesepak bola nasional, Rochy Putiray, berpose pada Selasa (08/01/2019) di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.
Legenda pesepak bola nasional, Rochy Putiray, berpose pada Selasa (08/01/2019) di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Di sela-sela pembicaraan, Rochy sempat memperhatikan anak-anak remaja yang berlalu-lalang di tribune penonton Lapangan Hoki. Mereka tadi menerima arahannya dalam bermain bola.

"Lihat sepatunya," katanya. "Sekarang sepak bola (untuk) orangtua mampu, bukan anak mampu."

Rochy lahir hingga lulus Sekolah Menengah Pertama di Ambon, Maluku. Ia anak kesepuluh dari 14 bersaudara. Keluarganya hidup sederhana.

Sejak kecil ia tak jauh dari sepak bola. Ayah dan saudara-saudaranya hampir setiap hari mengajaknya bermain olah raga itu. Hanya satu yang tak ia lakukan untuk olahraga ini, menonton pertandingannya. "Saya enggak suka, kecuali terpaksa," katanya.

Saat sekolah, berkelahi jadi makanannya sehari-hari. Urusan cewek paling sering membuatnya ribut. "Tapi kami berantem satu lawan satu. Tidak seperti di sini (Jakarta), keroyokan," ujar Rochy.

Kebandelan itu tak sampai membuatnya keluar sekolah. Ia mengaku tak antusias belajar, tapi selalu lulus dengan prestasi yang cukup baik.

Cita-cita yang spesifik tak pernah terpikir dalam pikirannya. Ia suka bermain sepak bola. Ia jalani itu, mengikuti banyak pertandingan, dan menemukan minatnya. Orang tuanya tak pernah protes dengan keinginan Rochy.

"Sekarang sepak bola (untuk) orangtua mampu, bukan anak mampu."

Rochy Putiray

Hidupnya memang untuk sepak bola. Setelah pensiun, Rochy mengisi waktu menjadi pelatih untuk berbagai sekolah sepak bola.

Ia kerap bepergian dari Solo ke Jakarta untuk menjadi pelatih atau pun pemain. Paling tidak tiga hari dalam seminggu ia mengendarai mobilnya untuk menempuh perjalanan tersebut.

"Setelah pensiun malah semakin sering main bola. Sehari bisa lima kali," katanya.

Ia juga sedang menempuh pendidikan strata dua Fakultas Hukum Universitas Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Dari kampus yang sama ia meraih gelar sarjana hukum.

Alasan memilih jurusan tersebut tidak ambisius pula bagi hidupnya. Rochy hanya ingin bisa berdebat.

Karena itu, ketika membahas soal pengaturan pertandingan, ia berani menyampaikan fakta apa adanya. Sejak Rochy membela klub Liga 1 di Indonesia, tawaran untuk mengatur permainan kerap datang padanya.

"Saat masih aktif, saya lebih cuek, bodo amat, pokoknya gue main bola," katanya.

Wasit, menurut dia, menjadi pihak yang paling banyak menikmati untung dengan kondisi tersebut. "Yang bikin blepotan memang 80 persen di wasit. Dapet (uangnya) kiri-kanan," kata Rochy.

Ia berharap Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola bisa bekerja maksimal menangkap orang-orang yang merusak citra sepak bola di Indonesia. "Mudah-mudahan sebelum liga mulai, 80 persen mafia itu bisa tertangkap," ujar Rochy.

Legenda sepak bola, Rochy Putiray, berpose di Lapangan Hoki, Gelora Bung Karno, pada Selasa (08/01/2019).
Legenda sepak bola, Rochy Putiray, berpose di Lapangan Hoki, Gelora Bung Karno, pada Selasa (08/01/2019). Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 11 Januari 2019

Rochy Putiray

Tempat, tanggal lahir:
Ambon, 26 Juni 1970

Pendidikan:

  • Sarjana Hukum, Universitas Surakarta, Solo, Jawa Tengah

Karier:

  • pesepak bola dengan posisi penyerang

Klub sepak bola:

  • Arseto Solo (1990-1998)
  • Persijatim (1998-2000)
  • Instant-Dict (2000-2001)
  • Happy Valley AA (2001-2002)
  • PSM Makassar (2002)
  • South China AA (2002-2003)
  • Kitchee SC (2003-2004)
  • Mitra Kukar Tenggarong (2004)
  • PSPS Pekanbaru (2005)
  • PSS Sleman (2006)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR