Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe  di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019).
Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Rekaman kegelisahan Yusuf Radjamuda

Kegelisahan menjadi dasar Papa Al membuat film. Ia seperti memiliki tanggung jawab moral untuk menggali segala khasanah Sulawesi Tengah.

"Ta papa saya pake logat Palu sedikit ya," ucap pria di seberang saya. Yusuf Radjamuda namanya. Berperawakan sedang saja, kulit gosong terbakar matahari, volume bicaranya pelan nan lambat, serta bergaya kasual: topi dipakai terbalik, kemeja polos, dan sepatu kets.

Secara kasat mata, tampilannya simpel dan seperti tak ingin neko-neko. Sederhana, sesederhana ia melihat keinginannya ke depan. Namun, kala kita berbicara dunia perfilman Tanah Air, kesan simpel tersebut mungkin akan segera sirna.

Sebagai sutradara, karya teranyarnya, Mountain Song, baru saja didapuk penghargaan di Shanghai International Film Festival (SIFF 2019) untuk kategori Best Scriptwriter Asian New Talent Award.

"Saya satu-satunya yang menang dari wakil Indonesia," ucap pria yang biasa disapa Papa Al kepada Andya Dhyaksa, Muammar Fikrie, dan pewarta foto Bismo Agung Sukarno, Jumat (19/7/2019), di salah satu cafe di bilangan Cikini, Jakarta Pusat.

Pada festival film yang sudah ada sejak 1993 itu, Indonesia diwakili oleh enam film. Selain Mountain Song, lima lainnya adalah Aruna dan lidahnya, Generasi Micin, Humba Dreams, Kafir, dan 27 Steps of May. Namun, kelima film tersebut, tak masuk dalam kompetisi.

Rasa bangga jelas tak bisa ia tutupi, meski bolak-balik ia menampik beberapa pujian yang kami layangkan. Ia seperti lebih menempatkan keberhasilan di Tiongkok itu sebagai jawaban atas keraguannya dalam enam tahun terakhir.

Pasalnya, terakhir Papa Al membuat film, yakni Halaman Belakang, terjadi pada 2013. Saat itu, Halaman Belakang sukses besar dengan menang di sejumlah festival film bergengsi, mulai dari Festival Film Solo hingga France-Cinema Festival.

Pun, Halaman Belakang, menyinggahi sejumlah negara, seperti Vladivostok IFF 2014 (Rusia), Tissa IFF Morocco 2014 (Maroko), dan Experimenta Bangalore India 2015 (India).

"Setelah Halaman Belakang, tenaga saya seperti terkuras. Saya tidak tahu kenapa, mungkin ada kekhawatiran film selanjutnya tidak sesuai ekspektasi orang," katanya.

Papa Al sebenarnya pantas berbangga atas capaiannya itu. Bukan karena berhasil menjawab keraguan atas dirinya tadi. Demikian juga dengan pengakuan bahwa ia tak hanya mahir menggambarkan realita masyarakat di layar kaca lewat film pendek.

Maklum, sejak menekuni dunia kamera pada 2006, karya-karya pria yang lahir 7 Mei 1979 di Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), selalu film-film pendek. Halaman Belakang salah satu di antaranya. Lainnya, Wrong Day, Cuma 5.000, dan Potret Diri.

"Durasi Mountain Song 75 menit. Sekarang, kita sedang persiapkan Mountain Song untuk dibawa ke World Cinema Amsterdam 2019," ucap Papa Al.

Mountain Song adalah sebuah film yang bercerita mengenai pengalaman seorang bocah, Gimba, dalam mengarungi sulitnya kehidupan di daerah pegunungan Pipikoro, Sigi, Sulteng.

Buruknya akses dari daerah pegunungan Pipikoro hingga pusat kota membawa Gimba melihat realita yang menyedihkan. Yakni banyak warga desa yang sakit, terpaksa harus kehilangan nyawanya dalam perjalanan tersebut.

Petikan cerita tersebut bukanlah sebuah fiksi. Itulah kenyataan yang terjadi di sana. "Banyak orang sakit yang harus kehilangan nyawanya saat ditandu dalam perjalanan dari desa ke kota," ujar Papa Al.

"Akses ke sana sangat buruk. Pada proses produksi, semua kru mengalami jatuh."

Berangkat dari fenomena itulah, film Mountain Song, ia garap. Dia gelisah dengan kondisi itu. Kegelisahan tersebut kemudian ia kristalkan dalam sebuah ide cerita. "Film-film saya selalu berangkat dari kegelisahan saya," katanya.

Titik pijak dari kegelisahan itulah yang seperti membuat Papa Al terkesan idealis dalam menggarap film. Ia pun seolah tak risau bila filmnya nanti tidak terlalu dilirik masyarakat Indonesia kala di putar di bioskop-bioskop Tanah Air.

Ia percaya, setiap film ada pasarnya sendiri. Sesederhana itu kepercayaan dia atas karyanya--atau karya orang lain. "Saya akan mempertahankan ide yang saya punya di depan siapa pun," katanya bersikukuh.

Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe  di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019).
Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Terpukul oleh sahabat

Tak ada yang mengetahui dari mana kemampuan Papa Al dalam membuat film. Tak ada darah sineas dalam keluarganya. Sepanjang yang diingat olehnya adalah ia menyukai film dan cukup karib dengan dunia itu.

Belakang rumahnya di pantai barat Donggala, Sulteng, terdapat sebuah bioskop. Saat kecil ia kerap mencuri-curi masuk ke dalam bioskop dengan cara unik: memegang baju bagian belakang orang dewasa. "Bahasa kita 'gandeng'," katanya.

Laku itu harus ia lakukan karena film-film yang diputar khusus untuk orang dewasa. Genre cinta ala India adalah salah satu di antara film-film yang diputar di bioskop sana pada era itu, pertengahan 1980-an.

"Pemilik bioskop itu masih saudara," kata Papa Al. "Jadi sering ketahuan juga meski (masuk) diam-diam. Tapi tetap lolos." Kedekatan lainnya, Papa Al kerap nonton berbagai film saat penyuluhan pertanian berlangsung di daerahnya.

Hanya sebatas itu ingatan dia soal film di masa kecil. "(Namun) di keluargaku memang ada darah seni. Kakakku, itu dia pelukis dan pemain band," katanya. "Kalau film ya sudah saya penikmat saja."

Waktu bergulir, darah seni yang mengalir ke Papa Al lebih condong ke musik. Pengaruh kakaknya tadi, menjadi salah satu penyebab dia bergelut di dunia musik dengan membentuk band, Viata Ritual.

Untuk yang terakhir ini, tingkat kemasyhuran hanya pada level daerah.

Hingga pada 2006, perjumpaan dia dengan dunia film terjadi. Momennya sederhana. "Mace (ibu) mau naik haji, jadi kita buat syukuran," katanya. Pada acara itu, salah satu saudaranya membawa handycam. Dan Papa Al lah yang disuruh pegang alat itu.

Dia bingung, karena belum pernah mengoperasikan handycam. Yang menjadi pegangan dia adalah alat tersebut bisa dijalankan dengan mode otomatis. Bergaya bak kamerawan profesional, ia mencoba mengambil gambar dengan berbagai sudut.

Bahasanya Papa Al, "Saya buat sok-sokan art saja." Hasil uji coba pertama kali itu pun sangat berkesan baginya. Saat ditonton, semua keluarga yang tertangkap kamera merasa bahagia.

"Sensasinya, semua orang senang. Saya ikut bahagia. Itu yang menyadarkan saya bahwa bikin film asyik," katanya. "Saudara saya meminta handycam-nya. Saya tidak kasih pulang itu, sampai empat tahun."

Dari sinilah dia mulai memproduksi film. Film pertama yang ia buat adalah Sahabat Harapan, yang diputar di gedung Hasan Baswan pada malam tahun baru 2006. Apresiasi datang, silih berganti dengan kritik.

Sejak saat itu, ia cukup rajin membuat film. Beberapa di antaranya memenangi penghargaan, seperti Protes (di Pekan Sinema Mahasiswa Jambi 2009), Cuma 5.000 (nominasi Malang Film Video Festival 2010), dan Wrong Day (nominasi Festival Film Solo 2011).

Dari pertalian festival film di Pulau Jawa ini, Papa Al semakin mengerti film dan melebarkan jaring di dunia sinema Indonesia. Khususnya, saat Wrong Day menjadi nominator dalam ajang film Festival Film Solo (FFS).

Bisa dimaklumi. Pasalnya FFS seperti menjadi Makkah bagi sineas Indonesia yang bergelut di ranah film pendek Tanah Air.

Di situ, filmnya dikalahkan oleh Bermula Dari A, karya BW Purba Negara. Papa Al merasa syok. Ia mengakui, Wrong Day memang bukan lah film yang bagus-bagus amat. Namun, kala dibenturkan dengan Bermula Dari A, karyanya tersebut kalah telak.

"Saya boleh dibilang syok setelah nonton (Bermula Dari A). Saya berpikir banyak saat itu," ucapnya. Sekadar catatan, FFS 2011 merupakan pertemuan pertama bagi Papa Al dan Purba. Kini keduanya bersahabat karib.

Dus, kegagalannya itu membuat Papa Al memperbaiki diri. Ia memanfaatkan betul kesempatan yang diberikan Goethe Institut dengan mengirimkannya ke Berlin Festival, Berlinale, 2012.

Sepulang dari Berlinale ia menggarap sebuah film animasi, berjudul Matahari. Sayang, film itu tak terlampau berhasil.

Pada 2013, baru lah Halaman Belakang hadir, dan menjadikan Papa Al sebagai salah satu sutradara yang menjanjikan di dunia sineas nasional.

Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe  di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019).
Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Tertambat di Sulteng

Ini bukan sumpah. Bukan pula bisa disebut sebagai janji. Khawatir, suatu saat ucapan tersebut tak dapat ia tunaikan. Namun, yang harus diingat--dan mungkin juga diapresiasi--pernyataan Papa Al di bawah adalah adalah niatnya.

"Sejak dulu, saya punya niat bikin film cuma di Sulawesi Tengah. Kalau ada tawaran di mana pun, saya akan ok kan. Tapi kita bikin di Sulawesi Tengah," ucapnya.

Pernyataan Papa Al itu lebih kepada usaha dia untuk memelihara sejarah dan apa pun tentang tanah kelahirannya, Sulteng. "Saya merasa banyak sekali yang harus diceritakan di sana," katanya.

"Sebanyak apa sejarah penjajahan di Indonesia yang kau tahu di luar jawa? Ada yang tulis penjajahan Jepang di Palu atau Poso?"

Bisa jadi, niatan Papa Al tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada tanah kelahirannya. Ia tak menolak disebut demikian, meski juga tak mengiyakan. "Silahkan kalian mendefinisikan saya dengan itu (tanggung jawab moral)," katanya.

Papa Al memang pribadi yang unik. Kesempatan untuk datang ke Ibu Kota, atau setidaknya ke Pulau Jawa untuk membuat film, bukan tak pernah mampir ke dirinya. Sudah beberapa produser yang menawarkan hal itu.

Terlepas dari itu, pilihannya untuk hanya membuat film di Sulteng seperti tak bisa digoyahkan, setidaknya hingga saat ini.

Ia merasa bersyukur bisa memberi warna bagi dunia perfilman Indonesia, meski melangkah dari kota yang jauh dari pusat perkembangan film Tanah Air, Jakarta, atau Pulau Jawa. Tak banyak sineas yang mampu melakukan itu.

Keunikan lain Papa Al bukan hanya sekadar niatannya tadi. Demikian juga dengan pekerjaan. Profesi aslinya sulit diidentifikasi. Orang lebih mengenalnya sebagai seorang sutradara.

Namun, di lain sisi, dia juga merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pada 2009, Papa Al masuk sebagai pegawai di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng. Pada titik ini, ia merasa kurang nyaman.

Saat ini, dia ditempatkan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng, tepatnya di UPT Taman Budaya dan Museum. Kerjaannya, mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan di sana.

"Sebenarnya, tidak juga kalau dibilang nyaman sebagai PNS. Belakangan, setelah urusannya dengan film, saya mulai menikmati itu," katanya.

Kenyamanannya ini sebenarnya menjadi masalah tersendiri, meski ia tak terlalu mempedulikannya. Musababnya, karier dia sebagai PNS seperti tak pernah beranjak. Sudah 10 tahun mengabdi, Papa Al masih tergolong pegawai semenjana.

Ia tak khawatir soal itu. Alasannya sederhana. Dengan tidak tinggi posisinya, ia pun berkesempatan untuk turun ke lapangan dan mendokumentasikan berbagai sejarah di Sulteng. "Saya lebih senang dari pada saya hanya duduk di meja," katanya.

Papa Al memang unik. Dia cukup berbeda dengan orang Sulteng kebanyakan, khususnya yang tinggal di pinggiran pantai. Rumah masa kecilnya, di pesisir, Pantai Barat, Donggala.

Umumnya, dengan tumbuh kembang di daerah geografis demikian, volume suara orang-orang di sana akan keras dan lantang. Namun, Papa Al beda. Intonasi bicaranya cenderung datar dan kekuatan suaranya cenderung kecil.

"Dulu bisa jadi saya tidak begini. Mungkin karena sering bertemu orang (di luar kampung halamannya) jadi ingin lebih sopan," ucapnya.

Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe  di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019).
Yusuf Radjamuda tengah berpose untuk Beritagar.id di sebuah cafe di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR