Ria dan bonekanya di studio barunya daerah Bantul, Yogyakarta, Senin (8/1/2018).
Ria dan bonekanya di studio barunya daerah Bantul, Yogyakarta, Senin (8/1/2018). Beritagar.id / Pius Airlangga
FIGUR

Ria Papermoon, berkah dan petaka film AADC 2

Kesukaannya pada seni sudah ada sejak Ria kecil. Pernah ditentang orang tuanya tapi ia tetap menyalurkan hobinya itu. Menjadi seniman itu menular, katanya.

Suatu hari di Tana Toraja, Maria Tri Sulistyani terpaksa mengernyitkan dahi. Seseorang tak dikenal menghampirinya. Bukannya memperkenalkan diri, ia langsung menuding Maria. "Anda Ria Papermoon kan?" katanya menirukan ucapan orang tak dikenal itu.

Perempuan 36 tahun yang akrab disapa Ria itu tak habis pikir. Ia heran sekaligus senang. Heran, bagaimana mungkin orang itu mengenalinya. Senang karena Papermoon, teater boneka rintisannya, tersohor hingga Toraja.

Senin (8/1/2018) saya menemuinya di studio barunya di Bangunjiwo, Bantul. Sebelumnya, Papermoon menempati studio di daerah Langensuryo Kota Yogyakarta.

Meski alamat Papermoon Puppet Theatre terekam di Google Map, mencari letak studio baru itu secara pasti bukan perkara gampang. Setelah nyasar berkali-kali di pekuburan, saya tiba di halaman gedung mirip hall.

Luasnya lebih 200 meter persegi, tingginya tak kurang dari sembilan meter. Tak ada plang, juga papan nama. Letaknya di ujung perumahan warga, tersembunyi di balik pekarangan.

Ketika saya tiba, tiga lelaki sibuk merancang dan memperbaiki boneka. Beni Sanjaya, Pambo, dan Anton Fajri. Mereka tiga dari lima awak Papermon selain pasangan Maria dan Iwan Effendi.

Ria tampak sedang berbincang dengan tamu, perempuan bule pegiat teater boneka. "Saya sedang berhibernasi," katanya ketika saya bercerita betapa sulit menemukan studionya.

Film Ada Apa Dengan Cinta 2 (rilis April 2016) meninggalkan efek domino. Segala yang berkaitan dengannya menjadi ladang bisnis baru. Banyak agen wisata menjual paket perjalanan AADC pada pelancong. Dari mengunjungi tempat yang pernah dijadikan lokasi syuting hingga ke studio seniman.

Dalam film produksi Miles Productions itu, sutradara Riri Riza menampilkan sepenggal pementasan "Secangkir Kopi dari Playa" karya Papermoon dalam squence perjumpaan Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo).

Dua boneka digambarkan sebagai pasangan kekasih yang dirundung kesedihan. Ceritanya, ada seorang lelaki yang akan pergi kuliah ke luar negeri, meninggalkan kekasihnya dalam penantian panjang di Indonesia.

Meski tampil dua menit di film yang berdurasi 2 jam, film ini membawa pengaruh besar bagi Papermoon. Nama Ria dan Papermoon melambung bersama popularitas AADC 2. Pengalaman Ria di Tana Toraja contohnya.

Popularitas itu sekaligus mendatangkan berkah. Ceritanya, pada Desember di tahun yang sama dengan peluncuran AADC 2, Papermoon punya hajat menggelar Festival Boneka. Pesta boneka internasional ini digelar dua tahun sekali di Yogyakarta sejak 2008. Pesertanya seniman dari berbagai negara.

Beberapa bulan menjelang festival, Ria dan kru Papermon berangkat ke Jakarta untuk menggalang dana. Mereka mementaskan "Secangkir Kopi dari Playa" dan menjual tiketnya seharga Rp300 ribu per lembar. Dalam satu kali pementasan, penonton dibatasi hanya 50 orang.

Ria mengatakan mulanya sempat ragu. Ia khawatir tiket tak laku. Tapi nyatanya animo masyarakat sangat tinggi. Seluruh tiket ludes terjual. Selama tiga hari menggalang dana di Jakarta, Papermoon berhasil menggelar 13 kali pementasan. Penontonnya bahkan datang dari Singapura dan Malaysia. "Akhirnya ketutup (biaya) festivalku," katanya terbahak.

Toh, popularitas itu sekaligus membawa kerepotan tersendiri bagi Ria. Efeknya jenaka sekaligus bikin pusing kepala. Gara-gara sejumlah agen wisata memasukkan Papermoon dalam daftar trip AADC 2, studionya kerap kedatangan pelancong tak diundang. "Yang menjengkelkan mereka datang cuma mau foto-foto," kata dia.

Pernah suatu kali, sebuah pesan masuk ke alamat surat elektroniknya. Sang pengirim mengutarakan niatnya berkunjung ke studio Papermoon. "Ternyata mau pinjam tempat buat foto prewedding," katanya.

Kunjungan pelancong ke studio mulai berkurang setelah ia melayangkan protes ke agen wisata. Selain mencatut nama Papermoon secara sepihak, para pelancong itu kerap datang di waktu yang tak tepat. Kegiatan mempersiapkan pementasan pun terganggu. "Makanya sekarang saya lebih banyak berdiam diri," katanya.

Ria, Iwan, dan rekannya sedang berlatih di studionya, Senin (8/1/2018).
Ria, Iwan, dan rekannya sedang berlatih di studionya, Senin (8/1/2018). | Pius Airlangga /Beritagar.id

Ketularan seniman

Ria lahir di Jakarta, 4 November 1981. Ia tak pernah lupa pertanyaan ibunya puluhan tahun lalu. Apa cita-citamu kelak? Ria kecil, kala itu masih seusia bocah Sekolah Menengah Pertama tak panjang pikir untuk menjawab. "Aku pingin kerja di rumah kalau pergi ke luar negeri dibayari orang," katanya, mengulang kembali jawaban untuk ibunya.

Kerja apa? Entahlah. Yang pasti, sejak kecil Ria jatuh hati pada dunia seni. Tapi orang tua tak pernah rela Ria belajar seni. "Kamu boleh kuliah apa pun asal jangan seni-senian," katanya, menirukan pesan ayahnya.

Pilihannya jatuh pada Ilmu Komunikasi. Pada 1999, Ria mendaftar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Aktif di kelompok teater Gardanalla, ia berkenalan dengan banyak seniman pertunjukan dan perupa. Pergaulan dengan para seniman bak pintu masuk baginya menyelami dunia seni, dunia impiannya semasa kecil. "Jadi seniman itu menular," katanya.

Buktinya selepas kuliah, ia mendirikan Papermoon pada 2006. Mulanya, Papermoon adalah nama untuk sanggar anak. Seluruh pegiatnya adalah relawan. Beberapa waktu kemudian, satu per satu relawan sanggar anak Papermoon melepaskan diri. Hingga tersisa dua orang, Ria dan Iwan Effendi.

Iwan (38), lulusan seni rupa ISI Yogyakarta. Ia menikahi Ria pada 2007. Pada 2008, Ria dan Iwan menyuntikkan nafas teater boneka pada Papermoon. Nafas baru ini memadukan seni pertunjukan dan seni rupa. Teater dan boneka. Jadilah Papermoon Puppet Theatre.

Mulanya, kata Ria, cukup sulit memadukan dua latar belakang berkesenian itu. "Perupa biasa kerja sendiri, seniman pertunjukan bekerja komunal," katanya.

Karakter teater boneka Papermoon menemukan formulanya setelah duo Ria-Iwan mendapatkan beasiswa mendalami teater boneka di Amerika. Selama 6 bulan (2009-2010) tinggal di New York, mereka bertemu dan mewawancarai 70 seniman teater boneka dan menonton puluhan pementasan.

Ibarat kaca, kata Ria, masa residency di Amerika itu telah memantulkan apa itu teater boneka bagi Papermoon. "Ndilalah (setelah pulang ke Indonensia) ada program empowering women artist," katanya.

Program itu datang dari Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation. Mereka membiayai proses berkarya Ria selama dua tahun. Hasilnya, karya berjudul Mwathirika pada 2010 dan Secangkir Kopi dari Playa pada 2011.

Mwathirika berkisah tentang keluarga kecil yang tercerai berai akibat prahara politik 1965. Sementara Secangkir Kopi dari Playa bercerita tentang pemuda yang gagal menikahi gadis pujaannya karena kuliah di luar negeri.

Ketika meletus tragedi 1965, pemuda itu tak bisa pulang ke Indonesia karena negara tempatnya kuliah berpaham komunis. Sepasang kekasih itu tak bersatu, tapi cinta mereka abadi hingga tua.

Ria mengatakan langsung menyodorkan Secangkir Kopi dari Playa saat Riri Riza menawarkan Papermoon terlibat dalam AADC 2. "Itu satu-satunya love story yang kami punya," katanya.

Mwathirika dan Secangkir Kopi dari Playa adalah pelontar. Dua karya itu melesatkan Papermoon Puppet Theater sebagai satu-saatunya teater boneka di Indonesia. Hingga kini mereka tak pernah berhenti mencipta karya baru dan mementaskannya hingga ke penjuru dunia. "Tak pernah istirahat sampai sekarang," katanya.

Dan kini sejenak ia berhibernasi.

Kisah Ria membuat teater boneka /Beritagar ID

Bukan wayang boneka

Serupa tapi tak sama. Begitu kira-kira gambaran teater boneka dan wayang. Puppet dalam bahasa Inggris bisa dimaknai sebagai wayang. Toh, Ria menolak menggunakan terminologi wayang boneka menggambarkan Papermoon Puppet Theatre.

"Beberapa orang menggunakan terminologi wayang boneka untuk kami. Tapi kami bilang tidak, kami teater boneka," katanya.

Menurut dia, wayang adalah bagian dari teater boneka. Keduanya sama-sama menggunakan obyek dalam pementasannya. Dalam perkembangan seni pertunjukan, obyek itu selalu berkembang.

Tak heran muncul beragam bentuk wayang; dari wayang kulit, wayang golek, hingga wayang orang. Sementara khazanah teater boneka pun cukup luas. "Ada marionette boneka yang digerakkan dengan tali," katanya, memberi contoh.

Karena perkembangan puppet itulah seni pertunjukan bisa diklasifikasikan menjadi klasik dan kontemporer. Untuk wayang, biasanya Ria mengambil kisah klasik Mahabarata dan Ramayana. Kisah-kisah itu ia bangun narasinya dengan kehidupan sehari-hari. Syaratnya, lanjut Ria, ada dua. Narasi itu mengisahkan masalah dan masalah itu memiliki kedekatan dengan kehidupan di masyarakat.

Mwathirika misalnya. Meski berlatar peristiwa besar sejarah, prahara politik 1965 di Indonesia, Papermoon mengemasnya dalam bingkai tragedi nyata yang menimpa satu keluarga. Banyak keluarga tercerai berai. Mereka yang bertahan tak punya kesempatan hidup bermartabat di tengah masyarakat.

Begitu juga dalam Secangkir Kopi dari Playa. Seorang pelajar tak mampu kembali ke negara asalnya, terpisah dengan orang-orang yang dicintainya, meski rindu menghantui sepanjang hidup. "Oke kita ngomong tentang sejarah tapi efeknya kan pada keluarga," katanya.

Ria adalah sosok penyusun naskah di balik pementasan Papermoon. Sementara Iwan dengan latar belakang seni rupa menerjemahkannya sisi artistiknya. Bagi Ria, kepeduliaan terhadap sesama menjadi fokus naskah-naskah yang ditulisnya.

Surat ke Langit, pernah dipentaskan di Festival Salihara pada 2014, berkisah seseorang berusia tua yang menyadari umurnya tak panjang lagi. Di masa senja itu, hatinya risau bagaimana nasib anak yang kelak ditinggalkannya.

Lakon ini mengajak penonton menyadarai kematian adalah pasti. Risau meninggalkan orang-orang terkasih bisa terjadi pada semua orang. "Intinya kami mau bilang kalian tak sendiri," kata Ria menjelaskan kisah Surat ke Langit.

Sayangnya, dibanding lakon lain, Surat ke Langit, terbilang paling jarang dipentaskan. Baik di dalam maupun di luar negeri. Hingga kini pementasan di Salihara pada 2014 itu menjadi pementasan pertama dan terakhir.

Ria mengatakan berencana kembali mementaskan Surat ke Langit pada tahun ini. Mei nanti, Papermoon akan mementaskannya di Singapura dan Filipina sebelum berakhir di Yogyakarta pada Juli.

Pementasan pamungkas itu sekaligus akan pengobat rindu bagi khalayak di Yogyakarta. Terakhir kali, Papermoon mementaskan "Saidjah" di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta pada 2015.

Bagi Ria, tak afdal rasanya jika karya Papermoon belum terpentaskan di kota asalnya. Ternyata, untuk persiapan pementasan Surat ke Langit itulah ia berhibernasi.

Ria dan bonekanya di studionya kawasan Bantul, Senin (8/1/2018).
Ria dan bonekanya di studionya kawasan Bantul, Senin (8/1/2018). Beritagar.id /Pius
BIODATA Diperbarui: 18 Januari 2018

Ria Papermoon

Nama: Maria Tri Sulistyani

Nama beken: Ria Papermoon

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 4 November 1981
Pendidikan: S-1 Fisipol UGM (2005)
Karya:- Pertunjukan "UD. Sari Rosok” di Pulau Natuna yang didukung oelh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau (Agustus 2017)- MWATHIRIKA, dibiayai oleh Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation (2010)- Setjangkir Kopi dari Plaja” dibiayai oleh Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation (2011)- Pertunjukan “Laki-Laki Laut”, di ARTJOG 2013
Penghargaan:
- Dinobatkan sebagai perempuan paling menginspirasi oleh majalah Her World Indonesia (2015)- Samsung memilih sebagai tokoh berpengaruh di industri kreatif kategori seni pertunjukkan
Beasiswa:- Fellowship Artist Residency of Hooyong Performing Arts Centre (South Korea), April- May 2009- Fellowship of Asian Cultural Council 2009-2010 in United States- Achievement Award “Empowering Women Artists” by Kelola, HIVOS, Ford Foundation and BIYAN (2010-2011)- Fellowship of AIR Koganecho in Yokohama, Japan ( 2012)
BACA JUGA