Rini PWI ketika berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Senin (24/6/2019)
Rini PWI ketika berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Senin (24/6/2019) Dewi Nurcahyani
FIGUR

Rini PWI dan kenangan akan bidikan sniper

Rini Prapti Wahyuni Ismail termasuk perempuan pertama yang menjadi jurnalis foto di Indonesia. Dia acap kali terjun ke daerah konflik, baik di dalam maupun luar negeri.

Malam itu, di persimpangan maut dan hidup, perempuan itu mengingat perkataan neneknya: jangan pernah lari dari apa pun. Dia kelak mengerti petuah yang tinggal di kepalanya selama bertahun-tahun tersebut tengah menuntut penunaian.

Dia merasa tubuh tangkasnya bakal roboh. Rasa giris dan cemas seperti tengah menggergaji sepasang kakinya. Teriakan-teriakan yang sejak tadi dia tembakkan ke udara sekonyong-konyong tinggal bergelantung saja di angkasa kesia-siaan.

"Gue lemes," katanya tentang situasi 25 tahun lalu itu di Bosnia-Herzegovina. "Kayak enggak bisa jalan".

Usianya 40. Majalah berita mingguan Tempo, tempatnya berkarier sejak 1983, baru saja kena beredel untuk kali kedua. Surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) Tempo dicabut pada Juni 1994 oleh Harmoko, Menteri Penerangan saat itu. Tiga bulan setelah insiden yang juga menimpa majalah Editor dan tabloid DeTik tersebut, dia bertolak ke Bosnia-Herzegovina.

Sebenarnya, pada saat mengajukan diri untuk bertolak ke kawasan yang dikoyak-koyak konflik bersenjata itu, dia sudah tak pegang kartu pers. Cuma bermodal surat keterangan kerja dari media yang menampungnya, Jawa Pos. Itu pun hanya berlaku enam bulan.

Dia mengirim proposal keberangkatan ke kantor Pusat Penerangan ABRI di Cilangkap, Jakarta Timur. Harapannya, bisa membonceng Kontingen Garuda. Sebaris isi suratnya menegaskan sebuah wasiat. Inti bunyinya, jika dia menjadi korban pemerkosaan atau tertangkap atau bahkan tewas, keluarga atau negara tak boleh menggugat.

Seorang petugas yang membacanya lantas merespons. "Rin, enggak salah nih surat?" ujarnya menirukan sang petugas. "Gila, lu!"

Barangkali dia tidak gila. Cuma mau membuktikan kesungguhan. Maka dunia menjawab upaya itu dengan menyodorkan soal ujian. Yang menjadi lantaran adalah aksi salah jalan. Tersesat.

Mulanya, dia turun dari bus dan berupaya mencari tempat bermalam. Kakinya melangkah menuju sebuah bukit. Di sepanjang jalan, dia menyeru permisi ke tiap bangunan dengan segala bahasa yang dia tahu. Sembari tak lupa mengetuk ke sembarang pintu.

Berbilang menit lewat. Pikirannya lantas berubah kusut. Ada sesuatu tak beres. Apalagi saat dentuman musik di sebuah bangunan tiba-tiba berhenti. Lapisan tekanan lain yang sejak tadi tersembunyi seperti mengelupas.

Keheningan sontak menyelubungi area itu. Meski tak lama. Sebuah suara yang karib dengan kesengsaraan dan maut datang mengoyak selubung hening. Suara senjata terkokang.

"Gue tengok-tengok. Di ujung sana, dekat kali kecil, di sebuah tembok tinggi, dia ada di atas situ. Dia lihat gue. Gue lihat dia. Kami lihat-lihatan," kata Rini melukiskan siluet penembak jitu yang tengah mengekernya.

Sadar berada pada situasi ambang, Rini tak memproduksi gerak-gerak sembrono. Sudah begitu, kakinya yang seolah-olah sudah tak dialiri darah tetap berusaha dia stabilkan. Pada momen itu dia teringat wejangan sang nenek. Kali ini, dia akan menerapkannya secara harfiah.

Sembari merapal doa, dia berbalik. Pelan-pelan. Mengarahkan tubuhnya ke arah dia datang. Lalu dia mulai berjalan. Terus berjalan. Jangan pernah berlari dari apa pun, begitu gema perkataan neneknya. Dan dia patuh.

"Setelah gue pikir dia sudah enggak melihat, gue lari sekencang-kencangnya," ujarnya.

Usai lolos dari sang penembak jitu, dia mengaku tak lagi dikuasai ketakutan. Bahkan ketika pada satu hari dia tak sengaja melanggar jam malam dan diperiksa seorang polisi mabuk.

"Kalau kita ikhlas, rida dalam berjalan yang bagaimana pun, kita pasti diselamatkan Tuhan," ujarnya.

Produk gagal

Rini Prapti Wahyuni Ismail--dikenal sebagai Rini PWI atau disapa Mpok Rini--seorang jurnalis foto. Dia mengisahkan satu episode hidupnya itu kepada Beritagar.id di beranda kantor BPJS Kesehatan Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (24/6/2019) siang. Dia meminta ditemui di sana demi bisa sekalian mengurus tagihan iuran jaminan kesehatan.

Usianya kini 65, dan dia menolak dipanggil dengan sebutan ibu. Menurutnya, sapaan itu menegakkan sekat tinggi berupa penjenjangan dan penghormatan. Hal yang, dalam hidup, kadang tak diperlukan. Sebab kalau sudah begitu, bakal susah berbicara sebagai sekadar sesama manusia.

Rini Prapti Wahyuni Ismail, atau Rini PWI, ketika berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Senin (24/6/2019)
Rini Prapti Wahyuni Ismail, atau Rini PWI, ketika berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Senin (24/6/2019) | Dewi Nurcahyani

Dalam hematnya, sikap sedemikian berpangkal dari kecenderungan personal. Pun dampak dari gaya lingkungan kerjanya pada awal 1980-an.

"Waktu awal di Tempo pada 1983 itu, yang tua kita panggil abang atau kakak. Yang muda di bawahku juga manggil dengan nyebut lu-lu aja. Enggak ada masalah," katanya.

Tempo majalah berita mingguan berpengaruh yang terbit pada 1971. Model pemberitaannya khas, berbeda dari kecenderungan media-media sezaman. Pembacanya rata-rata kelas menengah atas.

Pada 1982, pemerintah melarang Tempo terbit. Itu pemberedelan pertamanya. Penyebabnya adalah pemberitaan kerusuhan kampanye Golkar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Pada masa Orde Baru, Golkar dipandang sebagai mesin politik andalan Soeharto untuk melanggengkan kekuasaan.

Ketika itu Rini mungkin satu-satunya perempuan jurnalis foto di perusahaan media massa di Indonesia. Untuk berada pada posisi tersebut, bukan perkara remeh-temeh. Bahkan, mungkin, pun di pelbagai bidang lain. Belum banyak perempuan yang mendapat peluang profesional, yakni mereka yang mendapat akses kepada keuntungan sosial dan ekonomi hasil industrialisasi.

Namun, Rini bersikap seperti banyak orang yang tak berambisi menyuntuki profesi tertentu, Dan mulanya dia justru mendaftar sebagai wartawan. Dan itu asal pilih saja. Tak pernah pula berniat untuk mengabdi bagi Tempo. Sebelum masuk ke industri media, dia sempat di Departemen Pekerjaan Umum dan Sucofindo.

Dalam fase percobaan sebagai wartawan, dia gagal. Padahal sudah melalui tahapan panjang. Sembilan bulan, yang dibagi menjadi tiga babak triwulanan. Di etape ketiga, dia dinyatakan tidak lulus. Dia ingat keputusan itu disampaikan oleh Margono, Koordinator Reportase Tempo.

Tetapi, majalah itu tak segera menendangnya. Opsi lain baginya masih terbuka. Bergabung di divisi foto. Ia diberi semangat oleh Bambang Bujono, wartawan yang kelak dikenal menguasai bidang seni rupa. Berbekal dorongan itu, Rini menghadap penanggung jawab urusan foto, Ed Zoelverdi, sosok kesohor mempopulerkan julukan Mat Kodak bagi fotografer.

"Penugasan pertama bukan langsung motret, tapi riset foto," ujar Rini, "masuk ke lab. Semua harus bisa. Cuci film, nyetak foto. Belakangan motret. Lalu disambi. Antara motret sama cuci film".

Keluarga kaya

Ketika akhirnya bisa bertugas sepenuhnya untuk mengambil gambar di lapangan, Rini merasa bersyukur telah melalui semua tahapan teknis yang dia lakoni di ruangan. Sebuah paket lengkap bagi profesinya. Apalagi, ayahnya pernah berkomentar bahwa jurnalis foto merupakan "wartawan plus". Sebab, selain kudu jago ambil gambar yang simbolnya sanggup mewakili topik, mesti tak kaku pula mewawancarai narasumber.

Namun, Rini sebenarnya tak pernah membaca Tempo sebelum bergabung di institusi tersebut. Dia mengenal majalah itu dari ayahnya, seorang pengusaha tembakau Jember, kepala asosiasi eksportir tembakau. Ayahnya memasarkan bahan baku cerutu berkualitas unggul. Bertajuk Na-oogst alias tembakau musim hujan. Penting dalam produksi sigar Kuba.

Rini Prapti Wahyuni Ismail, atau Rini PWI, ketika berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Senin (24/6/2019)
Rini Prapti Wahyuni Ismail, atau Rini PWI, ketika berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Senin (24/6/2019) | Dewi Nurcahyani

Selain dikenalkan dengan Tempo, ayahnya membawanya ke kehidupan sejahtera. Rini tak merasa pernah hidup susah. Apalagi, garis ke atas di sisi ayahnya juga berisi orang dagang. Kakek paternal Rini seorang pengusaha sapi sekaligus pemilik rumah jagal.

Di sisi lain, kakek maternalnya seorang "bupati atau wedana" pada masa pendudukan Belanda. Ketika Jepang mendarat di Jawa, sang kakek dari pihak ibu itu ditangkap dan digiring ke sebuah lapangan karena menolak menyerahkan penduduk untuk jadi pekerja paksa. Di situ, dia diikat dan dieksekusi.

Untuk merangkum banda keluarganya, dia berkata pendek: Dari sisi ayah punya uang, dari sisi ibu punya lahan. Dan perihal ibunya ini, dia cuma bilang peninggalannya adalah style yang dipakai Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut). Tercipta setelah belajar di Inggris dan Jepang beberapa bulan.

Keadaan makmur bermuara pada sejumlah privilese. Kursus piano, karate, untuk menyebut beberapa. Juga pembatasan. "Saya main sepeda aja enggak boleh," katanya. Untuk sekolah, dia tak terlalu pula bermasalah. Namun, sekali terjadi dalam tes masuk ke ITB dia dikerjai kawannya.

"Dikasih pil. Warna putih, kecil-kecil. Langsung enggak bisa tidur. Sialnya, pas tes gambar malah enggak bisa. Padahal itu andalan gue. Tahu-tahu tidur aja. Dibangunin enggak bisa. Ya, gagal," ujarnya. Akhirnya dia masuk Akademi Teknik Nasional (ATN) dan ambil jurusan Arsitektur.

Sebenarnya, cita-citanya selulus kuliah bergabung di BUTSI. Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia, tempat para sarjana diorganisasi dan lalu ditugaskan ke wilayah-wilayah terpencil. Tetapi, mimpi itu tak kesampaian.

Terjun ke daerah konflik

Bekerja di perusahaan media bisa berarti membagikan produk yang merupakan hasil dari kesempatan-kesempatan istimewa wartawan kepada khalayak luas. Makanya, sedari awal Rini sudah ambil kuda-kuda untuk hanya mau bekerja di lapangan, memburu bahan visual secara langsung.

Meski tak sedikit, memang, risiko yang mengancam nyawanya selama bertugas. Walau begitu, dia tak punya sesal. "Gue jalanin aja," katanya. "Enggak mau ngawang. Berusaha menapak aja. Meski waktu udah menapak pun, tetap aja ada ketentuan-ketentuan 'dari sana'".

Dia kemudian dengan sadar mengikuti perkembangan konflik di beberapa daerah. Lokal maupun internasional. Beberapa di antaranya Timor Timur, Aceh, Papua--Rini menyebut Irian--Poso, Tanjung Priok, Kamboja, Bosnia-Herzegovina.

Anggapan bahwa perempuan kurang memiliki ketetapan hati dan kecakapan fisik ditepisnya. Sebab urusan profesional tak semestinya menerapkan batasan yang ukurannya selalu terbuka bagi pertanyaan dan penilaian ulang.

"Gue sendiri cewek. Di lapangan masih sendiri. Enggak pernah cantik. Pakai celana jin, pakai rompi. Muka kena matahari. Pakai motor. Kulit gelap. Lapangan itu keras. Dunia keras, bukan (penugasan di) Istana atau hotel. Jangan mempertunjukkan kewanitaan. Biar aja lo dinilai slordig (kata bahasa Belanda yang bisa berarti cuek atau berantakan)," katanya.

Karena prinsip sebegitu, Rini tak merasa pernah dilecehkan atau mengalami trauma. Dia juga bisa licin bergerak untuk menembus narasumber, sesuatu yang menjadi salah satu daya dukung penting wartawan.

Segumpil dari tumpukan pengalamannya dapat dipungut di Timor Timur, daerah yang dia masuki pertama kali pada 1989, 14 tahun setelah militer Indonesia mengawali serangan ke kawasan tersebut pada Desember 1975. Daerah yang kemudian dia cintai. Berkali-kali dia ke sana, dalam keadaan aktif bertugas maupun cuti.

Satu kali saat sedang di Lospalos, sebuah daerah yang jauhnya hampir 250 km dari Ibu Kota Timor Timur, Dili, dia menemui satu tim Kopassus. Dia menanyakan sebuah insiden kekerasan, dan minta diantarkan ke lokasi kejadian. Beberapa anggota tim lantas membawanya ke tempat diminta pada pukul 22 esoknya.

Ketika berhasil menemui narasumber, dia keki karena tak dibiarkan sendiri. Celetukan seperti, "enggak cari kopi?", tak ditangkap sebagai permintaan bagi sang pengantar untuk menyingkir. Akhirnya dia menunggu hingga tentara itu tertidur. Baru dia berani korek keterangan dari narasumbernya.

"Di wilayah konflik itu memang mesti ada tata cara. Jangan berpihak ke kiri atau ke kanan. Sepanjang begitu, lu aman. Lu akan selamat," ujarnya.

Rini menerapkan prinsip sama waktu melihat operasi militer di Aceh. Bedanya, menurut dia, kalau di Timor Timur yang berkuasa uskup, sedangkan di Aceh yang berpengaruh kiai, yang dia kata sebagai "para abu-abu".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR