Sutradara, produser, dan penulis skenario film  Riri Riza berpose di depan kamera Beritagar.id di Kantor Miles Film, Jalan RC Veteran Raya, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Rabu (06/09/2017).
Sutradara, produser, dan penulis skenario film Riri Riza berpose di depan kamera Beritagar.id di Kantor Miles Film, Jalan RC Veteran Raya, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Rabu (06/09/2017). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Riri Riza, Rocker yang terpincut dengan film

Sempat menjadi pemain band semiprofesional, ia justru menemukan film sebagai media untuk menunjukkan identitas dirinya.

Hidupnya tak pernah lepas dari film. Tapi ini bukan cerita romantisme Riri Riza menatap adegan estetis seorang aktor sambil mendengar efek suara mengagumkan. Pengalaman pertamanya dalam menatap layar justru terasa membosankan untuk orang awam yang hidup di era Orde Baru.

Saat kecil, ia sering menemani ayahnya, Mohammad Riza, ke pelosok daerah di Sulawesi untuk memutar film soal keluarga berencana, transmigrasi, penggunaan pupuk, dan program pemerintah lainnya.

Sang ayah bekerja di Departemen Penerangan Sulawesi Selatan. Pekerjaan yang membuatnya sering bersinggungan dengan film, pertunjukan seni, festival film hingga kampanye politik. Departemen itu dulu memang sangat powerful sebagai alat propaganda Presiden Suharto.

Riri tak melihat film-film plat merah itu sebagai hal yang menjemukan. Ia justru mengamini bahwa film bisa menjadi media untuk mengubah manusia.

Saat usianya sembilan tahun, ayahnya mendapat promosi sebelum pensiun. Ia sekeluarga pindah ke Jakarta dan tinggal di bagian utara ibu kota, Plumpang.

Riri lalu menemukan dunia baru baginya. Musik rock. Ia membuat band dengan teman-teman sekolahnya di LabSchool Rawamangun, Jakarta Timur. Di usia 12 tahun ia sudah bekerja semiprofesional sebagai penggebuk drum.

"Saya nyari duit pertama jadi musisi," katanya ketika ditemui di Kantor Miles Film, Jalan RC Veteran Raya, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Rabu (06/09/2017).

Selepas lulus sekolah menengah atas, ayahnya sempat khawatir dengan pilihan sekolah Riri, jurusan musik. Mohammad Riza sempat mengambil contoh temannya yang menjadi pemain biola untuk siaran Radio Republik Indonesia Makassar.

"Pak Idrus namanya. Dia hidup miskin," kata Riri mengenang. "Bapak saya nanya, "Kamu mau hidup seperti (Pak Idrus) itu?""

Tapi Riri bergeming. Pada 1988 ia nekad mendaftar jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia sudah yakin dengan kemauannya karena musik tak bisa lepas dari hidupnya.

Tapi nasib berkata lain. Jurusan yang ia inginkan bangkrut. Sudah dua tahun IKJ saat itu tak menerima mahasiswa musik. "Enggak ada yang daftar, enggak jalan, dan tutup," ujarnya.

Laki-laki bernama lengkap Muhammad Rivai Riza itu sempat berpikir dan sepakat dengan perkataan ayahnya kalau menjadi pemusik memang susah. Mau sekolah musik saja tidak bisa.

Iseng-iseng ia melongok ke jurusan film. Riri membaca buklet dan mempelajari bidang studinya. Menurut dia, semua yang tertulis saat itu tampak masuk akal. Apalagi ada mata kuliah musik.

Suasana kampus IKJ membuat Riri tambah yakin dengan pilihannya. Serius tapi tak formal. Ia melihat ada mahasiswa telajang dada untuk mendalami seni peran. Di sisi lain, ada gerombolan mahasiswa yang sedang berlatih bernyanyi, merokok, dan tertawa-tawa.

"Oh bukan musik? Alhamdulillah," ujar ayahnya ketika tahu Riri memilih jurusan film. Ibunya, Hajera Dg Tongi, mendukung keputusan anak tengah dari delapan bersaudara itu.

Sambil menyeduh kopi dari Pasaman, Riri bercerita soal perjalanan kariernya hingga menjadi produser, sutradara, dan penulis skenario film kepada Sorta Tobing, Andi Baso Djaya, Patricia Felita, Radha Akhsyin, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo.

Alunan piringan hitam Miles Davis dari album Porgy and Bess (1959) sempat terdengar dari dalam ruang kerjanya di lantai tiga kantor itu. Obrolan kami mengalir juga ke proyek yang sedang ia garap, sebuah film tentang penyair Chairil Anwar. Berikut kisahnya.

Sutradara, produser, dan penulis skenario film, Riri Riza, saat menerima wawancara dengan Beritagar.id di Kantor Miles Film, Jalan RC Veteran Raya, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Rabu (06/09/2017).
Sutradara, produser, dan penulis skenario film, Riri Riza, saat menerima wawancara dengan Beritagar.id di Kantor Miles Film, Jalan RC Veteran Raya, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Rabu (06/09/2017). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bertemu Mira Lesmana

Saat pertama masuk kuliah, pengetahuan Riri soal film berkualitas bisa dibilang nol. Ia kering informasi. IKJ boleh dibilang mata air baginya.

Di mata kuliah seni rupa, ia belajar soal ikon pop Andy Warhol. Di musik, ia bertemu para maestro saat itu, seperti Slamet Abdul Sjukur dan Tony Prabowo.

Riri juga belajar soal sejarah film, lalu bertemu para pembuat film avant-garde. Sutradara Teguh Karya sempat memberi kuliah di kelasnya. Lalu, ia juga mewawancarai sastrawan dan sutradara Asrul Sani.

"Saya bertemu dengan legenda-legenda sinema Indonesia yang masih bekerja dengan Usmar (Usmar Ismail, pelopor perfilman tanah air)," kata Riri.

Saat di kampus, diskusi tentang film tak melulu soal estetis, tapi berkembang ke politik hingga aliran gaya baru dari Eropa. "Saya exciting sekali melihat hubungan film dengan sejarah dan politik dunia," ujar pria kelahiran Makassar, 2 Oktober 1970 itu.

Ia jadi tahu sinema tak melulu dari film yang diputar oleh ayahnya. "Saya menemukan film itu di IKJ," kata Riri.

Kuliahnya berjalan mulus. Riri lulus dengan prestasi akademik tertinggi di angkatannya. Film pendek yang menjadi tugas akhirnya, Sonata Kampung Bata, memenangkan penghargaan dari festival film di Jerman.

Ia sempat berangkat ke Negeri Panser. Itulah pengalaman pertamanya ke luar negeri. Orang tuanya sangat bangga dengan prestasi Riri. Langkahnya pun semakin mantap sebagai pembuat film.

Gara-gara film pendek pertamanya itu, Riri bertemu dengan partner kerjanya hingga sekarang, Mira Lesmana. Pertemuan tersebut terjadi saat premier Sonata Kampung Bata. Riri mengajak guru dan teman-temannya untuk menonton bersama.

Mira yang datang pada saat itu tertarik dengan sutradara di balik film tersebut. "Dia cari saya melalui teman-teman. Dia pikir saya perempuan," ujar Riri sambil tertawa.

Kakak kelas Riri dengan usia terpaut tiga tahun lebih tua ini mengajaknya bekerja sebagai asisten sutradara untuk beberapa proyek iklan. Ketika itu Mira bekerja sebagai produser untuk rumah produksi, Katena Films.

"Di situ tempatnya orang belajar film," kata Riri. Ia ingat ada tiga orang asal Amerika Serikat yang bekerja sebagai kamerawan, sutradara, dan produser.

Mereka kerap membuat iklan dengan tata artistik tinggi. Sebuah iklan rokok yang menampilkan keindahan alam Indonesia dan cukup terkenal di era 1990an merupakan hasil karya Katena Films.

"Saya datang tuh kayak, woah... ini orang-orang Hollywood," ujarnya. Belum lagi peralatannya yang lengkap. Lampu-lampu besar. Kamera bisa naik tinggi sekali. Bagi Riri yang baru saja lulus kuliah semua itu tampak keren dan canggih.

Riri bekerja sebagai sutradara iklan untuk beberapa produk. Mira kemudian menginisiasi sebuah proyek Anak Seribu Pulau. Program yang dibuat oleh stasiun televisi pertama Indonesia, RCTI, itu menampilkan beberapa cerita anak-anak di berbagai pulau di Indonesia.

Umur Riri baru 25 tahun tapi dia sudah kebagian mengerjakan proyek yang sangat besar itu. Garin Nugroho juga terlibat dalam salah satu cerita program ini.

Di saat yang sama, muncul gelombang baru para sutradara muda dari Asia dan Amerika Serikat. Wong Kar Wai, John Woo, Richard Linklater, dan Quentin Tarantino. "Anak Seribu Pulau muncul pada saat new wave datang. Kami waktu itu melihat ada bahasa baru tentang film," kata Riri.

Riri Riza, kedua dari kanan, berpose bersama teman-temannya yang tergabung dalam band cadas bernama Seedz. Formasi ini adalah pada 1988, dari sebelah kiri Denny Djatnika (gitar), Doddy Katamsi (vokal), Ferry Mpe (bass), dan Edo Widiz (gitar).
Riri Riza, kedua dari kanan, berpose bersama teman-temannya yang tergabung dalam band cadas bernama Seedz. Formasi ini adalah pada 1988, dari sebelah kiri Denny Djatnika (gitar), Doddy Katamsi (vokal), Ferry Mpe (bass), dan Edo Widiz (gitar). | Koleksi pribadi Denny Djatnika /Beritagar.id

Riri, Mira, dan Nan Triveni Achnas sering mendiskusikan gelombang baru tersebut. Mereka lalu terbersit untuk membuat film. Dari sinilah muncul Kuldesak pada 1998. "Kami tambah satu orang lagi, Rizal Mantovani. Karena dia waktu itu unik banget membuat video klip musik seperti film," katanya.

Film omnibus ini menjadi gebrakan di tengah lesunya sinema tanah air pada 1990an. Riri, Mira, Nan, dan Rizal menggarapnya selama tiga tahun. Tema yang diambil soal empat kehidupan remaja Jakarta dengan mimpinya masing-masing.

Mira lalu membentuk Miles Production (sekarang Miles Film) setelah Kuldesak tayang. Riri menjadi sutradara full time di tempat itu hingga sekarang. Kolaborasi keduanya bagai dynamic duo yang kerap mengguncang industri film Indonesia.

Sebut saja Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta (2002). Dua film legendaris ini menghidupkan kembali industri yang sempat mati suri tersebut. Keduanya sempat berhasil meruntuhkan kekuatan film Hollywood di bioskop nasional.

Dibanding Kuldesak, Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta bukan film berat dengan jalan cerita yang mengernyitkan dahi. Yang satu bercerita soal keluarga, satu lagi percintaan remaja. Ibarat memakan sepotong coklat, keduanya mudah dinikmati dan membuat hati tersenyum.

Lanjut lagi Eliana Eliana (2002), Gie (2005), 3 Hari Untuk Selamanya (2007), dan Atambua 39 Celcius (2012). Keempat film ini merupakan kolaborasi Mira sebagai produser dan Riri menjadi sutradara yang memenangkan berbagai penghargaan internasional.

Riri mengaku bukan karena kesetiaan keduanya bisa bertahan bekerja bersama hingga sekarang. "Mira tidak pernah berlaku seperti bos dengan saya," katanya. "Kami bisa mengontrol ego masing-masing, it's almost like a marriage."

Riri Riza bicara soal film pertamanya /Beritagar ID

Film Chairil Anwar

Menurut Riri, membuat film bukan persoalan genre, style, atau pun alur cerita. "Film itu tentang identitas, pancaran siapa Anda, siapa kamu sebagai sineas," ujarnya.

Sutradara berkarakter yang kerap menjadi panutannya adalah Wim Wenders, Spike Lee, dan Martin Scorsese. Wenders, seorang Jerman, memberi inspirasi bagi Riri membuat film tentang perjalanan di 3 Hari Untuk Selamanya dan Eliana Eliana.

"Saya pengagum Wim Wenders. Dia selalu membuat film road trip, ada cerita soal menemukan kembali diri kita dan interaksi dengan orang lain melalui perjalanan," kata Riri.

Lalu, Lee menjadi sutradara pertama yang ia kagumi. Riri mengaku mengenal sutradara kulit hitam itu dulu ketimbang Martin Scorsese dan Steven Spielberg. "He made a powerful film," ujarnya.

Terakhir, Scorsese. Awal tahun ini Riri berkesempatan bertemu langsung dengan sosok ini. "Siapa yang enggak?" tanyanya balik ketika kami bertanya apakah dia gugup bertemu Scorsese.

Riri sempat bertanya kepada sutradara asal Amerika Serikat itu bagaimana caranya bekerja dengan aktor. "Dia bilang, saya bukan bekerja dengan aktor, tapi dengan teman-teman saya," kata Riri menirukan ucapan Scorsese. Cara itu yang Riri terapkan juga sejak awal kariernya.

"Film itu tentang identitas, pancaran siapa Anda, siapa kamu sebagai sineas"

Riri Riza

Dari semua film yang ia kerjakan, Gie menjadi yang tersulit baginya. Selama dua tahun ia menulis naskah sendiri, lalu menyutradarainya. Waktu pengambilan gambarnya pun yang terlama selama Riri berkarier, 74 hari.

"Saya struggling dengan kepercayaan diri dan data-data sejarah yang luar biasa," katanya. Setelah proses shooting selesai, ia menemukan tantangan harus menerima kritik. Apalagi durasi film ternyata mencapai empat jam.

"Saya sempat marah waktu dikritik. Memang berat ketika harus menulis skenario dan menyutradarainya sendiri," ujar Riri.

Saat ini ia sedang dalam tahap pengembangan untuk mengerjakan film tentang Chairil Anwar. Sosok ini terasa mirip dengan Soe Hok Gie dalam film Gie. Seorang tokoh nasional yang bergerak dalam bidang tulis-menulis, berkarier di usia belia, mati muda, dan hidup di zaman revolusi meskipun eranya berbeda.

Tak ada maksud Riri untuk menampilkan tokoh yang tampaknya mirip tapi berbeda tersebut. Semua proses kreatif yang terjadi di Miles Film atas dasar diskusi dengan Mira dan komunitas di sekitarnya.

"Kesimpulannya adalah minat dari circle kami kurang lebih sama terhadap berbagai aspek kesenian, sastra, dan lain-lain," katanya.

Chairil menjadi sosok yang menarik, menurut Riri, karena memutuskan menjadi seniman di usia sangat muda. "Dia hidup sebagai seniman to the fullest," ujarnya. Puisi-puisinya sempat kontroversial, tapi sekarang menginspirasi banyak orang. Film tentang penyair yang kerap disebut Si Binatang Jalang itu ditargetkan bakal tayang pada 2019.

Sutradara, produser, dan penulis skenario film, Riri Riza saat menerima wawancara dengan Beritagar.id di Kantor Miles Film pada Rabu (06/09/2017).
Sutradara, produser, dan penulis skenario film, Riri Riza saat menerima wawancara dengan Beritagar.id di Kantor Miles Film pada Rabu (06/09/2017). Beritagar.id /Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 14 September 2017

Riri Riza

Nama:

Muhammad Rivai Riza

Tempat/Tanggal lahir:

Makassar, 2 Oktober 1970

Nama Istri:

Wilita Putrinda

Nama Anak:

  • Liam Amadeo Riza
  • Ingmar Anargya Riza

Pendidikan:

  • Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (1993)
  • Media Arts Department, Royal Holloway University, London, Inggris (MA dalam bidang penulisan skenario film, 2001)

Karya sebagai sutradara film:

  • Kuldesak (1998)
  • Petualangan Sherina (2000)
  • Eliana, Eliana (2002)
  • Gie (2005)
  • Untuk Rena (2005)
  • 3 Hari untuk Selamanya (2007)
  • Laskar Pelangi (2008)
  • Takut: Faces of Fear (2008) - Segmen Titisan Naya
  • Drupadi (2008)
  • Sang Pemimpi (2009)
  • Atambua 39° Celcius (2012)
  • Sokola Rimba (2013)
  • Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)

Karya sebagai produser film:

  • Ada Apa Dengan Cinta (2002)
  • Pendekar Tongkat Emas (2014)
BACA JUGA