Musisi dan penulis Risa Saraswati berpose untuk Beritagar.id pada Kamis (28/11/2018) di Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Utara, Dago, Bandung, Jawa Barat.
Musisi dan penulis Risa Saraswati berpose untuk Beritagar.id pada Kamis (28/11/2018) di Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Utara, Dago, Bandung, Jawa Barat. Aditya Herlambang / Beritagar.id
FIGUR

Risa Saraswati, bersama hantu sepanjang waktu

Mengaku sebagai penakut, ia menerbitkan belasan buku tentang hantu. Banyak yang akhirnya diadaptasi menjadi film, salah satunya Danur.

Di pojok ruang belakang sebuah restoran Jalan Trunojoyo, Bandung, Jawa Barat, Risa Saraswati menghabiskan semangkuk besar mi kuah dengan santai. Perempuan berkerudung dengan gamis hitam dan pulasan wajah itu tampak menikmati betul tiap suapan sarapannya.

Sebelum ikut rapat kantor di sebuah hotel, Kamis pagi itu (28/11/2018), kami menemuinya untuk berbincang soal pengalaman gaibnya. Pertemuan kedua setelah peluncuran album dan novel barunya, Sandekala, pada medio November lalu. Kami berbincang dengannya ditemani kopi hitam dan susu cokelat dingin.

Selain menulis buku, menyanyi, dan belakangan menjadi video blogger (vloger), Risa juga berstatus pegawai negeri sipil di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Sebelumnya ia menjadi aparatur negara di Kabupaten Karawang.

Setiap hari kerja ia pulang pergi ke Bandung lewat jalan tol. Suatu ketika ia bersama temannya merekam video untuk mengidentifikasi, ada hantu apa saja di sepanjang ruas berbayar itu. Risa pun merelakan tubuhnya sesaat dimasuki hantu.

“Itu mediasi, beda sama kesurupan atau kerasukan. Kalau kesurupan kondisinya mereka memaksa masuk,” katanya.

Risa mengaku telah melewati masa itu. Ketika SMP hingga SMA ia sering kerasukan hantu dan acap menolak berkomunikasi dengan mereka. Masa remajanya pun agak gelap dengan tiga kali upaya bunuh diri.

Musisi dan penulis Risa Saraswati berpose untuk Beritagar.id pada Kamis (28/11/2018) di Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Utara, Dago, Bandung, Jawa Barat.
Musisi dan penulis Risa Saraswati berpose untuk Beritagar.id pada Kamis (28/11/2018) di Dago Tea House, Jalan Bukit Dago Utara, Dago, Bandung, Jawa Barat. | Aditya Herlambang /Beritagar.id

Bunuh diri yang gagal

Sejak balita Risa bergaul dengan hantu, tanpa ia sadari. Tinggal di rumah bekas orang Belanda di Bandung, Risa kecil terlihat aneh bagi orang tuanya. Sulung dari dua bersaudari anak pasangan Iwan Sumantri-Elly Rawilah itu kerap asyik ngobrol sendiri.

Sosok-sosok yang tidak terlihat orang lain itu ia anggap manusia biasa. “Lihat kuntilanak saya anggap seperti orang gila. Biasa aja, nggak berpikir mereka berbeda dengan saya," kata perempuan kelahiran Bandung, 24 Februari 1985 itu.

Baru ketika kelas lima Sekolah Dasar, ia mulai bisa membedakan mana orang dan hantu. Kakeknya dari pihak ibu yang menjelaskan. “Karena saya dapat kemampuan ini dari kakek, jadi dia yang lebih paham," ujar Risa. Setelah Risa, kemampuan serupa muncul pada adiknya dan beberapa sepupu.

Keluarganya sempat membawa Risa kecil ke psikiater dan beberapa pesantren. Tapi upaya menghilangkan kemampuannya melihat dan berkomunikasi dengan hantu itu gagal karena ia justru semakin peka.

Di antara sekian banyak sosok gaib yang dilihatnya, Risa punya kawan spesial sejak kecil sampai sekarang, yaitu Peter, Hans, William, Hendrik, dan Janshen. Ia dulu mengenalnya sebagai tetangga. Mereka konon mati karena dibunuh tentara Jepang. Sampai kini pun mereka masih takut dengan orang bermata sipit.

Risa larut dalam pertemanan itu hingga ingin hidup abadi bersama mereka. Ia menuruti cara-cara bunuh diri yang dibisikkan Peter cs hingga tiga kali ketika SMP.

“Kalau itu sih bukan stres atau frustrasi tapi sukarela karena terlalu enjoy main sama mereka," katanya.

Mengaku telat tumbuh dan masih polos, ia menenggak sestrip obat dari warung. “Ternyata saya baik-baik saja, cuma ngantuk doang, tidur, bangun seger lagi," ujarnya.

Upaya kedua memotong urat tangan dengan cutter. “Saya beli di toko buku, tahunya macet pas mau dipakai," kata Risa.

Percobaan ketiga loncat dari angkutan kota yang sedang melaju. Begitu mau beraksi, tangan ibu-ibu penumpang sigap menyelamatkannya.

“Jadi, ada saja yang buat saya tetap hidup. Dari situ mulai sadar, mungkin belum saatnya mati," katanya.

Keluarganya geger. Risa lalu dipindahkan ke rumah kakeknya dan dibentengi dari pertemanan dengan Peter cs hingga masa kuliah. Setelah dewasa dan bisa mengendalikan kemampuannya, ia bersahabat lagi dengan mereka.

Pada masa kehilangan sahabatnya itu ia malah banyak bertemu hantu-hantu lain. Tayangan televisi soal hantu jahat ikut berimbas hingga membuatnya tertekan. “Takut, soalnya saya penakut banget sebenernya," ujarnya.

Ketika bisa ngobrol dengan orang seperti Risa, mereka jadi agresif. Tapi yang membuatnya paling takut adalah sosok-sosok hantunya. Matanya yang agak kabur dengan minus enam, dirasakannya memperjelas kehadiran mereka di sekitar dirinya. Baru ketika pakai kacamata, penampakan mereka bisa berkurang.

Selain telah bisa mengendalikan kemampuannya, Risa harus selalu menjaga tubuh agar tetap fit. “Biasanya saya bisa kontrol, kapan saya mau lihat dan tidak. Tapi ketika saya lemah, sakit, biasanya otomatis kebuka,” kata penggemar jam tangan dan kolektor boneka Barbie itu.

Kakeknya membimbing agar Risa rajin ibadah dan membaca doa-doa khusus. Selain itu ia dilarang keras memanfaatkan hantu untuk urusan pribadinya.

****

Sempat menjadi introver, Risa menceritakan pengalaman hidupnya seperti diary di akun Friendster, lalu Twitter, dan blog pribadi. Hobi menulisnya itu kemudian mengembangkan karirnya. Ia menjadi penyiar radio Rase FM Bandung pada 2006.

Setelah mewawancarai band-band lokal, ia tergerak membuat lagu sendiri. Bakat seni menurun dari keluarga orang tuanya. Ibunya penari tradisional dan bibinya penari jaipong. Sementara kakek, nenek, dan uwaknya menyukai tembang Cianjuran. Ayahnya gitaris lagu-lagu balada.

Di sela siarannya tiap malam Jumat, Risa menebarkan Ghost Tweet. Karena pertanyaan orang tentang Peter cs misalnya hampir seragam dan terasa membosankan, ia akhirnya menulis cerita sekaligus jawaban di blog. “Blog saya dibaca penerbit, jadinya buku Danur," kata Risa.

Sejak 2011 itu lahir buku-buku lain hingga kini berjumlah belasan judul. Mayoritas cerita horor dengan tokoh aneka hantu, segelintir lainnya fiksi misteri. “Berhubung pengalaman saya dengan hantu melulu, setiap hari ada terus inspirasi," ujarnya.

Tujuan mereka ingin berbincang dengan Risa sangat beragam. Konon berdialog membuat mereka merasa hidup seperti di dunia lagi.

Aneka cerita yang disebutnya datang dari para hantu itu lantas diseleksi. “Kalau ceritanya mati bunuh diri gara-gara putus cinta, ya males saya nyeritain," kata Risa. Ia lebih memilih kisah yang menyentuh dan memunculkan simpati.

Seperti jurnalis, Risa mewawancarai mereka dan mengkonfirmasi ceritanya ke hantu lain. Sebaliknya juga, wanita Pisces yang mengaku suka galau ini bercerita ke Peter cs soal keseharian yang kadang jenuh, banyak masalah, dan bosan hidup.

“Mereka bilang, kamu tidak tahu betapa inginnya kami ingin hidup," kata Risa menirukan perkataan teman-temannya.

"Berhubung pengalaman saya dengan hantu melulu, setiap hari ada terus inspirasi."

Risa Saraswati

Dari hantu seperti Asih ia juga berkaca pada pengalamannya. Bunuh diri bukan akhir dari segalanya, melainkan awal peristiwa baru.

Lewat novel horor yang berupa kumpulan cerita pendek, Risa coba memanusiakan hantu supaya orang tidak takut dengan hantu. “Walaupun kenyataannya saya nggak bisa seenak begini ngobrol sama hantu, gila banyak pengorbanan," ujarnya.

Ada pula hantu yang ngambek seperti Peter cs kalau keinginanya tidak dituruti. Mereka kata Risa, bisa sampai memperlihatkan wujud asli terseramnya ketika marah.

Umumnya hantu yang mengajaknya ngobrol bersosok anak-anak dan perempuan. “Mungkin karena hantu laki-laki jarang curhat ya?” Risa menyebut mereka sebagai arwah gentayangan yang meninggal secara tragis.

Hantu lelaki yang akrab dengan Risa bersaudara yaitu Mamat Modol. Sejak kecil, ia dan keluarga mengenalnya karena suka muncul di rumah tiap Lebaran. Memakai pakaian jawara, Mamat konon berasal dari sungai Cikapundung.

Semasa hidupnya, Mamat berprofesi sebagai centeng pengusaha genteng berkebangsaan Belanda di Bandung. Suatu hari, kata Risa, Mamat buang air besar di pinggir Sungai Cikapundung. Karena kebelet, ia sampai lupa melepas cincin jimat dan melanggar pantangan.

“Nggak sengaja cincinnya dipakai, kena bah, langsung kegulung air bah. Saya nggak tahu tahun berapa," katanya.

Biasanya ia menulis buku mulai malam hari di rumah sepulang kerja hingga menjelang subuh. Paling cepat sebuah buku bisa rampung sepekan. Paling lama ketika menulis novel terbaru Sandekala, waktunya sampai tujuh bulan.

Pengalaman mistisnya ketika proses penulisan, muncul luka pada wajah dan tubuhnya. Menurut kakeknya, itu karena Risa terlalu dekat dengan sosok tokoh novelnya yang biasa disebut kalongwewe atau wewe gombel.

Novel jadi film

Novel perdana, Danur (2011) yang menjadi best seller dengan 60 ribu kopi kini terus menanjak hingga 160 ribu eksemplar. Sukses itu mengawali adaptasi buku-buku Risa untuk diangkat ke layar bioskop.

Sebuah rumah produksi telah mengikat kontrak untuk memfilmkan adaptasi novel-novelnya hingga 2021. Sejak 2017 sampai sekarang sudah mau tayang judul ke enam dari bukunya.

“Kabarnya, setahun dua kali sih rilis. Saya juga nggak tahu nih, (film) Silam tiba-tiba mau muncul," ujarnya.

Risa tidak terlibat langsung dalam penggarapan film. Agar cerita di bukunya tetap terjaga, ia minta ke produser untuk menyerahkan penggarapan naskah film ke seorang kenalannya.

Ia tidak keberatan soal cerita film yang tidak sepenuh isi bukunya. “Karena novel saya kebanyakan kayak kumpulan cerpen. Mereka ambil satu (cerita) yang kuat baru diangkat ke film," ujarnya. Ia mengakui film ikut mengangkat tiras bukunya.

Belakangan ia dan timnya rutin membuat video bertajuk jurnalrisa di kanal YouTube. Tiap malam Jumat keluar tayangan baru.

Isi rekamannya soal petualangan Risa dan para sepupunya yang punya kemampuan serupa ke berbagai tempat angker, seperti pemakaman, rumah-rumah Belanda, atau situs sejarah. Mayoritas lokasinya di Bandung.

Jumlah pelanggannya (subscriber) tayangan itu 1,2 juta orang lebih dengan penonton yang berlipat-lipat jumlahnya. Beberapa stasiun televisi, ia mengatakan, pernah meminangnya untuk acara serupa. Namun ia menampiknya karena proses kreatifnya dinilai tak sebebas karya buatan sendiri.

Musisi dan penulis novel horor Risa Saraswati berpose di depan kamera beberapa waktu lalu.
Musisi dan penulis novel horor Risa Saraswati berpose di depan kamera beberapa waktu lalu. /Instagram @risa_saraswati
BIODATA Diperbarui: 13 Desember 2018

Risa Saraswati

Tempat, tanggal lahir:
Bandung, 24 Februari1985

Pendidikan:

  • Sarjana Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung
  • Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan lulus tahun 2017

Pekerjaan:

  • Pegawai Negeri Sipil Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, penulis, musisi, vlogger

Band:

  • vokalis Homogenic (2002-2009)
  • vokalis dan pendiri Sarasvati (2009-sekarang)

Album (Homogenic):

  • Epic Symphony (2004)
  • Echoes of Universe (2006)
  • Jakarta Movement (2005)

Album (Sarasvati):

  • Story of Peter (EP, 2010)
  • Mirror (2012)
  • Sunyaruri (2013)
  • Ballades (kolaborasi dengan Gran Kino 2015)
  • Sandekala (solo, 2018)

Buku, novel:

  • Danur, Risara : Sara Wjayanto Dan Risa Saraswati
  • Gerbang Dialog Danur
  • Sebuah Ruang Cerita Maddah
  • Peter
  • Rasuk
  • Hans
  • Hendrick Konnings
  • Asih
  • William
  • Janshen
  • Maddah
  • Samantha
  • Ananta Prahadi
  • Silam
  • Ivanna van Dijk
  • Sunyaruri
  • Catatan Hitam
  • Sandekala (2018)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR