Robin Boe, CEO Fore Coffee sekaligus co-founder Otten Coffee, saat berpose untuk beritagar di toko Otten Coffee di Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019).
Robin Boe, CEO Fore Coffee sekaligus co-founder Otten Coffee, saat berpose untuk beritagar di toko Otten Coffee di Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Robin Boe, dari Otten ke Fore Coffee

Robin Boe tak lahir dari keluarga yang punya budaya minum kopi. Kecintaannya akan kopi tumbuh secara tak sengaja.

Dari niat bermain-main ke ladang jagung, Robin Boe, 34, malah tersangkut di bisnis kopi. Dia seolah-olah menggaungkan legenda Kaldi, seorang pengangon kambing di Etiopia, yang, konon, tak sengaja menemukan daya tersembunyi sejenis buah beri yang disantap gembalaannya.

Buah yang bijinya kelak masyhur sebagai kopi.

Momen aha Robin atas spesies tanaman bermarga coffea terjadi 10 tahun lalu di Medan saat usianya masih awal 20-an. Waktu itu kota-kota besar di Indonesia belum kena sambar gejala kopi "gelombang ketiga". Tren yang di antara tanda-tandanya adalah keingintahuan besar konsumen akan produk yang diminumnya.

Meski Medan--kota yang menurutnya "seru untuk masa kecilnya"--punya akar cukup kuat dalam budaya mengopi, Robin tak terpapar dengan kultur tersebut. Kedai-kedai kopi lawas seperti Apek, Kok Tong, atau Kopi Tiam Ong berada di luar radarnya.

Malahan, dia berujar kepada Beritagar.id saat ditemui di toko Otten Coffee, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019), bahwa dia "enggak ngopi sama sekali, bahkan untuk kopi saset sekalipun".

Begitulah. Pada satu hari yang bikin riang, Robin dan kawannya bertolak dengan mobil ke arah Sibisa, daerah bertanah tinggi nan sejuk di kawasan Danau Toba, untuk menengok perkebunan jagung. Selain untuk meredakan penat, Robin bilang "petualangan" itu siapa tahu melahirkan ide untuk ikut "tanam-tanam jagung" juga.

Di tengah perjalanan, dia heran mendapati banyak tanaman semak berbuah merah yang, dalam sangkanya, "kayak ceri". Digedor penasaran, dia menyambangi ladang yang menyimpan tumbuhan kopi itu. Dia temui petaninya untuk diajak mengobrol. Salah satu pertanyaannya, mengapa warna buah kopi merah. Setahunya, kopi dominan cokelat.

Mungkin karena terpancing dengan keingintahuan Robin yang kuat, akhirnya petani dimaksud mengulurkan beberapa biji kopi kepada lelaki yang besar di daerah Sekip itu. Dia memberi Robin arahan untuk mengolah biji itu sebelum dijadikan minuman.

"Saya proses sendiri, saya seduh sendiri," ujarnya.

Di rumah, Robin tak lama-lama membiarkan benda asing itu. Dia pakai panci biasa untuk menggongsengnya. Dan setelah dirasa cukup, biji kopi itu lalu dia tumbuk dan seduh.

"Saya dimarahi mama saya. Dia bilang, 'lo ngapain? Satu rumah berasap,'" kata Robin tentang kopi perdananya, yang disebut orang sebagai kopi ateng karena berasal dari pohon pendek, tapi berbuah banyak. Di situ dia "pertama kali mengopi langsung dapat pengalamannya".

Tak sebatas coba-coba

Ayah Robin seorang pengusaha properti di Medan, dan ibunya berbisnis konfeksi. Setamat berkuliah di STMIK - STIE Mikroskil, Robin sempat membantu usaha orang tuanya. Karena itu, kepekaannya akan sisi komersial segala hal pun terasah. Begitu pun saat mulai bersinggungan dengan kopi.

Maka terasa wajar ketika dia kembali membeli kopi dari Sibisa untuk mempersangat metode coba-cobanya. Kali ini, dia kembali pesan satu kilogram ke petani yang sama. Sebelum digongseng dan diseduh, dia kupas satu per satu dengan tangan. Proses begitu terus bergulir sampai dia merasa hasil percobaannya bisa dijual.

"Konsumen pertama, saya lupa nama perusahaannya. Tapi kalau enggak salah di Jakarta. Saya kirim satu kilo," katanya.

Sialnya, sang pembeli protes. Barang kiriman Robin dianggap tak layak ekspor. Meski demikian, reaksi pembeli tersebut bernada positif. "Karena bapak sudah kirim," kata Robin menirukan konsumennya, "kami beli deh. Tapi lain kali jangan kirimin ini."

Seorang pengekspor kopi di Medan, yang juga melihat produk Robin, beropini sama. Menurutnya, Robin mesti lebih memperhatikan proses pemilihan dan pengolahan biji. Kelak, Robin banyak belajar tentang kualitas biji mentah (green bean) darinya. Dia pun mulai yakin untuk menjalani produksi berskala kecil walau pengupasan masih berlangsung secara manual.

Robin Boe peminum kopi hitam. Tapi, tempo-tempo, seperti saat berpose untuk Beritagar.id di toko Otten Coffee, Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019), dia sudi menyesap yang lain.
Robin Boe peminum kopi hitam. Tapi, tempo-tempo, seperti saat berpose untuk Beritagar.id di toko Otten Coffee, Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019), dia sudi menyesap yang lain. | Bismo Agung /Beritagar.id

Sambil bereksperimen, Robin menggandeng Jhoni Kusno. Jhoni pernah sekampus dengannya, dan terjun dalam ekspor makanan laut. Setelah ada Jhoni, fokus mulai tajam. Biji-biji kopi asal Sumatra kian didalami. Lalu, pasar luar negeri ditatap dengan berani. Akhirnya, mereka menemu pembeli. Asalnya dari Korea. Jalan mereka lancar, walau tak selalu mulus.

"Pernah enggak bisa tidur karena satu kontainer ada kumbang hidup di dalamnya. Fumigasinya mungkin kurang bagus. Sampai di Korea kumbang masih hidup. (Barang) terancam disita atau dikembalikan. Kita sampai khawatir banget karena boleh dibilang semua modal kita di situ," ujarnya. "Jadinya kita berpikir untuk bikin roastery aja. Roasting biji kopi, lalu coba pasarin ke hotel dan restoran."

Pada 2012, mereka lantas membuka kedai kopi di Kruing, Medan, seruas jalan yang kesohor di kalangan pemburu oleh-oleh. Namanya Otten, sebuah anagram dari netto. Jenama itu tak memiliki makna khusus. "Cuma sebuah nama," kata Robin. Selain menjual kopi dan menyangrai biji kopi sendiri, Otten Coffee juga melego alat-alat perkopian.

Biji-biji yang dijual rata-rata berasal dari Sumatra: ada gayo, sidikalang, lintong, atau mandheling, untuk menyebut beberapa.

"Kami ada mesin roasting yang 500 gram. Kalau ada yang pesan, baru kita produksi. Gongseng-gongsengnya gantian sama Jhoni. Setelah banyak pesanan, baru pesan mesin lebih besar," ujarnya tentang usaha rintisan tersebut.

Ketika ditanya mengenai periode menyangrai, Robin menampik keangkuhan. Dia merasa tak piawai sebagai roaster. "Tapi dulu karena saya lakuin itu tiap hari," katanya, "jadi gampang. Kalau sekarang sih karena udah lama enggak megang, sudah lupa".

Membuka toko online

Keputusan untuk mendagangkan alat-alat perkopian seperti penggiling, mesin espresso, dan penyeduh sebenarnya bukan perpanjangan dari desain bisnis awal.

"Karena kami hobi kopi, kami suka beli alat kopi. Alat-alat itu jarang ada di Indonesia. Jadi kami impor. Mahal. Misalnya, kami beli dari Jepang satu boks, sisanya dijual," ujarnya tentang alat bertumpuk yang akhirnya dilepas ke pasar.

Kebiasaan itu pun berujung pada pendirian ottencoffee.co.id pada 2013. Mereka buka toko daring demi meluaskan jangkauan. Dan langkah ke jagat digital tersebut terbukti ampuh. Dua tahun setelahnya, pendapatan Otten meningkat hingga 300 persen. Itu tahun yang sama dengan datangnya tawaran investasi dari sebuah perusahaan modal ventura terkemuka, East Ventures.

"Awalnya dihubungi sama Willson by email memperkenalkan diri dan ngajak ngobrol tentang bisnis kopi saya di online. Terus saya ketemu Willson 2015," kata Robin menyebut nama salah satu pentolan East Ventures, Willson Cuaca.

Robin sebenarnya juga mendapat tawaran dari pemodal ventura lain. Namun, dia memilih East Ventures "karena merasa lebih cocok ke Willson".

Enam tahun setelah berdiri, Otten sudah punya mesin panggang berkapasitas 22 kilogram. Dalam seperempat jam, mesin itu menghasilkan 20 kilogram. Belasan ton biji panggang per bulan terkirim ke banyak tempat.

Selain itu, dari cuma menawarkan beberapa kopi single origin, Otten kini sudah sedia 50. Plus 6000-an alat-alat perkopian yang, tiap kali datang, selalu Robin jajal. Sebuah cabang toko pun sudah tegak di Jakarta, di kawasan padat usaha kuliner, Senopati. Jika masuk ke situ, mustahil pengunjung tak lupa diri.

"Otten jadi semacam Disneyland buat para pencinta kopi," katanya.

Fase baru dengan Fore Coffee

Pertumbuhan bisnis biji kopi Otten tak dapat dileraikan dari relasi kuat dengan para petani. Terbanyak dari Sumatra Utara. Meski begitu, persekutuan terjadi pula dengan petani-petani dari berbagai daerah di Indonesia.

"Kita kan belinya dari petani, bukan trader. Beli dengan harga lebih tinggi. Jadi mereka juga lebih semangat memproduksi," ujarnya. "Kita harus beli juga tiap bulan. Petani percaya diri karena demand dari kita selalu ada. Mungkin coffee shop lain ada yang beli dengan harga yang lebih tinggi dari Otten. (Tapi) itu akhirnya lebih bikin petani sejahtera. Hasilnya pun bisa lebih bagus lagi ke depannya".

Dalam hematnya ada sejumlah kebun di Kerinci dan Jawa yang membuahkan kopi enak dan petaninya cakap menghasilkan panenan berkualitas baik. Jika permintaan melonjak dan produksi petani-petani itu sedang rendah, mereka biasanya akan dikirimi bibit.

"Kami minta mereka cari lahan. Bibitnya mereka enggak usah khawatir. Itu supaya kopinya lebih banyak lagi buat masa depan," katanya.

Robin Boe ketika berpose di toko Otten Coffee di bilangan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019).
Robin Boe ketika berpose di toko Otten Coffee di bilangan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (01/08/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Dengan penguasaan teliti di sektor hulu, dia tak terlalu mencemaskan pertumbuhan subur kedai kopi hari-hari ini.

"Makin banyak bisnis kopi, kita menganggap demand itu ada. Jadi itu sangat bagus. Peminum kopi instan mulai berpaling ke fresh brew. Biasanya kalau sudah begitu akan berkembang ke specialty coffee. Kita melihat perkembangan dunia kopi di Indonesia lagi berjalan. Itu membantu produksi kopi di Indonesia," ujarnya.

Menjenguk gambar lebih besar, permintaan kopi dan harga ekspornya yang belum meningkat tahun ini--seturut masih lesunya perekonomian global--bikin pengekspor memilih untuk melepas jualannya ke ranah domestik. Langkah begitu diambil menyusul pesatnya perkembangan bisnis kedai kopi, terutama di kota-kota

Peluang terbit, modal menguntit.

Progres di sektor ritel minuman kopi mengundang penyandang dana. Sejak 2018, kabar tentang arus besar investasi ke bisnis kopi sudah bergulir. Kopi Kenangan, misalnya, menerima pendanaan awal dari Alpha JWC Ventures $8 juta. Tahun ini, pendanaan lanjutan ke kedai yang sama berasal dari Sequoia India. Besarnya $20 juta.

Kasus lain terjadi pada Fore Coffee, proyek Otten yang dikembangkan secara internal (inkubasi) oleh East Ventures. Jumlah pendanaan awalnya dirahasiakan. Namun, pendanaan lanjutannya dari sejumlah pihak--salah satunya East Ventures--mencapai $8,5 juta, yang dengan kurs sekarang bernilai lebih dari Rp120 miliar.

"Saya merasa kopi menjadi kebutuhan semua individu yang sekarang. Dari investor mungkin melihatnya opportunity di bidang ini ada. Di luar negeri kayak Blue Bottle. Ada juga Luckin. Sampel yang sangat bagus," kata Robin, yang di Fore bertitel CEO, mencuplik nama dua jenama kopi asal Amerika Serikat dan Cina.

Merek yang disebut terakhir, Luckin Coffee, menjadi inspirasi Otten dan East Ventures untuk membangun Fore. Luckin jaringan yang mendasarkan operasinya pada perkawinan kopi dan teknologi. Pembelian produk-produknya hanya mungkin lewat aplikasi mobile. Lapaknya kecil. Cuma ditujukan buat ambil pesanan. Tapi, jumlahnya lebih dari 2000.

Dan seperti banyak perusahaan rintisan lain, susah memberi label padanya: perusahaan teknologi, atau toko kopi?

Fore diuntungkan dengan keberadaan Otten. Saudara tuanya itu berpengalaman dalam urusan bahan dasar dan mesin pengolah. Makanya Fore sudi tawarkan menu beragam untuk konsumennya. Yang penting, biji kopinya bercap specialty: identitasnya jelas, asal-usulnya bisa ditelusuri.

"(Kopinya) dari perkebunan di Aceh, Flores, dan Jawa. Lalu kita blend. Kalau yang Aceh dari Takengon. Rata-rata organik," ujarnya sembari bilang bahwa kopi aceh adalah favoritnya karena "sangat balanced, body medium, dan aftertaste lama."

Pria yang biasa minum tiga hingga empat cangkir kopi sehari itu mengawali Fore tahun lalu setelah berbincang dengan Willson Cuaca mengenai peluang kedai kopi ritel.

"Untuk bikin (Fore), ekosistem dan teknologi sudah mendukung. Payment gateway sudah ada. Food delivery service kayak Gojek dan Grab sudah ada," katanya.

Tantangannya adalah mengubah cara orang menikmati kopi selama ini. Dengan model bisnis yang dibayangkan, Fore mengandaikan orang bakal menafikan pengalaman mengopi di kedai.

Seperti Luckin, Fore mengejar pertumbuhan jumlah gerai. Dari target 125 pada akhir 2019, kini ia sudah sedia 72 unit. Aplikasi Fore pun sudah diunduh lebih dari 500 ribu kali di PlayStore. Ratingnya 4,5.

Dan karena berbasis teknologi, kebiasaan konsumen Fore pun bisa terbaca. Misal dari itu adalah pola waktu pesan.

"Misalnya saya suka ngopi pagi jam berapa, setelah lunch jam berapa. Yang unik, kalau jam kerja, orang lebih banyak pesan kopi delivery. Kalau weekend, delivery turun. Tapi store yang offline--leisure store--jadi lebih ramai," ujar sosok yang mengidolakan Steve Jobs karena berpikiran tajam, penuh gairah, dan tak berbelit-belit.

Berpengalaman ikut melahirkan dua brand, Robin menatap positif pasar kopi ritel. Terutama setelah intervensi teknologi sanggup menjadi solusi atas pelbagai problem.,

"Kopi bukan cuma kebutuhan. Dan secara bisnis, kami boleh dibilang sudah sukses menjalankan misi untuk mengopikan Indonesia. Harapannya sih semua orang Indonesia benar-benar bisa menikmati kopi hasil produksi Indonesia yang sangat bermutu," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR