Robin Lim, tiga kaki di Pulau Dewata
Keterangan Gambar : Pendiri Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim, berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (22/07/2017) di rumahnya, Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. © Beritagar.id / Agung Parameswara

Robin Lim, tiga kaki di Pulau Dewata

Pernah mengalami depresi, Robin menemukan kembali kehidupannya dengan membantu para ibu di Bali untuk mau melahirkan secara normal dan sehat.

Kematian tiga orang terdekatnya secara beruntun membuat Robin Lim merasa sangat sedih. Dia kemudian bertanya-tanya, untuk apa tujuan hidupnya.

Awal peristiwa 27 tahun lalu itu terjadi ketika adik kandungnya meninggal saat hendak melahirkan anak ketiga. Perempuan itu sangat dekat dengan Robin, bahkan ketika masih kanak-kanak keduanya berbagi tempat tidur.

Akibat kurangnya tindakan dan perlakuan dari dokter, adik kandung Robin pun meninggal dengan bayi di dalam kandungan. "Malam itu saya kehilangan dua orang, adik dan keponakan saya," kata Robin , 60 tahun, mengenang.

Tak lama setelah kematian adik kandungnya, ia juga kehilangan teman baiknya karena kecelakaan. Tiga hari kemudian, bidan yang menolong saat dia melahirkan juga meninggalkan dunia fana.

"Saya sampai merasa pecah. Berkeping-keping," katanya.

Robin Lim mengalami depresi. Tidak bisa bangun berhari-hari. Selama itu, dia hanya menangisi tragedi beruntun itu. Namun, kondisi jiwa yang dia sebut cracked itu justru membawa hal lain yang selama ini dia cari, cahaya.

"Cracked people is the most beautiful because the light would come through. If you are cracked, you will see the light," ujarnya. "Cahaya yang datang saat itu adalah saya harus hidup untuk cinta," kata dia pada Sabtu (22/07/2017) lalu.

Untuk mengabdikan hidupnya pada cinta itulah, Robin Lim kemudian mengubah tujuan hidupnya. Dari semula sukses sebagai guru dan pengarang di negaranya, dia ingin menjadi bidan agar bisa membantu banyak ibu saat melahirkan.

Pendiri Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim, berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (22/07/2017) di rumahnya,  Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
Pendiri Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim, berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (22/07/2017) di rumahnya, Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
© Agung Parameswara /Beritagar.id

Kiriman Wayang Kulit

Robin bercerita di rumahnya di Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di rumah tiga lantai ini, Robin sekarang tinggal bersama keluarganya.

Rumah ini berada di pedesaan khas Bali. Di kebun-kebun samping rumah, dia menanam aneka tanaman obat yang tidak hanya dia pakai sendiri tapi juga untuk orang lain membutuhkan.

Nyuh Kuning berjarak sekitar 20 km dari Denpasar. Lokasinya di dekat Monkey Forest, hutan milik warga adat di Ubud sekaligus salah satu tujuan utama turis berlibur di desa internasional itu. Suasana desa maupun rumah-rumah bergaya Bali tradisional rapi dan tertata. Asri.

Suasana desa itu pula yang membuat Robin Lim kemudian bangkit. Sebagai ibu beranak empat saat itu, dia tak ingin terpuruk setelah tragedi kematian tiga orang terdekatnya. Dia kemudian membaktikan hidupnya untuk membantu ibu-ibu lain yang melahirkan, terutama setelah dia tinggal di Bali.

Robin mengaku tidak tahu alasan pasti kenapa dia memilih Indonesia setelah dia merasa mendapatkan cahaya agar hidup untuk cinta. Namun, dia ingat saat-saat pertama dia mengenal Indonesia justru dari ayahnya.

Ayahnya pernah bertugas di Vietnam bersama tentara Amerika Serikat, seorang peace builder yang datang ke Indonesia setelah kejatuhan Presiden Sukarno. Dia tinggal di Bandung, Jawa Barat selama satu tahun. Robin yang saat itu berusia delapan tahun mendapat kiriman wayang kulit dari ayahnya.

Ketika melihat wayang kulit itu, dia merasa sukmanya terpanggil. Dia pun jatuh cinta pada negara asal wayang kulit yang belum pernah dikunjunginya itu. "Saat itu saya sudah ada rencana mau ke Indonesia. Saya mau tinggal di Indonesia suatu saat nanti," ujarnya.

Setelah mengalami fase-fase depresi dalam hidupnya itulah Robin kemudian ingat lagi tentang kenangannya pada Indonesia. Dia meninggalkan pekerjaan di Hawaii sebagai guru sekaligus pengarang dan kemudian tinggal di Bali sejak 1992.

Dia pun tidak punya alasan khusus kenapa memilih Bali. Saat ditanya, dia hanya menjawab bahwa itu mungkin karena sukmanya sudah tahu bahwa cucunya akan menjadi orang Indonesia, termasuk Bali.

Robin Lim adalah ibu dari delapan anak dan empat cucu. Dua di antara empat cucunya adalah warga Indonesia. Seorang cucunya lahir dari anak perempuannya, Lakota Moira yang menikah dengan Gede Robi Supriyanto, gitaris dan vokalis band grunge Navicula.

"Semua cucu saya lahir normal di tangan saya," katanya.

Robin Lim, saat memeriksa seorang ibu hamil di Klinik Bumi Sehat, Ubud, Gianyar, Bali, pada Sabtu (22/07/2017).
Robin Lim, saat memeriksa seorang ibu hamil di Klinik Bumi Sehat, Ubud, Gianyar, Bali, pada Sabtu (22/07/2017).
© Agung Parameswara /Beritagar.id

Belajar dari Nenek

Ketika pertama kali tinggal di Bali, Robin Lim menjadi guru di tempat kursus khusus orang asing. Namun dia juga berteman dengan bidan-bidan maupun dukun bayi di Nyuh Kuning. Di desa ini pula dia melahirkan anak kelima dari perkawinan dengan suami barunya, William Hemmerle.

Menurut Robin, banyak warga heran karena dia bisa melahirkan anak kelima hanya dengan bantuan suaminya. Bukan dengan bidan ataupun dokter. Sejak itulah, dia mulai mendapat permohonan dari bidan maupun ibu yang hendak melahirkan agar membantu proses persalinan.

Robin lahir dari pasangan ayah Amerika Serikat -- yang punya tiga darah: Amerika asli, Irlandia, dan Swedia -- sedangkan ibunya dari Filipina. Neneknya dukun bayi di pegunungan Filipina, tempat dia pernah tinggal. Sang nenek tidak hanya belajar tentang persalinan tapi juga pengobatan tradisional.

Robin pernah hampir operasi karena sakit ginjal. Neneknya kemudian membuat minuman dari rambut jagung. "Setelah itu saya tertidur dan merasa sembuh tanpa harus operasi," katanya. Sejak saat itu, Robin percaya sepenuhnya pada kekuatan-kekuatan alam, sesuatu yang dia percaya dan terapkan saat membantu ibu-ibu melahirkan.

Pendiri Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim, berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (22/07/2017) di rumahnya,  Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
Pendiri Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim, berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (22/07/2017) di rumahnya, Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
© Agung Parameswara /Beritagar.id

Mendirikan Bumi Sehat

Keterlibatan Robin dalam menolong persalinan ibu-ibu melahirkan terjadi karena situasi di Nyuh Kuning dan sekitarnya. Saat itu, sekitar 1995, masih sedikit bidan di desa tersebut. Rumah sakit jauh. Tak jarang mereka harus ke Denpasar hanya untuk melahirkan.

Bu Robin, begitu panggilan warga kepadanya, menjadi salah satu yang kemudian dimintai pertolongan saat ada ibu-ibu yang hendak melahirkan. Kadang dia sendirian, tapi lebih sering bersama bidan desa atau dukun bayi.

Ia membantu tak hanya di Nyuh Kuning tapi juga bahkan sampai Kintamani, Kabupaten Bangli yang perlu sekitar 1 jam perjalanan dari Ubud. "Saya akan bantu meskipun tidak mendapat gaji. Saya sudah senang kalau ibu dan bayinya selamat," katanya.

Karena makin banyak orang meminta bantuannya, Robin Lim bersama warga di Nyuh Kuning kemudian mendirikan Yayasan Bumi Sehat pada 2005.

Dia pun menempuh pendidikan formal sebagai bidan profesional di Amerika Serikat dan mendapat sertifikat sebagai bidan profesional di negara asalnya. Namun, dia menegaskan, saat ini hanya membantu persalinan secara gratis, bukan karena dibayar.

Saya akan bantu meskipun tidak mendapat gaji. Saya sudah senang kalau ibu dan bayinya selamat.

Robin Lim

Keyakinan yang paling penting

Di Yayasan Bumi Sehat, Robin menjadi pengurus bersama dua warga setempat, Eka Yuliani dan I Made Sandiyasa. Yayasan ini juga memiliki klinik Bumi Sehat yang menjadi tempat membantu ibu-ibu melahirkan secara normal.

Menurut Robin Lim, Bumi Sehat berdiri di atas tiga kaki yaitu medis, alam, dan budaya. "Kaki ketiga yang paling penting, culture. Adat. Believe. Doa," katanya. Keyakinan merupakan hal paling penting bagi ibu-ibu yang hendak melahirkan secara alami.

Dia memberi contoh pengalamannya sendiri. Pada saat mau melahirkan anak keduanya, posisi si anak sungsang. Dokter kemudian menyarankan agar Bu Robin melakukan gerakan sujud seperti halnya orang Islam saat salat.

Dalam sehari, dia sujud 5-6 kali selama beberapa menit. Anak keduanya pun lahir dengan cara normal meskipun semula sungsang. "Saya selalu pilih cara paling kuno. Saya bukan orang Islam tapi saya dapat the help of the way of Islam. Saya senang banget," katanya.

Cara yang sama selalu dia tekankan pada setiap ibu yang hendak melahirkan di Bumi Sehat. Berdoa selalu yang utama. Hasilnya, 95 persen kelahiran di Bumi Sehat dilakukan dengan cara normal, bukan operasi cesar.

Robin hanya sesekali membantu para ibu yang melahirkan di Bumi Sehat. "Saya cukup membantu pijat. Saya lebih banyak membantu penggalangan dana agar Bumi Sehat bisa hidup," katanya.

Bumi Sehat tidak mengenakan tarif kepada para ibu yang melahirkan di sana. Klinik ini memberlakukan subsidi silang, pasien kaya menyumbang banyak agar bisa membantu pasien miskin.

Tiap bulan ada sekiar 40 bayi lahir di Bumi Sehat dan menjangkau lebih dari 50 ribu orang dalam layanan kesehatan. Selain di Bali, Bumi Sehat juga membantu program kesehatan ibu dan anak di Aceh dan Filipina.

Dia juga menyebarkan pentingnya melahirkan secara normal ini ke berbagai daerah termasuk Jakarta, Kalimantan, dan lain-lain. Tiap tahun, menurut Robin, setidaknya 10.000 sampai 13.000 bidan mengikuti seminar atau pendidikan yang dia berikan.

Dengan segala pencapaian itu, Robin Lim mendapatkan penghargaan sebagai CNN Hero of the Year pada 2011 silam.