Keterangan Gambar : Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017) © Beritagar.id / Bismo Agung

Roy muda berkelahi tiap hari. Ditusuk, ditembak, bahkan bergelut dengan tahanan Korea di Surabaya.

Ciuman urung terjadi, sebab Anton Rorimpandey tak siap mencumbu pacarnya Marini yang agresif. Ia lebih memikirkan ujiannya yang gagal, ketimbang mojok di semak belukar--depan kampus Bulak Sumur.

Marini kemudian ditinggal. Anton malah memadu kasih dengan dosennya Yusnita, tapi di sisi lain juga sayang dengan Erika.

Itu adalah penggalan alur cerita Cintaku di Kampus Biru, sebuah film yang melahirkan seorang bintang: Roy Marten.

Empat puluh tahun sudah sejak Roy memerankan Anton. Tetapi karakter playboynya belum jua hilang. "Lihat, masih ganteng kan ha-ha?," ujar Roy sembari mengangkat-angkat bingkai kacamatanya.

Popularitas Roy memang begitu memikat pada masa itu. Sama kejadiannya ketika Nicholas Saputra memerankan Rangga di Ada Apa Dengan Cinta dengan keren.

Roy dikirimi seratusan surat cinta saban hari dari penggemar, yang kadang menunggui rumahnya di Pulo Mas. Awalnya surat itu masih dibalas. Tahun berikutnya ia hanya baca dan tak balas karena suratnya makin banyak.

"Honor main bisa dapat Rp40 juta pada awal 1980-an. Luar biasa jadi aktor itu," katanya kepada Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung saat wawancara di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017).

Sejak belia Roy jatuh cinta dengan akting. Idolanya adalah Sophan Sophiaan. Khususnya ketika Sophan bermain dalam film Pengantin Remaja. "Cita-cita saya ingin jadi Sophan. Saya tiru semua gaya dia," tuturnya.

Cita-cita itu pernah ditertawakan oleh gurunya. Kejadiannya saat Roy bilang bahwa cita-citanya adalah jadi bintang film saat ujian verbal bahasa Inggris.

Hanya dia yang berani bercita-cita sebagai bintang film. Murid lain standar, yakni ingin jadi dokter, dosen, insinyur atau tentara. "Di Salatiga, bintang film merupakan profesi di atas awan," katanya.

Roy memang tumbuh besar di Salatiga sampai usianya 20. Nama tulennya adalah Wicaksono Abdul Salam. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Abdul Salam dan Johanna Nora Van Daatselaar.

Semasa remaja, Roy tergolong biang onar dan suka berantem. Ia punya geng motor, yang diberi nama Roda Gila, yang kelak jadi inspirasi film Roda-roda Gila. Cerita ini ditulis amat sedikit oleh Eddy Supangkat dalam bukunya Salatiga: Sketsa Kota Lama.

Roy mengaku pernah ditusuk yang menyebabkan tangannya bersimbah darah, dikeroyok, bahkan ditembak di jalanan. Diakuinya, sifat temperamen itu terbawa ketika ia dibui karena kasus narkoba. Tahanan asal Korea dihajarnya saat berselisih paham soal telepon genggam. "Dia pinjam, tapi malah dibanting, ya sudah saya ladeni," ujar Roy.

Namun, di usia 65 saat ini, ia lebih sabar dan bisa kontrol emosi. Yang tak berubah ialah wajahnya masih tampak tampan dan tetap bergaya dengan sisiran rambut ke arah belakang.

Ketika Beritagar.id hendak bertemu dengannya, ia sedang duduk sambil menenggak wine--dengan beberapa orang dihadapannya.

Selama hampir sejam Roy membuka diri dan bercerita kepada kami tentang aktivitasnya di Banteng Merbabu saat remaja, fase memakai sabu dan penjara, kemudian mimpinya berakting sampai akhir hayat. Berikut narasinya:

Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017).
Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017).
© Bismo Agung /Beritagar.id

Melawan PKI

Novel 65 karya Bre Redana membuat Roy berlinang air mata. Kata per kata di novel itu mengingatkan masa kelamnya pada November 1965 di tanah kelahirannya Gendongan, Salatiga, Jawa Tengah.

Roy merasa bagian dari masa itu. Dia yang membuat ayah Bre, notabene anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), diciduk tentara.

Bre adalah tetangganya sendiri dan teman karib adiknya, almarhum Eri Salam. "Saya minta maaf ke Bre. Saya terenyuh baca novelnya," kata Roy, yang kini anggap Bre seperti adik sendiri.

Ceritanya bermula saat Roy, yang tergabung dalam Banteng Merbabu--organisasi pemuda Partai Nasional Indonesia (PNI)--disuruh mengecek sebuah pertemuan di dekat rumahnya. Roy mendapati pertemuan itu adalah rapat Gerwani. Oleh temannya, info ini diteruskan ke Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Rumah itu langsung diberondong AK-47. Celakanya info dari Roy salah. Pertemuan itu ternyata cuma arisan ibu-ibu. "Sejak itu PKI di Salatiga dibersihkan. Salah satunya ayahnya Bre," kata Roy yang kala itu berusia 15 tahun.

Banteng Merbabu, dikatakan Roy memang pro RPKAD. Organisasi ini paling berani melawan PKI. Karena itu teman-temannya dipakai sebagai informan untuk melacak PKI.

Roy menyaksikan sendiri pembantaian PKI. Setiap malam sebanyak 200-an anggota PKI dibunuh. Baik itu antek atau baru diduga PKI. "Edan. Sampai kini saya trauma," kata Roy, yang ayahnya veteran berpangkat mayor.

Rumah Roy saat itu memang jadi basis perlawanan terhadap PKI. Mulai dari Matori Abdul Djalil sampai George Aditjondro kerap berdiskusi di rumahnya untuk melakukan pergerakan.

Pada 1964, menurut Roy, eskalasi politik sangat panas. Di Jawa Tengah hampir semuanya merah, dengan kekuatan Pemuda Rakyat (sayap pemuda (PKI) yang dominan. Yang berani lawan Pemuda Rakyat hanya Banteng Merbabu.

Pemuda Banteng ini berisi para loyalis Presiden Sukarno. Ketika Sukarno datang ke Salatiga, mereka memadati lapangan Tamansari, tempat Sukarno berpidato. Dalam kunjungan itu, Sukarno bertemu Hartini, yang kemudian menjadi istri ke empatnya.

Tidak cuma Sukarno yang dielu-elukan. Anak-anak Presiden Pertama RI itu juga jadi idola. Roy dan teman-temannya pernah bolos sekolah untuk pergi ke Bojolali hanya untuk melihat Guntur Sukarno Putra berorasi.

Roy naik traktor dan bak terbuka untuk menuju ke sana. Bahkan pulangnya harus jalan kaki karena tidak ada tumpangan. "Bayangkan, jalan kaki 30 kilo meter dari Salatiga ke Bojolali dan Gunturnya tidak jadi datang ha-ha," kisahnya.

Pasca tragedi 1965, PNI pecah jadi dua, yang dikenal dengan PNI Asu dan PNI Osa Usep. PNI Asu di bawah pimpinan Ali Sastroarnidjojo dan Surachman, sedangkan PNI Osa Usep di bawah pimpinan Osa Maliki dan Usep Ranuwidjaja.

Roy masuk yang PNI Osa Usep, golongan minoritas di Salatiga. Lawan politiknya adalah teman-temannya juga. Kelompoknya itu didukung pemuda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk melawan PNI Asu. "Saya mundur dari dunia pergerakan politik pada era 70an," ujarnya.

Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017)
Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017)
© Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Meniru Sophan Sophiaan

Roy gemar akting sejak kecil. Ia suka gaya di depan kaca, bicara sendiri dan bertutur seolah memerankan suatu karakter. Baik itu antagonis atau protagonis. "Cita-cita saya jadi bintang film seperti Sophan Sophiaan," ujarnya.

Waktu itu profesi aktor bagaikan mimpi yang sulit digapai bagi anak-anak Salatiga. Bahkan, saat Roy menyampaikan cita-citanya itu di sekolah, ia malah ditertawakan guru dan seisi kelas. "Tapi saya bisa membuktikan," kata Roy.

Pada 1972, Roy nekat meninggalkan Salatiga. Ia pergi ke Ibu Kota untuk mengejar mimpinya itu. Tetapi Jakarta tidaklah seperti Salatiga. Roy yang terkenal di kota asalnya malah terpuruk di masa-masa awal perantauannya.

Di Jakarta ia benar-benar menggelandang. Ia tidak bisa bayar kos seharga Rp3500, sampai akhirnya diusir. Roy juga dinilai mengganggu penghuni kos lain oleh induk semangnya. Pasalnya sepatu boots-nya amat berisik ketika jalan. Apalagi Roy kerap pulang larut.

Ia kemudian pindah ke tempat temannya, yang sekarang jadi Mal Taman Anggrek. "Dulu, di sana cuma sawah," kata Roy, yang saat itu kerap utang sana sini untuk bertahan hidup.

Tapi Roy sosok ulet. Ia tidak serah pada keadaan. Untuk sambung hidup, ia mencoba jadi peragawan. Teman perjuangannya kala itu adalah Pangky Suwito. "Saya pikir, terkenal saja dulu biar bisa masuk industri film," ujarnya.

Dari profesi model itu, Roy bisa masuk sebuah majalah gaya hidup. Tapi persoalannya, bukan nama dia yang tertera di majalahnya, melainkan nama Pierre Gruno, seorang model yang lagi hit. "Wartawannya salah tulis," kisahnya.

Ia kemudian protes ke majalah tersebut, yang justru membawanya bertemu Albert Situmorang, wartawan Sinar Harapan. Albert lah yang menawarkannya main film pertama kali. Judulnya Bobby (1974). Lalu tahun 1975 ia diajak kembali untuk main film Rahasia Gadis. Dua film itu tidak laku.

Pada masa inilah nama aslinya, yakni Wicaksono, diganti oleh produsernya jadi Roy Marten. Ia sebenarnya keberatan karena merasa namanya bagus. Tetapi Roy mengalah dan justru nama bekennya itu membawa berkah, karena melambungkan dia sampai sekarang.

Nama Roy sendiri baru melambung ketika berperan sebagai Anton Rorimpandey di film Cintaku di Kampus Biru. Dari film itu ia terpilih sebagai Pemain Muda Penuh Harapan pada Festival Film Indonesia tahun 1977 di Jakarta dengan menyabet Piala Djamaluddin Malik.

Nasibnya pun berubah. Roy bukan lagi gelandangan. Ia sudah jadi mega bintang. Basis fannya terus bertambah.

Saban hari ia dikirimi 100 surat dari penggemar. Kemudian berkembang jadi dua ratusan di tahun-tahun berikutnya, sehingga ia tidak bisa lagi baca dan membalasnya. "Mustahil saya balas, karena satu tahun bisa main 14 film," katanya.

Dalam periode tersebut, Roy bersama Robby Sugara, Yenny Rachman, Yati Octavia dan Doris Callebout terkenal di media dengan sebutan The Big Five. Tapi Majalah Tempo menjuluki mereka dengan sebutan lain ketika itu, yakni The Five Pop.

"Pengkhianat tidak pernah dapat tempat"

Roy Marten

The Big Five mematok bayaran tinggi sekali. Pada saat angka psikologis bayaran aktor tidak lebih dari Rp2 juta, mereka bisa menerima honor Rp5 juta. Bahkan di tahun-tahun berikutnya jadi Rp7,5 juta. Honor Roy bahkan naik terus sampai terakhir Rp40 juta pada awal 1980-an.

Sebagai aktor ternama kala itu, Roy merasa perlu punya mobil sebagai simbol kebintangannya. Hal itu diakuinya juga untuk mengobati ego yang terluka karena susahnya ia di Jakarta ketika memulai karier. "Ada rasa balas dendam dengan kesusahan ketika saya sudah makmur," tuturnya.

Roy sering gonta-ganti mobil. Salah satu yang ia miliki adalah BMW Seri 2, yang waktu itu tergolong mewah dengan banderol Rp32 juta. Dalam setahun ia berganti mobil sebanyak 32 kali. Roy juga beli rumah mewah di Pulo Mas seluas 250 meter dengan harga Rp13,5 juta. "Saat ini harga rumah itu Rp8 miliar, gila enggak?."

Ketika dunia film meredup nama Roy juga sempat tenggelam. Namun itu tak lama. Saat gemerlap dunia sinetron hadir menggantikannya, nama Roy kembali membahana. Ia sukses membintangi sinetron Bella Vista dan Kupu-Kupu Kertas.

Di samping itu ia juga sukses menjalankan bisnis besi tua pada sekitar tahun 2004-2006.

Ia pun bergelimang uang dari bisnis itu, yang membuatnya bisa bangun rumah di kawasan Kali Malang, Jakarta Timur. Pada saat bisnisnya lancar itu Roy justru terjebak narkotika. "Saya dicekoki ekstasi oleh teman. Saya dipegang ramai-ramai," katanya.

Roy mengakui, jadi pencandu narkoba adalah titik terendah dalam hidupnya.

Dalam perjalanannya kemudian, Roy juga jadi mengenal yang namanya sabu. Koleganya memperkenalkan jenis psikotropika ini sebagai stimulan atau amfetamin yang bagus untuk bekerja.

Betul saja, dirinya jadi kuat dan bisa melek untuk syuting rangkap tiga sampai empat judul film saat dipengaruhi sabu. "Susah sekali lepas," tambahnya.

Lantaran ketagihan dan kedapatan memiliki sabu, Roy ditangkap polisi dan harus meringkuk di penjara dua kali: pada 2006 dan akhir 2007.

Roy Marten dan Christine Hakim dalam salah satu adegan di film Badai Pasti Berlalu, sebuah film musikal pada 1977.
Roy Marten dan Christine Hakim dalam salah satu adegan di film Badai Pasti Berlalu, sebuah film musikal pada 1977.
© Istimewa

Bertemu tawanan Pulau Buru

Hidup Roy berubah sejak dipenjara. Perasaannya juga berubah. Rumah yang ia anggap surga sebelumnya, telah bertukar jadi penjara. Hidup yang tadinya bebas, juga jadi terbatas.

Di hotel prodeo, Roy terbenam dan baru sadar kebebasan adalah sebuah kemewahan. "Awalnya saya shock, karena merasa tidak lagi merdeka," ujarnya.

Namun lambat laun Roy bisa adaptasi, meski tak selalu mulus juga. Kadang dirinya terpancing emosi. Misalnya saat ia jadi napi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Surabaya.

Ia berkelahi dengan tahanan asal Korea karena masalah telepon genggam. "Tahanan itu pinjam telepon, tapi malah dibanting, ya saya ladeni tantangannya untuk berkelahi," kata Roy.

Roy biasa berkelahi. Sejak remaja ia kerap ikut tawuran antar geng. Ditusuk, ditembak senjata api, hingga main keroyok, ia lakoni. Yang paling ia ingat dari jalanan adalah soal setia kawan. "Pengkhianat tidak pernah dapat tempat," katanya.

Tapi dari penjara jua Roy banyak belajar. Ia banyak bertukar pikiran dan menimba ilmu dari seorang kakek bernama Jeffry, yang belasan tahun berada di penjara Pulau Buru bersama Pramoedya Anata Toer.

Jeffry beri tahu kepadanya bagaimana cara mengalahkan penjara. Jawabannya cuma dua: pertama, menurunkan standar hidup, dan kedua, adalah tidur. "Tidur membuat kita merdeka, karena bebas bermimpi apa saja," kata Roy.

Di penjara juga Roy bisa melukis, hobi yang dulu pernah ia lakukan saat SMA. Lukisan-lukisan Roy di penjara itu banyak terinspirasi karya Hendra Gunawan. Kini, lukisan-lukisan itu terpajang di tembok rumahnya.

Roy mengaku bisa atasi kecanduan karena tak lepas dari peran keluarganya. Baginya mereka adalah teman yang setia mendengarkan dan terus mendukungnya. "Keluarga adalah kekuatan saya," ujarnya.

Ia sudah memiliki enam cucu. Salah satu di antaranya adalah Gempita Nora Marten, putri Gading Marten dan Gisella Anastasia.

Kini, keluarga jadi gairah terbesar dalam hidupnya. Dirinya selalu mendambakan duduk di pantai bersama mereka menyaksikan matahari turun, kemudian menyalakan api unggun dengan sebotol wine yang enak.

Dalam hidupnya Roy memiliki petuah: "Setiap manusia punya pertandingannya sendiri. Kadang kalah, kadang menang. Tetapi yang terpenting adalah kemenangan di akhir ceritanya. Tabik."

**-**

Setelah 50 menit berlalu, Roy kembali mengangkat gelas wine, lalu mengajak tos. Ini sudah gelas kedua. Kemudian ia menyandarkan diri ke kursi, menyulut cerutunya lagi, sambil berkata, "saya hanya ingin menikmati hidup."

Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017)
Roy Marten berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah kafe Plaza Senayan, Jumat (21/4/2017)
© Beritagar.id / Bismo Agung Soekarno
BIODATA Diperbarui: 16 Mei 2017

Wicaksono Abdul Salam

Tempat tanggal lahir :

Salatiga, Jawa Tengah, 1 Maret 1952

Istri :

Farida Sabtijastuti (cerai), Anna Maria (model, sejak 1 April 1985)

Buah hati :

Monique, Aline, Galih, Gading Marten, Merari Sabati, Mahesa Gibran

Filmografi :

  • 1974 Bobby.
  • 1975 Rahasia Gadis.
  • 1976 Cintaku di Kampus Biru, Kenangan Desember, Sesuatu Yang Indah.
  • 1977 Tinggal Bersama ,Badai Pasti Berlalu,Kembang-Kembang Plastik ,Aula Cinta ,Akibat Pergaulan Bebas ,Pengalaman Pertama ,Secerah Senyum,Kekasihku ,Christina ,Kugapai Cintamu ,Guna-Guna Istri Muda, Jangan Menangis Mama.
  • 1978 Roda-Roda Gila, Rahasia Perkawinan, Si Genit Poppy ,Laki-Laki Binal ,Akibat Godaan, Nafas Perempuan ,Pembalasan Guna-Guna Istri Muda, Musim Bercinta, Dewi Malam, Ombaknya Laut Mabuknya Cinta.
  • 1979 Antara Dia dan Aku, Kabut Sutra Ungu, Romantika Remaja, Kecupan Pertama, Remaja Idaman, Wanita Segala Zaman, Ali Topan Turun ke Jalan, Bayang-Bayang Kelabu.
  • 1980 Bukan Sandiwara, Permainan Bulan Desember, Beningnya Hati Seorang Gadis, Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Tiga Dara Mencari Cinta.
  • 1981 Lembah Duka, Fajar Yang Kelabu, Bila Hati Wanita Menjerit, Gadis Marathon.
  • 1982 Bawalah Aku Pergi, Pasukan Berani Mati, Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi.
  • 1983 Musang Berjanggut, Rahasia Buronan, Budak Nafsu, Walter Monginsidi.
  • 1984 Kontraktor, Kerikil-Kerikil Tajam.
  • 1985 Hatiku Bukan Pualam, Hell Raiders, Madu dan Racun.
  • 1986 Boleh Rujuk Asal, Tinggal Sesaat Lagi, Takdir Marina.
  • 1987 Gema Hati Bernyanyi, Langit Takkan Runtuh.
  • 1988 American Hunter, Pemburu Berdarah Dingin, Biarkan Aku Cemburu, Suami
  • 1989 Nyoman Cinta Merah Putih, Jeram Cinta
  • 1990 Pertempuran Segi Tiga
  • 1991 Tripple Cross
  • 1993 Angel of Fury
  • 2007 Mengejar Mas-Mas
  • 2010 Selimut Berdarah

Sinetron :

  • Bella vista 1,2 dan 3
  • Senja Makin Merah
  • Kupu-Kupu Kertas
  • Hanya Kamu
  • Kasih Dipersimpangan
  • Dewi Fortuna

Aktor dan produser :

  • Roda-Roda Gila
  • Wolter Monginsidi

Nominasi Pemeran Pria Terbaik Festival Film Indonesia :

  • Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1983)
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.