Komika Sakdiyah Ma'ruf berpose untuk Beritagar.id di Hotel Cordela Senen, Jalan Kramat Raya Nomor 102, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/12/2018).
Komika Sakdiyah Ma'ruf berpose untuk Beritagar.id di Hotel Cordela Senen, Jalan Kramat Raya Nomor 102, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/12/2018). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Sakdiyah Ma'ruf, bukan sekadar humor

Ia mengaku sebagai pengecut yang pemberani. Komika ini mengambil materi yang tak mengikuti arus, yaitu isu perempuan, meskipun kerap disalahartikan.

Sudah dua malam ia tiba di Jakarta. Sudah dua hotel pula yang ia huni bersama suami dan anaknya.

Jadwal manggung Sakdiyah Ma'ruf padat. Hari pertama ia menjadi pembicara di kantor Komnas HAM. Hari berikutnya ia tampil di acara Perempuan Bintang Awards 2018 Tabloid Bintang.

"Last night was great. Everyone was happy. Client was happy. But I was not happy," katanya pada Rabu (19/12/2018) di Hotel Cordela Senen, Kwitang, Jakarta Pusat.

Perempuan yang akrab disapa Diyah itu merasa tidak memberikan kemampuannya 100 persen. Biasanya, ketika naik ke atas panggung, adrenalinnya akan naik. Tapi malam itu tidak.

Satu jam sebelum tampil, ia tak sempat berlatih dengan materi komedinya. Ia malah menyusui dan mengganti popok anak semata wayangnya, Fatimah.

"Adrenalin saya sudah keluar di air susu sepertinya," kata Diyah sambil tertawa.

Sudah tujuh bulan Diyah tak bisa lepas dari urusan anak. Ia tak memakai jasa pengasuh. Bersama suami, yang bergelar teknik sipil dan memiliki bisnis sendiri, keduanya berkomitmen mengurus Fatimah bersama-sama.

Diyah masih beradaptasi menjalani perannya sebagai ibu sambil tetap berprofesi sebagai pelawak tunggal atau komika. Ia mengaku tak mudah. Jadwal tidurnya berkurang. Tapi ia tak mengeluh. "Saya malah merasa jadi semakin powerful," ujarnya.

Sambil mengurus anaknya malam itu, Diyah masih sempat melakukan editing di pikirannya.

"Ada nervous juga dengan beberapa materi yang saya bawakan," kata Diyah. Ia melihat penontonnya ibu-ibu dari komunitas rok mini hingga jilbab selutut. Ada anak-anak pula yang hadir.

Untunglah semua berjalan lancar. Tawa penonton ia terima. Diyah bisa kembali ke hotel dengan perasaan lega.

Esok paginya ia pindah hotel dari kawasan Kuningan ke Senen. Tujuannya semata memudahkan perjalanan sambil membawa bayi. "Biar dekat stasiun (kereta api). Esok subuh kami sudah kembali ke Pekalongan," katanya.

Kami berbincang dengan Diyah ditemani Fatimah. Bayi tujuh bulan itu tak rewel dalam gendongan ibunya. Bahkan ia terlihat tertarik mendengarkan pembicaraan kami selama satu jam itu.

Diyah berbicara banyak hal, terutama tentang materi lawakan tunggalnya. Pembahasan ini sebenarnya rumit. Tapi ia membicarakannya dengan santai, tentu saja ditambah humor. Persis seperti ketika ia berada di atas panggung.

Komika Sakdiyah Ma'ruf berpose untuk Beritagar.id di Hotel Cordela Senen, Jalan Kramat Raya Nomor 102, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/12/2018).
Komika Sakdiyah Ma'ruf berpose untuk Beritagar.id di Hotel Cordela Senen, Jalan Kramat Raya Nomor 102, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/12/2018). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Guyonan Karl Marx

Pekalongan, Jawa Tengah, adalah tempat lahirnya 36 tahun lalu. Diyah dan keluarga memilih tinggal di sana untuk menemani ibunya yang hidup sendiri. Rumahnya di Bekasi, Jawa Barat, ia biarkan menganggur.

Selama hidupnya, Diyah terbiasa tinggal di komunitas Arab yang konservatif. "My parents were very strict. Tapi mereka mewariskan banyak hal ke saya," kata perempuan kelahiran 11 Februari 1982 itu.

Ibunya menikah dengan sepupu jauh. Tapi ia satu-satunya dari sedikit perempuan di komunitas Arab di sana yang bergelar sarjana pada zamannya.

Ayahnya seorang pelaut. "His world is about traveling," kata Diyah. Mereka membesarkan kedua anaknya untuk selalu berwawasan luas.

Kehidupannya dalam komunitas Arab kerap menjadi materi lawakan tunggal Diyah. Penonton pasti tertawa mendengar kisahnya ketika dilarang pulang larut malam oleh ayahnya. Atau soal aturan tidak boleh berpacaran karena haram.

Tapi sebenarnya hidup Diyah tak selamanya terkungkung. Ibunya mendorong Diyah untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Dari sejak sekolah menengah hingga meraih gelar master, ia selalu di sekolah dan universitas negeri.

Di universitas, ia mengambil jurusan sastra Inggris. Bahasa ini menjadi renjananya sejak kecil.

Bahkan saat berada di atas panggung pun sejujurnya Diyah mengaku lebih nyaman memakai bahasa tersebut. "Rasanya ada beberapa kata yang lebih pas memakai bahasa Inggris," ujarnya.

Ia aktif dalam kegiatan mahasiswa di kampus. Tapi hidup dalam lingkungan konservatif tak membuat pergaulannya di kampus mudah.

Satu kejadian tak terlupakan ketika ia menghadiri pertemuan antar mahasiswa di kampusnya, Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah. Kejadiannya pada 1999, ketika negara ini baru berubah rezim, dari Orde Baru ke Reformasi.

Konservatisme agama mulai masuk ke lingkungan kampus. Diyah pun tak luput dari pengaruh itu. Ia bingung pada pertemuan tersebut ada gorden yang memisahkan laki-laki dan perempuan.

Ia tak tahu apa fungsinya dan membuka gorden untuk melihat siapa yang berbicara. Otomatis, seluruh peserta pertemuan menjerit dan mengatakan jangan dibuka.

"Kalau di komunitas Arab, tidak seperti itu. Perempuan tidak keluar rumah, jadi nggak perlu pake gorden," katanya. "Ya masih mendinglah daripada kampus." Kami pun tertawa mendengar ucapannya itu.

Lawakan tunggal pertamanya terjadi saat ia menempuh studi master pengkajian Amerika di Universitas Gadjah Mada. Ketika itu ia baru saja menonton aksi mendiang Robin Williams dalam acara Live on Broadway melalui DVD bajakan.

Diyah langsung terinspirasi. Humor ternyata bisa menjadi media untuk bersuara.

Ia terpanggil mengisi sebuah acara di kampus. Di depan profesornya, ia membicarakan soal operasi plastik, seks hingga Karl Marx.

Soal yang terakhir itu begini kira-kira guyonannya. "Sebagai orang Islam, kita meyakini bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain," katanya.

Lalu, menurut dia, orang yang paling bermanfaat bagi manusia di dunia ini adalah -- berhenti tiga detik -- Karl Marx.

"Karena dia membangun basis banyak sekali teori dan pemikiran. Sampai kita sekarang berpikir soal hak asasi manusia, keadlian, dan kesetaraan gender," ujar Diyah.

Tapi, Karl Marx tidak percaya adanya Tuhan. Jadi, dia tidak masuk surga.

Pada akhirnya Tuhan punya cara. "Gini deh. Kamu kan Yahudi, ya udah masuk saja (ke surga)," ujar Diyah. Kami tertawa karena paham dengan konteksnya. Yahudi sering menyebut dirinya bangsa yang terpilih.

Sakdyah Ma'ruf saat berpose untuk EPA pada 24 November 2018.
Sakdyah Ma'ruf saat berpose untuk EPA pada 24 November 2018. | Bagus Indahono / EPA-EFE

Isu perempuan, bukan agama

Kemunculan Diyah di Stand Up Comedy Indonesia pada musim pertama di 2011, membuka mata banyak pihak. Ia seperti anomali. Perempuan, keturunan Arab, berjilbab pula. Tak pernah ada penampilan komika seperti dirinya sebelumnya.

Yang membuatnya lebih "ajaib" lagi adalah materi guyonnya. Nyerempet soal agama, tapi juga mengkritik cara berpikir kebanyakan orang, terutama laki-laki konservatif.

Ia banyak mematahkan sterotipe. Komika tak melulu berputar dengan isu tak punya jodoh dan uang. Ia bisa berguyon masalah serius bahkan tabu.

Diyah dengan terang-terangan mengatakan lebih baik teroris memakai bambu runcing supaya ramah lingkungan dan tidak kebarat-baratan.

Ia juga paham bagaimana dunia barat memandang perempuan muslim yang mengikuti gaya hidup di gurun pasir alias berjilbab.

Tak ragu juga ia bercerita bagaimana harus kucing-kucingan dengan ayahnya untuk pacaran atau pergi malam saat kuliah.

Pemberani? Ia menjawab tidak. Ia malah mengaku sebagai pengecut yang pemberani.

"Saya meyakini humor adalah metode yang sangat-sangat efektif, kalau tidak bisa dibilang paling efektif, untuk bersuara."

Sakdiyah Ma'ruf

Tapi dunia berkata sebaliknya. Penghargaan internasional Vaclav Hazel for Creative Dissent pada Oslo Freedom Forum 2015 ia menangkan.

Lalu, BBC memasukkan namanya dalam daftar 100 perempuan inspiratif dan berpengaruh pada 2018. "Saya itu cita-citanya masuk 30 orang terkaya versi Forbes," kata Diyah tertawa.

Ia dianggap sebagai perempuan muslim yang berani melawan ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan.

"Mengatakan perempuan muslim pemberani itu sebenarnya sangat dismissive (meremehkan)," ujarnya.

Hal itu seolah-olah meneguhkan perempuan muslim hidupnya pasti tertindas dan Islam mengajarkannya demikian. Padahal, menurut dia, di Amerika Serikat banyak yang berani ngomong tapi tidak mendapat penghargaan.

Ketika berbicara soal kekerasan dalam keluarga, harapannya adalah membuka pikiran banyak orang tentang isu perempuan, tanpa memandang agama.

"Inspirasi saya adalah perlawanan terhadap batasan yang mengungkung perempuan untuk mengaktualisasikan diri," ujarnya.

Gara-gara framing media tersebut, ia kerap menerima tuduhan dari netizen dan keluarga dekat. Ia dianggap menjual identitas muslim supaya mendapat perhatian internasional.

"Kalau netizen, saya bisa bilang apa. Kalau keluarga, saya bilang, I know what I'm doing," kata Diyah.

Impiannya suatu hari nanti bisa menjadi pelawak tunggal selevel Jerry Seinfeld. "Ia bisa bicara hal-hal sehari-hari, seperti detergen dan helm," katanya. "Tapi kalau didengar lebih dalam, ia bicara soal kemanusiaan, diskriminasi, dan kebodohan manusia."

Baginya, komedi tak sekadar untuk mendapat tepuk tangan tapi masuk ke alam bawah sadar masyarakat. "Saya meyakini humor adalah metode yang sangat-sangat efektif, kalau tidak bisa dibilang paling efektif, untuk bersuara," ujarnya.

Sakdiyah Ma'ruf berpose di Hotel Cordela Senen,  Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/12/2018).
Sakdiyah Ma'ruf berpose di Hotel Cordela Senen, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu (19/12/2018). Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 21 Desember 2018

Sakdiyah Ma'ruf

Tempat, tanggal lahir:
Pekalongan, 11 Februari 1982

Pendidikan:

  • Master of Art in American Studies, Universitas Gadjah Mada

Profesi:

  • Pelawak tunggal dan penerjemah

Penghargaan:

  • Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent 2015
  • Nominasi Index of Censorship Awards kategori seni
  • Perempuan Supreme Indonesia dari Head and Shoulders dan Majalah Femina
  • BBC 100 Women pada 2018
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR