Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad, berpose untuk Beritagar.id di  Pendopo Niramaya, Bumi Herbal Dago di Jalan Pakar Utara Kampung Negla, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018).
Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad, berpose untuk Beritagar.id di Pendopo Niramaya, Bumi Herbal Dago di Jalan Pakar Utara Kampung Negla, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018). Beritagar.id / Aditya Herlambang
FIGUR

Santhi Serad dan lidahnya

Baginya, makanan tak sekadar membuat kenyang. Kisah di dalamnya jauh lebih menarik dan menggugah hatinya.

Sedikit nasi, lotek, sepotong ayam goreng, dan kerupuk kaleng menjadi pilihan menu makan siang Santhi Hendarwati Serad.

Lotek, semacam salad rebus khas Sunda yang diguyur bumbu kacang seperti gado-gado Betawi atau pecel Jawa itu terasa berbeda. "Ini pakai daun pegagan, beluntas, dan sambung nyawa," katanya. Nama daun yang terakhir disebut terdengar seperti membawa harapan bagi orang untuk berumur panjang.

Santhi menawarkan sajian spesial itu ke para tamunya di Pendopo Niramaya, Bumi Herbal Dago di Jalan Pakar Utara Kampung Negla, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018).

Ia datang ke sana bersama dua rekannya dari kelompok Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI). Saat itu berbarengan juga waktunya dengan sekelompok anak muda dan keluarganya yang menghelat acara memasak dari bahan jagung.

Semilir angin di tengah langit yang kadang mendung serta teh rosela dingin melengkapi sesi kuliner segar akhir pekan itu.

Makanan, teh, dan herbal, melekat dalam hidup Santhi. Sisi lainnya, perempuan kelahiran Bandung, 14 September 1972 itu gemar memotret dan menulis juga. Sebuah buku karyanya berjudul Leaf It to Tea (2016) misalnya, mengajak pembacanya untuk mengenal budaya teh dan herbal di berbagai daerah di Indonesia.

Kitab lain tulisannya berjudul Teh dan Teh Herbal : Sebuah Warisan Budaya. "Kuliner dan herbal di negeri ini sangat kaya," ujar Sarjana Peternakan Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Diponegoro Semarang 1995 itu.

Ucapannya tak sekedar basa-basi atau klise. Sebagai bentuk puji syukur kepada Tuhan dan rasa terima kasihnya atas kemakmuran bumi Indonesia, Santhi ikut merawatnya. Setelah melirik sebidang aset menganggur milik kawannya, Ilham Habibie, ia menjadikan lahan di lereng lembah sebagai kebun tanaman obat.

"Dulu kenal dengan Ilham sebagai kawan kerja," katanya. Ilham adalah putra sulung Presiden RI yang ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie.

Dari total lahan tujuh hektare, separuh lahannya telah ditanami aneka tumbuhan herbal. Santhi bersama petani warga lokal merintisnya pada 2005. Santhi dan Ilham yang bermitra kemudian menamakan kebun itu Bumi Herbal Dago.

"Mulai dibuka untuk umum sekitar sepuluh tahun lalu," kata istri Wisnu Kusuma Wardhana itu.

Kebun ini menjadi lokasi tujuan wisata minat khusus dan edukasi. Tempatnya enak dan nyaman disinggahi. Coba saja duduk-duduk di Pendopo Niramaya. Semilir angin mengelus-elus sambil dimanjakan panorama perbukitan.

Beberapa petani terlihat sedang menyiapkan lahan untuk ditanami sayuran. Biasanya antara lain berupa kol, sawi, dan kentang. "Kalau sebelum panen, terlihat hijau semua," kata Santhi.

Nun jauh di seberang, sepotong wajah kota Bandung selatan mengintip di tengah perbukitan. Beranjak ke kebun herbal, Santhi dan pekerjanya menanam 500 koleksi tumbuhan herbal. Bunga-bunga yang muncul tampil cantik dengan beragam warna dan bentuk.

Tiap tanamannya diberi papan nama kecil berwarna putih, lengkap dengan nama ilmiah, khasiat, dan bagian tanaman yang dipakai. Jenisnya seperti Yokon, Mondokaki, Jawer Kotok, Tapak Dara, Gandarusa, juga Kaca Piring. Semua tanaman herbal di sana hasil kumpulan dari berbagai tempat di Indonesia.

Selain di kebun terbuka, sebagian tanaman harus tinggal di dalam ruangan tertutup atau green house. Di sela kebun ada pula bangunan untuk gudang dan tempat pengeringan tanaman. Bangunan lain berupa toilet dan musala kecil.

Kebun ini juga menjadi tempat penelitian dan pengembangan tanaman obat Indonesia. Santhi membentu perusahaan PT Ilthabi Sentra Herbal, di bawah naungan PT Ilthabi Rekatama. Ia berangan-angan, produk herbal bisa menjadi obat, pangan, dan produk turunan lainnya.

Ia sempat melakukan itu, namun terhenti. "Dulu saya sempat bikin obat herbal formula empat jenis dan dapat izin BPOM, lalu diputuskan berhenti," kata penyandang gelar Master of Science in Food Science and Technology dari Curtin University of Technology Perth Australia 1999 itu.

Izin yang dipegangnya kini telah mati. Alasan penghentian produksinya itu karena pemasaran obat herbal memerlukan banyak biaya.

Dulu peraturannya produk herbal harus beriklan di media massa. Lalu, perlu dana miliaran rupiah supaya produk itu bisa sampai menjadi obat yang boleh diresepkan oleh dokter. "Posisi obat herbal kalah saingan dengan obat kimia," katanya.

Kondisi tersebut sangat disayangkan karena khasiat herbal tak kalah dengan obat kimia. Menurut Santhi, obat herbal cocok untuk penyakit degeneratif zaman sekarang seperti kolesterol dan diabetes. "Sifat obatnya untuk perawatan, butuh proses untuk rutin," katanya.

Belakangan, ia terus mengupayakan agar tanaman herbal tetap bisa dikonsumsi orang. Akses barunya, yaitu melalui kuliner.

Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad, berpose untuk Beritagar.id di  Pendopo Niramaya, Bumi Herbal Dago di Jalan Pakar Utara Kampung Negla, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018).
Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad, berpose untuk Beritagar.id di Pendopo Niramaya, Bumi Herbal Dago di Jalan Pakar Utara Kampung Negla, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018). | Aditya Herlambang /Beritagar.id

Hobi ke pasar

Kami berjumpa kembali dengan Santhi dua hari lalu. Kali ini tempatnya di Restoran Plataran, Menteng, Jakarta Pusat.

Siang itu Santhi baru saja rapat di Goethe-Institut. Ia akan lanjut lagi menghadiri pertemuan di selatan Jakarta.

Makan siangnya tahu telur asin, ayam goreng dengan irisan mangga, lalu ada juga salad jambu dan jeruk bali. Ia tak makan banyak nasi putih.

Pembicaraan kami selama satu jam tak lepas dari soal makanan. Topik yang memang lekat dengan Santhi selama lebih dua dekade.

Ia memilih kuliah di peternakan pun tak lepas dari soal makan. "Tapi saya belajar makanan hewan dulu, baru manusia," ujar Santhi sambil tertawa.

Kecintaan Santhi pada makanan mengingatkan kami pada tokoh Aruna dalam film Aruna dan Lidahnya. Saat makan dan berbicara soal topik satu ini, matanya berbinar-binar. Cerita satu bumbu bisa lanjut ke soal kota dan sejarahnya. "Begitulah menariknya makanan," katanya.

Saat kecil ia sudah terekspos dengan berbagai macam rasa. Ia memiliki darah Banyuwangi, Jawa Timur. Tapi lahir dan sempat tinggal di Bandung, Jawa Barat. Saat remaja, ia pindah mengikuti pekerjaan ayahnya ke Semarang, Jawa Tengah.

Ayahnya, Suwarno M Serad, insinyur teknik kimia yang sempat menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung sebelum akhirnya bekerja untuk bagian riset dan pengembangan PT Djarum. "Ayah baru pensiun dua-tiga tahun lalu. Padahal usianya sudah 70 tahun lebih," katanya.

Dari Suwarno mengalir darah Arab. Lalu, ibunya, Hertuti, keturunan Belanda. Tak heran wajah Santhi terlihat indo.

Kehidupannya yang kerap berpindah, plus berasal dari keturunan lintas bangsa membuat lidah Santhi terbuka dengan berbagai rasa. Tak ada makanan Indonesia yang tak enak. Semua, menurut dia, sangat menarik dan punya cerita masing-masing.

Ia masih ingat ketika kecil sering diajak ibunya belanja ke pasar. "Semakin becek dan bau, saya semakin suka. Ha-ha-ha...," ujar bungsu dari tiga bersaudara itu.

Santhi Serad, tentang makanan, pasar, dan tanaman herbal /Beritagar ID

Kebiasaan ini masih ia jalani hingga sekarang. Sebagai ketua dan salah satu pendiri organisasi Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI), Santhi kerap bepergian ke banyak tempat di tanah air.

Nomor satu yang ia cari kala berkunjung ke sebuah kota adalah pasar. "Saya suka ke tempat ikan," katanya. Semakin ke sebelah timur Indonesia, menurut dia, ikannya lebih segar. Tidak dibekukan, langsung dipasarkan ketika baru ditangkap.

Lalu, dari bagian ikan, ia bergeser ke area penjualan bumbu. Ini juga yang selalu membuatnya takjub. Terlalu banyak ragam rempah-rempah di Indonesia. Warna-warni dan beraneka aroma.

Semua hal menarik dan unik yang ia temukan akan difoto dan dicatat. Ia tak ingin informasi penting ini terbuang sia-sia. Wawancara dengan para penjual bisa ia lakukan berjam-jam.

Jangan tanya berapa lama ia bisa di pasar tradisional. "Bisa seharian, bahkan berhari-hari," ujar perempuan berusia 46 tahun itu. "Pokoknya kalau belum semua saya lihat, saya pasti akan balik lagi ke sana."

Bersama ACMI, organisasi yang ia dirikan bersama pakar kuliner William Wongso dan Bondan Winarno, Santhi ingin menjaga warisan makanan Nusantara. Ia juga mengajak para anggota ACMI untuk mencatat resep makanan keluarga yang disantap turun-temurun.

Menurut dia, kebiasaan mencatat resep tak ada di budaya Indonesia. Semua makanan dibuat dengan cara mengira-ngira. Padahal cara pembuatannya yang rumit dengan bumbu berlimpah merupakan warisan budaya tak terkira nilainya.

Pekerjaan ACMI, ia akui, masih banyak. Selain mendokumentasikan, organisasi itu juga harus bisa mempromosikan dan melestarikan makanan Indonesia.

Kembali ke soal makanan, Santhi lebih suka rasa yang gurih ketimbang manis. Ia punya memori khusus yang selalu melekat dalam ingatannya, yaitu makanan khas Jawa Timur. Makanan berpetis kerap hadir dalam setiap acara keluarga besarnya.

Kenangannya di Bandung pun tak jauh dari makanan. "Mie kocoknya selalu bikin saya kangen," katanya.

Sekarang Santhi menetap di Jakarta. Ia tak lupa petuah ayahnya. Perempuan boleh saja punya ilmu tinggi, tapi jangan lupakan urusan dapur. Karena itu, ia kerap menyempatkan diri memasak untuk keluarganya.

Lagi-lagi, pasar menjadi tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Biasanya ia rutin ke Pasar Mayestik. Kalau perlu bumbu yang khusus, ia pergi ke Pasar Senen.

Ia punya empat makanan yang wajib tersedia di rumahnya, yaitu tempe, tahu, kerupuk, dan sambal. Makan itu saja dengan nasi terasa nikmat baginya.

Soal makanan asli ibu kota, ia punya yang paling favorit. Gado-gado bisa ia makan di restoran mewah. Tapi khusus untuk yang satu ini, ia tetap setia dengan pedagang kaki lima. "Ketoprak dekat rumah saya," katanya sambil tersenyum.

Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad, berpose di Bumi Herbal Dago, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018).
Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad, berpose di Bumi Herbal Dago, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (22/09/2018). Aditya Herlambang /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 16 Oktober 2018

Santhi Serad

Nama lengkap:
Santhi Hendarwati Serad

Tempat tanggal lahir:
Bandung, 14 September 1972

Pendidikan:

  • Master of Science in Food Science and Technology, Curtin University of Technology, Perth, Australia (1999)
  • Graduate Diploma in Food Science and Technology, Curtin University of Technology, Perth, Australia (1998)
  • Sarjana Peternakan, Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Universitas Diponegoro, Semarang (1995)

Karier:

  • Project Director, Indonesia Group Against Digital Divide (IGADD) (2007-sekarang)
  • Wakil Ketua, Institu for Science through Science and Technology (IDST), The Habibie Center (2006-sekarang)
  • Presiden Direktur PT Ilthabi Sentra Herbal (2005-sekarang)
  • Komisaris PT Ilthabi Digital Edukasi (2011-sekarang)
  • Komisaris PT Hastabrata Nawala Kencana (2011-sekarang)
  • Senior VP Human Resources PT Ilthabi Rekatama (2007-2015)
  • Asisten Komisaris BUMD PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (2006-2010)
  • Wakil Presiden Quality Control PT Tujuh Empat Merdeka (2005-2006)
  • Presiden Direktur PT Abdi Bangsa Merdeka (2005-2006)
  • QA Manager PT Yupi Indo Jelly Gum, Gunung Putri, Bogor (2005-2006)
  • R&D Assistant Manager PT Yupi Indo Jelly Gum, Bogor (1999-2005)

Organisasi:

  • Ketua Komite Riset dan Teknologi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) (2016-sekarang)
  • Anggota bidang SDM, kelembagaan, komunikasi, dan informasi Dewan Rempah Indonesia (2016-sekarang)
  • Wakil Ketua bidang penelitian dan pengembangan PP Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (2014-sekarang)
  • Bendahara Yayasan Habibie dan Ainun (2013-sekarang)
  • Pendiri dan Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia (2012-sekarang)
  • Anggota divisi dan promosi informasi Dewan Rempah Indonesia (2012-2015)
  • Sekretaris Jenderal Pendidikan Islam Internasional Indonesia Pusat (YPIII - Yayasan Pendidikan Islam Internasional Indonesia) (2012-2016)
  • Ketua Komite Hubungan Kerjasama antar Lembaga, Riset, dan Teknologi KADIN (2013-2016)
  • Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (2012-2015)
  • Wakil Ketua Yayasan Institut Teknologi Indonesia (2011-2015)
  • Wakil Ketua bidang hubungan internasional PP Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (2010-2014)
  • Sekretaris Dewan Direksi Yayasan Institut Teknologi Indonesia (2006-2011)
  • Sekretaris Pusat Studi Kebijakan Rekayasa dan Industri (CEIPS), Persatuan Insinyur Indonesia (2009-2012)
  • Wakil Ketua Pusat Studi Kebijakan Rekayasan dan Industri (CEIPS), Persatuan Insinyur Indonesia (2006-2009)

Penghargaan:

  • Woman of The Year 2016 oleh majalah Her World Indonesia
  • Beasiswa Curtin International untuk guru sains dari Curtin University of Technology (1998)
  • Juara 1 Lomba Penelitian Ilmiah, Semarang, Indonesia (1994)
  • Mengambil bagian dalam penelitian kompetisi kelembagaan, Semarang, Indonesia (1994)

Publikasi:

  • Diplomasi Kuliner Nusantara; Harian Kompas
  • Leaf if to Tea, Exploring the Fascinating Culture of Teas and Herbal Infusions in Indonesia; Afterhours Books; September 2015
  • Teh dan Teh Herbal, Sebuah Warisa Budaya; Hastabrata Publishingl April 2011
  • Tenaga ahli untuk buku Keanekaragaman Hayati Pertanian Menjamin Kedaulatan Pangan; LIPI, Naturindo, Prosea, Kehati; Oktober 2010

Aktivitas lainnya:

  • Juri ahli untuk Inovasi Indonesia, Pusat Inovasi Bisnis (BIC) dan Ristek (2009-sekarang)

Hobi:

  • fotografi, memasak, dan membuat kerajinan tangan

Situs pribadi:

  • www.santhiserad.com
BACA JUGA