Juru pantomim, Septian Dwi Cahyo, 51, ketika berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Depok, Senin (25/3/2019)
Juru pantomim, Septian Dwi Cahyo, 51, ketika berpose untuk Beritagar.id di kediamannya di Depok, Senin (25/3/2019) Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Septian Dwi Cahyo: pantomim bukan badut

Septian Dwi Cahyo menggeluti pantomim sejak belia. Belajar dari seniman-seniman pantomim besar.

Dekade 1980-an tak cuma menciptakan MTV, tapi juga bikin populer Septian Dwi Cahyo.

Siapa pun yang pernah melewati masa itu--dan menonton bioskop atau televisi--mungkin pernah menonton akting Septian.

Filmnya tak banyak. Namun, beberapa di antaranya mungkin masih terekam dalam ingatan kolektif. Di antaranya Gejolak Kawula Muda (1985) serta Lupus I&II (1987).

Satu pula monumental, Rumah Masa Depan, sinetron legendaris arahan Ali Shahab yang ditayangkan TVRI saban Minggu. Bercerita tentang gambaran keluarga ideal tiga generasi yang tinggal serumah di Desa Cibeureum nan pastoral.

Di sana Septian memerankan karakter Bayu, seorang pemuda cungkring bergaya rambut nyaris ala John Taylor, pemain bas band New Age Inggris, Duran Duran. Gaya rambut sama juga muncul ketika dia bermain di Gejolak Kawula Muda.

Saat Beritagar.id menemui Septian di rumahnya di kawasan Limo, Depok, Senin (25/3/2019) sore, potongan rambutnya sudah lain. Kali ini dibentuk ekor kuda. Mirip formasi rambut pilihan aktor laga Steven Seagal. Tak ada lagi jambul dan helai-helai ikal memberontak.

"Saya lebih dulu mengenal Anda sebagai aktor," kata saya. "Oh, ya?" balasnya. "Sebagai Bayu," kata saya. "Bukan pantomim? Anda kelahiran tahun berapa?" ujarnya.

Pria berusia 51 itu memang kesohor sebagai juru pantomim, pada mulanya. Dunia yang dia pijak setelah bersinggungan dengan tari serta teater. Para pelopor pantomim Indonesia seperti Sena A. Utoyo dan Didi Petet pernah menjadi gurunya.

Septian juga pernah langsung berinteraksi dan tampil di muka dua seniman pantomim, André Pradel serta Marcel Marceau. Dua-duanya asal Prancis. Tetapi, nama terakhir disebut dianggap lebih wangi sebagai biang pantomim dunia.

Karena pantomim pula Septian kesambet setan breakdance. Pada pertengahan 1980-an, breakdancing--sejenis tarian jalanan menjalar ke pelbagai benua berkat kanal Music Television (MTV)--merebak di kota-kota besar di Jawa.

Beriring keriaan itu, banyak kontes breakdancing digelar. Dia sering ikut. Juga sering menang. Masalahnya, karena itu pula, banyak calon peserta enggan ikut kompetisi kalau dia mendaftar. Karena itu Septian bikin moniker "Albert".

Dengan alias itu, dia bisa nyantai ikut lomba tari kejang dan batal bikin keki panitia. Walau ujungnya, peserta lain kena kibul.

"Soalnya kalau lihat nama Septian, banyak calon peserta jadi enggak mau ikutan," katanya di lantai atas kediamannya yang berfungsi sebagai sanggar berlabel Septian Dwi Cahyo Studio (SDCS).

Gaya si juru pantomim, Septian Dwi Cahyo, saat beraksi di studionya di Depok, Senin (25/3/2019)
Gaya si juru pantomim, Septian Dwi Cahyo, saat beraksi di studionya di Depok, Senin (25/3/2019) | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Mula-mula

F. Alberty bukan penari profesional. Namun, dia yakin betul kesenian penting bagi anak-anaknya.

Dari tiga, seorang menyanyi dan satu pilih menekuni piano. Septian tak mengikuti jejak kedua saudaranya. Dia meniru ibunya: menjadi penari.

"Saya dari Surabaya," kata Septian meminjam daerah asal ibunya, "meski lahir di Jakarta. Di SD sudah belajar Tari Gatotkaca, Bambang Cakil, Pendet, Panji Semirang, Serampang 12. Paling tidak saya juga harus bisa Tari Remo."

Pada zaman itu, membiarkan anak melenggang ke ranah kesenian bukan hal lazim, kata Septian. Sebab, patok lumrah kesuksesan banyak orang tua dipancang pada diri pengusaha atau pejabat.

"Padahal dengan seni kita lebih punya kreativitas yang tinggi. Karakter akan terbentuk dengan baik," katanya sembari bilang bahwa ayahnya, W. Sudirman, seorang pengusaha, tetap memberi dukungan.

Selain menari, Septian bergabung dengan Teater Adinda, yang bermarkas di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Kelompok bentukan Jose Rizal Manua dan Yos Marutha Effendi itu tak main-main. Beberapa kali juara lomba teater anak. Di situ Septian bergiat selama enam tahun.

Dalam kumpulan tersebut, dia belajar untuk lebih mengenali tubuh dan menggarap ekspresi. Alhasil, daya olah tubuhnya pun terdongkrak.

Agaknya wajar. Tubuh, bagi aktor teater, teramat berharga. Jika asing terhadapnya, maka seorang aktor takkan beroleh alas cadas bagi imajinasi dan karakterisasi.

Pada satu kesempatan, dia dan beberapa kawan teaternya membaca selembar brosur. Isinya informasi mengenai pertunjukan pantomim. Penampilnya André Pradel, orang Prancis kelahiran 1929 yang belajar pantomim secara otodidak.

Pertunjukan berlangsung di Teater Tertutup TIM, gedung yang sekarang sudah tak lagi ada. Kalau melihat arsip foto Tempo, pementasan terjadi pada 1980.

Septian duduk di deret terdepan. Dekat bibir panggung. Karenanya, detail gerak dan ekspresi Pradel tak mampu lolos dari pengamatannya.

Imajinasi Septian pun terpantik. Pijar-pijar kecil memenuhi pikirannya. Dia membatin, bagaimana bisa tubuh dan ekspresi belaka bisa menghadirkan benda-benda dan suasana?

Pradel memainkan sejumlah repertoar. Beberapa di antaranya, "Koboi", "Pintu-Pintu", dan "Angkat Besi". Septian paling mengingat "Koboi".

"Dia naik kuda. Dia berburu. Dia lempar laso. Dia tarik kencang. Tarik, susah. Sudah dekat, sampai bawah, enggak tahunya yang ditangkap kecoa. Terus dia tembak (serangga itu). (Pertunjukan itu) tanpa properti. Hanya tubuh dan ekspresi. Saya senang. Saya ketawa," ujarnya.

Mungkin itu cinta pada pandangan pertama. Dan dia ingin terus dimabuk rasa itu. Septian kecil gelisah. Dia butuh tutor. Pencarian lantas berujung pertemuan dengan dua mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sena Utoyo dan Didi Petet.

Dua nama disebut terakhir termasuk para pelopor pantomim. Kepada mereka, Septian belajar selama dua tahun. Selalu ambil tempat di ruang Teater Luwes, IKJ. Namun, karena Sena dan Didi--yang di kemudian hari mendirikan Sena Didi Mime--masih ngampus, latihan tak selalu berlangsung tiap hari. Malah, satu bulan bisa saja kosong.

"Pengalaman sama Sena, saya latihan kayak enggak pengin latihan. Saya cuma pengin liat tubuhnya main aja. Karena dahsyat. Dia punya liuk-liuk tubuhnya sudah sangat kuat. Tubuhnya sudah dikenal. Sterek. Bidang. Tapi olah tubuhnya bagus," kata Septian.

Memainkan air muka di depan kamera. Septian Dwi Cahyo di studionya di Depok, Senin (25/3/2019)
Memainkan air muka di depan kamera. Septian Dwi Cahyo di studionya di Depok, Senin (25/3/2019) | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Beasiswa Marcel Marceau

"Setelah Pradel, banyak seniman pantomim lain muncul. Terakhir saya lihat Marcel Marceau. Digembar-gemborin sebagai master of pantomime. Saya nonton dan saya pengin bisa tampil di depan dia. Karena saya tahu dia pemain pantomim dunia. Dia terkenal waktu itu karena makan apel di iklan Polaroid," kata Septian.

Marceau juru pantomim masyhur dari Prancis. Dikenal memiliki gaya deskriptif. Tubuhnya begitu luwes bergerak dalam ruang kosong yang sunyi. Ditambah lagi air muka yang sanggup menebalkan suasana teatris. Simpulan dari penghayatan rasa ruang, rasa bunyi, atau teknik olah tubuh.

Tidak sederhana, sebenarnya.

Maka, ketika Marceau tiba di Jakarta, Septian tak berdaya menahan mau untuk tampil di hadapannya. Dia minta Ria Irawan--aktris yang sempat bermain dengannya di Gejolak Kawula Muda dan Lupus--untuk mempertemukan Septian dengan Marceau.

"Dia bisa bahasa Prancis," ujar Septian tentang perempuan yang dikenalnya lewat breakdancing itu.

Permintaan itu terkabul. Sore sebelum tampil, Marceau mengundang Septian untuk unjuk aksi di depannya. Kalau melongok arsip foto Tempo, tahun Marceau ke Jakarta adalah 1988.

"Dia duduk di bangku penonton. Saya mainkan "Tiga Pahlawan". Ada pahlawan sombong, pahlawan pendiam, dan pahlawan tua. Semua tanpa properti," katanya.

Septian Dwi Cahyo, dari pantomim hingga bikin Spontan /Beritagar ID

Marceau lantas kasih rekomendasi bagi Septian untuk belajar di Prancis. Namun, kendala bahasa meringkus peluangnya untuk nyantri lebih lama. Meski sudah belajar bahasa Prancis selama setahun di Indonesia, dia tak bisa memenuhi tuntutan. Akhirnya, masa belajarnya di negeri itu tak lebih dari sebulan.

"Marcel punya ciri. Saya punya ciri. Pradel punya ciri. Yang penting teknik-tekniknya saya kuasai," ujarnya.

Mengerjakan Spontan

Memasuki 1990-an, Septian merasa tiba pada titik "sudah eksplor semuanya, sudah happy dengan itu, kembali ke kehidupan masing-masing".

Karenanya, dia memutuskan masuk ke dunia periklanan: satu-satunya tempat yang dia pikir bisa bikin kreativitas jadi lebih komersial. Septian menjajal peruntungan di Jasa Cipta & Karya (JC&K).

"Waktu itu lagi booming periklanan. Ada TV swasta. Iklan jadi hidup. Kita sibuk tuh," ujarnya.

Setelah 2,5 tahun di JC&K, dia hengkang. Berupaya bikin proyek kecil. Dengan konsep yang kelak mirip komedi situasi Inggris yang tenar di mana-mana, Mr. Bean.

Minikata.

Proposal produksi ia tawarkan berbarengan dengan kemunculan Mr. Bean. Makanya Septian gampang bicara ke calon produser. "Nah, saya mau bikin yang kayak gitu," katanya. Namun, dia tak ingin menjiplak. Akhirnya, yang dibikin adalah parodi atas Charlie Chaplin.

Untuk itu, dia menciptakan karakter Den Bagus. Terinspirasi dari Den Baguse Ngarso, peran antagonis dalam acara TVRI, Mbangun Deso, yang dimainkan Susilo Nugroho.

"Karena tidak pede, makanya dicampurin sama candid dan segala macem, akhirnya jadi Spontan," katanya. "Saat itu susah sekali buat percaya bakal panjang kalau buat Den Bagus saja. Mr. Bean aja cuma 13 episode, diulang-ulang terus".

Septian mempersiapkan episode pertama itu selama setahun. Ia lalu mencari orang-orang yang tepat untuk mengisi sesi acara di Spontan. Salah satunya Komeng. Sebuah nama yang diusulkan Ria Irawan.

Septian sempat berperan sebagai pembawa acara. Namun, mengikuti waktu, Komeng berdiri di posisi pewara dengan celetukan khasnya: uhuy!

Septian Dwi Cahyo Studio (SDCS)

Setelah Spontan, Septian masih mengisi kegiatan lain di dunia gambar gerak. Dia sempat berkecimpung di wilayah film laga selama kira-kira lima tahun. Tetapi, dunia pantomim, yang telah dia kenal sejak bocah, kembali meminta perhatian. Setelah belasan tahun.

Dia mulai mengupayakan pembentukan komunitas. Memberikan pelatihan kepada mereka agar bisa mengembangkan diri. Keresahannya yang terutama, anak-anak sekolah dasar minim kepekaan dalam kesenian. Terlibat dengan begitu banyak kekerasan.

Lalu Septian Dwi Cahyo Studio (SDCS) jadi. "Saya pengin ada generasi baru," kata Septian mengenai langkah mendirikan sanggar tersebut.

Sayangnya, dia bilang banyak orang yang ingin hasil cepat. Padahal, dia percaya mencetak seniman butuh waktu lama. Banyak fase yang mesti dilalui sebelum menguasai sejumlah hal. Apalagi jika menyangkut talenta.

"Dari ribuan, mungkin terselip tiga atau lima orang (bertalenta). Mau berjuang, punya passion. Itu yang akan menambah potensinya," ujarnya. "Asal enggak patah semangat".

Untuk berpantomim dengan baik, menurutnya, seseorang mesti sangat memahami tubuhnya. Ia mesti sanggup menghidupkan tiap lekuk tubuh, serta anggota-anggota badan.

Sudah begitu, tak semua hal dapat diterjemahkan ke dalam gerak dan ekspresi wajah. Misal, teramat pelik menjelaskan seseorang itu adik ipar istri/suami, atau keponakan dari kakek/nenek.

Selain itu, pantomim masih dianggap sama dengan badut. Padahalnya sebenarnya tidak. Memahami pantomim tidak bisa sambil makan.

"Kita sudah pernah berpantomim, sebenarnya. Kita nggak sadar aja. Dalam kehidupan kita sehari-hari, ada unsur-unsur pantomim yang sebenarnya pernah kita lakukan," kata sosok yang biasa berlatih sambil diiringi lagu "Chicken Dance".

Setelah SDCS mewujud, Septian menggelar pertunjukan bertajuk "funtomime" pada 2012. Penggagasnya tiga pihak: Japan Foundation, Komunitas Indomime, dan SDCS. Pertunjukan memadukan unsur seni pertunjukan lain seperti sulap, musik, multimedia, dan tari.

Itu sesuai dengan keinginannya setelah lama vakum dari pantomim. Praktiknya harus kolaboratif, tak selalu bersandar pada cara pandang lama.

Dia pun bercita-cita SDCS dapat menjadi sekolah tinggi. Sebuah sekolah gerak. Institusi yang Indonesia belum miliki.

"Akan bisa berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di luar negeri seperti di Prancis, Amerika, Jepang, India," ujarnya.

/
BIODATA Diperbarui: 29 Maret 2019

Septian Dwi Cahyo

Lahir:
Jakarta, 4 September 1968

Istri:
Uci Ananda

Pendidikan:
SMA
Kursus Bahasa Prancis

Filmografi :
Disini Cinta Pertama Kali Bersemi (1980),
Juara Cilik (1980),
Lima Sahabat (1981),
Biarkan Kami Bercinta (1984),
Gejolak Kawula Muda (1985),
Kidung Cinta (1985),
Semua Karena Ginah (1985),
Cemburu Nih Yee… (1986),
Lupus I (1987),
Lupus II (1987),
Nenek Lampir (1987),
Lintar, Ketika Musim Duren Tiba (1988),
Pengantin Remaja (1991)

Program TV:
ACI (Aku Cinta Indonesia),
Rumah Masa Depan (1984-1985 & 1990),
Ali Oncom (1994),
Spontan (1996-)

Penghargaan:
Sutradara komedi terfavorit Panasonic Award (1997)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR