Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sukmandaru Prihatmoko, berpose untuk Beritagar.id di kawasan Apartemen Pavilion, Jalan KH Mas Mansyur Kavling 24, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat (05/10/2018).
Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sukmandaru Prihatmoko, berpose untuk Beritagar.id di kawasan Apartemen Pavilion, Jalan KH Mas Mansyur Kavling 24, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat (05/10/2018). Beritagar.id / Bismo Agung
FIGUR

Sukmandaru Prihatmoko, dikejar ular, diguncang gempa

Ia memakai analogi bubur dan kerupuk saat menjelaskan asal-muasal gempa bumi.

Wajah dan namanya akhir-akhir ini kerap muncul di berbagai media. Ia menjadi salah satu narsum wajib ketika bencana gempa bumi melanda tanah air.

Dua kali dalam dua bulan lindu besar melanda tanah air. Pada awal Agustus, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, terguncang. Kekuatannya mencapai 7 skala Richter. Lalu, Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, terkena gempa bermagnitudo 7,4 diikuti dengan tsunami.

Sukmandaru Prihatmoko tak bisa menolak keinginan para pewarta untuk mengetahui asal-muasal gempa-gempa itu. Sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, sudah menjadi tugasnya untuk menjelaskan semua.

"Ini kerja sosial sebenarnya. Tapi beberapa bulan terakhir kerja sosial jadi lebih banyak daripada kerja profesional," katanya sambil tertawa pada Jumat (05/10/2018) di kawasan Apartemen Pavilion, Jalan KH Mas Mansyur Kavling 24, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ia paham bagaimana memberikan penjelasan tanpa bikin kening awak media berkerut. Topik yang rumit, jadi ringan. Seperti ketika kami tanya soal bagaimana terbentuknya gempa. Pria 54 tahun yang kerap dipanggil Ndaru itu mengambil perumpamaan semangkuk bubur.

Bubur dalam mangkuk ibarat lapisan dalam bumi yang berisi magma cair. Di atasnya tertutup oleh kerupuk alias lempeng.

Kerupuk ini bisa bergerak tergantung suhu dan energi di dalamnya. Pergerakannya bisa menyebabkan tabrakan atau saling berjauhan dengan kerupuk lain. Itulah gempa.

Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia. "Kerupuk-kerupuk gede ini mereka saling tabrak, berdesakan. Ada yang pecah. Jadilah mikro lempeng, kecil-kecil, dan remah-remah," ujar Ndaru. Mikro lempeng ini tersebar di seluruh Indonesia. Ada yang aktif dan tidak.

Nah, kerupuk yang saling bertemu tidak semuanya dalam posisi mendatar. Ada yang sebagian masuk ke dalam, tertutup oleh kerupuk lain.

"Yang masuk ke bawah memiliki energi potensial sangat besar. Kalau dia melepaskan energi terciptalah gempa megathrust," kata Ndaru.

Gempa megathrust, menurut Ndaru, berbahaya karena kekuatannya sangat besar. Di Indonesia banyak sekali potensi gempa ini, seperti di sebelah barat Sumatera sampai turun ke Jawa, lalu Laut Banda hingga Halmahera.

Gempa di Aceh pada 2004 salah satu contohnya. Kekuatannya 9,1 sampai 9,3 skala Richter dan menewaskan 200 ribu penduduk. Lempeng Hindia ketika itu terdorong ke bawah oleh Lempeng Burma di Samudra Hindia. Lindu itu membuat bumi bergetar satu sentimeter dan muncul tsunami setinggi 30 meter.

Kemudian, lempeng-lempeng bumi bisa juga menjauh. "Makin jauh, nanti keluar magma. Inilah gunung api," katanya.

Lempeng juga bisa saling bergeser. Ini juga potensinya mematikan. Seperti yang terjadi di Palu dan Donggala akhir September lalu. Ndaru mengatakan, para ahli sudah lama mengetahui pergerakan sesar geser tersebut. Mereka menyebutnya Sesar Palu-Koro.

"Sesar ini membelah Sulawesi. Dari Palu, Teluk Bone, belok ke timur, menuju Danau Matano. Ada yang menyebutnya Sesar Palu-Koro-Matano," katanya.

IAGI bersama lembaga nirlaba lain, yaitu Perkumpulan Skala, Aksi Cepat Tanggap, Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Nasional, dan DisasterChannel.co, pada awal 2016 melakukan dokumentasi terhadap sesar itu.

Mereka melakukan kajian dari aspek sosial, antropologi, biologi, dan geologi. Tujuannya, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat dan pemerintah tentang potensi bahaya dari sesar itu.

Hasil kajian ekspedisi ini memunculkan prediksi bakal terjadi gempa besar di sekitar Palu. Pada Agustus lalu, mereka telah memberikan hasil laporannya ke pemerintah provinsi Sulawesi Tengah.

Yang Ndaru tak duga, sebulan kemudian gempa besar itu benar-benar terjadi. Yang lebih mengagetkan lagi muncul tsunami dan likuifaksi.

"Sesar ini memang aktif sekali. Kami tidak menduga kejadiannya secepat itu," ujarnya.

Kami berbincang dengan Ndaru sekitar satu jam. Ia murah senyum dan tampak tenang menjelaskan setiap masalah kegempaan di Indonesia. Kadang ia berguyon untuk mencairkan suasana.

Ndaru juga bercerita soal perjalanan hidupnya menjadi ahli geologi eksplorasi selama hampir tiga dekade. Berpetualang di hutan menjadi kesehariannya.

Seperti apa kisahnya? Simak dalam tulisan berikut ini.

Jembatan Ponulele yang membentang di atas Teluk Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah turut hancur  karena terjangan tsunami, Sabtu (29/09/2018).
Jembatan Ponulele yang membentang di atas Teluk Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah turut hancur karena terjangan tsunami, Sabtu (29/09/2018). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Sosialisasi dan mitigasi

"Kita tinggal dan tidur di daerah rawan bencana. Sekarang mau gimana. Mau menghindar juga tidak bisa. Jadi harus kita hadapi," kata Ndaru.

Posisi Indonesia memang unik, kalau tidak bisa dibilang sebuah berkah. Banyak gunung api yang aktif. Disatukan oleh tiga lempeng besar dunia. Banyak sesar pula yang bergerak.

Para ahli sudah banyak membuat prediksi soal gempa bumi dan gunung api. "Cuma kami enggak bisa menebak waktunya kapan," ujarnya.

Di sesar Palu-Koro, IAGI dan tim ekspedisi sudah melihat jelas pola gempa bumi besar yang pasti bakal terjadi. Salah satu informasi yang mereka dapat caranya sangat sederhana, mewawancarai masyarakat setempat.

"Mereka masih ingat cerita nenek-kakeknya. Ada gempa besar tahun 1968, lalu sebelumnya juga terjadi. Ini kami dokumentasikan," kata Ndaru.

Fakta di lapangan sudah jelas. Kota Palu berada di atas sesar aktif. Ndaru yakin informasi ini juga sudah dimiliki oleh pemerintah pusat, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. "Zona di sana sudah diwarnai merah sebenarnya," ujarnya.

Masalahnya sekarang apakah instansi pemerintah di bawah bisa mengimplementasikan informasi tersebut. "Sosialisasinya kurang intens," kata Ndaru.

Kejadian likuifaksi pun sebenarnya juga sudah terdata oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Badan Geologi. "Ada peta-petanya. Mana yang rawan sekali, tinggi, dan sedang," ujarnya.

Likuifaksi adalah fenomena ketika tanah kehilangan kekuatan. Akibatnya, tanah yang keras seolah seperti lumpur. Saat gempa terjadi di Sulawesi Tengah, likuifaksi mengubur dan memindahkan kompleks perumahan di Balaroa dan Petobo.

"Menurut saya, pemerintah daerah harusnya menangkap info-info seperti ini," kata Ndaru.

Di saat gempa besar terjadi, selain proses pemulihan, pemerintah daerah dan masyarakat setempat harus mulai melek soal mitigasi bencana. Kalau tidak, kejadian serupa yang memakan banyak korban jiwa bakal terus terulang.

Sukmandaru Prihatmoko, tentang gempa dan pengalaman ekspedisinya /Beritagar ID

Hobi yang dibayar

Sejak kecil Ndaru anak yang aktif dan senang naik gunung. Jurusan geologi menjadi pilihannya karena ia masih bisa melakukan hobinya sambil bekerja. "Naik gunung tapi dibayar. Ha-ha-ha...," ujarnya.

Pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah ini memiliki ayah seorang polisi. Tempat tinggalnya ketika kanak-kanak kerap berpindah di seputar kota di Jawa Tengah.

Saat masuk sekolah menengah di Wates, Yogyakarta, ia tak mau lagi mengikuti dinas ayahnya. Sulung dari delapan bersaudara ini memutuskan tetap tinggal di Kota Gudeg sampai kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Lulus kuliah, ia langsung menjadi geolog. Hidupnya keluar-masuk hutan melakukan pemetaan sumber daya mineral. "Dulu sistemnya 6-2. Enam minggu di lapangan. Dua minggu kembali ke Jakarta," ujar Ndaru.

Istrinya sempat protes. Tapi dua anak perempuannya bisa memaklumi pekerjaan ayahnya yang kerap dinas ke luar kota sampai berminggu-minggu.

Menjadi geolog selama hampir tiga dekade, Ndaru punya banyak pengalaman seru dan menantang. Ia pernah dikejar ular piton sepanjang tujuh meter di Pulau Obi, Maluku Utara.

Peristiwa itu terjadi pada awal 1990an ketika melakukan ekspedisi mencari potensi emas. Ndaru dan krunya segera berlari menyelamatkan diri. Dari sungai hingga berhasil mencapai daratan. "Enggak sadar saya waktu itu gimana caranya bisa ngeloncatin pohon tinggi. Tiba-tiba sudah sampai di atas batu," katanya.

Pernah pula ia dihampiri oleh makhluk halus. "Tapi saya tidak mau percaya hal-hal seperti itu," ujar Ndaru.

Namun, bukan hewan liar atau hantu yang menakutkannya kala melakukan eksplorasi, tapi cuaca buruk. Kalau sudah banjir di hutan, kondisi menjadi tak terkontrol. Masalah apa pun bisa terjadi. Saat ekspedisi di hutan Sulawesi beberapa tahun lalu, hujan deras melanda. Seorang krunya meninggal karena hanyut diterjang banjir.

Bagaimana dengan gempa? "Pernah, saya alami beberapa kali," katanya. Ketika berada di hutan justru tak terlalu menakutkan karena lebih tenang dan tak ada bangunan tinggi.

Ia pernah merasakan gempa yang menegangkan justru saat di kota. Kejadiannya sekitar sepuluh tahun lalu di Labuha, Maluku Utara. Gonjangannya begitu besar hingga merusak banyak bangunan di Ternate.

Saat itu ia baru saja parkir mobil, jauh dari bangunan tinggi. "Ya saya harus ngerasain lah (gempa). Kalau kita bisa ngomong, harus ngerasain juga," ujar Ndaru sambil tertawa.

Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sukmandaru Prihatmoko, di kawasan Apartemen Pavilion, Jakarta Pusat, pada Jumat (05/10/2018).
Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sukmandaru Prihatmoko, di kawasan Apartemen Pavilion, Jakarta Pusat, pada Jumat (05/10/2018). Bismo Agung /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 09 Oktober 2018

Sukmandaru Prihatmoko

Pendidikan:

  • Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1989)
  • Master Economic Geology, University of Tasmania, Australia (1998)

Organisasi:

  • Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (2014-2020)
  • Ketua Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (2008-2012)

Karier sebagai ahli geologi eksplorasi:

  • Direktur Eksplorasi PT SJR dan PT DTN, Pama Group (2015-sekarang)
  • Direktur/Country Manager PT AGC Indonesia (2006-2014)
  • Direktur/GM Exploration Austindo Res (2000-2006)
  • Project Geologist BHP Minerals (1989-1999)

BACA JUGA