Penari dan koreografer Eko Supriyanto atau Eko Pece berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (18/04/2018) di Hotel Manohara, Magelang, Jawa Tengah.
Penari dan koreografer Eko Supriyanto atau Eko Pece berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (18/04/2018) di Hotel Manohara, Magelang, Jawa Tengah. Reza Fitriyanto / Beritagar.id
FIGUR

Tafsir tari Eko Supriyanto

Sempat menari untuk diva pop Madonna, ia menganggap tarian kontemporer merupakan jembatan untuk mempertahankan tarian tradisional.

Dari kejauhan kursi penonton, pandangan Eko Supriyanto tak lepas dari puluhan penari yang sedang berlatih di atas panggung. Dengan kamera telepon pintar, ia merekam gerak mereka tanpa terlewat sedetik pun.

Matahari nyaris persis di atas ubun-ubun. Panasnya perih membakar kulit tapi koreografer berusia 48 tahun itu mengabaikannya.

Latihan usai. Ia mendatangi para penari yang berteduh di bawah pohon kelapa. Hasil rekaman diperlihatkan, ia menunjukkan kesalahan gerak tari yang mesti diperbaiki. Diskusi kecil berlangsung santai. Disiplin adalah kunci.

Rabu 18 April 2018 siang, saya berkesempatan melihat lebih dekat proses sang pelaras gerak itu bekerja. Ia sedang mempersiapkan pementasan tari di panggung Aksyobya Candi Borobudur.

Sementara fotografer Beritagar.id, Reza Fitriyanto, merekam latihan untuk footage video, kami akhirnya punya waktu mewawancarai Eko di lobi Hotel Manohara, Magelang, Jawa Tengah.

Tiga tahun sudah Eko bertahan dengan potongan rambut barunya. Nazarnya terbayar. Tak ada lagi rambut gondrong seperti tahun-tahun sebelumnya. "Kalau lulus S3 saya akan potong rambut," katanya mengawali obrolan.

Pada 2015 lalu, ia menamatkan program doktoral di bidang kajian seni pertunjukan dan seni rupa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ini kuliah yang penuh tantangan. Betapa tidak, lepas dari kuliah di University of California Los Angeles (UCLA) Amerika, Eko bimbang. Antara meneruskan pendidikan di negeri Abang Sam atau pulang ke tanah air. Toh, pilihannya jatuh di kampus Indonesia.

Sukses mengantongi gelar doktor dari UGM, ia kembali memburu gelar doktor kedua. Kali ini, pilihannya jatuh di ISI Surakarta. Di almamaternya itu--Eko meraih gelar S1 seni tari dari kampus ini--ia mengambil studi kajian seni pertunjukan. "Sekarang masuk tahun ketiga, kira-kira Agustus nanti ujian," katanya.

Dulu, Eko seolah tak terpisahkan dari rambut gondrong. Saking lekatnya, ia bahkan menolak permintaan manajemen penyanyi pop dunia Madonna yang meminta rambutnya dipangkas agar bisa turut dalam tur Drowned World (2001). "Saya bilang kalau (rambut saya) dipotong, Anda harus mencarikan istri buat saya," katanya waktu itu ke manajemen pementasan tur Madonna.

Mereka tak sanggup. Eko berhasil mempertahankan rambut gondrongnya.

Eko adalah satu-satunya penari Indonesia yang pernah bergabung dalam tur sang diva pop dunia itu. Perjalanannya bermula pada 2001 di sela masa studinya menempuh S2 di UCLA Amerika.

Kala itu, sebuah audisi digelar di Los Angeles dan New York untuk mencari penari yang akan menemani Madonna di atas panggung dalam tur ke beberapa negara. Enam ribuan orang mendaftar di masing-masing kota. Eko salah satunya. Ia mendaftar audisi yang digelar di Los Angeles.

Eko mengenang, hanya ia satu-satunya orang non-Amerika yang mendaftar dalam audisi itu.

Dari 12 ribuan orang itu, ia melanjutkan, panitia audisi memilih 10 orang. Enam orang peserta dari audisi di Los Angeles dan empat lainnya dari audisi di New York. Dan, satu di antaranya Eko.

Penampilannya menggabungkan bermacam tari tradisional di Indonesia membetot perhatian juri. Eko menari, mengombinasi gerakan tari Bali dan silat, tari Halmahera Barat dan Minang, hingga tari Maluku dan Aceh. "Mungkin karena itu saya dipilih Madonna," katanya.

Drowned World Tour adalah tur kelima Madonna di Amerika dan Eropa. Sepanjang enam bulan, Madonna menggelar 268 kali pementasan di kota-kota di kedua benua. Dalam sepekan, Eko dan para penari lain biasa manggung 2-3 kali bersama Madonna.

Sebagai satu-satunya penari dari luar Amerika dalam tur itu, Eko mengatakan, ia harus banyak menjalani penyesuaian. Tak hanya perkara rambut gondrongnya, urusan administrasi keimigrasian pun menjadi perhatian. "Waktu itu saya pakai paspor hijau," katanya.

Madonna, menurut dia, pernah berujar salah satu negara yang selalu ingin ia kunjungi adalah Indonesia. Ia pernah mengunjung Bali juga menyaksikan pementasan gamelan dan tari bedoyo di Solo.

Eko percaya, keragaman budaya adalah aset terbesar yang dimiliki bangsa ini. Dengan 17 ribu pulau dari Sabang sampai Merauke, 1.300 bahasa lokal, Indonesia menyimpan kekayaan seni tradisi yang luar biasa. "Tak ada duanya di dunia dan itu cuma ada di kita," katanya.

Kebangggaan pada budaya itulah, kata dia, yang menjadi modal utama dirinya bergaul dengan bangsa-bangsa lain. Termasuk ketika mendaftar audisi penari Madonna. Hukum terpuruk, korupsi menjadi-jadi, politiknya pun busuk. "Lalu, apalagi yang bisa dibanggakan kalau bukan kebudayaan," katanya.

Saat kecil, Eko Supriyanto atau Eko Pece belajar menari dan silat. Keduanya ternyata saling berhubungan dan menjadi bekalnya untuk menjadi penari profesional. Tataran tertinggi silat, menurut dia, adalah tarian. Di tingkat puncak itu, silat tak lagi sekadar gerakan adu otot kekerasan, tapi olah rasa.
Saat kecil, Eko Supriyanto atau Eko Pece belajar menari dan silat. Keduanya ternyata saling berhubungan dan menjadi bekalnya untuk menjadi penari profesional. Tataran tertinggi silat, menurut dia, adalah tarian. Di tingkat puncak itu, silat tak lagi sekadar gerakan adu otot kekerasan, tapi olah rasa. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Mata yang picek

Lahir di Kalimantan Selatan pada 26 November 1970, Eko besar di Magelang, Jawa Tengah. Keluarganya berlatar belakang seniman tradisi. Kakeknya, Djojoprajitno, adalah seorang penari sekaligus guru silat. "Dulunya saya dipaksa orang tua ikut tari sama kakek," kata Eko.

Ketika kakeknya meninggal, Eko melanjutkan berguru pada sejumlah pengajar tari di Magelang. Mereka adalah Paijan, Kahari, dan Alit Maryono. Dari mereka, Eko banyak menimba keterampilan menari tradisional.

Tapi niat menekuni dunia tari terusik ketika ia menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Banyak temannya merundungnya sebagai banci. Kala itu, menari dianggap sebagai keterampilan yang hanya dimainkan oleh kaum perempuan. Eko dihadapkan dilema, antara melanjutkan menari atau beralih menjadi pemain voli.

Setahun menjelang lulus dari SMEA, ia bertemu Harti, seorang pengajar tari di sekolahnya. Harti, kata dia, adalah istri Paijan. Pertemuan itu membawa Eko kembali pada Paijan.

Ia pun kembali menekuni tari. Bahkan, kemudian ia mendirikan sanggar tari "Pitaloka" bersama Alit Maryono dan penari lain. Sanggar ini rutin mengajarkan tari klasik gaya Solo dan Yogya di sekolah-sekolah dasar di Magelang.

"Tahun 1990 saya lalu masuk STSI Surakarta memilih jurusan koreografi," kata lelaki yang oleh sebagian rekannya disapa Eko Pece.

Nama Pece yang melekat padanya ketika ia duduk di bangku kuliah semester satu. Eko ketika itu membantu penggarapan tugas akhir untuk kakak tingkatnya. Ketika proses latihan berlangsung, ia diminta melepas kacamata tebalnya.

Selama proses latihan, ia menabrak ke sana kemari karena matanya minus 4,5 tak mampu melihat dengan baik tanpa kacamata. Sejak itu ia mendapat julukan pece (picek).

Selain tari, Eko juga pernah belajar silat dari kakeknya. Ia tak mengerti kenapa di waktu bersamaan, selain mengajarkan kelembutan (tarian), sang kakek sekaligus mewajibkan cucunya belajar kekerasan (silat). Yang jelas, orang-orang di sekitarnya, termasuk guru tari Alit Maryono, selain belajar menari juga menekuni bela diri.

Eko remaja kala itu tak menemukan jawabannya. Hingga ketika sudah duduk di bangku kuliah, ia menyadari bahwa tari dan silat adalah dua keterampilan yang berkaitan erat. Sardono Waluyo Kusumo, maestro tari dan pengajar di kampusnya, juga pernah berlatih silat.

Ternyata, ia melanjutkan, di balik kekerasan silat tersimpan kelembutan tarian. Seperti wejangan yang diucapkan kakeknya semasa ia masih kecil. Tataran tertinggi silat adalah tarian. Di tingkat puncak itu, silat tak lagi sekadar gerakan adu otot kekerasan. Olah raganya sekaligus olah rasa.

Maka, "Segala sifat violence harus ditanggulangi dengan sifat lembut. Itu konsep Jawa yang turun temurun," katanya.

Kini, ia mengerti dan merasa beruntung. Bisa belajar silat sekaligus menari di masa kecil. Dari maskulinitas lalu bersinggungan dengan feminitas. Dan, jelas, penari bukan banci.

Jika puncak silat adalah tari, maka puncak tari adalah diam. Tapi, ia melanjutkan, ungkapan itu tak bisa dimaknai secara kaku (letterlijk). "Bukan berarti setelah menari lalu diam dan itu menjadi puncaknya," katanya.

Ia mengatakan dalam diam sejatinya tersimpan motivasi gerak. Ada karakter dan gagasan yang muncul dari sana. Pada beberapa tarian, ada kalanya seorang penari berhenti dan diam dulu sejenak. Itu untuk menghadirkan gagasan, rasa, dan kehadiran tubuhnya pada penonton.

Panggung dunia Eko Supriyanto /Beritagar ID

Menerbitkan buku

Empat perempuan itu melatih gerak dan dialog di bawah panggung pementasan. Mereka adalah personel Sahita, satu kelompok teater tari asal Solo. Dalam pementasannya, kelompok ini kerap menyuguhkan gerakan dan dialog jenaka plus tak terduga yang mengocok perut penonton.

Eko, yang berdiri lima meter dari tempat mereka berlatih, melirik. Sejenak menghentikan briefing pada penarinya dan melontarkan banyolan. "Lihat itu tidak kompak pun ada latihannya," katanya.

Eko mengatakan sengaja mengajak Sahita dalam pementasan tarinya di Candi Borobudur kali ini. Ia ingin menghadirkan tak selamanya gerak selaras adalah keindahan. Sahita, yang selama ini dikenal dengan karakter tak kompaknya di atas panggung, ternyata mampu menampilkan keindahan tersendiri bagi penonton. Mereka berhasil menyampaikan pesannya, membuat para penontonnya tertawa bahagia.

Cara Sahita "menari", kata dia, berbeda dengan penari lain yang memainkan tarian dengan pakem tertentu. "Ini berbeda degan tarian-tarian yang pada dasarnya gerakannya harus perfect," katanya.

Ia mengatakan dunia tari berkembang, konsep tentang estetika berubah. Keindahan tak lagi bisa dimaknai yang cantik nan sempurna. Lihatlah candi Borobudur, bentuk obyek yang terpahat di reliefnya tak bisa dikatakan "cantik". Mletat-mletot ke sana kemari tak beraturan.

Toh, relief-relief itu menghadirkan keindahan tersendiri. Dari ketidaksempurnaannya muncul keindahan. "Estetika tari juga berubah," katanya.

Ia memberi satu contoh, gerak pengemis mengiba di tepi jalan. Atau pose lelaki termenung di tepi sungai misalnya. Dalam kacamata keindahan normatif, tak ada keindahan di sana. Alih-alih, banyak orang justru menganggap pengemis di tepi jalan sebagai perusak ketertiban dan keindahan kota.

Tapi, ia melanjutkan, dalam kacamata lain ketidakindahan pengemis itu bisa memunculkan narasi keindahan yang lain. Keindahan itu muncul karena gagasannya, bukan bentuknya. "Kalau bentuknya bisa macam-macam tapi gagasannya itu yang terpenting," katanya.

Saat ini, Eko sedang merampungkan proses cetak bukunya, Ikat Kait Impulsif Sarira. Buku ini lahir dari disertasinya tentang seni kontemporer yang berkembang di Indonesia pada 1990-2010. "Mungkin terbit sebulan lagi," katanya.

Buku ini mengaji karya lima koreografer Indonesia; Hartati, Miroto, Jecko Siompo, Mugiono, dan Eko sendiri. Mereka adalah murid maestro koreografi Sardono W. Kusumo.

Meski satu guru, ia melanjutkan, karya mereka berbeda bentuk. "Kenapa?" kata dia mempertanyakan. Sardono, kata dia, tak mengajarkan bentuk. "Ia selalu memacu kami dengan gagasan baru."

Tari kontemporer adalah upaya merawat sekaligus menginterpretasikan kembali seni tradisi. Siapa anak muda yang kini mengenal epos Ramayana? Kisahnya akan hilang ditelan zaman jika sekadar mempertahankan bentuknya. Sehingga karya ini perlu ditafsirkan kembali agar relevan dengan masanya.

"Apakah masih relevan karena amarahnya, Sinta dibakar untuk membuktikan kesuciannya setelah diculik Rahwana," katanya.

Dalam kesimpulan bukunya, Eko menuliskan, seni tari tradisi harus me-revisiting (mengunjungi kembali), re-questioning (mempertanyakan kembali), dan re-interpreting (menginterpretasikan kembali) untuk melahirkan karya baru. Inilah proses kreatif tari kontemporer.

"Untung ada seniman kontemporer, kalau enggak tari tradisi hanya akan ada di museum." Tanpa gagasan baru, kesenian Indonesia pun hanya akan jadi eksotisme semata di kancah internasional. "Oh beautiful, lalu selesai."

Penari dan koreografer Eko Supriyanto atau Eko Pece berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (18/04/2018) di Hotel Manohara, Magelang, Jawa Tengah.
Penari dan koreografer Eko Supriyanto atau Eko Pece berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (18/04/2018) di Hotel Manohara, Magelang, Jawa Tengah. Beritagar.id /Reza Fitriyanto
BIODATA Diperbarui: 04 Mei 2018

Eko Supriyanto

Tempat Tanggal Lahir:
Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26 November 1970

Pendidikan :
2015: Meraih gelar doktor bidang seni pertunjukan dari UGM Yogyakarta
2007-2008: Meraih gelar doktor bidang seni pertunjukan dari University of California at Los Angeles (UCLA) Amerika
2001: Meraih gelar Master of Fine Art bidang koreografi dari University of California at Los Angeles (UCLA) Amerika
1997: Meraih gelar sarjana seni dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (kini ISI Surakarta)
Dance Training:
1998-2001:
Modern technique class with David Rousseve, Improvisation class with Simone Forti, Contact Improvisation with Nina Martin, Indian Classical Dance with Viji Prakash, Tap Dance with Lyn Dally African dance with Zhinga, Choreography with David Rousseve, Victoria Marks, and Angelia Leung (University of California, Los Angeles).

Summer 1997:
International Choreographer in Residence Program at American Dance Festival (Durham, North Carolina) Summer technique classes of African, Contact Improvisation, Modern, and Choreography.

1990-1997:
Choreography and Theatre with Sardono W. Kusumo, Sardono Dance Theatre (Surakarta, Central Java, Indonesia).

1990-1997:
Javanese, Balinese, Sumatranese, and Sundanese classical court dance, STSI (Surakarta, Central Java, Indonesia).

1990-1997:
Improvisation and Meditation with Suprapto Suryodarmo, Lemah Putih Seminar (Surakarta, Central Java, Indonesia).

1990-1995:
Javanese classical court, mask dance and composition dance with S. Maridi, Sunarno, S. Pamardi and S. Ngaliman (Surakarta Royal Palace, Central Java, Indonesia).

1985-1990:
Javanese classical court dance with Kahari and Alit Maryono (Magelang, Central Java, Indonesia).

1985-1989:
Javanese classical court dance with Bagong Kusudiardjo (Yogyakarta, Central Java, Indonesia).

1977-1985
Javanese classical court dance and traditional martial arts (Pencak Silat) with Djoyoprajitno (Magelang, Central Java, Indonesia).

Choreography and Performance Experience

2015: February
“Cry Jailolo” Japan Premiere, Tokyo Performing Arts Meeting in Yokohama, Japan (choreographer)
2014: November
“Cry Jailolo” an Indonesia Premiere, Indonesian Dance Festival Jakarta, STSI Bandung, Surakarta Arts Center Surakarta and Jogja International Performing Arts Festival Yogyakarta (Choreographer)
2014: September
“Body as Object” a site specific performance at the Arts and Science Museum Singapore (Choreographer)
2014: May
“Workshop Creating Contemporary Thai-ASIA with Pichet Kunclun Dance Company. Bangkok and Ratchaburi, Thailand (Instructor)
2014: February-April
“VOL” a World Premiere of Lua Leirner at Julius Hans Speigel Zentrum, Theatre Freiburg Germany (Dance and Choreographer)
2014: January
“Awarding Oriflame Indonesia” Prambanan Temple Yogyakarta (Choreographer)
2013: October
“Solid.States” with Kobalt Works, Directed by Arco Renz, Arts Summit Indonesia , Jakarta (Dancer and Choreographer)
2013: September
“Solid.States” with Kobalt Works, Directed by Arco Renz, Le Brigittines. Brussels Belgium (dancer and choreographer)
2013: September
“Kipas Cendana and Api Sinta” new Dance works for Opening and Closing Miss World 2013, Westin Hotel and Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua Bali – Indonesia (Trainer and Choreographer)
2013: July
“Cry Jailolo” a new World Premiere with dances from Jailolo West Halmahera, Tari 13, 8th International Dance Festival – Dancing Across Borders. ASWARA Theatre Kuala Lumpur Malaysia. (Choreographer)
2013: May
Festival Teluk Jailolo. “Sasadu on The Sea”, a Musical Performance with 250 dancers from Jailolo, West Halmahera North Maluku. (Director and Choreographer)
2013: April
“Solid.States” with Kobalt Works, Directed by Arco Renz, EXODOS Festival, Festival of Contemporary Performing Arts, FOCUS Asian Dance Platform, KS Theatre Lubliana Slovenia.(Dancer and Choreographer)
2013: April
Singapore Youth Festival, Central Judging of Dances. Malay Dance Categories, (Judges)
2013: January – February
“Fire Fire Fire” One Story: Three Dances, New Southeast Asian Choreography, Tour Support by the Goethe Institute Jakarta, Cambodia, Thailand and Indonesia, Phnom Penh, Bangkok, Jakarta, Solo (Choreographer)
2012: December
“Flame on You” Solo Dance Studio Performance at the Goethe Institute Jakarta,(Choreographer)
2012: October
“Solid.States” World Premiere with Kobalt Works, Directed by Arco Renz, STUK Theatre Leuven – Belgium, (Dancer and Choreographer)
2012: September
“un-veiling of All New Honda CRV” Pullman Hotel Central Park – Jakarta (Choreographer)
2012: September
“Solid.States” with Arco Renz (rehearsal) STUK Theatre Leuven- Belgium (dancer)
2012: August
“Dance for Laquila” with Emotion Dance company Laquila – Italy (Choreographer)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR