Tara Basro berpose untuk Beritagar.id di balkon restoran Ta Wan, fX Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (25/08/2019)
Tara Basro berpose untuk Beritagar.id di balkon restoran Ta Wan, fX Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (25/08/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Tara Basro, panic attack, dan diri yang rapuh

Tara Basro merambat ke papan atas jagat keaktoran dengan berdarah-darah. Sempat merasa diinjak-injak dan kena panic attack.

Sebelum betul-betul membicarakan Tara Basro yang bintangnya tengah cemerlang, izinkan tulisan ini lebih dulu mengungkit sebentar label yang biasa dilekatkan pada fisik perempuan berdarah Bugis itu: kulit eksotis.

Betul. Kulit eksotis. Semacam eufemisme atawa penghalusan bahasa atas kulit cokelat atau gelap, warna normal sebagian besar orang Indonesia. Ia sebetulnya konsep jadul. Warisan kolonial. Dibuat untuk merendahkan siapa pun yang tak berkulit seterang para penjajah dari Eropa.

Padahal, di negeri tropis--yang sepanjang tahun disinari matahari--punya kulit gelap umum belaka. Sebagai penegas, sudah lazim pula terdengar dengusan, "matahari lagi ada tiga belas", jika cuaca di Indonesia sedang panas-panasnya.

Selain Tara, bolehlah menyinggung pesohor lain yang acap kali disebut eksotis. Misalnya Anggun C. Sasmi yang kini tinggal di Prancis, atau atau Titi Rajo Bintang yang jago main drum.

Lisnya bisa lebih panjang. Namun, tulisan ini tak mau menyaingi buku telepon Halaman Putih.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang jarang dirujuk itu mengartikan eksotis sebagai "bergaya asing", "ganjil", atau "dimasukkan dari luar negeri". Setimbang dengan kata bahasa Inggris exotic yang akar maknanya adalah "asing" atau "berasal dari mancanegara".

Dus, kata eksotis sebenarnya lebih pantas dialamatkan kepada tanaman atau hewan. Bukan manusia. Apalagi dilontarkan oleh orang sebangsa.

Cabai California Reaper nan mahapedas itu pas dikata eksotis. Iguana cocok dapat stempel eksotis.

Garapan industri

Pelabelan sepihak itu seperti tak retak diguncang zaman. Ia mengikuti adagium sakti, putih itu cantik. Jika tak berkulit terang, anda beruntung bisa dipuji manis, seksi, atau istilah lain yang levelnya cuma tergolong surga lisan.

Dan Tara Basro sempat terpasung oleh cap itu. Pada awal-awal meniti jalur modeling--masih jauh dari dekapan dunia sinema yang kelak melambungkan namanya--kepercayaan dirinya disobek senti-demi-senti lewat komentar destruktif, "kulitmu terlalu gelap".

"Di awalnya itu sempat sangat sulit banget buat gue. Bukan hanya film aja. Gue mencoba casting-casting untuk iklan, berapa pun banyaknya yang gue jalanin tiap hari, enggak ada yang bilang iya ke gue. Apalagi waktu itu gue rambut pendek. Menurut mereka rambut pendek, (dan) kulitnya enggak putih itu (a) big no-no! Waktu itu trennya look-nya bule-bule," ujarnya kepada Beritagar.id di balkon restoran Ta Wan, fX Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (25/08/2019).

Saat belia, dia memang baru membatasi diri pada modeling. Bagi para mojang, ranah itu sesungguhnya jalur nan jamak ditempuh untuk bisa eksis di antara sebaya. Tak sedikit aktris papan atas Indonesia merintis karier dari level itu. Salah duanya Dian Sastrowardoyo dan Desy Ratnasari.

"I love to dream," katanya tentang hasrat prematur tersebut. "Dan salah satu momen di mana gue suka banget ngayal-ngayal itu ketika gue di rumah, baca-baca majalah. Dan gue sangat menikmati hal-hal yang cantik. Apa pun itu".

Seperti para pendahulunya, penyimak musik Lana Del Rey dan Erykah Badu itu menjajal ajang Gadis Sampul, yang digelar setahun sekali untuk memilih model remaja. Kompetisi binaan Majalah Gadis tersebut selalu menjadi semacam kisi-kisi bagi munculnya bintang-bintang baru di dunia hiburan Indonesia.

"Gue mulai Gadis Sampul 2005. Itu aja pada zaman itu kalau kita (pakai) make up, foundation-nya enggak ada yang warna gelap. Jadi kalau lo lihat foto-foto gue di Gadis, mukanya kayak putih-putih semua gitu," ujar Tara.

Usianya masih 15, dan dia berhasil menjadi finalis. Di antara finalis lain adalah Bunga Jelitha Ibrani--kelak menjadi Puteri Indonesia 2017--dan Meriza Febriani, yang bakal menjadi aktris film.

Diterima main film

Lingkungan baru lazim menerapkan cara bermain baru. Dan Tara berusaha keras mengikutinya. Dia mulai pakai produk pemutih. Tentu saja tak berhasil. Namun, diam-diam, itu menorehkan luka.

Di saat bersamaan, dia masih harus menyelesaikan SMA di Australia. Sembari pula masih percaya Gadis Sampul dapat menjadi tiket emas baginya untuk melenggang ke jagat pesohor.

Maka setelah lulus, Tara Basro kembali mencoba ikut banyak seleksi. Tetapi, keyakinan saja tak cukup. Satu penolakan mengikuti penolakan lain. Dia lama-lama merasa tak diinginkan di industri itu.

Tara Basro berpose untuk Beritagar.id di restoran Ta Wan, fX Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (25/08/2019).
Tara Basro berpose untuk Beritagar.id di restoran Ta Wan, fX Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (25/08/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

"Itu saat-saat ketika gue udah mulai putus asa. Gue udah merasa, 'kayaknya ini bukan buat gue, deh'," katanya.

Hidup harus tetap bergulir. Justru waktu Tara di Australia, dia melihat orang-orang berkulit terang berebut sinar matahari untuk mengubah warna. Hasilnya dikasih istilah tanned. Kecokelatan.

"Pada akhirnya gue mulai bisa menerima fisik gue," ujarnya.

Tara Basro memutuskan tinggal dan kuliah di Jakarta. Dia sudah jenuh dengan hidup berpindah-pindah seperti yang selama ini dilakoni. Dia lalu ambil kuliah di Jurusan Fashion Design Binus Internasional, Jakarta.

Di tengah urusan kampus, perempuan dengan nama penuh Andi Mutiara Pertiwi Basro itu masih suka ikut seleksi film dan iklan. Pada 2009 atau 2010, dia sempat ikut tes untuk produksi pertunjukan arahan Joko Anwar, Onrop! Musikal. Dia ingat Joko Anwar ikut duduk sebagai juri.

Tara lolos di dua hal saja. Menyanyi dan menari. Tidak dengan berakting. Meski gagal, Tara tetap jaga hubungan dengan sang direktur casting. Berkat itu, dia dapat kesempatan untuk turut seleksi peran dalam film arahan Putrama Tuta, Catatan (Harian) Si Boy.

Ketika direktur casting itu menghubungi Tara, semua calon pemain sudah tersaring. Untung malamnya dia dapat kabar baik. Tara tembus ujian. Esoknya langsung baca naskah. Pasangannya berdialog saat audisi adalah pemeran utama, Ario Bayu.

"Saat itu gue masih kuliah. Itu crossroad kehidupan gue untuk pertama kali. Harus memilih, dan ini keputusan yang sangat berat banget buat gue. Karena dari keluarga sangat menjunjung tinggi pendidikan," ujarnya.

Sejarah mencatat Tara Basro memutuskan untuk bergabung dalam produksi film tersebut dan melepaskan kuliahnya.

"(Di situ) belajar banyak banget. Bisa dibilang itu workshop akting pertama gue. Dan untungnya gue suka banget belajar sesuatu hal yang baru. Misal, semua pengalaman dalam hidup yang coba lo lupain, (justru) harus dipakai (sebagai) salah satu tool untuk perform" katanya.

Sempat paceklik tawaran

Sialnya, pemikiran bahwa kariernya bakal melesat setelah bermain bareng aktor-aktor gaek seperti Onky Alexander, Didi Petet, dan Roy Marten ternyata keliru.

"Beberapa bulan gue enggak ada kerjaan sama sekali. Enggak ada pemasukan. Sampai bokap nanya, 'Kamu ngapain sih? Udah berhenti sekolah, di rumah mulu!'" ujarnya.

Dia memberi pengertian kepada ayahnya, Iskandar Basro, seorang petinggi maskapai penerbangan. Dia minta teladannya itu bersabar. Akhirnya, Tara Basro mengambil tawaran apa pun. Bahkan film televisi (FTV).

"Itu gue perang batin banget. Karena bisa dibilang sebenci-bencinya gue pada saat ngelakuin itu, tapi gue ngerasa masih ada juga beberapa hal yang bisa gue pelajari di (lokasi syuting). Tapi, ya gitu. Apalagi saat itu untuk jadi leading role dengan feature kayak gue jarang banget," katanya.

Asanya nyaris putus. Dia juga merasa orang-orang yang bekerja dengannya tak membantu. "Gue berada di lingkungan yang sangat tidak mendukung pertumbuhan gue," ujarnya. "Instead of saying, 'OK, let's make it happen', mereka malah bilang, 'kayaknya enggak deh, Tar, lo belum di situ".

Pada 2014, Tara Basro akhirnya dapat karakter penting. Itu saat dia bermain sebagai Gerhana dalam Pendekar Tongkat Emas arahan Ifa Isfansyah. Film itu memperkaya pengalamannya karena dia dapat celah untuk serap ilmu dari nama-nama besar seperti Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Reza Rahadian, dan Nicholas Saputra.

Setahun kemudian, pembuktian krusial itu terjadi. Tara Basro menunjukkan harga dirinya. Lewat A Copy of My Mind, kolaborasi pertamanya dengan Joko Anwar, dia beroleh Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Akting dan diri yang rapuh

Saat Beritagar.id berbincang dengannya Minggu malam itu, Tara Basro seperti sudah menemukan dirinya. Gesturnya menunjukkan kenyamanan atas tubuh sendiri. Kata-katanya--baik yang terlatih maupun meluncur spontan--menyuratkan kelasnya.

Dengan percaya diri, pengagum rancangan Tex Saverio ini menyatakan kegirangan karena merasa telah mampu menjadi wakil dari banyak orang seperti dirinya.

"Banyak banget gue nonton film Indonesia, tapi rasanya enggak Indonesia. Karena mayoritas orang Indonesia kelihatannya bukan seperti itu. (Contohnya) I know Jakarta besar banget, dan look orangnya beda-beda. Tapi, ya, yang look-nya kayak gue minoritas banget di industri ini. Padahal in reality kita mayoritas," katanya.

Dia bilang menjadi rapuh penting dalam proses penegasan kepercayaan diri itu. Pun sepenuhnya mengakui kerapuhan itu, baik saat bermain film, maupun menjalani hidup.

"Acting is an extension of yourself," ujarnya. "Dan yang paling penting darinya adalah gue bisa menyuarakan suara-suara yang tidak bisa diutarakan. Menurut gue, semua karakter yang (gue mainkan) ada vulnerability. Kita bisa menggunakan vulnerability itu sebagai advantage. Akting bisa dibilang membantu gue menemukan jati diri gue. (Ia) salah satu bagian sangat besar di kehidupan gue".

Karena memerankan suatu karakter menjadi semacam perpanjangan dirinya, maka sulit untuk tak mengaitkan film-film yang dia mainkan dengan pribadinya.

"Kalau orang ngikutin film gue dari awal, bisa terlihat perjalanan (gue). Karena film-film itu bagian dari hidup gue. Jadi, sangat personal banget," katanya.

Tara Basro berpose untuk Beritagar.id di balkon restoran Ta Wan, fX Sudirman, Minggu (25/08/2019) malam.
Tara Basro berpose untuk Beritagar.id di balkon restoran Ta Wan, fX Sudirman, Minggu (25/08/2019) malam. | Bismo Agung /Beritagar.id

Gerhana (Pendekar Tongkat Emas) yang ligat. Sari (A Copy) yang naif. Wulan (Gundala) yang gigih. Itukah kilatan karakter-karakter diri yang sengaja diproyeksikannya? Atau ditemukannya?

"Ibaratnya, it’s me standing naked in front of semua penonton. Ini gue, dan this is what I’m trying to give to you, and I hope you enjoy it. Bagaimanapun nanti penonton akan menerima. Tapi, at the same time, di kehidupan pun apa yang lo lakuin pasti ada yang punya pendapat. Untuk gue sendiri, itu udah part of the job. Lo enggak sepenuhnya milik lo. Ibaratnya, 20 persen you can keep it to yourself, tapi 80 persen lo udah milik publik," ujarnya.

Ketika bicara akting, Tara Basro langsung menyebut Christine Hakim sebagai patokan. Dua kali dia bermain dengan sang "Tjoet Nja' Dhien". Pertama dalam Pendekar Tongkat Emas. Kedua dalam garapannya untuk ke sekian kali dengan figur yang paling dia hormati di industri sinema, Joko Anwar; sebuah film berjudul Perempuan Tanah Jahanam.

"Gue enggak ngerti lagi sih (Christine Hakim) gimana. Makin tua makin gahar. Tiap kita ada di set dan melihat dia perform, kayak tersihir. Dia favorit gue di (Perempuan Tanah Jahanam). Gue merasa sangat beruntung banget ada di satu frame sama dia. Cuma dari observasi aja belajar banyak banget. Dia adalah salah satu inspirasi. Junjungan gue gitu," katanya.

Panic attack

"Constantly on the move, it was hard," ujarnya ketika mengenang periode berkeliling mengikuti pekerjaan ayahnya. "Kesulitannya, gimana caranya membangun relasi sama orang-orang. Membangun akar yang kuat di mana gue bisa tumbuh peacefully. Pengaruh banget ke karakter gue."

Residu dari bertahun-tahun hidup seperti itu--hidup berpindah-pindah, merasa berdosa punya kulit gelap--mungkin mengendap di alam bawah sadarnya, menunggu pemicu letupan.

Tara mengakui industri yang mempekerjakannya sungguh keras. Di dunia itu, tiap-tiap warganya bisa kapan saja keluar dari zona kewarasan.

"Ada masa-masa di mana gue stres banget gara-gara ambisius banget. Gue jadi enggak mengutamakan diri gue sendiri. Sampai pada akhirnya gue mengalami panic attack yang cukup parah selama dua tahun," katanya mengenai periode 2013-2014 yang mengkhawatirkan itu.

Ketika terjerat dalam depresi, Tara sadar bahwa masyarakat tak menganggap kesehatan jiwa sebagai hal serius. Orang dengan gangguan jiwa selalu dianggap gila. Dan itu tak membantu dalam proses pemulihan.

"Di situ gue kenalan sama terapis yang menolong gue dengan (pendekatan) holistik. Lebih ke meditasi. Ini menarik, karena setiap orang sebagai (masyarakat) punya kebiasaan-kebiasaan yang dibawa dari leluhur. Misalnya, trauma-trauma zaman perang. Itu sebenarnya masih kebawa sama kita sampai sekarang, yang membentuk who we are today," ujarnya.

Pernah ada masa Tara memilih untuk tak ke mana-mana tersebab kondisinya. Dia takut jika datang panic attack, tak satu pun orang mengerti dan takkan ada yang menolongnya. Dia cemas orang-orang cuma akan meneriakinya gila.

"Salah satu momen benar-benar berasa gue udah di kamar kosan, di lantai. Gue kira gue akan mati. (Lalu) nyokap ngomong di telepon. Gue punya support system yang sangat kuat. Nyokap, bokap, keluarga gue. Akhirnya, I got through the night," katanya.

Setelah itu, dia merasa semuanya harus berubah. Dia mulai belajar mengutamakan dirinya. Menggunakan suaranya untuk sesuatu yang berarti. Menjadi diri sendiri. Menghormati diri dan orang-orang di sekelilingnya.

"Gue bisa menaruh boundaries dan prioritas. Akhirnya orang-orang bisa melihat gue seperti apa. Oh, Tara itu begini. Jadi, enggak ada lagi yang bisa injak-injak. Jadi perlahan-lahan orang bisa menghormati. Dan itu yang paling penting. Ketika lo bekerja, lo bisa menghormati satu sama lain," ujar sosok yang juga angkat topi kepada Nia Dinata dan Garin Nugroho itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR