Teddy Kardin, geolog dan empu pisau Indonesia, berpose di depan kamera sesuai menerima wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya, kawasan Hegarmanah, Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (23/03/2017).
Teddy Kardin, geolog dan empu pisau Indonesia, berpose di depan kamera sesuai menerima wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya, kawasan Hegarmanah, Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (23/03/2017). Beritagar.id / Bismo Agung

Teddy Kardin, tentang Prabowo, perang, dan pisau

Kemampuan navigasi alamnya sangat mumpuni. Ia mempelajarinya dari suku Dayak pedalaman Kalimantan. Keahliannya ini menuntunnya ke tiga perang pemulihan kemanan.

Profesinya adalah geolog lapangan. Keluar-masuk hutan menjadi hal biasa yang ia lakukan. Ia bisa menghabiskan waktu selama tiga sampai lima bulan berada di alam rimba untuk memetakan sebuah area tambang, mengukur ketinggian, atau mengambil sampel bebatuan.

Ketika ia mengawali kariernya di era 1970an banyak medan berat yang harus ia tempuh. Pernah ada satu lintasan di hutan Kalimantan Barat yang hanya bisa ia lewati satu kilometer dalam sehari. Tapi kesulitan itu tak pernah menyurutkan niatnya untuk menyajikan hasil penelitian lapangan yang baik.

Tidak pernah menjadi karyawan tetap, selalu pekerja kontrak. Tapi Teddy Sutadi Kardin mengaku nyaman dengan posisi itu. "Gajinya lebih besar," katanya ketika ditemui tim Beritagar.id, pada Kamis (23/03/2017) lalu.

Ribuan dolar Amerika Serikat bisa ia dapatkan dalam sebulan untuk mengerjakan itu. Jumlah yang fantastis karenaTeddy memulai karier ini ketika booming tambang dan minyak terjadi di Indonesia.

Geologi menjadi jurusan kuliah yang ia pilih di Institut Teknologi Bandung pada 1971. "Saya tidak pintar makanya pilih geologi," ujar bapak dua anak ini sambil tertawa.

Tapi pilihan itu bukan tanpa dasar. Hobi berpetualang dan naik gunung sejak kecil menuntunnya pada jurusan tersebut. Ayahnya, ME Kardin Sargani, seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), kerap mengajak Teddy berburu di hutan sebelah utara Bandung sampai Sumedang.

Gaya militer sang ayah sangat mempengaruhi prinsip hidupnya sejak kecil hingga sekarang. Sedangkan ibunya, O Soekaeni Kardin, cenderung kalem dan halus sehingga mengimbangi watak Teddy.

Ia mengakui geologi bukan jurusan favorit kala itu. Tapi profesi geolog lapangan sangat langka dan dicari terutama oleh perusahaan tambang dan minyak asing. Teddy pun tak kesulitan mencari kerja, bahkan sebelum lulus kuliah.

Pada 1980, ia mendapat peringatan dari fakultasnya untuk segera menyelesaikan kuliah. Teddy tanpa banyak kendala dapat menuntaskan tugas akhir dalam waktu sekitar tiga bulan.

Perjalanan hidupnya pun berubah setelah lulus. Kemampuannya dalam membaca navigasi alam menutun Teddy ikut serta dalam medan tempur di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Irian Jaya (sekarang Papua), dan Aceh.

Sebanyak sembilan baret kehormatan ia peroleh karena perannya dalam dunia militer. Teddy juga berhasil membangun bisnis pembuatan pisau berskala internasional sehingga sekarang dijuluki empu pisau Indonesia.

Di teras halaman belakang rumahnya, selama dua jam lebih Teddy menceritakan kisah hidupnya kepada Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Bismo Agung. Di lantai dua teras itu terdapat bengkel pembuatan pisau jenama T.Kardin. Lokasinya terletak di kawasan asri Jalan Hegarmanah Nomor 46, Bandung, Jawa Barat.

Kami mewawancarai Teddy dalam suasana santai ditemani empat cangkir teh pahit. Asap rokok putih terus mengepul dari mulutnya. Dalam sehari Teddy bisa menghabiskan satu bungkus rokok isi 16 batang.

Kemampuan Teddy Kardin dalam hal navigasi alam membuatnya terlibat dalam medan perang di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Irian Jaya (sekarang Papua), dan Aceh.  Atas sumbangsihnya, ia menjadi warga kehormatan Kopassus. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menganugerahkannya Satyalencana Dharma Nusa pada Agustus 2014.
Kemampuan Teddy Kardin dalam hal navigasi alam membuatnya terlibat dalam medan perang di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Irian Jaya (sekarang Papua), dan Aceh. Atas sumbangsihnya, ia menjadi warga kehormatan Kopassus. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menganugerahkannya Satyalencana Dharma Nusa pada Agustus 2014. | Bismo Agung /Beritagar.id

Menantang hantu sebelum perang

Peristiwa yang terjadi pada 1988 itu tak pernah bisa ia lupakan. Pengalamannya begitu mengerikan hingga ia tak mau melakukannya lagi. "Dibayar ratusan juta rupiah juga saya tidak mau," kata pria kelahiran Bandung, 11 Maret 1951 itu.

Teddy mendapat perintah dari Prabowo Subianto, yang kala itu menjabat Mayor Infanteri Komandan Batalyon Infanteri 328, Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat). Perintahnya jelas, membawa orang-orang terbaik dari suku Dayak untuk ikut berperang ke Timor Timur.

Sebelumnya, Teddy diminta untuk mengajar kemampuan navigasi alam untuk para prajurit di Bataylon 328. "Baca peta dan kompas saja, sederhana," ujar Teddy. Semua ia ajarkan secara cuma-cuma, tanpa bayaran.

Waktu diajak mengajar pasukan elite tersebut sebenarnya Teddy tak terlalu tertarik. Apalagi, ia sudah kadung teken kontrak dengan perusahaan minyak asing. Prabowo memaksa sambil mengatakan, "Masa bantu bule mau, bantu negara sendiri tidak mau? Berapa Anda dibayar mereka? Saya bayar dengan harga yang sama."

Tersinggung dengan ucapan Prabowo, Teddy dalam hati hanya berpikir gaji seorang tentara pasti tidak mampu membayar dia yang sudah mendapat US$3 ribu per bulan. Tapi Teddy tidak mau meributkan hal tersebut. Ia menghitung-hitung, tabungannya sudah ada ratusan ribu dolar Amerika Serikat. Lalu, rumah dan mobil juga ada. Deposito Rp100 juta dengan bunga 1,2 persen per bulan cukup membiayai kebutuhan keluarganya.

"Gini deh, Mas. Dua bulan lagi kontrak saya habis," ujar Teddy menjawab permintaan Prabowo. "Saya bantu Anda setahun gratis." Keduanya sepakat, lalu bersalaman.

Sekitar empat kompi tentara Teddy latih kala itu. Tapi ternyata Prabowo ingin kemampuan mereka ditingkatkan lagi dengan melacak dan menafsir jejak, serta bertahan di alam tropis. Teddy lalu mengajak lima orang temannya dari suku Dayak Punan untuk mengajari hal itu di Gunung Salak, Jawa Barat.

Teddy kerap kali bergaul dengan suku Dayak itu kala berada di hutan Kalimantan Timur. Ia sampai diangkat anak oleh salah satu keluarga bangsawan di sana dan diberi nama Hubung.

Selain mengajari melacak jejak, kelima orang itu juga menunjukkan ilmu mengayau. Tapi salah satu dari orang Dayak tersebut bertanya untuk apa keahlian memenggal kepala musuh tersebut. Prabowo mengatakan, kita akan mengayau musuh negara. Karena tujuannya berperang, pemuda itu mengatakan harus ada upacara adat terlebih dulu.

Akhirnya, perintah itu datang ke Teddy. Selain meminta izin ke kepala suku Dayak Punan membawa lima pemuda tersebut, ia juga mengajak dua orang tambahan. Ia masuk kembali ke pedalaman di hulu Sungai Barito dan Mahakam.

Untuk membawa para pengayau diperlukan upacara pemotongan babi dan ayam. Salah satu rumah telah dikosongkan untuk acara ini. Kepala suku memotong ayam, darahnya ditampung dalam baskom. Ayam itu kemudian diputar-putar sehingga darah terciprat ke seluruh dalam rumah.

Lalu, mulailah pengucapan doa. "Saya ingat doanya begini, ya jin, setan, dan iblis dalam pohon, batu, lembah. Datanglah kemari. Kami akan mengayau," kata Teddy.

Sontak, para warga berteriak, "Lakim! Lakim! Lakim!" yang artinya sukses, sukses, sukses. Setelah itu mereka makan bersama.

Tapi upacara ini tak berhenti di sini. Sang kepala suku meminta Teddy untuk menginap tiga hari tiga malam di dalam rumah itu seorang diri. Ia kaget karena takut tapi tak kuasa menolak. "Masa utusan Prabowo penakut," ujarnya terkekeh.

Malam pertama, ia merasakan ketakutan amat sangat. "Hampir gila saya," kata Teddy, matanya berkaca-kaca ketika menceritakan ini. Suara gemuruh air sungai dan angin yang masuk dari dinding kayu kerap merontokkan mentalnya.

Saat kantuk datang, ia merasakan ada banyak orang di sekitarnya. Ia juga berteriak-teriak. Keinginannya membaca ayat-ayat suci urung ia lakukan. "Tadi (setan) dipanggil, masa saya mau usir," katanya.

Pisau buffalo skinner jenama Solingen yang selalu setia menemaninya ia keluarkan dan acungkan. "Saya bilang, hantu kalau mau datang, datanglah. Tapi awas kalau sampai kelihatan," teriak Teddy. Malam itu memang ia tak melihat hantu. Tapi terasa sekali ada bau busuk, wangi bunga, dan aroma dedaunan kerap melewatinya.

Selama tiga malam ia merasakan tekanan psikologis yang amat mengerikan. Ia hanya bisa duduk bersandar ke dinding rumah sambil tetap memegang pisaunya. Setelah itu, kepala suku mengatakan permintaan mereka telah diterima oleh para hantu-hantu tersebut. Makanan yang tersaji di dalam rumah tidak basi dan mereka makan bersama.

Ketujuh pemuda tersebut akhirnya berangkat ke Timor Timur. Teddy tidak ikut karena harus menunggu istrinya yang sedang hamil anak kedua. Setelah anaknya berusia tiga bulan, Teddy baru berangkat ke sana untuk melihat teman-temannya.

Tapi nasib berkata lain, Teddy yang sebenarnya hanya ingin berkunjung sebentar, malah menjadi tiga bulan. Ia membuat peta operasi yang sangat rinci sehingga pasukan yang dibawah pimpinan Prabowo berhasil mendapatkan 54 pucuk senjata.

Dengan peta kontur, Teddy bisa tahu kemungkinan gerak musuh dan bagaimana mengantisipasi serangan. Ia tahu di mana jalan setapak, lembah, gunung, dan sungai. Untuk lebih jelas lagi, tak jarang ia membuat maket area medan tempur. Ternyata, hal tersebut sangat membantu operasi militer.

Lalu, apakah ada aksi kayau dalam peristiwa itu? Teddy tak mau menceritakan hal tersebut. "Dapatlah," ujarnya singkat. Prabowo sempat menyodorkan amplop tebal untuk jasanya, tapi Teddy menolak.

Peran Teddy dalam medan perang tak berhenti di sini saja. Ia juga ikut dalam operasi pembebasan 11 orang sandera, para peneliti Ekspedisi Lorentz 1995, di Mapenduma, Irian Jaya. Mereka disandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) kelompok Kelly Kwalik.

Prabowo yang menjadi Komandan Kopassus (Komando Pasukan Khusus) memimpin operasi tersebut. Tentara Indonesia berhasil membebaskan sembilan sandera, sementara dua orang lainnya tewas di tangan OPM.

Pada 2004, Teddy kembali lagi ikut perang dengan menjadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO) untuk operasi militer di Aceh. Ia membantu para pasukan untuk melakukan sweeping suatu daerah yang dikuasai Gerakan Aceh Merdeka.

Istrinya, Ida Wirjanti, sebenarnya tak setuju Teddy yang telah berusia 50 tahun kembali ke medan tempur. Tapi mertuanya yang seorang pensiunan militer mendukung Teddy ke Aceh. "Itu kehormatan ikut perang. Berangkat!" kata Teddy menirukan ayah mertuanya.

Petualangan Sang Empu Pisau /Beritagar ID

Cekcok dengan Prabowo

Hubungannya dengan Prabowo tak lepas dari pasang-surut. "Dia orangnya keras, tapi memang sangat pintar dan cerdas, nasionalis sejati," kata Teddy. Ada dua kali peristiwa yang membuat mereka bersitegang. Pertama, di Timor Timur. Dan terakhir, di Jakarta.

Di Timor Timur pada 1988, Teddy tersinggung dengan ucapan Prabowo yang menganggapnya penakut. Semua berawal dari orasi Prabowo di depan warga, tapi di belakangnya terdapat sekumpulan Fretilin yang baru saja tiba dari Australia. "Dari belakang bisa diketok, mati dia," katanya.

Teddy menganggap orasi tersebut membahayakan diri Prabowo. "Ngapain takut? Saya tidak butuh pengecut," ujar Prabowo kala itu. Teddy pun langsung menjawab, besok dirinya akan pulang. Ia pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Prabowo mengamuk dan menarik taplak meja sehingga makanan di atasnya jatuh berhamburan.

Tak lama kemudian mereka segera berbaikan. Prabowo mengaku hanya menguji nyali Teddy saja. Ia pun batal pulang.

Lalu, peristiwa di Gedung Bidakara, Jakarta Selatan sekitar 2004 pun menjadi saksi pertikaian mereka. Penyebabnya gara-gara sebuah dokumen izin tambang batu bara yang harus ditandatangani Sang Jenderal bintang tiga itu. Prabowo marah sambil menendang meja karena merasa telah menandatangani dokumen serupa.

Teddy, yang menjadi konsultan lapangan untuk proyek tambang itu, langsung keluar dari ruang kantor Prabowo. Ia dikejar dan sudah siap-siap untuk beradu fisik. Tapi ternyata Prabowo minta maaf. Mereka turun elevator bersama. "Sejak itu tidak bertemu lama dengannya," kata Teddy.

Sekitar tiga bulan lalu, akhirnya mereka berjumpa di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor. Ketika itu sedang ada acara partai politik Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Sosok sang jenderal berubah sekali setelah menjadi ketua umum partai itu. Prabowo terlihat sedang menari-nari dengan banyak artis.

"Dulu dia jaim. Tapi waktu di rumahnya, ketemu saya, dia langsung peluk. Belum pernah sebelumnya kami peluk-peluk," ujar Teddy.

"Perang itu tidak menyenangkan. Anak-anak, wanita, dan orang tua selalu jadi korban,"

Teddy Kardin

Di usianya yang sudah senja, Teddy masih aktif keluar-masuk hutan. Tapi bukan untuk urusan mencari tambang atau perang, melainkan berburu babi. "Di hutan dekat sini saja," katanya sambil menyiapkan sebuah senjata Sako kaliber 308 dan 20 butir peluru.

Ketika ditanya apakah merindukan ke medan tempur, Teddy menjawab singkat tidak. Tak hanya berada di ruang operasi, ia juga pernah terjun langsung ke lapangan dan meletuskan peluru dari senjata M16 yang ia bawa. "Perang itu tidak menyenangkan. Anak-anak, wanita, dan orang tua selalu jadi korban," katanya.

Bisnis pisau yang ia rintis sejak 1992 sekarang telah mendunia, bahkan dipakai oleh pasukan khusus Yordania. Kendali bisnis itu ia serahkan ke anaknya yang kedua. Dalam sebulan ia bisa meraih Rp100 juta, tapi menurut dia, jumlah tersebut pas-pasan dengan ongkos produksinya.

Di Italia ada toko khusus yang menjual pisaunya. Prajurit Kopassus hingga militer AS pun ada yang membeli pisau buatan Teddy yang terkenal dengan kualitas, keindahan, dan ketajamannya. Semua pisau itu dikerjakan dengan tangan terampil, tanpa mesin, sehingga produksinya pun terbatas, sekitar seribu buah per bulan.

Pisau yang baik, menurut dia, harus sesuai fungsinya. Pisau jenis Bowie menjadi favorit Teddy karena memiliki banyak fungsi, seperti bacok dan tusuk. Nama Bowie diambil dari seorang petualang pemberani yang tewas di Benteng Alamo, Texas, AS, James Bowie.

Jarum jam menunjukkan pukul lima sore, Teddy masuk ke dalam mobil Jeep Range Rover era 1970an berwarna biru tua. "Saya pamit ya. Sudah ditungguin nih untuk berburu babi," katanya melambaikan tangan dan menutup pembicaraan kami.

Teddy Kardin, geolog dan empu pisau Indonesia, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di rumahnya kawasan Hegarmanah, Bandung,
Teddy Kardin, geolog dan empu pisau Indonesia, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di rumahnya kawasan Hegarmanah, Bandung, Beritagar.id /Bismo Agung
BIODATA Diperbarui: 14 April 2017

Teddy Kardin

Nama:

Teddy Sutadi Kardin

Tempat/Tanggal Lahir:

Bandung, 11 Mei 1951

Nama Istri:

Ida Wirjanti

Anak:

2 (perempuan dan laki-laki)

Pendidikan:

  • SDN Merdeka 5, Bandung
  • SMPN 2, Bandung
  • SMAN 1, Bandung
  • Teknik Geologi, Institut Teknologi Bandung (angkatan 1971)

Karier:

  • Sejak 1976 menjadi geolog lapangan yang menjelajahi berbagai hutan di Nusantara untuk melakukan penelitian eksplorasi minyak bumi dan pertambangan berbagai perusahaan nasional maupun internasional, seperti Pertamina, Elf Aquitane Indonesia, Mobil Oil, Huffco Brantas, dan lainnya.
  • Pada 1992 memulai bisnis pembuatan pisau berstandar internasional dengan jenama T. Kardin

Kontribusi di dunia militer:

  • Pembekalan Pra Tugas Analisa Peta Batalyon Infanteri Lintas Udara (Yonif Linud) 328, 330, 312, 327, 321, Brimob Jabar, Paskhas, Kopassus, Rajawali (1987-2004)
  • Operasi Timor-Timur sebagai Tenaga Bantuan Operasi (TBO), Analisis Operasi Yonif Linud 328 (1988)
  • Instruktur Survival – mengesan jejak (Sanjak) Latihan Gabungan Kopassus – Special Air Service Australia (1991-1993)
  • Analis Operasi Pembebasan Sandera Wapenduma, Irian Jaya (1996)
  • Latihan Gabungan Kopassus – Special Force dalam tracking
  • Ekspedisi Mahakam – Barito dan latihan Sanjak Survival di Kalimantan
  • Analis Operasi untuk Koopskam Aceh dalam Satgas I serta Raider 300 (2004)

Penghargaan:

  • Warga kehormatan Kopassus
  • mendapat delapan baret kehormatan lainnya untuk kontribusi dalam bidang militer
  • Satyalencana Dharma Nusa untuk jasanya dalam pelaksanaan operasi pemulihan keamanan di daerah bergejolak dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (Agustus 2014)

Organisasi:

  • Resimen Mahasiswa
  • Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, Wanadari
  • Para Club Indonesia
  • ITB Sky Diver
  • Ketua Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) cabang Bandung
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR