Keterangan Gambar : Seniman kontemporer, Teguh Ostenrik, berpose untuk Beritagar.id di studionya, Jalan Tridarma Utama III Nomor 5, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/11/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Karyanya abstrak, namun sarat makna dengan teknik yang mumpuni.

Tak ada orang di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Tambora, Jakarta Barat pada Selasa (07/11/2017) lalu. Awan hitam bergelayut mungkin jadi penyebabnya. Bisa juga karena siang itu bukan akhir pekan.

Tanah merah bekas tapak sepatu menutupi lantai dan tangga berlapis semen. Di balik dinding besar yang menjadi pembatas RPTRA terdapat Ruang Terbuka Hijau Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara. Di sana pun tak banyak aktivitas terlihat. Hanya beberapa orang sedang duduk-duduk di area yang beratap.

Pemandangan di ruang terbuka hijau ini jauh lebih menarik. Dinding pembatas setinggi delapan meter dan panjang 23 meter itu berhias goresan grafiti 11 seniman yang memanjakan mata. Gambarnya beraneka rupa, ada bunga, bentuk kubisme, dan tokoh populer Popo, berwarna-warni.

Tak jauh dari tembok itu, terdapat lanskap amfiteater dengan sebuah karya seni di bawahnya. Sebanyak 12 plat besi yang bertekuk-tekuk menyerupai bentuk manusia tersebar di antara empat pilar tembok setinggi tiga meter.

Ke-12 "manusia" itu seolah -olah sedang berlomba-lomba menembus empat tembok itu. Ada yang terjatuh. Ada yang masuk dari celah sempit. Ada yang memanjat tembok. Mereka bergerak dari arah timur ke barat.

"Di antara kita masih ada Tembok Berlin," kata Teguh Ostenrik pada Kamis (02/11/2017) lalu di studionya, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Karya Menembus Batas di Kalijodo merupakan sebuah pemikirannya - kalau tidak bisa dibilang kritik - terhadap kondisi Indonesia yang masih terbelenggu dengan identitas suku, agama, dan ras (SARA).

Ia menunggu waktu 27 tahun untuk merealisasikan karyanya tersebut. Sejak Tembok Berlin di Jerman runtuh (1961-1989), Teguh telah bercita-cita membuat patung Menembus Batas itu.

Hidupnya sangat dekat dengan Negara Panser. Selama 16 tahun ia menempuh pendidikan dari sarjana strata satu hingga master, bekerja, dan berkarya di Berlin. Ia merupakan saksi hidup bagaimana sebuah tembok memisahkan suatu bangsa dengan sangat keji.

Saat tembok itu akhirnya runtuh, Teguh yang sudah menetap di Jakarta, segera kembali ke Berlin. Ia membeli empat segmen bekas runtuhan tembok itu dengan harga lebih dari Rp 100 juta per segmennya.

Tekadnya bulat untuk membuat kritik identitas bangsa ini yang masih terkotak-kotakkan. "Antara saya orang Jawa ada tembok dengan orang Sunda. Antara orang Ambon ada tembok dengan orang Cina," ujar Teguh. Sampai sekarang, menurut dia, hal itu masih terjadi.

Proposal pembangunan patung itu sempat ia ajukan ke Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto (1987-1992). Teguh membayangkan patung ini akan cocok ditempatkan di ruang publik. Ada yang menyarankan untuk memasangnya di Lapangan Banteng atau depan Museum Fatahillah.

Respon dari Wiyogo positif tapi tak tidak dengan bawahannya. "Saya lihat pegawai di kantor Gubernur saat itu menatap layar komputer semua tapi wajahnya kena cahaya warna hijau. Ternyata lagi main Tetris! Ha-ha-ha...," ujarnya.

Empat segmen Tembok Berlin itu ia simpan rapi di bengkelnya di Pamulang, Tangerang Selatan. Waktu pun berlalu. Kondisi bangsa ini ternyata tak berubah. Teguh semakin yakin relevansi patungnya dengan kondisi Indonesia.

Kerusuhan di Ambon pada 1999, kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, lalu yang terbaru pemilihan gubernur DKI Jakarta menjadi bukti kegundahan hatinya. Sampai akhirnya usai pemilihan gubernur yang berbuntut pada isu SARA itu berakhir, Teguh membongkar gudangnya dan menemukan pendonor yang mau merealisasikan patung itu.

Pada awal Oktober lalu, patung itu diresmikan. Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan grup band Slank hadir dalam acara itu.

Ketika ditanya apa alasannya harus menempatkan Menembus Batas di Jakarta. Teguh mengatakan, negara ini mirip dengan Amerika Serikat (AS). "Kalau taruh di Blitar, enggak ada yang tahu. Sama dengan AS, apa yang terjadi di New York, Los Angeles, dan San Fransisco penting. Kalau di Denver, tidak penting," katanya.

Di studionya yang asri Teguh bercerita soal perjalanan hidupnya kepada Fajar WH, Sorta Tobing, Kaniya Luthfiani, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo. Berikut kisahnya.

Patung Menembus Batas karya seniman kontemporer Teguh Ostenrik di Ruang Terbuka Hijau, Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara pada Selasa (07/11/2017). Karya ini merupakan buah pemikiran Teguh atas kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu isu suku, agama, dan ras.
Patung Menembus Batas karya seniman kontemporer Teguh Ostenrik di Ruang Terbuka Hijau, Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara pada Selasa (07/11/2017). Karya ini merupakan buah pemikiran Teguh atas kondisi bangsa Indonesia yang masih terbelenggu isu suku, agama, dan ras.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Lipatan dan sobekan

Hanya dua tahun ia belajar kedokteran di Universitas Trisakti, Jakarta. Setelah itu, ia merasa tak betah. Teguh hakulyakin menjadi dokter bukan tujuan hidupnya.

Ia lalu diam-diam bekerja menjadi sopir taksi Gamya. Orang tuanya - yang mengira anak keenam dari sembilan bersaudara itu masih kuliah - tak tahu pekerjaannya tersebut.

Sedikit demi sedikit uang ia kumpulkan untuk membeli tiket pesawat. Tujuannya, Jerman. Teguh ingin belajar seni di sana. Ketika itu usianya masih di awal 20 tahunan.

Semua gara-gara sebuah buku yang menampilkan karya pelukis era renaisans Matthias Grunewaldd. Teguh masih ingat menemukan buku itu di Goethe Institut, Matraman, Jakarta Pusat sekitar empat dekade silam.

"Waktu saya lihat buku itu, bagus banget. Saya langsung pengen sekolah seni di Jerman," kata bapak beranak empat itu.

Uang akhirnya berhasil ia kumpulkan. Malam sebelum berangkat, Teguh baru memberitahu kedua orang tuanya soal rencana tersebut. Ia tunjukkan paspor dan tiket pesawat, lalu pamit.

Sampai di Jerman, ia bingung karena tidak semua orang bisa berbahasa Inggris. Teguh butuh waktu satu jam untuk menemukan stasiun kereta api yang ia tuju.

Selama sebulan ia belajar bahasa negara itu. Untuk menyambung hidup, ia bekerja apa saja di Berlin. Dari mulai tukang cuci piring di restoran sampai profesi yang ia geluti sebelumnya, menjadi sopir taksi.

Di saat yang sama ia pun mencoba masuk ke jurusan seni rupa di Berlin Barat. Butuh empat semester sampai akhirnya ia berhasil masuk universitas di sana. "Setiap semester ada ujian masuk. Yang daftar seribu orang, Yang diterima 25 orang. Saya coba empat kali baru lulus," kata Teguh.

"Di antara kita masih ada Tembok Berlin."

Teguh Ostenrik

Tak ada yang bisa menghentikannya kala itu. Ia bertahan hidup sendiri. Begitu pun saat ini ketika usianya sudah menginjak kepala enam. Semangat dan kreativitas Teguh seolah tak terbendung. Termasuk karya di Menembus Batas yang harus ia tunggu 27 tahun agar terealisasi.

Pendidikan Jerman membentuk pola pikirnya. Teguh mengatakan, pendidikan seni di sana sangat kuat dengan filsafat Marxisme - sebuah paham dari filsuf Jerman, Karl Marx.

"Tapi bukan sebagai ideologi ya," kata Teguh. Semua yang terjadi di dunia ini, menurut pemikiran tersebut, ada sebabnya. "Ada dinamika materialisme," ujar pria berusia 67 tahun ini.

Karena itu, menurut dia, seorang seniman yang tidak menguasai teknik tak akan bisa bertahan lama. Teguh tak mengenal istilah wahyu, apalagi angan-angan kosong. Seniman harus belajar mengobservasi benda.

Sampai sekarang Teguh masih mempelajari dua hal tersebut, teknik dan observasi. "Dari lekukan baju saja bisa jadi inspirasi," katanya. Tak heran karya patung dan lukisannya selalu terlihat dinamis meskipun beraliran abstrak.

Awal kariernya, Teguh berkutat pada seni lukis. Sekitar awal 2000, ia mulai intens masuk ke seni patung. Penyebabnya sepele. Gara-gara sebuah telpon dari kawannya, sesama seniman, Iriantine Karnaya.

"Dia ajak saya gabung jadi anggota Asosiasi Pematung Indonesia," kata Teguh. Setelah dua bulan menunggu, ia ternyata ditolak masuk. "Saya tidak tahu alasannya. Tapi sejak itu saya kerja keras menghasilkan karya patung," ujarnya.

Di Menembus Batas, 12 plat besi setebal 2,5 sentimeter bisa ia tekuk seperti kertas. Lipatan itulah yang membuat orang bisa tahu kalau patung-patung itu merepresentasikan manusia yang bergerak.

Karyanya yang lain seperti serial patung perunggunya yang bertema Sarung. Ia bisa membuat perunggu terlihat seperti sehelai kain yang menarik tubuh manusia.

Ada lagi patung perunggu karya Teguh berjudul Compassion. Patung itu ia selesaikan pada 2005 untuk Gereja St. Mary of Angels di Singapura. Bentuknya adalah tubuh Yesus dengan tangan terentang seperti sedang disalib. Tapi tak ada salib di belakangnya.

Teguh meletakkan patung ini di tengah-tengah gereja dalam posisi melayang. Yang menarik, alih-alih menampilkan Yesus dalam wajah kaukasian dan berbadan mulus, ia justru membuat sebaliknya.

Tubuh Yesus dari kepala hingga kaki Teguh buat seperti tercabik-cabik. Menurut dia, tubuh yang rusak itu lambang lebih dari 500 cambukan yang diterima Yesus sebelum disalib.

Compassion ia buat seperti berkarat dan kusam sehingga terlihat menyeramkan sekaligus menyedihkan. Tapi kalau mau dicermati lebih dalam, patung ini justru ingin membuat orang yang melihatnya merasakan inti pengajaran Yesus, yaitu belas kasih.

Ketika membuat patung itu, Teguh belum menganut Katolik. Ia mengaku jadi cukup bebas memaknai dan menafsirkan kejadian dari Alkitab. Ada yang menentang keberadaan patung itu. "Yang enggak suka itu usianya di atas 45 tahun ke atas," katanya. Tapi jemaat yang berusia lebih muda justru mendukungnya.

Gara-gara Compassion, Teguh menerima order lagi untuk membuat patung Yesus di Gereja Katolik St. Yohanes Maria Vianney di Cilangkap, Jakarta Timur. Kali ini, ia memakai material limbah logam untuk menampilkan tubuh Yesus yang tersalib.

Dari kepala hingga kaki, lagi-lagi, terlihat compang-camping dan penuh karat. Semuanya berasal dari tambalan barang bekas, mulai dari rantai, roda gigi, sekrup, baut, dan lempengan logam. Material limbah itu ia dapat dari sebuah tempat pemilahan sampah tak jauh dari studionya di Cilandak Barat.

Beberapa karya patung Teguh Ostenrik:
Kiri: Santo Fransiskus di studionya, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Tengah: Patung Jalan Salib di Manado, Sulawesi Utara.
Kanan: Tekstur patung Teguh Ostenrik.
Beberapa karya patung Teguh Ostenrik: Kiri: Santo Fransiskus di studionya, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Tengah: Patung Jalan Salib di Manado, Sulawesi Utara. Kanan: Tekstur patung Teguh Ostenrik.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Cinta seni dan lingkungan

Beberapa kali Teguh memakai limbah untuk membuat karyanya. Ini bukan caranya untuk mengikuti tren menjadi hijau. Tapi sejak lama ia mengaku sebagai orang yang peduli pada lingkungan.

Di studionya, tak ada mesin pendingin. "Saya tidur telanjang," kata pria yang identik dengan baju coverall berbahan jin dan kacamata hitam itu. Saat tinggal di Jerman ketika musim dingin, ia tak memasang mesin pemanas. "Saya buka saja jendelanya sedikit," ujar Teguh.

Saat kami baru berjumpa dan memberikan kartu nama, Teguh terlihat segan menerimanya. Menurut dia, benda itu tak ramah lingkungan karena membuang kertas. "Saya sudah 20 tahun tidak punya kartu nama," ujarnya.

Kecintaannya pada lingkungan itu membuat Teguh sampai menenggelamkan karyanya ke dasar laut. Ini bukan caranya mencari sensasi, apalagi kontroversi. Sejak tiga tahun lalu, melalui Yayasan Terumbu Rupa yang ia dirikan, Teguh melakukan itu supaya karyanya bisa menjadi rumah bagi biota laut.

"Pada 2050 manusia tidak bisa bernafas. Menurut scientist, oksigen di dunia tinggal tiga persen," katanya. Semua terjadi karena kepunahan terumbu karang. Padahal, ia melanjutkan, 70 persen oksigen manusia berasal dari biota laut tersebut.

Karya seni Teguh yang sudah berada di laut saat ini adalah Domus Musculi atau rumah siput di Kepulauan Seribu, Domus Longus atau rumah panjang di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Domus Piramidis Dogong atau rumah piramida dugong di Pulau Bangka, Sulawesi Utara, dan Domus Sepiae atau rumah cumi-cumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Untuk membuat semua itu, Teguh membutuhkan perhitungan yang tepat. Ia bekerja sama dengan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu agar instalasi seninya dapat berdiri tegak mengatasi guncangan ombak dan berhasil menumbuhkan terumbu karang.

Satu karya seni di bawah laut tersebut tidak murah kalau dihitung secara nominal. Rp 300 juta. "Murah sebenarnya kalau menghitung benefit-nya," kata Teguh.

Soal dana, semua berasal dari sumbangan kawan-kawannya. Bahkan Teguh rela mengeluarkan kocek pribadi. Setelah menyelesaikan patung untuk gereja di Cilangkap, ia melakukan hal itu. "Rp100 juta saya cemplungin ke laut," ujarnya tertawa.

Ia mengaku sudah mendapat pujian tertinggi dari alam dari hasil karyanya tersebut. Di Lombok, sebagai proyek ARTificial Reef yang pertama, ikan barakuda mulai berdatangan di sekitar Domus Sepiae. "Itu predator, berarti dia sudah mampir ke "warung Tegal" kan karena banyak makanan. Jadi berhasil," katanya.

Karyanya tak akan berhenti di situ. Teguh masih memiliki banyak proyek yang belum terselesaikan. Sekarang dia sedang menyelesaikan pekerjaan rahasia di Sumatera Utara. Untuk ARTificial Reef sudah ada 10 titik yang bakal menjadi lokasi selanjutnya. Ia juga bakal membintangi sebuah film karya sutradara Richard Oh.

Selama 45 tahun berkarya, menurut dia, tak ada istilah bakat. "Yang ada komitmen dan kerja keras," ujarnya.

Perkataannya itu menjadi menarik ketika melihat garis keturunannya. Teguh, yang keturunan Solo, Jawa Tengah, memiliki seorang kakek yang bekerja sebagai tukang gambar di keraton.

Setelah perang dunia pertama, ada seorang pangeran Austria yang datang ke kota itu. Sang kakek lalu membuat lukisan wajah pangeran tersebut. Hasilnya memuaskan dan memberikan nama Osterreichisch untuknya. Artinya, orang Austria.

Ayah Teguh masih memakai nama belakang itu hingga dirinya bekerja sebagai polisi. Ia dekat dan seangkatan dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Hoegeng Imam Santoso (1968-1971).

Suatu hari Presiden Sukarno (1945-1967) memanggilnya. "Ayah saya disuruh ganti nama sama Bung Karno, tapi dia enggak mau. Jadi cuma ganti ejaannya," kata Teguh. Nama itu berubah menjadi Ostenrik, yang sampai sekarang dipakai oleh Teguh.

Seniman kontemporer Teguh Ostenrik berpose di studionya, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/11/2017).
Seniman kontemporer Teguh Ostenrik berpose di studionya, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/11/2017).
© Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 09 November 2017

Teguh Ostenrik

Nama:

Respati Teguh Santoso Ostenrik

Tempat, tanggal lahir:

Jakarta, - 1950

Pendidikan:

  • Akademi Grafis Lette Schule, Berlin Barat, Jerman Barat (1972)
  • Sarjana strata satu Jurusan Seni Rupa Murni, Hochschule der Kunste, Berlin Barat, Jerman Barat (1974)
  • Meraih gelar master, Hochschule der Kunste, Berlin Barat, Jerman Barat (1980)

Karier:

  • Bekerja di Art Drawings Studio, Amsterdam, Belanda (1981)
  • Mendirikan Atelier di Koln, Jerman (1982)
  • Selama empat bulan melakukan studi seni komparatif di Indonesia (1984)
  • Kembali ke Jakarta, Indonesia pada 1988
  • Mendirikan C-LINE Gallery, Jakarta, Indonesia (1989-1994)
  • Pemilik Galeri Teguh, Jakarta, Indonesia (1995-2003)
  • Pemilik Bilik 3Darma, Jakarta, Indonesia (2004-sekarang)
  • Pendiri Yayasan Marsini Budaya (2010)
  • Pendiri Yayasan Terumbu Rupa (2015)

Beberapa pameran solo yang pernah dilakukan:

  • "Look At Me", pameran lukisan dan patung, Nadi Gallery, Jakarta Indonesia (2005)
  • "Compassion", Gereja St. Mary of the Angels, Singapura (2005)
  • "Kamasutra Femmes", pameran lukisan dan patung, East & West Gallery, Melbourne, Australia (2007)
  • "NEO", pameran lukisan, Koong Gallery, Jakarta, Indonesia (2008)
  • "deFACEment", pameran lukisan dan patung, Alpha Utara Gallery, Penang, Malaysia (2008)
  • "10x10: An Accidental Autobiography", AOD Artspace, Jakarta, Indonesia (2009)
  • "deFACEment", pameran lukisan dan patung, Ide Global Art, Jakarta, Indonesia (2009)
  • "Sarong - Identity?", pameran lukisan dan patung, Galeri Semarang - JAD, Jakarta, Indonesia (2010)
  • "deFACEment", pameran lukisan dan patung, Tembi Contemporary, Yoyakarta, Indonesia (2010)
  • "Linea Nigra", pameran lukisan dan patung, CG Artspace, Jakarta, Indonesia (2010)
  • "Domus Sepiae", Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat (2014)
  • "Menembus Batas", Kalijodo, Jakarta, Indonesia (2017)

Beberapa pameran bersama yang pertama dilakukan:

  • "White Cube", CGartspace, Jakarta, Indonesia (2010)

  • "Halimun", Lawangwangi Artspace, Bandung, Indonesia (2010)

  • "Ekspansi", Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia (2011)
  • "1001 doors", Jakart Contemporary Art+Craft+Design, Ciputra Marketing Gallery, Jakarta, Indonesia (2011)
  • "Jakarta Pameran Sketsa", Bentara Budaya Jakarta, Indonesia (2012)
  • "ICAD", Grand Kemang, Jakarta, Indonesia (2013)
  • "Horizon of Strength", Kunstring Paleis, Jakarta, Indonesia (2013)
  • "Basuki Abdullah", Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia (2015)
  • "Manifesto 5", Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia (2016)
  • "Minimal Moments", Galerie Musnadi-WEskamp, Jerman (2016)
  • "Art for Purpose", United Nation Day, Museum Nasional, Jakarta, Indonesia (2016)
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.