Toien Bernadhie Radix Akassa, seorang pengusaha gitar Indonesia, ketika berpose untuk Beritagar.id di ruang kerjanya di Kawasan Industri Jatake, Tangerang, Rabu (27/2/2019)
Toien Bernadhie Radix Akassa, seorang pengusaha gitar Indonesia, ketika berpose untuk Beritagar.id di ruang kerjanya di Kawasan Industri Jatake, Tangerang, Rabu (27/2/2019) Wandha Saphira / Beritagar.id
FIGUR

Toien Radix menolak dipanggil empu gitar

Toien Bernadhie Radix dikenal melahirkan brand gitar tangguh. Berangkat dari usaha jam kayu.

Memang belum terdengar ada orang melabelinya empu gitar. Jangan-jangan itu cuma akal-akalan saya demi mencari frasa elok untuk judul.

Namun, dia lazim dicap sebagai luthier. Kata berakar dari bahasa Prancis. Diarahkan bagi mereka yang jago merakit atau mereparasi instrumen berdawai. Salah satunya gitar.

Karyanya sudah dipakai oleh tak sedikit gitaris jawara. Eet Sjahranie, Edwin Marshal Syarif (Cokelat), Iga Massardi (Barasuara), Rama Satria Claproth, Farri Icksan Wibisana (The S.I.G.I.T), Sansan (Pee Wee Gaskins), untuk menyebut beberapa nama.

Di luar negeri, seorang pemakainya Jan Akkerman. Gitaris asal Belanda. Di masa lalu, Jan dianggap pernah melampaui kehebatan Eric Clapton, Jeff Beck, atau Jimmy Page.

Rabu siang (27/2/2019) itu, saya bertanya kepadanya di kantornya yang berpendingin udara dan dipenuhi buku-buku, "Anda patut disebut empu gitar?" Dia balik bertanya, "Kenapa harus disebut begitu?" Saya jawab, "Anda sangat ahli, seperti juru tempa keris yang sudah mahir benar dan biasa dipanggil empu".

Masalahnya, ujarnya sembari menarik punggungnya yang sedari tadi menempel di sandaran kursi, "Saya sudah enggak mengerjakan sendiri. Saya sengaja untuk tidak mengerjakan sendiri karena tidak mau tersandera untuk jadi tukang gitar".

Untuk memberi garis tebal pada cetusan itu, dia menyampaikan sebuah perumpamaan. Jika ingin membuat lingkaran, ujarnya, dia bakal memilih yang paling praktis. Taruh paku di tengah medium, sambungkan dengan tali dan pensil, lalu gerakkan. Niscaya goresan melingkar sempurna.

"Saya menolak untuk bikin dengan berlatih cara membuat lingkaran (hingga bundar)," katanya. "Konsepnya tetap mass production dengan beberapa pekerja yang mengerjakan tugasnya masing-masing," ujarnya.

Usai lisannya meloloskan kata-kata itu, saya mengalihkan fokus mata saya ke tulisan di kaus oblong hitamnya. Untuk ke sekian kali. Di sana terpacak selarik slogan yang belakangan sering muncul di akun promosi bisnis gitarnya di Instagram: Play Confident, Doubtlessly.

Posisi untuk tak sekadar menjadi 'tukang'--yang menonjolkan keagungan craftmanship atawa keempuan--jelas mencerminkan semboyan pendek itu. Semua adalah tentang kepercayaan diri. Confidence. Keyakinan yang bersumber dari olah pengalaman bertahun-tahun. Kecakapan teknis plus kehendak meningkatkan skala usaha.

Dan pernyataan "tak ingin tersandera" itu memang terbukti.

Beberapa menit sebelum saya dan Yandi M. Rofiyandi, serta tim visual Beritagar.id, Aditya Nugraha, Tri Aryono Maelite, dan Wandha Saphira, mewancarai Toien di ruang kerjanya, dia mengajak kami mengelilingi pabrik gitarnya--yang dia tolak untuk sebut pabrik atau workshop-- di Kawasan Industri Jatake, Tangerang.

Fasilitas itu berada sekitar 20 meter dari kantornya. Tetapi, masih terletak di kompleks sama.

Pelang bertulis "Radix Guitars" menempel di muka koridor utama. Hulu dari berbagai ruang di dalam pabrik yang memerangkap aroma kayu sebagai bau dominan.

Pabrik itu menerapkan alur produksi rapi. Masing-masing pos diisi petugas saklek. Tanpa tumpang tindih. Efisien.

Ada yang pekerjaannya cuma mengecat. Ada yang memastikan leher gitar halus. Ada pula yang hanya menggosok tubuh gitar hingga mengilap. Dan seterusnya.

Namun para spesialis itu tak dihadapi Toien Radix dengan berkacak pinggang. Macam mandor perkebunan di film-film lama. Dia tetap turun memeriksa kualitas material. Masih mau mengotori tangan. Malah saya lihat hidungnya dibiarkan telanjang begitu saja, tanpa masker.

Semuanya mengalir, termasuk mengajak Joko Widodo nonton musik

Ya, Joko Widodo yang kadung beken sebagai Jokowi itu.

Toien Bernadhie Radix Akassa, nama tulen pria asli Mojokerto, Jawa Timur, itu dulu berkuliah di tempat yang sama dengan sang Presiden RI. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Awal dekade 1980-an. Pak Jokowi berada dua angkatan di atasnya.

Toien Bernadhie Radix Akassa berpose di fasilitas produksi Radix Guitars di Tangerang, Rabu (27/2/2019)
Toien Bernadhie Radix Akassa berpose di fasilitas produksi Radix Guitars di Tangerang, Rabu (27/2/2019) | Wandha Saphira /Beritagar.id

"Dia ikut ngospek saya juga. Beberapa kali interaksi dengannya. Karena dia juga senang musik dan naik gunung. Tapi ya dia orangnya diam. Kayak gitulah," katanya.

Toien sekali mendaki Lawu (3.265 meter di atas permukaan laut) bersama Jokowi, tapi mangkir dari pendakian bareng ke Rinjani.

Di luar itu, dia juga sering mengajak Jokowi menonton pertunjukan musik di kampusnya.

"Dulu kalau kami nge-band, dia selalu ikut. Kalau ada malam kesenian di fakultas, orang bisa masuk tanpa (bayar) kalau ikut rombongan band," ujarnya.

Kelompok musiknya memainkan lagu-lagu gubahan KISS, grup rock asal Amerika Serikat. Alasannya simpel saja. Lagu-lagu KISS tak butuh keyboardist.

"Kalau mau pakai keyboard, harus orang kaya. Nyari teman orang kaya susah," katanya.

Pria bertarikh lahir 1964 itu sedari mula tak merasa datang dari keluarga kaya. Orang tuanya guru. Begitu pula kakek dan neneknya. Namun, ketimbang ibunya, masa kerja sang ayah sebagai pengajar lebih pendek.

"Bapak lebih ke arah, kalau sekarang, Kementerian Pendidikan," ujarnya. "Ada wirausaha juga. Kecil-kecilan".

Usaha ayahnya itu berkaitan dengan penyewaan kendaraan. Usaha yang menyeret Toien untuk lekat dengan odometer. Tiap kali mobil masuk garasi, dia akan diminta mencatat angka di odometer. Catatan tersebut dipakai untuk mengukur daya jangkau kendaraan hari itu. Kelar mencatat, dia akan menerima upah.

Namun, tugas anak tengah dari enam bersaudara itu tak hanya dalam urusan kendaraan. Tapi juga perkara domestik lain.

"Kalau ada tamu yang disuruh bikin kopi atau teh saya doang. Pokoknya, bagian disuruh-suruh," katanya.

Di sisi lain, ayahnya membebaskan Toien. Sejak kanak. Dia diharapkan dapat berjalan sejauh mungkin dari rumah. Tanpa tahu harus berujung di mana.

Karenanya, dia tak berada dalam tekanan untuk membuktikan sesuatu atau bahkan membalas jasa.

"Akhirnya mengalir aja. Terus dalam keseharian juga begitu. Mengalir. Orang bilang mungkin kayak enggak punya target apa-apa. Tapi saya enggak begitu," ujarnya.

Ke Jakarta dan merintis bisnis gitar listrik

Lepas SMA di Surabaya dan berkuliah di Yogyakarta, Toien menengok ke ibu kota negara. Kali pertama tiba di Jakarta, hatinya masih ciut. Baginya, kota itu terlalu 'besar'. Dia butuh katalis untuk menggelembungkan kepercayaan diri. Pendidikan lanjutan masuk hitungan itu.

"Tiga (tempat) saya masuk (saringan). Tapi yang memberi beasiswa cuma IPPM. Di situ saya sekelas dengan teman-teman dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, jadi pe-de mulai tumbuh. Kalau enggak kayak gitu, saya merasa enggak cukup," katanya.

Toien Bernadhie Radix Akassa memangku gitar seri Jarvis Telemaster dengan warna red cherry heritage yang menjadi signature Gede Robi Supriyanto, gitaris grup rock asal Bali, Navicula, Rabu (27/2/2019)
Toien Bernadhie Radix Akassa memangku gitar seri Jarvis Telemaster dengan warna red cherry heritage yang menjadi signature Gede Robi Supriyanto, gitaris grup rock asal Bali, Navicula, Rabu (27/2/2019) | Wandha Saphira /Beritagar.id

IPPM kampus manajemen ternama di Jakarta Pusat. Kini bersalin nama menjadi PPM Manajemen. Dari sana, Toien membawa pulang gelar magister administrasi bisnis.

Meski kapasitas dirinya bertambah, tak berarti problem selesai. Soal utama Toien, program beasiswa itu berstatus utang. Jadi, menjelang lulus pada 1989, dia tersambar stres.

Toien mesti melunasi kredit, yang setahun besarnya Rp5,5 juta. Dalam ingatan Toien, waktu itu gaji satu juta koma sekian untuk lulusan anyar universitas terbilang besar. Upah rata-rata sarjana masih Rp250 ribu.

Lulus dari IPPM, dia sempat bekerja di Ika Muda. Grup usaha yang salah satu pemiliknya Soetrisno Bachir. Nama yang di kemudian hari menjadi salah satu Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).

Dia juga beberapa kali merintis bisnis sendiri. Dan gagal.

Tetapi, pada akhir 1998, jalan menuju ke pengekalan reputasi terbuka. Pangkalnya adalah pertemuan dengan anak pemilik pabrik jam Orient di Indonesia. Dia diajak jadi mitra urusan teknis. Produk akhirnya, jam kayu berjenama Wellington. Mesinnya mereka beli dari Seiko, pabrikan jam kenamaan Jepang.

Toien Bernadhie dan bisnis gitarnya /Beritagar ID

"Tadinya mau merancang ekspor-impor furnitur. Ambil dari Jepara dan daerah lain. Dia tetap stay di Amerika Serikat, saya mengurusi di sini. Tapi ternyata tidak semudah itu," ujarnya.

Pada 2002, beberapa tahun setelah usaha jam berjalan, Toien Radix iseng merakit gitar listrik. Tanpa model. Dia pakai fasilitas produksi Wellington. Rancangan gitar bersandar pada brosur-brosur yang sempat dia cari di internet pada pertengahan 1990-an.

Dia sempat menyewa sebuah tempat di Jakarta Timur untuk membangun prototipe. Seiring waktu, tujuh seri gitar listrik mewujud. Total unit yang dia bikin lebih dari 50. Dan menurutnya, tak satu pun gitar-gitar itu keren. Dia malah menyebut produk-produknya lebih cocok dijadikan hiasan dinding.

Namun, pertemuan dengan Mohammad Ridwan Hafiedz pada 2003 mengubah segalanya.

Dari Marlique ke Radix

Perjumpaan dengan sosok yang lebih dikenal sebagai Ridho Slank itu difasilitasi jejaring seorang kawannya. Toien tak menolak bertemu karena sempat berpikir bahwa industri pembuatan gitar sarat promosi. Muskil untuk maju tanpa promosi dan kehadiran nama besar.

Di gedung Musica Studio, Pancoran, Jakarta Selatan, dia dan Ridho berdiskusi. Keduanya sepakat melakukan desain ulang dan memberikan merek baru. Ridho mengajukan nama: Marlique. Semacam portmanteau dari nama anaknya, Marco Malik.

"Saya bikin prototipe, saya bikin foto, saya bikin brosur. Waktu itu SMS masih ada. Ada orang minta brosur lewat SMS. Bikin website. Pakai bahasa Indonesia, tapi sebentar banget. Langsung saya bikin pakai bahasa Inggris," ujarnya. "Trademark saya yang megang".

Pada 2004, Toien mengikuti pameran musik. Produknya mengail banyak mata. Pesanan mengalir. Termasuk permintaan untuk menyokong Sony Ismail Robbayani, gitaris grup rock baru Indonesia, J-Rocks. Toien mengiyakan. Padahal dia belum tahu jenis musik yang dimainkan Sony.

Kayu badan Marlique memakai kayu lokal, mahoni. Lehernya maple. Masih impor. Pick-up pakai Tesla asal Korea Selatan. Tapi dia sudah berani mengampanyekan gitar itu made in Indonesia.

"Saya memang bukan pionir pembuat gitar di Indonesia. Tapi saya pionir dalam mengeluarkan brand (gitar listrik) sendiri," katanya.

Marlique tak hanya beredar di dalam negeri. Ia bisa ditemui di Denmark, Australia, Norwegia, Kanada, Swiss.

Sialnya, ketidakcocokan mengakhiri kongsi tersebut. Pada 2009, Toien meluncurkan Radix. Penegasannya tidak sengaja terlontar. Pada acara musik Java Jazz tahun itu, Jean-Paul "Bluey" Maunick, gitaris kelompok jazz Inggris, Incognito, menanyainya tentang kemungkinan memakai produk Toien.

"Dia nanya, sebenarnya lo Marlique atau Radix? Terus saya bilang, Radix. Sebelumnya memang sudah pasang logo Marlique dan Radix," ujarnya. Nama Radix diusulkan oleh Sony J-Rocks. Dicomot dari nama belakang Toien.

Waktu Radix muncul, skala bisnis gitar Marlique sudah lumayan besar. Gitaris yang menjadi endorser sudah banyak. Pada 2006-2007, produksi sedang bagus-bagusnya. 250-300 unit sebulan. Media sosial belum populer. Smartphone belum tumpah. Masih banyak orang main band. Kata Toien, anak-anak kalau naik kelas dihadiahi gitar.

"Sekarang sebulan paling (produksi) 30-40 unit. Media sosial sudah masuk. Tidak ada yang bisa mengalahkan daya tarik gadget. Anak saya bahkan ngomong, 'Sekarang masih ada anak nge-band?'" katanya.

Dari jumlah itu, rasio ekspor dan impor separuh-separuh. Ekspor tinggal ke Belanda saja. Sementara negara lain seperti Amerika Serikat, bersisa konsumen individual. Distributor kini hanya di Belanda.

Namun, Toien Radix tak putus harapan. Dia melihat jika ada surut, pasang bakal datang di lain waktu. Setidaknya, brand yang dia upayakan sejak lama sudah tertancap di banyak benak gitaris. Dan jenama itu sudah dilindungi hak paten, yang senantiasa dia perbarui.

Sudah begitu, secara teknis, kecakapan kriya orang Indonesia, menurutnya, susah dicari lawannya. Walau yang menjadi perkara besar, gitar bukan budaya setempat. Berbagai spesifikasi sudah ditentukan dari Barat. Material tertentu tak tersedia di sini. Kayu maple, contohnya.

"Tapi jangan muluk-muluk. Idealnya, gimana bisa menjadi industri yang melayani gitaris-gitaris Indonesia. Anak-anak Indonesia dibikin bangga memakai produk negeri sendiri tanpa menjadi cengeng,"ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR