Tyovan Ari Widagdo, CEO Bahaso yang masuk dalam daftar
Tyovan Ari Widagdo, CEO Bahaso yang masuk dalam daftar "30 Under 30" dari Forbes Asia 2017, berpose di depan kamera seusai berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (25/04/2017). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Tyovan Ari Widagdo, jalan Tuhan untuk Si Peretas Insaf

Memulai usaha ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Uang bukan tolak ukurnya dalam meraih sukses.

Hidupnya bagaikan lakon happy ending film Hollywood. Seorang anak muda yang awalnya tak punya apa-apa, mencoba memulai sebuah usaha, belajar otodidak, sampai akhirnya berhasil memimpin perusahaan rintisan. Namanya kemudian masuk sebagai pengusaha muda yang sukses dalam daftar 30 Under 30 Forbes Asia 2017.

Cerita ini menjadi lebih dramatis lagi ketika melihat latar belakangnya yang berasal dari orang tua penjual kupat tahu di Wonosobo, Jawa Tengah. Mereka harus berdoa siang-malam untuk menyekolahkan anak hingga sarjana. Begitu kata Tyovan Ari Widagdo menggambarkan kehidupan ekonomi keluarganya.

Tapi ia tak pernah menganggap kekurangan itu menjadi rintangan. Tak heran, ia jarang sekali menceritakan hal-hal sentimental soal masa lalunya. Uang pun tak pernah mejadi motivasinya dalam bekerja. Ia justru ingin berbuat sesuatu yang berdampak besar ke masyarakat.

Wonosobo, kota yang letaknya sekitar 120 kilometer dari Semarang, menjadi saksi perjuangan Tyovan dari nol. Cerita bermula saat ia remaja, ketika kota itu hanya memiliki dua warung internet (warnet). Dalam seminggu, dua sampai tiga kali ia menghabiskan waktunya di warnet.

Kalau sudah di warnet, ia tak ingat waktu. Padahal, tarifnya Rp7 ribu per jam, sementara uang sakunya hanya Rp5 ribu per hari. "Buat internetan cuma setengah jam tok, itu aja enggak dapat es teh. Ha-ha-ha...," ujarnya dalam logat Jawa yang kental.

Ia tak hilang akal. Berbekal bacaan dari dunia maya dan buku-buku di perpustakaan daerah, ia belajar meretas secara otodidak. Catatan tagihan warnet yang seharusnya berisi enam jam pemakaian, bisa ia ganti jadi hanya sejam. "Pengunjung warnetnya ramai, jadi saya tidak ketahuan sudah lama di sana," kata lajang berusia 27 tahun itu.

Kemampuan meretasnya meningkat. Situs jual-beli di Belanda dan sebuah sekolah menengah atas favorit di Jakarta Barat pernah menjadi korbannya. Membobol kartu kredit pun bukan perkara sulit baginya. Untuk mengecek kartu tersebut aktif, ia masuk ke situs porno. Kalau bisa jadi premium membership, berarti bisa dipakai.

Tapi semua kemampuan itu tak ia pakai untuk memperkaya diri. "Sebagai hacker, kalau bisa membobol itu puasnya minta ampun," ujar laki-laki berumur 27 tahun itu. Di satu titik terasa puas, namun di sisi lain ia pun bosan setelah dua tahun melakukannya.

Setelah sukses jadi hacker, Tyovan beralih menjadi pengusaha. Ia merintis perusahaan pertamanya ketika berumur 16 tahun. Sebuah perusahaan penyedia jasa teknologi informasi bernama Vemobo.

Lalu, ia mendirikan perusahaan penyedia aplikasi untuk belajar bahasa asing, Bahaso, pada 2015. Baru dua tahun berjalan, bisnis ini mendapat suntikan dana sebesar US$500 ribu atau Rp6,6 miliar. Penggunanya sekarang mencapai 150 ribu orang.

"Kalau mau melakukan hal besar yang berdampak ke masyarakat, Tuhan pasti kasih jalan," kata pria yang akrab dipanggil Tyo atau Topan itu. Dalam dua jam pembicaraan ia menyebut tiga kali dua kata itu dalam satu kalimat, Tuhan dan jalan. Kesuksesan tak membuatnya jemawa, seolah apa yang ia lakukan belumlah sampai puncaknya.

Ia ramah bercerita kepada kami, Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, di kantor Bahaso Building, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Selatan. Banyak anekdot dan komentar lucu terucap dari mulutnya. Kadang ia tertawa terbahak-bahak mengingat masa lalunya.

Tyovan Ari Widagdo, CEO Bahaso yang masuk dalam daftar "30 Under 30" dari Forbes Asia 2017, saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (25/04/2017).
Tyovan Ari Widagdo, CEO Bahaso yang masuk dalam daftar "30 Under 30" dari Forbes Asia 2017, saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (25/04/2017). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dari skors ke KTP palsu

Perjalanan hidupnya berubah setelah ia menerima skors dari kepala sekolahnya di SMA 1 Wonosobo. Selama dua minggu ia tak boleh mengakses laboratorium komputer. Penyebabnya, virus yang ia buat, Pelajar, tersebar hingga ke seluruh komputer sekolah.

Virus ini bisa mengubah nama folder dari komputer yang terinfeksi menjadi nama-nama mata pelajaran, seperti matematika, fisika, dan lainnya. Ia tak lepas tangan dalam kasus ini. Antivirus untuk menangani Pelajar ia berikan gratis kepada yang membutuhkan.

Ketika itu Tyovan sangat perlu mengakses komputer demi misi penting, yaitu membuat situs wonosobo.com. Kalau terus-menerus ke warnet, uang saku bisa ludes tak berbekas. Lagi-lagi, Tyovan tak hilang akal.

Kebetulan ketika itu sekolahnya sedang mendirikan klub broadcasting radio. "Komputernya canggih banget," ujarnya. Ia bertekad untuk masuk ke dalam ruangan tersebut apa pun caranya. Masuk menjadi pengurus merupakan target Tyovan berikutnya. Pelatihan selama tiga hari dan mengikuti lomba menjadi penyiar membuahkan hasil.

Tak hanya menjadi pengurus, Tyovan juga juara pertama dalam perlombaan tersebut, otomatis dia menjadi ketua klub dan pemegang kunci ruangan berkomputer itu. "Ini jalan Tuhan," ujarnya.

Ia mengerjakan wonosobo.com gara-gara teman-teman bicaranya di Yahoo!Messenger yang berada di luar negeri tak bisa mengakses informasi tentang Wonosobo. Padahal banyak dari mereka ingin datang ke Indonesia untuk berwisata.

Akhirnya, ia memecahkan celengan berisi Rp100 ribu untuk membeli situs. Selama dua bulan, ia menyelesaikan desainnya. Tak jarang, Tyovan terpaksa menginap di sekolah. Desainnya kelar, masalah selanjutnya adalah data.

Karena situs ini berisi potensi kota dan pariwisata Wonosobo, semua data hanya bisa ia peroleh dari pemerintah daerah. Jadi, setiap pulang sekolah ia mendatangi suku dinas setempat untuk mendapatkannya. Semua menolak.

Sampai akhirnya ia menemui bagian hubungan masyarakat, barulah ia mendapatkan bantuan. Portal telah terisi dan Tyovan pun meluncurkannya di depan kepala satuan kerja perangkat daerah.

Ia masih ingat acara peluncuran itu berlangsung ketika masa ujian semester. Tyovan datang dengan seragam sekolah. Hari berikutnya, nama dan fotonya terpampang di koran lokal setempat. Para guru dan teman-teman di sekolahnya terkejut karena mereka hanya tahu Tyovan sebagai anak bandel yang selalu terlambat masuk kelas pagi.

Portal ini sukses karena banyak yang mengakses. Tyovan memang berharap dengan kontribusinya itu aktivitas ekonomi di dataran tinggi Dieng bisa bergeliat lagi. Penduduk tak lagi bercocok tanam kentang yang kerap menghancurkan unsur hara tanah, tapi kembali ke pariwisata.

Pengunjung yang bertambah, membuatnya tersadar harus ada pemasukan untuk kelangsungan hidup situs. Iklan pertama ia dapat dari sebuah hotel dan restoran bernama Asia senilai Rp2 juta. Semua pendapatan itu ia gunakan untuk operasional.

Tak puas dengan data, Tyovan lalu ingin mengembangkan situs wonosobo.com menjadi portal berita. Ia menghubungi wartawan yang memuat kisahnya di surat kabar. "Saya bilang ke dia mau belajar jadi wartawan," katanya.

Kadung sudah ingin, tak ada aral yang bisa merintanginya. Selama tiga bulan, setiap pulang sekolah ia ikut liputan, mewawancarai narasumber, menulis, dan mengunggahnya ke wonosobo.com. Dari sinilah ia menemukan dunia jurnalistik yang menjadi renjananya. "Ibaratnya, kalau tidak jadi Tyovan sekarang, saya mau jadi jurnalis," ujar Tyovan.

Jalan Tuhan untuk Si Peretas Insaf /Beritagar ID

Keberhasilannya mengelola situs membuat Tyovan harus mengorbankan pelajaran di sekolah. Rangking dua terbawah adalah posisi terbaiknya kala itu. Tapi orang tua tak pernah memarahi kesibukan Tyovan. Mereka membebaskannya berbuat apa pun asalkan bukan hal negatif.

Berhasil dengan wonosobo.com, semakin banyak orang mencarinya untuk minta dibuatkan situs di dunia maya. Biaya yang ia peroleh mulai dari Rp1 juta sampai Rp3 juta. Tyovan tak merasa pas-pasan lagi hidupnya.

Pada 2007 datang proyek paling besar dalam hidupnya kala itu. Ia hanya menyebut sebuah instansi pemerintah minta dibuatkan portal. Total proyek ini mencapai Rp25 juta. Tentu Tyovan tak kuasa untuk menolak. Tapi ia terkendala masalah administrasi karena tak memiliki badan usaha.

Ia pergi ke notaris untuk membuat perusahaan bernama CV Vemobo yang bergerak di bidang perangkat lunak dan teknologi informasi. Kala itu, Wonosobo belum pernah mendirikan perusahaan seperti ini. Sang notaris hanya berkata bagus, keren, dan memintanya pulang.

Hal itu tak mengecilkan hatinya. Secara umur memang ia belum bisa mendirikan perusahaan. Dan sekali lagi, ia mencari akal. Ia kembali ke dunia retas untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP), tentu saja, palsu. Setelah itu, ia kenakan baju kemeja yang bagus, pergi ke notaris berbeda, untuk membuat perusahaannya.

Dan, berhasil. Perusahaan tersebut ia namakan CV Vemobo Citra Angkasa. Proyek Rp25 juta itu pun ia selesaikan. Hasil kerja kerasnya ia gunakan untuk membeli komputer jinjing. "Akhirnya, saya punya cangkul sendiri," ujar Tyovan.

Tyovan Ari Widagdo, CEO Bahaso yang masuk dalam daftar "30 Under 30" dari Forbes Asia 2017, saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (25/04/2017).
Tyovan Ari Widagdo, CEO Bahaso yang masuk dalam daftar "30 Under 30" dari Forbes Asia 2017, saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (25/04/2017). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dari Vemobo ke Bahaso

Sejak memulai berbisnis, Tyovan memang tak pernah meminta bantuan siapa pun. Segala risiko dan kemungkinan pun ia pikirkan seorang diri. Seperti ketika meraih Rp25 juta pertama dalam hidupnya. Sebenarnya, ia ingin seperti anak SMA pada umumnya yang memiliki motor. Tapi keinginan itu ia urungkan karena melihat potensi bisnisnya ke depan.

Ia pun semakin sibuk memelototi layar komputer. Statusnya sebagai ketua klub penyiaran radio tak membuatnya menjadi cowok populer di sekolah. "Saya pernah beberapa kali nembak cewek tapi tidak pernah diterima. Ha-ha-ha...," ujar Tyovan.

Apes di kehidupan percintaan, tapi tidak dengan bisnisnya. Order tak pernah sepi. Selepas lulus SMA, ia memindahkan kantornya di Yogyakarta. Ada enam karyawan yang bekerja di Vemobo kala itu. Tyovan juga sempat kuliah di salah satu universitas swasta di sana, namun hanya sebentar karena merasa tidak cocok.

Ia akhirnya mendaftar di Unversitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta Barat karena melihat anggota komunitas hacker underground di Indonesia banyak dari sana. Sore harinya, setelah mengikuti tes, ia langsung diterima di kampus itu. "Itu pertama kalinya saya galau dalam hidup. Galau ditolak cewek sih sudah biasa," ujarnya sambil terkekeh.

Ia bingung memilih antara bisnis di Yogyakarta atau kuliah di Jakarta. Pada akhirnya Tyovan kuliah di Binus sambil terus mengurus Vemobo. Selain mencari ilmu, menurut dia, Binus juga menjadi pintu untuk bertemu orang-orang yang ahli dalam bidang teknologi informasi. Ia juga bisa sekalian merekrut talenta-talenta muda dan berbakat untuk bekerja di perusahaannya.

Pilihan ini juga nyatanya tidak salah. Pada 2013, ia mendapat kesempatan berkompetisi di salah satu universitas bergengsi di Amerika Serikat, Stanford. Ia berhasil menyisihkan 38 peserta lain dari berbagai negara untuk ikut dalam kompetisi itu.

Selama dua bulan di sana, ia manfaatkan untuk berkunjung ke Silicon Valley dan kantor pusat Google, serta mencari jaringan. Pulang ke Indonesia, di dalam pesawat pikirannya langsung ingin membuat sesuatu.

Saya ingin ketika mati setidaknya bisa meninggalkan sesuatu yang bisa dirasakan orang lain.

Tyovan Ari Widagdo

Berkaca pada pengalamannya selama di AS, Tyovan melihat manfaat dari memiliki banyak jaringan. Pikirannya semakin terbuka. Menurut dia, kalau seluruh anak muda Indonesia bisa melakukan hal tersebut maka banyak pula potensi yang berkembang.

"Menurut survey, orang yang bisa bahasa asing, minimal bahasa Inggris, tingkat ekonominya bisa naik 30 persen," katanya. Kebetulan saat itu ancaman dropout sudah di depan mata, maka tercetuslah ide menciptakan Bahaso pada 2015, yang sekalian menjadi tugas akhir kuliahnya.

Bahaso merupakan aplikasi untuk belajar bahasa asing yang mudah, murah, dan cepat. Pangsa pasarnya adalah anak muda usia 15 sampai 35 tahun. Ia mengaku cukup terkejut ketika menemukan beberapa penggunanya adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Dubai dan Hong Kong.

Tyovan memiliki banyak target untuk mengembangkan Bahaso. Ia ingin penggunanya juga bisa belajar bahasa asing lainnya dan juga bahasa daerah. Pada 2018, ia bakal meluncurkan Bahaso ke Brazil. Ia melihat potensi orang yang ingin belajar bahasa Inggris di sana cukup besar.

Semua yang ia kerjakan selama ini, menurut Tyovan, tak bisa diukur dengan uang. Justru kesuksesan adalah ketika bisa bahagia dengan pekerjaan yang dijalani, apalagi kalau hal itu membawa dampak positif ke masyarakat.

"Saya ingin ketika mati setidaknya bisa meninggalkan sesuatu yang bisa dirasakan orang lain," ujarnya. "Kalau (hanya) mencari uang, tidak ada habisnya."

Ketika namanya masuk dalam daftar 30 Under 30 Forbes Asia, Tyovan mengaku cukup kaget dan menganggapnya sebagai cobaan. Ia jadi terpacu untuk bekerja lebih baik lagi.

Yang menarik, kelima teman karibnya di Stanford memutuskan tidak melanjutkan kuliah alias dropout. Tapi mereka sukses jadi pebisnis dan masuk 30 Under 30 Forbes AS.

Tyovan bernasib lebih baik dari mereka karena bisa lulus kuliah dan masuk dalam daftar yang sama versi Asia. "Mungkin ini jalan Tuhan," katanya sambil terus menyunggingkan senyum.

CEO Bahaso, Tyovan Ari Widagdo, seusai berbincang dengan tim Beritagar.id di Bahaso Building, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat.
CEO Bahaso, Tyovan Ari Widagdo, seusai berbincang dengan tim Beritagar.id di Bahaso Building, Jalan Suryopranoto Nomor 29A, Gambir, Jakarta Pusat. Beritagar.id /Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 12 Juni 2017

Tyovan Ari Widagdo

Nama:

Tyovan Ari Widagdo

Tempat, tanggal lahir:

Wonosobo, 12 Januari 1990

Pendidikan:

  • SMA 1, Wonosobo, Jawa Tengah
  • Teknik Informatika, Universitas Bina Nusantara (2009-2016)

Pekerjaan:

  • CEO Vemobo Group
  • CEO Bahaso

Penghargaan:

  • Heroes Among Us, Majalah Hai (2011)
  • 100 Top World Global Young Innovator, YouNoodle (2013)
  • The Asian Prodigy, FQ Magazine (2014)
  • 30 Under 30 Asia 2017, Forbes, (2017)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR