Keterangan Gambar : Waldjinah berpose di rumahnya, Mangkuyudan, Solo, Senin (3/4/2017). © Beritagar / Suryo Wibowo

Menyanyikan lagu keroncong seakan menjadi takdirnya. Ia jadi penyanyi langganan Istana. Namun Soeharto pernah melarang menyanyikan lagu Blitar.

Seumur hidupnya lekat dengan keroncong. Musik itu telah jadi jalan hidupnya. Dari suara emasnya, keroncong berjaya. Waldjinah. Belajar menyanyi sejak kanak-kanak, tak kurang dari 1.700 lagu pernah ia nyanyikan.

Sepanjang dua bulan lalu, ia dilarikan ke rumah sakit dua kali. Pertama pada 21 Februari 2017 ketika tak sadarkan diri karena kadar gula darahnya anjlok. Tiga pekan kemudian, pada 13 Maret 2017, ia kembali mendapat perawatan medis intensif di Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta. Pembuluh darah jantung Si Walang Kekek itu tersumbat. "Saya terima saja," kata dia tentang sakit yang menderanya, Senin (3/4/2017).

Hari itu, Beritagar menemui Waldjinah di rumahnya, Kampung Mangkuyudan, Laweyan, Surakarta. Ia baru saja tiba dari RSUD Dr. Moewardi Surakarta untuk check up kesehatan. Selama satu jam perbincangan, Waldjinah berbaring di ranjang sembari menjawab pertanyaan. Ary Mulyono, putera keempatnya, setia menemani.

Kondisi fisik Waldjinah tak lagi memungkinkan berlama-lama duduk, apalagi berdiri. "Kesele ra jamak (capeknya luar biasa)," katanya lesuh.

Waldjinah memang tak lagi muda. Lahir 7 November 1945, usianya kini 72 tahun. Tapi matanya segera berbinar dan raut mukanya berubah sumringah ketika diminta melantunkan sebaris tembang. Ia memilih "Walang Kekek", lagu yang melambungkan namanya sejak 1968.

Walang kekek menclok neng tenggok / Mabur maneh menclok neng pari/ Ojo ngenyek yo mas karo wong wedok / Yen ditinggal lungo setengah mati.

Pada masanya, kata dia, inilah lagu favorit Siti Hartinah (Bu Tien), istri Presiden Soeharto. Tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia, Waldjinah diundang ke Istana Merdeka dan diminta menyanyikan lagu itu. "Yang minta (dinyanyikan) Bu Tien," katanya.

Menurut dia, Bu Tien suka lagu Walang Kekek karena menjadi peringatan agar kaum lelaki tak serong. Soeharto mendukung pilihan istrinya. "Pokoe kowe nyanyi apik, aku seneng (Asal kamu menyanyi bagus, saya senang)," katanya menirukan ucapan mendiang Presiden Soeharto tentang lagu itu.

Bertahun-tahun kemudian, Soeharto memang pernah tak suka dengan lagu "Blitar" yang dinyanyikan Waldjinah. Lagu ciptaan Anjar Any itu berkisah tentang Blitar, kota kecil di Jawa Timur. Di kota ini pernah terjadi peristiwa bersejarah dan melahirkan tokoh besar nusantara. Dari Patih Majapahit Gadjah Mada, pemberontak PETA Soepriadi, dan Presiden RI pertama Soekarno.

Pemerintah Orde Baru melarang Waldjinah menyanyikan lagu itu. Lima tahun lamanya, ia dilarang tampil di televisi berplat merah. Ketika era televisi swasta tiba, barulah Waldjinah bisa menyanyi di layar kaca. "Itu seperti menghidupkan saya kembali," katanya.

Bersama penyanyi dan seniman lain, Waldjinah (berdiri 3 dari kanan) bertemu Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Negara, Jakarta.
Bersama penyanyi dan seniman lain, Waldjinah (berdiri 3 dari kanan) bertemu Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Negara, Jakarta.
© Suryo Wibowo /Repro Dok. Waldjinah

Penyanyi idola Istana

Lahir dari pasangan Sri Hadjid Wirjo Rahardjo dan Kamini, Waldjinah adalah bungsu dari sepuluh bersaudara. Ibunya, Kamini, penjual kue. Sementara Hadjid, ayahnya, tukang cap batik di perusahaan milik pengusaha kaya di kampungnya. Hingga kini, Laweyan dikenal sebagai kampung batik di Surakarta.

Waldjinah menyanyi sejak usia dini. Munadi, kakak keduanya, yang mengenalkannya pada keroncong.

Waldjinah tak ingat pasti berapa usianya saat pertama kali menyanyi. Yang jelas, kenangnya, ia belajar menyanyi secara sembunyi-sembunyi. Tiap kali hendak belajar menyanyi, Waldjinah keluar rumah melalui jendela. Di luar rumah, kakaknya telah menunggu lalu menggendongnya ke tempat belajar menyanyi.

Orang tua melarang Waldjinah menyanyi. Bagi mereka, penyanyi sama dengan penari ledek atau tayub. Konotasinya buruk di masyarakat. "Kalau ketahuan digebuki pakai gedebog (pelepah) pisang," ia bercerita tentang masa kecilnya.

Dasar terlanjur gandrung, Waldjinah tak kapok.

Semua itu berubah pada 1958. Sikap orang tuanya melunak setelah Waldjinah menjuarai Festival Kembang Katjang yang diselenggarakan Perfini dan RRI Solo. Saat itu usianya baru 12 tahun. Tawaran manggung mulai datang dari daerah Surakarta dan sekitarnya. Untuk sekali pentas, ia dan grup keroncongnya mendapat imbalan Rp50.

Gelar Ratu Kembang Katjang menjadi tiketnya meraih kesuksesan di dunia tarik suara. Waldjinah mendapat tawaran rekaman di Lokananta, studio rekaman musik paling bergengsi pada masanya. Kariernya sebagai penyanyi kian moncer. Hingga tahun 1960an, ia selalu menjuarai bintang radio untuk bidang keroncong se-eks Karesidenan Surakarta.

Puncaknya, pada 1965, nama Waldjinah menempati juara pertama bintang radio se-Indonesia. Ia berhak atas piala Presiden Soekarno, satu-satunya piala presiden di bidang keroncong sepanjang sejarah Indonesia. "Ini piala pertama dan terakhir," katanya.

Waldjinah menerima penghargaan itu pada 9 September 1965. Saat itu, ia sedang mengandung anak kelimanya. Usia kehamilannya delapan bulan. Sembari menyerahkan piala, Soekarno berpesan padanya, "kelak jika jabang bayimu lahir berilah nama Bintang."

Beberapa minggu kemudian meletus peristiwa Gestapu (Gerakan 30 September 1965). Soekarno terjungkal dari tampuk kekuasaan. Waldjinah melahirkan bayi laki-laki. Ia memberinya nama Bintang Nurcahya.

Ia mengatakan Presiden Soekarno memiliki perhatian besar terhadap kesenian, terlebih kesenian daerah. Ia pernah diundang dua kali oleh Soekarno ke Istana Bogor untuk menyanyi keroncong.

Sejatinya, meski penguasa berganti, Waldjinah tetap idola istana. Bedanya, Soekarno mengundang Waldjinah menyanyi di Istana Bogor, Soeharto mengundang ke Istana Merdeka. Selain Soeharto, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga lebih senang mengundang Waldjinah ke Istana Merdeka.

Soeharto lengser, Habibie naik menjadi presiden. Pada masa pemerintahannya yang relatif singkat, Habibie pernah mengundang para musisi dan penyanyi, termasuk Waldjinah, manggung Istana Bogor. "Waktu itu, Erwin Gutawa yang membawakan musik pengiringnya," katanya.

Dalam undangan di Istana Bogor itu, Waldjinah bertemu Chrisye. Mereka mencetuskan ide nyanyi bersama. Pada 2006, duet mereka, lagu Semusim, masuk dalam album "Chrisye Duet by Request".

Sementara Presiden Joko Widodo, kata dia, belum pernah mengundangnya menyanyi ke Istana. Tapi, semasa menjabat Walikota Surakarta, Jokowi kerap mengundangnya bernyanyi ketika ada tamu pemerintah. Ada dua lagu kesukaan Jokowi. Putri Solo dan Bengawan Solo.

Solo adalah kota yang membesarkan musik keroncong modern. Petikan ukulele dengan irama cepat dan memantul yang mewarnai musik keroncong seperti terdengar hari ini lahir dari kota ini.

Pada awal masa kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengambil alih Soloiche Radio Vereeneging dan menjadikannya Radio Republik Indonesia. Salah satu grup musik pendukung siaran RRI pada masa awal itu adalah Radio Orkes Surakarta (ROS). Pencipta lagu dan penyanyi legendaris, Gesang Martohartono, terpilih menjadi penyanyi pembantu siaran bersama bintang keroncong lainnya, termasuk Waldjinah.

Dari siaran radio itulah popularitas musik keroncong menjalar ke penjuru tanah air. "Waktu itu hanya ada dua stasiun RRI; Jakarta dan Surakarta," katanya.

Waldjinah menaruh harapan besar keroncong dinobatkan menjadi warisan budaya Indonesia. Saat Jokowi menjadi Walikota Surakarta, Waldjinah pernah meminta agar keroncong didaftarkan ke UNESCO sebagai kesenian asal Indonesia. Tapi, ia sadar itu tak mudah.

9 September 2009, Jokowi menetapkan Surakarta sebagai kota keroncong. "Itu karena permintaan saya," Waldjinah mengaku.

© Suryo Wibowo /Repro Dok. Waldjinah

From keroncong with love

Rumah Waldjinah di Mangkuyudan terletak di tengah perkampungan warga. Pada hari-hari tertentu, garasinya berubah menjadi studio. Orkes Keroncong Bintang Surakarta, kelompok musik keroncong bentukan Waldjinah puluhan tahun lalu, rutin berlatih di sana. Ary Mulyono, anak keempatnya, kini menakhodai. "Kalau menyanyi suara dia paling mirip dengan saya," kata Waldjinah.

Hari itu, tak ada latihan musik di garasi. Tapi sekelompok orang meriung di teras. Sekelompok seniman keroncong sedang rapat membahas persiapan Solo Keroncong Festival 2017. Waldjinah pula yang turut membidani lahirnya lomba keroncong tahunan yang berlangsung sejak 2010 itu.

Keroncong telah menghidupinya. Dan dia bertekad menghidupi musik itu sekuat tenaganya. Rumah yang ia tempati kini, kata dia, ia dapat dari bermusik. "Pulang dari Suriname dapat uang Rp1 juta saya pakai beli rumah ini," katanya, mengenang.

Pada 1972, Waldjinah melawat ke Suriname. Ini lawatan kesenian keduanya ke luar negeri, setelah mengunjungi Belanda dan Singapura pada 1971. Di Suriname, negara dengan sebagian penduduknya keturunan Jawa, Waldjinah mempromosikan keroncong selama sebulan. Sejak itu, ia mengunjungi sejumlah negara untuk menyanyi keroncong. Dari Jepang, Cina, hingga Selandia Baru.

Nama Waldjinah melambung di kancah musik keroncong nasional dan internasional sejak lagunya, Walang Kekek booming pada tahun 1968. Saban hari RRI memutarnya. Lagu itu menjadi intro music sebelum pengumuman nomor lotre (NALO-National Lotre).

Popularitasnya tak berhenti pada Walang Kekek. Waldjinah terus bernyanyi hingga tercatat sekitar 1.700 lagu pernah ia bawakan. Beberapa menjadi hits dan legendaris. Sebutlah beberapa di antaranya, selain Walang Kekek, ada Jangkrik Genggong, Bengawan Solo, Ayo Ngguyuh, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Rujak Uleg, Pandan Wangi, dan Kembang Glepang.

Beberapa dari lagu itu, Kembang Glepang salah satunya, ia nyanyian bersama dengan mendiang suaminya, Soelis Moelyo Boedi Poespopranoto. Gempang Glepang, lagu berbahasa Jawa Banyumasan tercatat sebagai lagu yang paling sulit dimainkan saat proses rekaman. "Suami saya suara juga bagus loh," ia bernostalgia.

Pertemuan pertamanya dengan suami juga di panggung keroncong. Ceritanya, Waldjinah remaja mendapat undangan dari Gesang Martohartono untuk tampil Kong Tong (Ndalem Kasunanan). Seorang lelaki, Soelis Moelyo, putera Wedono Pekalongan, sudah bernyanyi menghibur pengunjung.

Waldjinah datang terlambat ke lokasi acara dan buru-buru bergabung. "Ndilalah kesenggol tanganku dia gugup," katanya, tersenyum mengenang kembali pertemuannya dengan suami.

Waldjinah tak ingat semua lagunya. Mungkin beberapa ratus yang pernah ngehits dan berkesan saja. Tapi hafalannya segera pulih saat mendengar sepenggal-dua penggal baitnya. Ia kembali bisa menyanyikannya.

Bagi Waldjinah, ada satu lagu yang memberi kesan mendalam. Judulnya Pandan Wangi, penciptanya Gesang Martohartono. Lagu itu berkisah tentang pemuda yang hendak berlaga di medan pertempuran. Sebelum pergi, ia berpesan pada kekasihnya agar merawat Pandan Wangi yang ditanamnya jika tak kembali.

Musababnya, saat proses rekaman perdana lagu itu, Waldjinah sedang berduka. Anak keduanya, Harini Dwi Hastutiningsih, satu-satunya perempuan dari lima anak Waldjinah, baru saja meninggal. "Sampai sekarang saya selalu nangis kalau menyanyikan lagu itu," katanya.

Penyangi Keroncong
Penyangi Keroncong
© Beritagar / Suryo Wibowo
BIODATA Diperbarui: 20 April 2017

Waldjinah

Nama: Waldjinah

Tempat/Tgl Lahir: Surakarta, 7 November 1945

Pekerjaan : Seniwati

Pendidikan : Lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Suami

Soelis Moelyo Boedi Poespopranoto ( alm - Meninggal tahun 1985 )

Anak: 5 orang

Cucu: 8 orang

Cicit: 2 orang

Prestasi Kejuaraan

1. Tahun 1958:
- Juara Festival Ratu Kembang Kacang se-Eks Karesidenan Surakarta

- Juara Bintang Radio Jenis Keroncong se-Eks Karesidenan Surakarta

2. Tahun 1959:
- Juara Bintang Radio Jenis Keroncong se-Eks Karesidenan Surakarta

3. Tahun 1960:
- Juara Bintang Radio Jenis Keroncong se-Eks Karesidenan Surakarta
- Juara Harapan Bintang Radio Jenis Keroncong se-Indonesia

4. Tahun 1965:
- Juara Bintang Radio Jenis Keroncong se-Eks Karesidenan Surakarta
- Juara Pertama Bintang Radio Jenis Keroncong se-Indonesia

Beberapa Penghargaan

Tahun 1958:
- Penghargaan sebagai Ratu Kembang Kacang, dari Perfini dan RRI Surakarta

Tahun 1965:
- Penghargaan sebagai Juara I Bintang Radio se-Indonesia dan Pengabdi Seni Nasional, dari Presiden Soekarno

Beberapa Misi Kesenian

Tahun 1971:
- Misi Kesenian PATA bersama OK Bintang Surakarta di Belanda dan Singapura

Tahun 1972:
- Melawat ke Suriname

Tahun 1984:
- Bersama OK Bintang Surakarta melawat ke Singapura

Tahun 1991:
- Bersama Menkokesra ( Bapak Soepardjo Rustam - alm ) merayakan acara 100 tahun orang Indonesia di Suriname

Tahun 1994:
- Melawat ke Malaysia, mengisi acara di Istana Bogor

Tahun 1995:
- Diundang ke Festival Musik Etnis di Jepang (Tokyo, Yokohama, Izume, Kobe)

Tahun 2013:
- Bersama OK Bintang Surakarta diundang untuk meramaikan Tong Tong Fair di Den Haag - Belanda
- Diundang ke Suriname acara ulang tahun Partai Percaya Luhur Suriname

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.