3 Upaya agar anak tak kecanduan gawai elektronik

Ilustrasi anak yang bermain gawai sabak.
Ilustrasi anak yang bermain gawai sabak.
© Pixabay

Kini anak-anak lebih serius memandangi gawai mobile yang mereka pegang, seperti ponsel pintar atau sabak, ketimbang memerhatikan lingkungan sekitar. Peranti itu mulai menggantikan televisi dan game watch yang populer dua hingga tiga dekade lalu.

Tidak melulu buruk, namun terkadang gawai menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orang tua. Mata menjadi organ pertama yang mungkin akan terkena dampaknya.

Linda Amalia Sari, saat itu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dalam Tempo.co (14/10/2014), menyatakan 80 persen dari anak Indonesia mengalami gangguan pada mata karena ponsel/tablet.

Tidak mengherankan jika kini semakin banyak terlihat anak-anak kecil yang sudah menggunakan kacamata. Apalagi harga ponsel dan tablet semakin terjangkau.

Liza Marielly Djaprie, seorang Psikolog Klinis dan Hipnoterapis, menjelaskan bahwa anak itu merupakan cerminan lingkungannya.

"Anak itu layaknya sebuah spons, di mana saat masih baru ia masih kering. Namun ketika kita masukkan spons itu ke dalam cairan maka ia akan menyerap banyak cairan tersebut," perumpamaan yang diucapkan Liza dalam acara LEGO di Jakarta, Jumat (12/8).

Ibu dari empat anak ini menuturkan tiga upaya yang harus ditempuh untuk memupuk minat anak sekitar umur dua tahun ke atas selain kecanduan gawai.

Pertama, dimulai dari lingkungan tempat ia hidup. Liza menjelaskan sang anak harus diberi contoh oleh lingkungan dan peran serta orang tua sendiri. Kedua, repetisi dan persistensi. Butuh pengulangan dan kegigihan orang tua untuk terus menerus memberi contoh pengarahan apa yang ingin diserap oleh anaknya.

Ketiga adalah tantangan. Liza mengatakan jika pengarahan yang sama terus diulang-ulang maka sang anak bisa merasa jenuh. Oleh sebab itu orang tua diharuskan memberi tantangan yang menarik agar sang anak dapat terus tertarik.

"Orang tua diharapkan untuk lebih kreatif untuk membuat tantangan-tantangan baru sehingga anak selalu terpacu akan tantangan, karena dasarnya rata-rata anak kecil suka dengan hal yang menantang," paparnya.

Liza Marielly Djaprie- Psikolog Klinis dan Hipnoterapis, Rizka Sucianty Gunawan-Trade Marketing LEGO Indonesia, dan Chaierdaurie Chatar-Pendiri Legographerid.
Liza Marielly Djaprie- Psikolog Klinis dan Hipnoterapis, Rizka Sucianty Gunawan-Trade Marketing LEGO Indonesia, dan Chaierdaurie Chatar-Pendiri Legographerid.
© Yoseph Edwin /Beritagar.id

Liza tak menampik, karena hidup di era gawai, tak mungkin melarang anak untuk menyentuh gawai sama sekali. Jangan sampai anak tertinggal dengan kawan-kawannya. Hanya saja, komposisinya sebisa mungkin lebih sedikit dibanding benda pembelajaran lain misal buku atau mainan.

Mengutip karya tulis Martin L. Seligman, Liza menyebutkan ada tiga aspek yang harus dipenuhi oleh remaja hingga orang dewasa untuk menjadi individu dengan mental yang sehat. Ketiganya adalah cinta, kerja, dan main.

Cinta yang dimaksud bukan hanya dengan pasangan tetapi juga relasi dengan orang-orang terdekat. Sedangkan kerja adalah sebagai tempat seorang individu dapat mengaktualisasi diri. Terakhir dan yang paling sering dilupakan adalah bermain.

"Terkadang sebagai dewasa kita lupa untuk bermain. Kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang serius dalam hidup. Padahal tanpa adanya bermain dapat membuat seseorang menjadi stress dan tertekan," kata Liza.

Ia menuturkan, di luar negeri permainan ini sudah digunakan untuk memfasilitasi proses menghasilkan ide-ide kreatif dan memecahkan masalah. Hal ini memotivasi LEGO, perusahaan mainan yang bermarkas di Denmark, untuk menjangkau seluruh lapisan umur.

#BuildingArchipeLEGO

Sebagai ajang promosi sekaligus memeriahkan ulang tahun ke-72 Republik Indonesia, LEGO mengadakan acara #BuildingArchipeLEGO di Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Dalam acara di atrium Food Society terpampang lambang negara Indonesia Burung Garuda berukuran 3x3 meter yang dibuat dari 3.500 buah LEGO. Karya tersebut dibuat oleh dua orang dengan waktu pengerjaan selama 7 hari.

Selain itu, dalam acara ini diadakan beragam aktivitas yang dapat diikuti oleh segala lapisan umur. Sebut saja ada area bermain yang memberi akses anak-anak untuk berkarya dengan LEGO secara gratis.

Ada juga kegiatan Photography Coaching Clinic, sebuah talkshow berisikan materi-materi mengenai teknik fotografi objek LEGO yang dipandu salah satunya oleh Chaierdaurie Chatar, pendiri Legographerid, sebuah komunitas penggemar fotografi LEGO.

Bagi orang tua juga ada acara Parenting Talkshow bersama dokter spesialis anak pada tanggal 19 Agustus. Acara #BuildingArchipeLEGO ini dapat dikunjungi hingga 20 Agustus.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.