HIDUP SEHAT

5 Kebiasaan buruk saat long weekend yang harus dihindari

Ilustrasi bermalas-malasan pada akhir pekan
Ilustrasi bermalas-malasan pada akhir pekan | Elnur /Shutterstock

Akhir pekan panjang atau lazim disebut long weekend memang selalu dinanti banyak orang, terutama Anda yang sehari-harinya sudah cukup sibuk dengan pekerjaan dari pagi hingga senja tiba.

Berlibur singkat dengan keluarga atau seorang diri, melakukan hobi yang sulit dikerjakan pada hari biasa, dan sekadar menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan menjadi agenda umum saat long weekend.

Namun, hati-hati, jangan sampai terjebak pada kebiasaan yang membuat hari Senin menjadi mimpi buruk sehingga Anda jadi tidak semangat bekerja dan membawa nuansa bad mood sepanjang hari.

Berikut lima kebiasaan buruk yang sebaiknya Anda hindari saat menikmati long weekend:

Menghamburkan uang

Belanja memang selalu menyenangkan, terutama untuk kaum perempuan. Bahkan, sebuah studi yang dipublikasikan Pyschology and Marketing mengungkapkan, belanja bisa memperbaiki kondisi hati yang buruk.

Peneliti menyimpulkan efeknya sama dengan rasa lupa daratan ketika Anda menggunakan narkoba.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa 96 persen partisipan mengaku, mereka belanja spontan dan di luar kebutuhan untuk mendapatkan perasaan yang lebih baik.

“Apa yang kita lakukan saat foya-foya dengan belanja adalah kita sedang mengubah emosi diri dengan cara yang terpaksa dan dalam kondisi putus asa,” ujar Joanne Corrigan, seorang psikolog klinis dari Sydney, Australia.

Kebanyakan orang, kata dia, merasa begitu buruk dan tidak nyaman dengan diri sendiri sehingga memilih melakukan hal-hal instan yang bisa mengubahnya, salah satunya adalah belanja.

Selain itu, menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak Anda butuhkan hanya akan menciptakan masalah lain, yakni tabungan dan anggaran bulan habis sebelum hari gajian.

Bangun siang

Sebuah studi yang dipublikasikan Journal of Sleep Research menerangkan bahwa membayar kekurangan tidur di hari kerja dengan bangun siang pada akhir pekan, tidak membuat Anda mengalami gangguan kesehatan.

Namun, penemuan itu sangat kontradiktif dengan hasil studi terbaru yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan, Associated Professional Sleep Societies, yang mengungkapkan bahwa membayar kekurangan tidur sehari-hari pada akhir pekan bisa membuat Anda lebih rentan sakit sebanyak 25 persen.

Tetap bekerja

Sebuah studi yang diproduksi oleh Mariann Virtanen, seorang profesor dari Finnish Institute of Occupational Health, menemukan, orang yang terus menerus bekerja dan memikirkan pekerjaan tanpa batas waktu berpeluang sebanyak 12 persen menderita kecanduan minuman keras.

Studi tersebut juga mengungkapkan pengaruh keletihan bekerja terhadap pola tidur yang buruk, depresi, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.

“Jika Anda tak memiliki batasan kapan waktu awal dan akhir kerja, itu akan menimbulkan masalah di kemudian hari karena Anda akan mengalami letih berkepanjangan,” jelas Jonathan Alpert, seorang psikoterapis di New York, Amerika Serikat.

Dia menambahkan bahwa manusia membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup secara nyata tanpa bekerja dan memikirkan pekerjaan.

Selalu terhubung

Periset dari Virginia Tech mempelajari kebiasaan 108 karyawan yang bekerja selama 30 jam per minggu, 138 pasangan, dan 105 manager.

Mereka menemukan bahwa orang yang selalu terhubung, yakni memeriksa, membaca, dan membalas surat elektronik saat akhir pekan memiliki anggota keluarga yang selalu merasa cemas sekaligus khawatir.

Hal yang demikian pada akhirnya bisa merusak hubungan sosial antara Anda dan anggota keluarga di rumah.

Banyak agenda

Pada uraian di atas disebutkan bahwa bangun siang selama akhir pekan bisa berakibat tidak baik. Namun, tak berarti Anda harus bangun superpagi untuk menikmati waktu dengan agenda yang padat dari siang sampai malam.

Cobalah bersantai. Biarkan pikiran Anda mengalir lebih tenang tanpa harus berpikir ingin pergi ke mana, bersama siapa, dan apa yang harus dilakukan.

Dr Isabell Moreau mengatakan pada The Independent bahwa setiap orang tidak harus selalu menjadi aktif setiap saat, meskipun saat akhir pekan.

“Kita harus membiarkan diri dan pikiran untuk tidak bekerja serta berpirkir. Utamakan kualitas daripada kuantitas. Luangkan waktu untuk beristirahat,” jelas Dr Moreau.

“Rasa bosan dan malas sesekali bisa menguntungkan. Artinya, Anda mengendalikan diri kapan harus bekerja dan kapan harus rileks,” imbuhnya.

Beristirahat, kata dia, membuat tubuh merasa lebih santai dan Anda pun jadi bisa melihat segala hal dengan lingkup persepsi yang lebih luas.

“Tubuh Anda bukan mesin pekerjaan,” pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR