AJT, cara baru uji kecerdasan anak

Ilustrasi anak ikut ujian.
Ilustrasi anak ikut ujian. | Smolaw /Shutterstock

Tim akademisi Indonesia baru saja menyelesaikan penelitian dan meluncurkan cara baru untuk menguji kecerdasan anak yang disebut tes kognitif AJT atau AJT Cognitive Test Battery.

Tes ini bukan hanya menggantikan metode lama yang dianggap telah usang, tapi juga lebih ramah anak Indonesia, sehingga dapat memprediksi hasil lebih rinci dan akurat.

"Kita memakai alat-alat [ukur kognitif] yang sudah tua selama ini, dan itu juga yang dipakai di dalam kelas-kelas psikologi. Kita mempunyai banyak masalah dengan itu," ujar Retno Suhapti, Project Manager AJT sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dikutip CNN Indonesia.

Retno mengatakan, selama ini alat psikologi di Indonesia yang dapat mengungkap kemampuan kognitif anak masih terbatas, dan kebanyakan berasal dari luar negeri. Alhasil, ada bagian-bagian tes yang tidak relevan dengan konteks keseharian anak-anak yang tinggal di lingkungan berlatar belakang budaya Indonesia.

Psikolog Irna Minauli dari Minauli Consulting di Medan yang mengapresiasi kehadiran AJT mencontohkan. Dalam tes kecerdasan Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) misalnya, ketika anak melihat gambar laki-laki dan disuruh melihat bagian mana yang kurang dari gambar tersebut, jawaban yang diinginkan oleh peneliti adalah gambar dasi.

"Akan tetapi, berhubung dasi bukan hal familiar untuk budaya Indonesia maka banyak anak Indonesia yang tidak bisa menjawab subtes tersebut," terang Irna pada Medan Bisnis Daily.

Bahkan, lanjutnya, ketika tes itu diadaptasi untuk lingkungan Indonesia, ternyata perbedaan provinsi juga berpengaruh. "Misalnya, ada pertanyaan berapakah jarak Jakarta-Surabaya, anak-anak di luar Pulau Jawa tentu akan kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini."

Kabar baiknya, tes kognitif AJT berhasil berinovasi dengan mengembangkan alat ukur psikologi baru.

"Pembuatan item-itemnya berbasis budaya Indonesia misalnya memakai gambar buah pisang atau monyet. Sehingga jangan sampai memakai gambar salju yang tidak semua anak Indonesia tahu," jelas Retno dinukil Antara News.

Memang, tak dapat dimungkiri ada banyak pihak yang mengandalkan penilaian kecerdasan berdasarkan hasil tes kognitif--meskipun dianggap kurang relevan. Alasannya, kata Retno, karena sejauh ini kebanyakan sekolah umum di Indonesia belum mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar unik tiap siswa.

Padahal, persepsi yang salah soal kecerdasan bisa menyebabkan kegagalan pemahaman bahwa tiap individu memiliki keunikan masing-masing yang membuatnya berbeda dalam cara belajar juga berpikir.

Dilansir Psychology Today, satu studi pernah menunjukkan bahwa kecerdasan anak tak bisa dilihat kasat mata. Pintar atau bodoh bukan ditentukan oleh nilai yang tertera dalam rapot sekolah.

Studi sepanjang 40 tahun yang diterbitkan dalam Developmental Psychology itu menemukan, anak baik yang pintar dan cenderung punya rapot bagus semasa sekolah memang didapati lebih sering bekerja di perusahaan bergengsi.

Namun, mereka yang dulunya nakal dan rapotnya cenderung bernilai buruk ternyata juga bisa lebih sukses dan bahagia, kaya secara finansial, dan mampu menjadi bos untuk dirinya sendiri. Sebabnya, mereka lebih unggul soal keberanian.

Untuk itu, berawal dari keinginan menggali potensi siswa Indonesia sesuai kemampuan kognitifnya, Retno dan tim ahli dari fakultas psikologi UGM mengamati 4.839 pelajar Indonesia pada rentang usia 4-20 tahun.

Mereka melakukan penelitian selama 5 tahun sebelum akhirnya meluncurkan alat Tes Kognitif AJT bekerja sama dengan PT Melintas Cakrawala Indonesia dan Yayasan Dharma Bermakna pada 4 April 2018 di UGM.

"(Tes Kognitif AJT) ini yang pertama, intelegensi berbasis Indonesia sebelumnya nggak ada," papar Urip Purwono selaku penjamin mutu tes kognitif AJT pada Tribun Jogja.

Selain dibuat ramah anak Indonesia, tes ini juga dianggap lebih rinci dan akurat karena mampu mengukur kecerdasan anak dari delapan aspek. Yakni fluid intelligence, working memory, long-term storage, long-term retrieval, processing speed, comprehension knowledge, visual processing, dan auditory processing.

Terlebih lagi, Pembuatan tes ini juga memiliki landasan kuat yang mengacu pada teori kecerdasan Catell-Horn-Carroll (CHC).

Sejak akhir 1990-an, teori CHC telah dikembangkan oleh Kevin McGrew, Direktur Institute of Applied Psychometrics di Amerika Serikat yang juga menjadi konsultan ahli dalam pembuatan AJT.

Menurut McGrew, teori CHC merupakan teori psikometrik paling komprehensif hingga saat ini yang didasarkan pada riset selama berpuluh-puluh tahun, dengan mempertimbangkan aspek biologis, perilaku, dan neurologis.

Nantinya, hasil tes kognitif AJT ini bukanlah satu penilaian yang mencakup keseluruhan kemampuan kognitif layaknya tes IQ. Sebaliknya, AJT akan menunjukkan bidang-bidang kognitif yang menjadi kekuatan atau kelemahan seorang anak.

"Yang dilihat itu nanti bukan apa anaknya cerdas atau tidak, tapi dengan kemampuan anak seperti ini, apa yang bisa dikembangkan? Jadi dia belajar sesuai kemampuan kognitif diri sendiri," imbuh Retno.

Tes kognitif AJT diperuntukkan bagi anak berusia 5-18 tahun. Baik yang mengikuti pendidikan formal maupun yang tidak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan.

"Ini juga akan menjadi alat tes komprehensif pertama yang mampu memetakan kemampuan kognitif anak berkebutuhan khusus," tambahnya.

Bagi orang tua yang melihat anaknya mengalami kesulitan belajar, McGrew menyarankan untuk segera menganalisis masalah tersebut menggunakan tes kognitif AJT.

BACA JUGA