PANGGUNG TITIAN

Aksi teatrikal hingga kulit ular di Paris Fashion Week

Peragaan busana Dior dalam Paris Fashion Week di Paris, Prancis, Senin (24/9/2018).
Peragaan busana Dior dalam Paris Fashion Week di Paris, Prancis, Senin (24/9/2018). | Andre Pain /EPA-EFE

Kota mode, Paris, di Prancis, menjadi edisi terakhir dalam rangkaian pekan mode dunia. Para perancang pun seolah tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk tampil maksimal.

Apalagi, bukan rahasia lagi bahwa peragaan busana di Paris kerap jadi andalan para perancang mode dunia untuk menghadirkan pertunjukan yang mengundang decak kagum. Para undangan hingga pecinta mode di jalanan pun seolah berlomba dengan gaya paling unik.

Penari balet dalam peragaan busana Dior

Sebagai pembuka pekan mode di Paris pada Senin (24/9), Dior sukses sajikan pertunjukan komplit. Tak hanya berisi sederet model berbalut busana mewah, rumah mode asal Prancis ini menghadirkan aksi teatrikal.

Beberapa penari balet di bawah arahan koreografer Sharon Eyal ditempatkan di tengah-tengah model saat melenggang di panggung. Kelopak-kelopak bunga mawar yang berjatuhan dari atap ruangan menambah kesan syahdu.

Tarian tersebut berpadu serasi dengan busana yang ditampilkan malam itu. Tentu saja, serupa penari balet, tapi bergaya mewah dan elegan.

Sang Direktur Kreatif Maria Grazia Chiuri menyuguhkan banyak pilihan gaun klasik sederhana dalam palet krem sewarna kulit yang dipadukan dengan putih atau pink lembut.

Bunga-bunga maskulin Alexander McQueen

Mendiang Alexander McQueen merupakan salah seorang perancang populer berkat karyanya yang bak negeri dongeng, kemudian memadukan dengan riasan dan rambut senada tanpa ragu. Sepeninggal McQueen pada 2010, sang anak didik sekaligus penggantinya, Sarah Burton, melanjutkan kisah dongengnya.

Dalam peragaan yang digelar pada Senin (1/10) malam waktu setempat, Alexander McQueen mengangkat nuansa bunga-bungaan khas musim semi/panas ke dalam rancangannya. Namun, tentu saja dengan cerita yang berbeda.

Berbagai motif bunga dibuat lebih gagah dengan perpaduan model yang lebih maskulin dan penataan gaya gothic. Sebut saja jaket bertali (belt), gaun yang didominasi warna hitam, hingga jumpsuit yang berhias motif bunga hitam di sana-sini.

Adapun gaya sepatunya dibuat serupa dengan busananya. Gaya ini cocok bagi Anda yang ingin tampil dengan bunga tanpa terlihat kelewat manis.

Meminjam istilah Vogue, koleksi perancang asal London ini patut disebut sebagai gaya romantis nan eksentrik.

Busana 70-an ala Gucci

Jika Alexander McQueen menghadirkan koleksi yang berani dan eksperimental, Gucci justru sebaliknya. Di bawah arahan Alessandro Michele sebagai Direktur Kreatif, Gucci menampilkan gaya elegan bernuansa era 70-an.

Koleksinya tersebut banyak bermain dengan rajutan retro, gaun kebesaran dengan aksen rumbai, atasan ketat dengan garis leher V rendah, setelan berbahan gemerlap, hingga blazer berbahu lebar.

Jika pada peragaan musim lalu Gucci menghadirkan replika bayi-bayi naga dan kepala tiruan peragawan dan peragawati, kali ini burung Kakatua jadi teman para model di atas panggung.

Untuk warna, Gucci juga banyak bermain dengan elemen terang seperti merah, merah muda Stabilo, biru, ungu elektrik, hingga hijau menyala.

Motif kulit ular dari gaya jalanan

Motif kulit binatang kerap jadi idola para pecinta mode. Namun, kali ini sisik ular dengan motifnya yang unik lebih banyak tampil di jalanan ketimbang hewan lain seperti macan tutul atau zebra.

Seperti dilansir Fashionista, jika ingin mengenakan busana bermotif kulit ular, Anda bisa memadupadankan dengan baju hangat kebesaran, kemeja, atau celana ketat (legging) untuk menyeimbangkan kesan ramai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR