CITRA TUBUH

Alasan orang lakukan operasi plastik semakin tidak masuk akal

Ilustrasi operasi plastik
Ilustrasi operasi plastik | Africa Studi /Shutterstock

Rasa tidak percaya diri menjadi salah motivasi umum yang mendorong seseorang melakukan operasi plastik, mulai dari membuat hidung lebih runcing, membesarkan mata, mengoreksi rahang wajah, dan sebagainya.

Fenomena media sosial dan gawai pintar ternyata juga memengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan tindakan bedah koreksi estetika atau operasi plastik.

Tren selfie atau swafoto yang melanda sebagian besar pengguna media sosial secara masif di dunia juga turut “sumbang” andil dalam ledakan jumlah pasien operasi plastik.

Umumnya, para pasien operasi plastik menginginkan wajah mereka tampak lebih memikat dan menggoda pada hasil swafoto yang diunggah ke media sosial. Meski banyak aplikasi foto yang menawarkan fitur filter untuk komposisi warna sehingga penampilan terlihat lebih menarik, tak membuat pengguna media sosial puas.

Berdasarkan penuturan tiga dermatolog dari Boston University yang merilis kajian ilmiah tertulis untuk JAMA Facial Plastic Surgery Viewpoint mengungkapkan temuan baru mengenai alasan pasien menginginkan bedah plastik.

Mereka mengatakan bahwa semakin banyak pasien operasi plastik yang menginginkan wajah mereka dikoreksi sehingga tampak menarik seperti hasil foto berfilter.

Studi yang berjudul Selfies – Living in the Era of Filtered Photographs tersebut juga mengungkapkan adanya kondisi yang dikenal sebagai body dysmorphic disorder atau gangguan dismorfik tubuh (BDD).

Penderitanya merasakan orang di lingkungan sekitar mereka sangat memerhatikan kekurangan pada tubuh dan wajah mereka, tetapi kenyataannya tidak demikian. Jadi, mereka seperti memiliki halusinasi berlebihan pada pandangan orang terhadap penampilan mereka.

“Sekarang ada fenomena baru yang kami istilahkan Snapchat Dysmorphia. Pasien membutuhkan operasi plastik supaya wajah mereka sama dengan wajah mereka dalam foto berfilter. Mereka ingin bibir lebih tebal, mata lebih besar, dan hidung yang ramping runcing,” tulis penjelasan dalam studi.

Para pakar dalam studi mengungkapkan, tren ini harus diwaspadai karena filter-filter foto yang menyunting wajah menjadi lebih baik mereprensentasikan imaji yang mengaburkan realita dan fantasi.

Salah satu aplikasi foto yang dikhawatirkan membuat penggunanya mengalami gangguan tersebut di atas adalah Facetune.

Para psikolog menjelaskan bahwa aplikasi itu bisa menghilangkan keriput, noda hitam, dan bekas jerawat sehingga terciptalah hasil foto yang tidak realistis yang sangat berbeda dengan objek foto di dunia nyata.

“Aplikasi-aplikasi ini membuat manusia lupa pada dunia nyata karena penggunanya menyunting diri secara total dengan filter sehingga tampak benar-benar berbeda.”

Filter yang tersedia untuk swafoto, kata pakar dalam studi, menyimpan dampak bahaya untuk remaja atau mereka yang mengalami BDD. Sebab, mereka menginternalisasi standar kecantikan yang tidak masuk akal.

Berdasarkan laporan dari American Society of Plastic Surgeons, estimasi biaya yang digelontorkan pasien operasi plastik di Amerika Serikat pada tahun 2016 mencapai $16 miliar atau lebih kurang Rp232 miliar.

Menurut laporan International Society of Aesthetic Procedure terungkap bahwa pasien operasi plastik paling besar ada di Amerika Serikat (AS).

Pasien operasi plastik di AS mencapai lebih kurang 4,7 juta tindakan selama 2016. Pada posisi kedua adalah Jepang sebanyak 513 ribu orang. Lalu, posisi ketiga ada negara Brasil dengan jumlah tindakan mencapai 410 ribu pasien.

Negara Korea Selatan yang dianggap sebagai “kiblat” operasi plastik tidak masuk dalam laporan top 10 negara dengan tindakan koreksi estetika terbanyak di dunia.

Pada seluruh negara tersebut dalam data tindakan operasi plastik paling tinggi adalah mengoreksi kelopak mata.

Tindakan transfer lemak wajah serta memancungkan hidung menjadi tindakan operasi wajah dan kepala terpopuler nomor dua dan tiga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR