KESEHATAN ANAK

Anak batuk pilek sebaiknya tak diatasi dengan obat

Ilustrasi anak batuk pilek.
Ilustrasi anak batuk pilek. | BlurryMe /Shutterstock

Ketimbang memberi si kecil obat yang beredar di pasaran, dokter anak merekomendasikan cara-cara alami mengatasinya. Bisa dengan memperbanyak minum air dan konsumsi madu.

Pasalnya meski proses penyembuhan lebih lama, beberapa cara alami terbukti lebih efektif dan aman. Sementara obat-obatan untuk batuk dan pilek, selain belum teruji efektivitasnya juga belum tentu bisa mengatasi tiap situasi berbeda penyebab batuk pilek.

Bahkan, obat-obatan bisa memiliki efek samping yang buruk terutama jika diberi pada anak-anak di bawah usia enam tahun. Bagaimana bisa?

Melansir New York Times, Dr. Ian Paul, seorang profesor pediatri di Penn State College of Medicine, mengatakan, adalah kebiasaan orang tua untuk memberi anak-anaknya obat saat terserang batuk pilek karena kesadaran soal betapa menyiksanya gejala flu umum seperti hidung mampet dan meler. Apalagi jika anak berubah sangat rewel dan tidur malamnya terganggu.

Jadi, jelas dia, karena orang tua merasa lebih baik setelah minum obat untuk mengatasi gejala flu yang dialaminya, maka ia menerapkan hal sama pada anak.

Padahal, sambung Dr. Mieke van Driel, batuk pilek pada orang tua dan anak-anak tidaklah sama. Begitu pula dengan pengobatan dan efeknya.

Ia berujar, tiap kali berpraktik dirinya selalu meyakinkan orang tua bahwa anaknya diperiksa dengan baik di bagian telinga, paru-paru,dan tenggorokan. “Saya meyakinkan orang tua ini adalah pilek. Pilek adalah penyakit yang ‘membatasi diri’ karena kita memiliki sistem kekebalan tubuh yang mampu melawannya, tetapi itu akan memakan waktu sekitar seminggu."

Oleh karena itu, lanjut dia, orang-orang perlu bersabar dan percaya pada tubuhnya sendiri, bukan malah mengandalkan obat-obatan.

Dr. Van Driel adalah profesor praktik umum dan kepala unit perawatan klinis dari University of Queensland di Brisbane, Australia, yang juga penulis utama studi baru di Jurnal BMJ.

Dalam studinya, ia dan tim meninjau berbagai penelitian untuk membuktikan apakah obat batuk dan pilek yang dijual bebas efektif untuk mengobati hidung berair, mampet dan bersin, serta menjawab pertanyaan apakah obat-obatan itu bisa membahayakan anak-anak.

Peneliti berfokus pada gejala flu biasa. Alasannya, menukil Reuters, orang dewasa mengalami pilek sekitar dua hingga empat kali per tahun, tetapi anak-anak lebih sering, sekitar enam hingga delapan kali.

Hasil temuan menunjukkan, sangat sedikit bukti bahwa obat batuk pilek untuk anak yang djual bebas bisa manjur meringankan gejala.

Sebaliknya, meskipun banyak dari studi yang ditinjau terbilang kecil, penggunaan obat justru lebih sering meningkatkan risiko efek samping ringan hingga berat seperti sakit kepala, mengantuk dan lemas atau malah insomnia, mimisan, dan sakit perut. Beberapa studi besar menunjukkan efek samping semisal halusinasi hingga aritmia jantung.

Contohnya dekongestan. Pada orang dewasa, mengutip WebMD, obat yang dapat dibeli tanpa resep ini bisa membantu Anda bernapas lebih nyaman dengan mengurangi pembengkakan di hidung.

Namun, studi BMJ menunjukkan bahwa antihistamin dan dekongestan belum tentu meringankan batuk atau membuat tidur anak lebih nyenyak.

Lebih penting, ujar Van Driel, obat-obatan yang mungkin meringankan ingus meler pada seorang anak karena alergi musiman, belum tentu menolong anak itu ketika ia terjangkit virus pilek yang membuat hidungnya mampet; “Mekanisme dasarnya berbeda,” tuturnya.

Ia menambahkan, terutama pada anak berusia di bawah 6 tahun dan berlaku pula untuk anak-anak di atas 6 tahun hingga remaja, efek samping bisa muncul ketika orang tua tidak tahu berapa dosis yang tepat dan bahan aktif apa yang dikandung obat.

Terlebih lagi, orang tua sering bingung tentang rentang usia yang tertulis dalam label obat. “Ada banyak bahan dan kombinasi obat yang berbeda,” tukasnya.

Jadi, bagaimana meringankan batuk dan pilek anak tanpa obat?

Dr Paul mengatakan, studi 2007 yang pernah ia helat adalah yang pertama membuktikan bahwa madu lebih efektif daripada dekstrometorfan—bahan aktif untuk obat batuk kering. Sejak itu, penelitian lain menunjukkan bahwa madu memang meredakan batuk dan gangguan tidur yang menyertainya.

Cara alami lain seperti merebus sop ayam juga bisa membantu.

Lalu, menurut CDC, Anda perlu memastikan anak-anak beristirahat, terhidrasi dengan baik, dan mengobati gejala lain penyerta batuk.

Alih-alih pakai dekongestan, dr. Sonia Loviarny dari Alodokter merekomendasikan membantu bayi atau anak yang lebih kecil mengeluarkan ingus dengan cara menghisap ingus dari hidung bayi secara perlahan menggunakan aspirator (alat isap) atau infant nasal bulb (sejenis pipet kecil).

Anda juga bisa menggunakan larutan saline (air garam) yang dijual di apotek untuk melancarkan pernapasan.

Menurut Dr. Peter Cardiello, MD, dalam wawancara Health, dua atau tiga tetes per lubang hidung yang diteteskan saat anak berbaring telentang dapat membantu. Pastikan anak mengembus napas sesudahnya.

Romper menulis, satu studi mengungkap pemakaian saline bisa efektif meredakan pilek dan batuk lebih cepat asalkan tidak dipakai terlampau sering.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR