KESEHATAN ANAK

Anak dari ibu bekerja lebih rentan alami obesitas

Ilustrasi anak obesitas
Ilustrasi anak obesitas | kwanchai.c /Shutterstock

Penelitian di Inggris menyimpulkan, anak dari ibu yang bekerja lebih rentan menderita obesitas.

Tim peneliti mendapatkan rangkuman tersebut lewat pengamatan terhadap responden anak-anak yang lahir tahun 2000 dan 2002.

Studi ini diklaim oleh peneliti sebagai yang pertama yang menghubungkan pekerjaan seorang ibu dengan berat badan anak-anak mereka.

Lebih kurang 20.000 keluarga direkrut oleh pempimpin penelitian, profesor Emla Fitzsimons dari University College London.

“Kami menemukan anak-anak dari ibu bekerja lebih berisiko mengadaptasi pola makan yang buruk dan kurang aktif,” ujar profesor Fitzsimons.

Dia menambahkan, risiko obesitas paling terlihat pada anak-anak dari ibu tunggal yang bekerja penuh waktu.

Penelitian juga mencatat, risiko tersebut hanya berbeda tipis pada anak-anak dari ibu bekerja penuh waktu yang memiliki suami.

Namun, peneliti menuliskan bahwa risiko obesitas pada anak-anak dari ibu bekerja, terlepas penuh atau paruh waktu, ditemukan memang lebih tinggi.

Studi ini menggambarkan obesitas sebagai penyakit kronis yang paling umum pada masa kanak-kanak dan kemungkinan akan bertahan hingga dewasa dengan efek jangka panjang.

Peneliti mengatakan, peningkatan dramatis jumlah anak-anak dan remaja yang menderita obesitas selama empat dekade terakhir sesuai dengan peningkatan tajam jumlah ibu yang bekerja.

Presentase ibu bekerja yang memiliki anak di bawah usia lima tahun di Inggris meningkat dari 31 persen (1980) menjadi 58 persen (2008).

Tim peneliti menemukan, anak-anak dari ibu tunggal yang bekerja penuh waktu hampir 25 persen cenderung kelebihan berat badan daripada anak dengan ibu yang tinggal di rumah.

Hasil studi menyebutkan, anak-anak dari ibu bekerja penuh waktu memiliki kemungkinan 29 persen lebih kecil untuk sarapan teratur. Lalu, sebanyak 19 persen lebih banyak menghabiskan waktu selama tiga jam untuk menonton televisi dalam sehari.

Studi sebelumnya telah menuliskan, ibu yang bekerja menghabiskan lebih sedikit waktu membantu pekerjaan rumah anak, mengawasi persiapan makanan, dan aktivitas anak.

Peneliti tidak dapat menemukan efek signifikan dari pekerjaan ayah pada berat badan anak-anaknya.

Studi ini menjelaskan bahwa beban pengasuhan anak sampai sekarang porsinya memang masih lebih besar pada pihak ibu.

Oleh karena itu, peneliti pun menyarankan, para ibu mengambil langkah nyata untuk benar-benar melibatkan ayah secara aktif dalam pengasuhan anak demi kesejahteraan si kecil pada masa depan.

“Pola hidup sehat dan kegiatan yang mendorong kesejahteraan anak memang lebih baik datang dari pihak orang tua,” pungkasnya.

Masalah obesitas merupakan salah satu gangguan kesehatan di dunia yang cukup meresahkan, baik pada anak-anak dan orang dewasa.

Dr Dyah Retno Wulan, SpA, Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Surabaya, menjelaskan bahwa anak obesitas dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya, yaitu Indeks Masa Tubuh atau BMI (Body Mass Index,red) dan tinggi yang tidak sesuai usia.

Dia menambahkan, tanda lainnya adalah perut buncit, dagu yang berlipat, dan leher yang pendek.

Pada umumnya, anak perempuan dengan obesitas cenderung lebih cepat mendapat haid. Sedangkan anak laki-laki cenderung mempunyai gynocosmastia atau pembesaran payudara.

Berdasarkan keterangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) jumlah penderita obesitas di dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980 pada tahun 2011.

Bahkan, lebih kurang 43 juta anak-anak balita mengalami kelebihan berat badan (overweight) pada 2010.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2010 mengungkapkan, angka overweight dan obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun tercatat sebanyak 27,1 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR