TUMBUH KEMBANG

Anak laki-laki lebih nge-geng dibanding anak perempuan

Ilustrasi kelompok anak lelaki
Ilustrasi kelompok anak lelaki | Vio3 /Shutterstock

Anggapan bahwa anak-anak atau remaja perempuan suka membentuk satu kelompok yang kuat dalam pergaulan alias klik atau nge-geng daripada anak laki-laki terbukti salah.

Sebuah penelitian menunjukkan anak-anak atau remaja laki-laki lah yang justru membentuk kelompok pertemanan paling erat.

Daily Mail mengutip pendapat para ahli, menyebutkan bahwa ternyata anak laki-laki lebih enggan berganti kelompok pertemanan dan membentuk persahabatan yang lebih kuat daripada anak-anak perempuan. Lalu, mereka cenderung lekat dengan kelompok sebaya dalam jangka waktu yang lama.

Dilansir dari The Times, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine ini sejatinya bukan bertujuan untuk meneliti kualitas persahabatan remaja. Akan tetapi karena ingin lebih memahami bagaimana penyebaran penyakit dan infeksi.

“Sekolah merupakan salah satu sarang penyebaran penyakit,” kata Dr. Clare Wenham salah seorang peneliti dari Department of Health Policy, London School of Economics, Inggris.

“Ada banyak anak yang saling kontak dan berhubungan dan tidak seperti orang dewasa, mereka belum membangun perlindungan kekebalan tubuh selama bertahun-tahun. Penyakit menyebar lebih cepat. Jadi sangat penting untuk mengetahui bagaimana mereka bersentuhan satu sama lain," urainya.

Pendeknya, karena sekolah adalah lokasi utama untuk berbagai interaksi antar mereka, maka memahami bagaimana anak-anak bersosialisasi di sana merupakan hal penting.

Penelitian sebelumnya telah menjawab pertanyaan tentang bagaimana penyakit menyebar dari kelompok persahabatan di sekolah pada hari tertentu. Akan tetapi, Dr. Wenham dan rekan-rekannya ingin memperoleh perspektif jangka panjang.

“Kami merasa tidak yakin apakah satu jejaring sosial dalam satu hari memberikan gambaran yang realistis,” jelasnya.

“Kami semua ingat ketika kami masih remaja, kami ingin mengetahui apa yang terjadi ketika persahabatan berubah," terangnya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Plos One ini dilakukan oleh tim gabungan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, bekerja sama dengan University of Cambridge ini melibatkan data 460 orang murid dari empat sekolah menengah di seluruh Inggris yang mewakili berbagai tingkatan sosial ekonomi serta geografis yang berbeda.

Para murid berasal dari sekolah dengan jenis kelamin campuran, bukan sekolah khusus laki-laki atau perempuan saja.

Para peneliti meminta agar 460 orang murid kelas 7 ini untuk menyebutkan enam nama yang paling sering bersama-sama dengan mereka setiap hari, selama lima bulan, antara Januari dan Juni 2015.

Hasilnya, para peneliti dapat memetakan jaringan persahabatan sekolah. Secara khusus mereka dapat melihat bagaimana anak-anak itu berkelompok, apakah kelompok tersebut sering berubah dan apakah enam orang yang disebutkan sebelumnya itu akan menyebutkan nama orang itu lagi?

Dalam jaringan ‘clique’ atau geng, para peneliti menemukan bahwa ada hubungan ‘yang lebih kuat’, di mana satu anak akan menyebutkan temannya yang juga akan menyebutkan namanya. Dalam jaringan yang lebih cair, hal ini jarang terjadi.

Pola yang sama juga muncul ketika membandingkan jenis kelamin yang berbeda.

Dr. Wenham mengatakan bahwa lebih banyak kelompok-kelompok kecil atau geng anak laki-laki, daripada kelompok anak perempuan.

“Jejaring sosial anak-anak perempuan lebih lebar, dan ini menyiratkan kelompok pertemanan yang lebih besar dan lebih longgar,” jelasnya.

Psikolog dan mantan dosen di Cambridge, Dr. Terri Apter, yang telah banyak menulis tentang remaja dan pertemanan, mengatakan bahwa persahabatan anak laki-laki lebih stabil, sementara anak perempuan lebih mudah berubah.

Anak perempuan mungkin merasa perlu untuk memiliki ‘teman cadangan’ jika sewaktu-waktu mereka ‘dikeluarkan’ dari kelompok pertemanan dan mereka lebih banyak mendapatkan tekanan jika bersahabat dengan orang-orang yang sebenarnya bukan teman mereka daripada anak laki-laki.

“Semua ini mengarah ke kelompok yang lebih besar, dan lebih mudah berubah,” ungkap Dr. Apter.

Dr. Adam Kucharski yang memimpin penelitian ini, dikutip dari BBC mengatakan, hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa anak laki-laki cenderung lebih kuat dalam berkelompok atau membuat geng, daripada anak perempuan ini mungkin berlawanan dengan stereotip selama ini bahwa anak yang populer tetap menjadi populer sepanjang waktu. Akan tetapi untuk perhitungan model matematika, informasi jenis ini benar-benar sangat berharga.

“Memahami percampuran sosial di usia tertentu sangat penting untuk mempelajari wabah penyakit menular seperti flu dan campak, khususnya di antara anak-anak,” pungkas Dr. Kucharski.

Penelitian ini dapat membantu memprediksi secara lebih akurat bagaimana penyebarannya--dan mungkin suatu hari nanti mengarah pada perubahan tentang bagaimana penyakit infeksi dapat dikendalikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR