Anak usia sekolah lebih rentan demam berdarah

Ilustrasi anak demam berdarah.
Ilustrasi anak demam berdarah.
© Aleksandra Suzi /shutterstock

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia. Diketahui, DBD disebabkan oleh virus dengue yang penyebarannya terjadi melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus.

DBD dapat membuat penderitanya mengalami suhu tubuh sangat tinggi disertai sakit kepala, nyeri sendi, otot, dan tulang, serta nyeri di bagian belakang mata.

Gejala DBD termasuk sakit perut parah, muntah berkepanjangan dan disertai darah, masalah pernapasan, mudah memar, mimisan, serta perdarahan pada gusi, kulit, dan organ bagian dalam.

Menurut data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan, yang dihimpun Lokadata Beritagar.id, jumlah penderita DBD di seluruh provinsi pada tahun 2014, secara nasional mencapai 98.862 jiwa. Paling banyak di Jawa Barat, paling sedikit di Maluku.

Sementara, berdasarkan persentase penderita menurut pulau tempat mereka tinggal, paling banyak di Pulau Jawa (52,47%), paling sedikit di Pulau Maluku sebesar 0,16%.

Anak sekolah rentan terkena DBD

Dinas Kesehatan DKI Jakarta memaparkan data bahwa anak berusia 7-12 tahun paling berisiko terkena DBD.

Menurut dr.Leonard Nainggolan Sp.PD-KPTI, anak usia sekolah berada di sekolah sejak pagi hingga siang atau sore hari, yang merupakan waktu aktif nyamuk aedes aegypti.

Leonard mengatakan, nyamuk jenis ini aktif pada pagi hingga siang hari dan puncaknya pada pukul 08.00-13.00 serta 15.00-17.00.

"Anak-anak duduk di kelas dari pagi sampai siang, kaki di bawah meja jadi sasaran empuk nyamuk," ujar Leonard dalam acara temu media bertajuk "Nyamuk Makin Bandel, Perkembangan dan Wabah yang Ditimbulkan" di Jakarta (9/10/2017), seperti dilansir Kompas.com.

Saat anak mengalami gejala DBD, segera bawa ke dokter. Namun, perlu diketahui bahwa tak semua yang menderita DBD harus dirawat inap di rumah sakit.

"Lihat ada kedaruratan atau tidak, yakni syok, kejang-kejang, kesadaran menurun, tidak bisa makan dan minum dengan baik. Hasil laboratorium menunjukkan ada kecenderungan hematokrin naik. Kalau ada tanda itu, pasien dirawat di rumah sakit," ujar Leonard kepada Tempo.co.

Menurut Leonard, bila jumlah trombosit di bawah 100.000, pasien perlu mendapat perawatan intens di rumah sakit, tetapi bila di atas angka tersebut, tak perlu rawat inap. Cukup diberikan obat penurun panas, pegal linu, dan diberi minum yang banyak.

Pencegahan DBD

Untuk mencegah DBD, cara yang bisa dilakukan antara lain menghindari gigitan nyamuk, terutama bila tinggal atau pergi ke daerah dengan wabah demam berdarah. Gunakan AC, jaring pada jendela maupun pintu masuk, serta kelambu pada kamar tidur.

Buatlah jadwal kegiatan di luar ruangan, sebaiknya hindari berada di luar pada waktu subuh, sore, dan senja, ketika nyamuk lebih banyak keluar.

Anda juga bisa menggunakan pakaian yang bisa melindungi kulit, seperti atasan lengan panjang, celana panjang, dan sepatu dengan kaus kaki.

Untuk perlindunga esktra, gunakan obat nyamuk semprot ruangan dan losion anti nyamuk pada kulit. Tak lupa untuk mengurangi habitat nyamuk dengan melakukan kegiatan 3M yaitu menguras, menutup, dan mengubur.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.