Ancaman di balik tidur malam kurang dari enam jam

Ilustrasi tidur malam
Ilustrasi tidur malam | LightField Studios /Shutterstock

Ragam kebiasaan dan gaya hidup di zaman modern, seperti bermain gadget (gawai) sebelum tidur, bekerja lembur sampai letih berlebihan, minum kopi, dan begadang, menyebabkan banyak penderita sulit tidur.

Tak hanya susah untuk terlelap, sebuah penelitian menemukan bahwa manusia modern tidur lebih sebentar daripada generasi pendahulunya.

“Pada tahun 1940, rata-rata waktu orang tidur delapan jam lebih sedikit setiap malam. Sekarang, pada era digital, orang tidur semakin sebentar, 6,7 sampai dengan 6,8 jam setiap hari,” ujar Matt Walker, seorang profesor neurosains dan psikolog di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, kepada BBC.

“Jadi, kondisinya sekarang orang-orang kehilangan waktu tidur dalam jumlah yang luar biasa hanya dalam kurun waktu 70 tahun. Kita telah berada pada tahap kehilangan 20 persen dari waktu tidur yang disarankan,” imbuhnya.

Orang-orang dewasa zaman sekarang, kata dia, banyak melakukan hal-hal yang mengakibatkan mata sulit mengantuk.

Kebiasaan tersebut mulai dari mengonsumsi kafein yang membuat mata terjaga dan alkohol yang membuat tidur tidak lelap, meskipun sudah banyak solusi yang ditawarkan, seperti, teknologi kasur yang lebih empuk, rumah bebas asap rokok, pendingin ruangan, dan makanan penenang pikiran, tetap saja masalah kurang tidur belum terselesaikan.

Dr Salil Pater dari CardioVascular Group, mengatakan, orang-orang modern, terutama di Amerika Serikat, mengalami kondisi kurang tidur yang akut.

Dia mengungkapkan bahwa konsekuensi kurang tidur tidak bisa dianggap sepele karena bisa berujung pada kematian.

“Kami melihat aritmia jantung, fibrilasi atrium, kondisi gagal jantung kongestif, dan masalah kesehatan lain, seperti, hipertensi, menjadi dampak dari seseorang yang tidur kurang dari enam jam,” urai Pater.

Dia memperkirakan bahwa setengah dari jumlah pasiennya yang mengalami gangguan jantung menderita insomnia, sleep apnea, dan beberapa gangguan tidur lainnya.

Setiap manusia, kata dia, memiliki kebutuhan tidur yang berbeda-beda.

Umumnya, para ahli menyarankan tidur tujuh sampai dengan delapan jam sehari. Namun, banyak orang yang tidur kurang dari waktu yang disarankan tersebut.

Studi menunjukkan, orang yang tidur kurang dari enam jam semalam berpotensi dua kali lebih tinggi terkena serangan jantung dan stroke ketimbang orang yang tidur delapan jam.

“Ada persepsi keliru, yakni kurang tidur bisa diganti dengan tidur lebih lama di akhir pekan. Cara kerja tubuh tak sesederhana itu,” imbuhnya.

Kekurangan tidur dalam satu hari, tegas dia, tidak bisa diperbaiki di hari lainnya.

“Kerusakan telah terjadi, tidak bisa diperbaiki,” ungkapnya.

Namun, tidak ada kata terlambat untuk memulai kebiasaan baik.

Kualitas tidur bisa diperbaiki dengan mulai berolahraga secara teratur, setidaknya 30 sampai dengan 40 menit sehari. Mengurangi kafein. Lalu, waspada dengan konsumsi makanan dan minuman saat malam hari karena bisa memengaruhi kualitas tidur.

Patel menganjurkan untuk melakukan meditasi atau menciptakan waktu rileksasi beberapa saat sebelum tidur.

“Jika Anda menggunakan perangkat elektronik sepanjang hari, seperti gawai dan laptop, jauhkan semua gawai dari diri Anda setidaknya satu jam sebelum waktu tidur. Sebab, sinar biru dari alat elektronik bisa membuat mata susah ngantuk atau membuat tidur terbangun-bangun,” urainya.

Selain itu, cobalah untuk mengurangi waktu tidur siang dan bangun lebih pagi. Tubuh memiliki alarm natural ketika sudah mencapai tahap lelah dan membutuhkan istirahat.

Jadi, jika Anda bangun lebih pagi, kemungkinan untuk tidur lebih cepat di malam hari meningkat dua kali lipat.

“Namun, apabila Anda memang harus tidur siang, saya merekomendasikan hanya 20 sampai dengan 30 menit maksimal, demi tubuh kembali segar,” jelasnya.

Terakhir, dia menganjurkan supaya lebih waspada mengenai masalah sulit tidur. Pasalnya, tak hanya Anda berpotensi mengalami gangguan jantung, sisi psikologis juga bisa mengalami interupsi negatif, seperti, depresi, tidak bisa berkonsentrasi, mudah marah, dan pada kasus terparah, halusinasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR