WHO: Vaksin DBD hanya untuk usia tertentu

Vaksin dengue yang sekarang beredar belum memberikan kekebalan yang efektif pada anak dibawah usia 9 tahun.
Vaksin dengue yang sekarang beredar belum memberikan kekebalan yang efektif pada anak dibawah usia 9 tahun.
© JPC-PROD /Shutterstock

Pada April 2016 Badan Kesehatan Dunia WHO menyetujui penggunaan vaksin demam berdarah (DBD) untuk pertama kalinya di dunia lewat program vaksinasi DBD negara tetangga, Filipina.

Selang lima bulan kemudian, divisi vaksin dari Sanofi, telah mengumumkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) telah menyetujui Dengvaxia, vaksin dengue tetravalen milik Sanofi Pasteur, untuk melindungi individu yang tinggal di daerah endemik terhadap keempat serotipe (jenis) dengue.

Benarkah semua orang membutuhkan vaksin DBD agar terhindar dari penyakit yang mematikan itu?

Menurut studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine yang dikutip oleh Liputan6.com, vaksinasi yang melibatkan anak usia 9 sampai 16 tahun dapat mengurangi risiko tertular demam berdarah hingga 65,6 persen. Hal ini juga dapat mencegah tingginya kasus demam berdarah yang dirawat di rumah sakit hingga 80 persen, dan kasus DBD berat sebesar 93 persen.

Turunnya angka risiko tertular demam berdarah yang cukup tinggi membuat banyak orang ingin mendapatkan vaksinasi Dengvaxia agar tidak tertular penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

Padahal, seperti dipaparkan dalam sebuah position paper yang diterbitkan dalam Weekly Epidemiological Record, WHO merekomendasikan agar negara-negara mempertimbangkan pengenalan Dengvaxia hanya pada wilayah yang secara epidemiologikal menunjukkan beban yang tinggi akibat penyakit demam berdarah.

WHO merekomendasikan penggunaan vaksin demam berdarah sebagai bagian dari strategi pengendalian demam berdarah secara menyeluruh. Strategi ini meliputi pengendalian nyamuk sebagai pembawa virus demam berdarah dan perawatan pasien demam berdarah dengan menerapkan praktik terbaik berdasarkan bukti. WHO juga tidak melupakan pengawasan terhadap semua orang yang kemungkinan bisa terkena penyakit ini.

Dengvaxia pertama kali terdaftar pada Desember 2015 dan sejak saat itu diizinkan beredar di beberapa negara. Menurut WHO, pengembangan vaksin demam berdarah yang aman dan efektif merupakan prioritas utama dan WHO mendukung usaha ini melalui panduan dan nasihat teknis yang mereka berikan.

Dalam rilis tentang keamanan vaksin global yang diterbitkan oleh WHO (berkas PDF) pada Juli 2016 disebutkan bahwa keamanan jangka pendek dari vaksin produksi Sanofi Pasteur bisa ditoleransi.

Meski demikian WHO memberi catatan khusus tentang keamanan anak-anak berumur 2-5 tahun yang terjangkit demam berdarah dalam tahun ketiga setelah vaksinasi. WHO juga merekomendasikan untuk memantau risiko demam berdarah parah pada orang-orang dari semua kelompok umur yang menunjukkan seronegatif sebelum imunisasi dilakukan. Perhatian juga harus diberikan kepada orang-orang yang memiliki imunitas rendah dan orang yang berumur lebih dari 45 tahun.

Pada April 2016, rekomendasi dari kelompok ahli WHO mengindikasikan siapa yang akan mendapat manfaat paling banyak dari Dengvaxia dan menerbitkan panduan pengawasan pascalisensi. Secara khusus para ahli menyebutkan bahwa penggunaan Dengvaxia hanya dilakukan di wilayah yang mengalami endemisitas tinggi. Wilayah ini diindikasikan mempunyai seroprevalensi sekitar 70 persen pada kelompok umur sasaran vaksinasi. Ibu hamil tidak dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi Dengvaxia.

Di Filipina, negara pertama yang memperkenalkan vaksinasi demam berdarah, vaksinasi menggunakan Dengvaxia dilakukan sebagai bagian dari program sekolah yang menyasar anak-anak kelas empat (berumur 9-10 tahun) pada 3 wilayah endemik tingkat tinggi.

Vaksinasi pertama di Filipina dilakukan pada April 2016. Sekitar 247.820 anak-anak diimunisasi sebagai bagian dari total 750.000 anak-anak yang disasar. Pada kelompok ini, kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI atau AEFI -- Adverse Event Following Immunization) dipantau lewat pengawasan pasif. Semua KIPI diinvestigasi dan diulas oleh sebuah dewan ahli. Sampai sejauh ini telah dilaporkan adanya 518 KIPI termasuk 21 yang serius dan 2 kematian. Data itu termasuk 2 kasus kegelisahan setelah imunisasi.

Para ahli dari WHO juga mencatat komitmen dari pemerintah Filipina, masyarakat dan penyedia layanan kesehatan dalam menerapkan program vaksinasi demam berdarah. Filipina disebut akan memberikan data yang bermanfaat bagi komunitas global dalam memerangi demam berdarah.

Laporan dari WHO juga menyebutkan perwakilan dari Sanofi Pasteur sebagai produsen Dengvaxia telah memberikan presentasi di depan para ahli WHO yang memaparkan percobaan Fase III yang dilakukan empat tahun setelah percobaan pemberian dosis pertama. Presentasi itu menyebutkan tidak ditemukan adanya peningkatan yang konsisten dalam risiko dirawat di rumah sakit atau demam berdarah parah pada anak-anak yang divaksinasi pada umur 9-16 tahun.

Meski demikian pada kelompok umur yang lebih muda yaitu 2-8 tahun terdapat peningkatan risiko yang tidak signifikan dan ternyata menurun setelah 3 tahun sejak pemberian dosis pertama. Dengvaxia tidak diizinkan bagi anak-anak yang berumur kurang dari 9 tahun.

Vaksin dengue yang sekarang beredar belum memberikan kekebalan yang efektif pada anak di bawah usia 9 tahun. Dibutuhkan riset lanjutan sehingga vaksin bisa menjangkau semua umur. Riset lanjutan juga diperlukan apakah seseorang membutuhkan vaksin ulangan (booster) untuk mempertahankan kadar antibodi yang memadai sampai dewasa. Vaksin dengue yang ada belum masuk program vaksinasi nasional, sehingga pemberian vaksin masih dilakukan secara mandiri karena harganya relatif mahal.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.