Australia bantu memberantas demam berdarah

Ilustrasi nyamuk demam berdarah
Ilustrasi nyamuk demam berdarah | khlungcenter /Shutterstock

Kasus demam berdarah di Indonesia masih terbilang tinggi. Berdasarkan data dari World Health Organization menunjukkan 75 persen dari kasus demam berdarah di dunia antara tahun 2004 dan 2010 berada di Asia Pasifik.

CNN Indonesia menyebutkan, Indonesia dilaporkan sebagai negara ke-2 dengan kasus demam berdarah terbesar di antara 30 negara endemis.

Dilansir dari Viva, pada tahun 2016 terdapat 15,2 juta kasus demam berdarah di Asia Pasifik, dari jumlah tersebut sebanyak 202.314 kasus dan 1.593 kematian dilaporkan terjadi di Indonesia.

Dalam media rilis dari Kementerian Kesehatan, Dr.Suwito, Kepala Subdit Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa selama tiga tahun terakhir tingkat kasus kejadian demam berdarah di Indonesia cenderung menurun.

Namun, kasus demam berdarah di Indonesia terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia dengan tingkat kejadian berkisar antara 26,10 per 100.000 penduduk di Indonesia di tahun 2017.

Dr. Suwito juga mengatakan bahwa terdapat empat daerah dengan kasus demam berdarah tertinggi di Indonesia, yaitu Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Bali.

Akan tetapi, ada harapan untuk memberantas demam berdarah di Indonesia.

Kompas memberitakan bahwa sebuah proyek pemberantasan demam berdarah di Indonesia sedang dilakukan dan memperlihatkan tanda-tanda awal keberhasilan.

Para ilmuwan dari program Eliminate Dengue Fever di Indonesia yang dipimpin oleh Australia meyakini bahwa virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti itu telah menemukan lawannya.

Warsito Tantowijoyo, seorang entomolog yang juga peneliti dalam program ini, mengatakan bahwa dia merasa yakin karena potensi proyek ini sangat besar.

Para ilmuwan telah menginfeksi sekitar 6 juta nyamuk di wilayah Yogyakarta dengan bakteri Wolbachia, dan menyebarkannya.

Teknologi yang dibawa dari Monash University di Melbourne ini menyebabkan nyamuk-nyamuk tidak dapat membawa dan menularkan demam berdarah. Sekarang, tim peneliti sedang mengumpulkan hasil percobaan ini.

Menurut Warsito, para peneliti menemukan bahwa belum ada laporan kasus penularan virus demam berdarah di daerah-daerah di mana bakteri Wolbachia terbentuk.

“Kami tidak bisa mengatakan bahwa itu akan menghilangkan semua kasus dengue,” kata Warsito.

“Tetapi kami berharap teknologi ini akan secara signifikan berkontribusi pada pengurangan kasus demam berdarah," imbuhnya.

Dikutip dari Australian Broadcasting Corporation (ABC), profesor Cameron Simmons, direktur Impact Assessment di World Mosquito Program, menjelaskan bahwa semua bukti mengarah ke kesuksesan.

Umumnya, pengendalian demam berdarah dilakukan dengan pengasapan yang hanya bertahan sementara. Sementara vaksin dianggap masih terlalu mahal, terutama di negara-negara berkembang yang tingkat penyebaran virus demam berdarah masih cukup tinggi.

Keuntungan bakteri Wolbachia ini adalah sekali saja bakteri ini disebarkan di tengah populasi nyamuk, maka bakteri itu akan menjangkiti populasi nyamuk Aedes Aegypti secara permanen.

Pada Rabu, 1 Agustus 2018, para peneliti dari Monash University mengumumkan keberhasilan uji coba mereka dalam laporan yang dipublikasikan pada Gates Open Research.

Mereka telah menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya teknologi biokontrol yang mereka gunakan dapat berhasil secara efektif di tingkat kota, dan menghentikan penularan dengue tingkat lokal.

Kota Townsville di Australia Utara merupakan kota tempat uji coba tersebut dilaksanakan dengan menyebarkan nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia.

Dilaporkan oleh Direktur World Mosquito Program, profesor Scott O’Neill, bahwa penelitian tersebut telah menegaskan, mereka berada dijalur yang benar untuk menyebarkan di kota besar.

“Kami merasa senang karena data menunjukkan tidak ada demam berdarah lokal selama empat musim hujan terakhir, sejak Wolbachia dilepaskan di daerah yang menjadi target,” jelas O'Neill.

“Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya ketika kasus demam berdarah di tingkat lokal telah menjadi masalah yang berkelanjutan," pungkasnya.

Dia menambahkan bahwa dengan biaya sekitar A$ 15 per orang, uji coba di kota Townsville menunjukkan, pendekatan ini dapat diluncurkan dengan cepat, efisien, dan murah untuk membantu menyediakan perlindungan berkelanjutan dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.

Diharapkan metode ini juga efektif melawan penyakit mematikan yang disebarkan oleh nyamuk, seperti zika dan chikungunya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR