PELECEHAN SEKSUAL

Bagaimana menghadapi pelecehan seksual

Ilustrasi seorang perempuan menampar pria yang melecehkannya.
Ilustrasi seorang perempuan menampar pria yang melecehkannya. | Real Deal Photo /Shutterstock

Seorang produser film terkenal dipecat dari perusahaannya sendiri, tiga hari setelah New York Times mempublikasikan laporan tentang pelecehan seksual yang dilakukannya selama kurang lebih tiga dekade.

Laporan itu menyebutkan bahwa Harvey Weinstein, yang juga pendiri The Weinstein Company, melakukan pelecehan seksual terhadap sedikitnya delapan orang perempuan.

Dua dekade lalu, aktris Ashley Judd, yang saat itu baru merintis karier, berharap panggilan Harvey di hotel Peninsula Beverly Hills adalah untuk membicarakan pekerjaan. Akan tetapi ternyata Harvey melecehkannya.

Kemudian pada tahun 2014, seorang pekerja temporer, Emily Nestor, mendapatkan perlakukan yang sama dengan janji peningkatan karier. Tahun berikutnya, Lauren O'Connor, yang bekerja di perusahaan Weinstein, mengatakan bahwa Harvey memaksa untuk memijatnya dalam keadaan telanjang.

Beberapa hari setelah pengakuan demi pengakuan muncul, beberapa aktris terkemuka Hollywood angkat bicara. Dilansir dari NYTimes.com, Gwyneth Paltrow, Angelina Jolie, Rosanna Arquette, Judith Godreche dan beberapa nama terkenal lainnya melaporkan pernah mendapatkan pelecehan yang menjurus ke tindak pemerkosaan di awal karier mereka.

"Saya masih muda, terikat kontrak, saya ketakutan," aku Gwyneth Paltrow dalam sebuah wawancara, mengungkapkan secara terbuka bahwa dia telah dilecehkan secara seksual oleh orang yang memicu karirnya, lalu membantunya merebut Academy Award.

Produser film ternama Harvey Weinstein tengah menghadapi sederatan tuduhan pelecehan seksual yang diduga dilakukannya dalam dua dekade terakhir.
Produser film ternama Harvey Weinstein tengah menghadapi sederatan tuduhan pelecehan seksual yang diduga dilakukannya dalam dua dekade terakhir. | Etienne Laurent /EPA-EFE/Pool

Kendati mengejutkan dan mengganggu, tuduhan ini bukanlah hal yang baru. Kita mengenal urutan-urutan ini dengan baik: predator yang sukses dan berkuasa menggunakan statusnya sebagai tameng untuk menutupi perbuatannya.

Weinstein kemudian bergabung dalam daftar panjang orang-orang terkenal dan berkuasa yang perilaku buasnya dibuka oleh sekelompok perempuan. Sebut saja Donald Trump, Bill Cosby, Bill Clinton, Roger Ailes, Bill O'Reilly, serta investor di Silicon Valley Dave McClure dan Chris Sacca.

Kasus-kasus pelecehan ini terbuka setelah para perempuan yang menjadi korban berani mengungkapkannya.

Dilansir dari Quartz, sebagian besar masyarakat, khususnya di Amerika Serikat, tidak percaya jika pengakuan itu hanya dilakukan oleh satu orang perempuan yang menjadi korban. Apalagi jika menyangkut kekuasaan dan pengaruh besar yang dimiliki lelaki tersebut.

Harvard Business Review melaporkan bahwa berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistics, 70 persen pengusaha memberikan pelatihan menghadapi pelecehan seksual, dan 98 persen perusahaan memiliki kebijakan pelecehan seksual.

Jumlah laporan pelecehan seksual yang diajukan kepada Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) Amerika Serikat pada tahun 2015 cukup signifikan, sebanyak 6.822 kasus. Dan terus meningkat, dari berbagai industri.

Menurut survei yang dilakukan pada tahun 2015, satu dari tiga perempuan dilecehkan secara seksual di tempat kerjanya. Dikutip dari Huffington Post, The American Association of University Women menggambarkan pelecehan seksual sebagai tindakan seksual yang tidak diinginkan, permintaan untuk melakukan hubungan seksual atau tindakan verbal dan fisik lain yang bersifat seksual.

Dari perempuan yang mengatakan mereka pernah mengalami pelecehan seksual, 29 persen melaporkan masalah tersebut, dan 71 persen tutup mulut. Dan jauh lebih sedikit orang yang melaporkan peristiwa pelecehan yang mereka saksikan.

Ada tiga faktor penyebab enggannya para korban pelecehan melaporkan peristiwa yang dialaminya.

Pertama, takut terjadi pembalasan dendam--tidak naik pangkat, dipecat, atau hal-hal lain yang tak diinginkan, kedua 'bystander effect' di mana mereka yang melihat pelecehan tersebut menganggap akan ada orang lain yang menolong korban, ketiga budaya maskulin yang menempatkan perempuan tidak sejajar dengan laki-laki.

Lalu apa yang harus dilakukan ketika mengalami pelecehan seksual?

Kendati sampai saat ini RUU Penghapusan Kekerasan Seksual masih dalam pembahasan di DPR, namun sanksi bagi pelaku pelecehan seksual yang disebut dengan perbuatan cabul, diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Dikutip dari Hukum Online, jika terbukti melakukan pelecehan seseorang dapat terancam hukuman penjara maksimal dua tahun delapan bulan atau denda Rp4.500.

Shanti Ayu dan Rika Rosvianti, dua perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual dan akhirnya membuat buku Panduan Pencegahan Pelecehan Seksual, mengatakan pada BBC.com bahwa ada beberapa pendekatan menghadapi pelecehan seksual, tergantung situasi dan tempat kejadian.

Namun, secara umum hal penting ketika mengalami pelecehan seksual adalah menerima fakta bahwa kita telah dilecehkan, dan merasa terguncang. Ketahuilah bahwa perasaan terguncang itu merupakan hal normal.

Meninggalkan tempat kejadian perkara, dan mencari tempat yang lebih ramai adalah langkah berikutnya, tambah Rika. Jika memiliki kemampuan melawan lakukanlah.

Beberapa orang menyarankan untuk membekali diri dengan botol semprot yang terbuat dari kaca, diisi dengan minyak angin yang paling panas untuk disemprotkan ke mata atau alat kelamin pelaku.

Rika menambahkan setiap orang, khususnya perempuan, harus mengingat otoritas tubuh; tubuh Anda adalah milik Anda. Sehingga jika disentuh tanpa izin, maka Anda berhak melaporkannya pada polisi.

Dengan semakin banyaknya perempuan yang bersatu untuk maju dan melaporkan, diharapkan sikap permisif masyarakat terhadap perilaku predator akan hilang. Dan kita sudah berada di tengah jalan menuju dunia di mana perempuan sama aman dan kuatnya dengan laki-laki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR