Bahaya makan daging anjing

Ilustrasi: Sepasang kaki anjing
Ilustrasi: Sepasang kaki anjing | Savitskaya Iryna /Shutterstock

Pada beberapa daerah di Indonesia, masih ada penduduk terbiasa mengonsumsi daging anjing. Manado, Karo, Bali, dan Solo adalah daerah dengan masyarakat yang gemar konsumsi daging anjing cukup tinggi.

The Bali Animal Welfare Association memperkirakan setiap tahun ada sekitar 70 ribu ekor anjing dibunuh dan dikonsumsi dagingnya di Bali.

Bahkan New York Times melaporkan tiga daerah, termasuk Jakarta adalah kota dengan tinggi permintaan daging anjing.

Menurut pakar kuliner Indonesia, William Wongso, tradisi konsumsi daging anjing dilakukan dengan terus terang di Sulawesi Utara seperti Minahasa dan Sumatera Utara.

"Kalau datang ke lapo-lapo (rumah makan khas Batak), bisa minta daging anjing dengan sebutan B1. Di Manado sendiri daging anjing disebut RW," tutur William Wongso saat kepada Detikfood.

RW adalah singkatan dari rintek wuuk, dalam bahasa Manado berarti bulu halus, sedangkan orang Batak menyebutnya B1 dari kata biang yang berarti anjing.

Daerah Solo dan Yogyakarta sate daging anjing disebut sate jamu. Ada juga tongseng daging anjing dengan sebutan sengsu.

Menurut Ahli Gizi Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya, Lathifah Nurlaela, kandungan gizi yang terdapat pada daging anjing, berdasarkan buku Tabel Komposisi Pangan Indonesia yang diterbitkan Persagi 2010, memiliki kandungan natrium tinggi.

"Anjing tinggi natrium jadi jika dikonsumsi terus menerus dalam jangka waktu lama bisa menjadi pemicu hipertensi atau tekanan darah tinggi,” kata Lathifah Nurlaela kepada Tirto.id.

Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi natrium tak lebih dari 2 miligram per hari.

Artinya, konsumsi daging anjing ditambah asupan natrium dari sumber makanan lain per hari yang tinggi bisa meningkatkan risiko hipertensi.

Kandungan natrium yang tinggi, disebut Galopong, dapat memicu hipertensi.

Hal senada dikatakan oleh Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi Kementerian Kesehatan, Galopong Sianturi, mengatakan bahwa daging anjing memiliki kandungan natrium yang tinggi dan bisa menjadi pembawa daging cacing pita.

Daging babi juga merupakan hewan pembawa cacing pita. Jenis cacing ini merupakan salah satu parasit buat tubuh manusia.

Cacing yang juga dikenal dengan nama Cestodes ini memiliki tubuh rata, menyerupai pita, dan beruas-ruas. Cacing pita dewasa dapat tumbuh hingga 25 meter.

Oleh karena itulah, mengapa mengonsumsi daging anjing disebut berbahaya untuk kesehatan, dinukil CNNIndonesia.com.

Hal lain yang merupakan bahaya terbesar dari daging anjing adalah penyebaran rabies kepada manusia.

Bahkan, di Hanoi, pemerintah setempat sudah mengeluarkan imbauan tidak mengonsumsi daging anjing. Pasalnya, awal tahun ini sudah tiga orang tewas karena rabies dan warga lain ikut terjangkit.

Dikutip dari laman onegreenplanet.org , di Filipina, sekitar 10.000 anjing dan 300 orang mati karena rabies setiap tahun. Filipina pernah mengaku, tidak memeriksa daging anjing yang dipasarkan.

Hal serupa juga terjadi di negara lain, seperti Tiongkok, sehingga ada kemungkinan infeksi parasit pada daging anjing seperti E. Coli dan salmonella, yang bisa membahayakan manusia.

Konsumsi daging anjing juga menimbulkan bahaya infeksi bakteri seperti antraks, brucellosis, hepatitis, dan leptospirosis yang dapat menyebar melalui daging anjing ke manusia.

Konsumsi daging anjing juga berpotensi pada infeksi akibat parasit seperti E. Coli 107 dan Salmonella.

Ada pula penyebaran trichinellosis, yakni parasit zoonosis yang dapat ditularkan dari daging anjing. Orang yang terjangkit bisa mengalami radang pada pembuluh darah, dan kelemahan otot yang parah. Jika tidak diobati, orang yang terjangkit trichinellosis bisa berujung pada kematian.

Perwakilan WHO di Vietnam, Jean-Marc Olive, memperingatkan bahwa makan daging anjing dapat meningkatkan 20 kali lipat pada risiko diare akut yang umumnya disebabkan oleh bakteri kolera.

Lalu, menurut Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang D.I. Yogyakarta, Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, MP, mengatakan, anjing tidak termasuk ternak potong.

Jadi, risiko yang terkandung di balik konsumsi daging anjing tidak hanya mengancam mereka yang mengonsumsinya, tetapi juga mereka yang memotongnya.

Penting diingat oleh konsumen, risiko keamanan pangan daging anjing tergantung pada proses pemotongan dan memasaknya, termasuk faktor higienitas serta sanitasinya.

“Namun yang perlu dipahami pada umumnya anjing-anjing tersebut tidak diketahui riwayat kesehatannya, sehingga ada peluang anjing yang sakit dan akan menulari anjing lain atau manusia yang kontak dengan hewan tersebut,” pungkasa Widagdo kepada ditulis Kompas.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR