Bahaya minum air rebusan pembalut

Pembalut
Pembalut | MasAnyanka /Shutterstock

Ada-ada saja kelakuan remaja zaman sekarang. Jadi, untuk mendapatkan sensasi nge-fly seperti habis minum alkohol atau mengonsumsi narkoba, sejumlah anak di Jawa Tengah, Jawa Barat dan sekitar Jakarta malah menenggak air rebusan pembalut.

Selain terlihat konyol dan aneh, minum air rebusan pembalut juga berbahaya karena terbuat dari bahan yang tidak layak dikonsumsi.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), pembalut terbuat dari sejumlah bahan dan senyawa kimia yang dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti iritasi hingga karsinogen.

"Komposisi pembalut itu sangat berbahaya. Dipakai saja berisiko menyebabkan iritasi, apalagi dikonsumsi. Pembalut mengandung klorin dan senyawa karsinogen yang bisa memicu kanker," kata Rosita Eva, peneliti YLKI.

Pada tahun 2015, YLKI melakukan penelitian terhadap tujuh produk pantyliner dan sembilan pembalut, semuanya mengandung klorin.

Dari keterangan Rosita, komposisi pembalut terdiri dari non woven, pulp, super absorbent polymer (SAP), polyethylene backsheet, silicon coated paper, holt melt adhesive, tissue pulp, dan sebagainya.

Kemudian, pada pembalut bekas, terdapat komponen yang mengandung mikroba dan dapat menyebabkan berbagai penyakit pada orang yang mengonsumsinya.

Namun, belum diketahui apakah air rebusan pembalut itu bisa menyebabkan adiksi atau efek nge-fly.

"Perlu ada konseling dan edukasi untuk anak-anak tersebut. Mengenai dampak dan penyakit yang bisa timbul," ujarnya.

Sedangkan menurut Ali Baziad, profesor dari RSIA Brawijaya dan UI, bahaya minum air rebusan pembalut bisa menimbulkan dampak pada kesehatan karena berbagai bahan kimia yang berbahaya.

Kata Ali, jika ada bahan kimia, bisa menyebabkan iritasi lambung dan mual, apalagi jika pembalut bekas pakai, ada banyak kuman dan risikoi infeksi berat.

Pendapat serupa dijelaskan oleh Budi Wiweko, dokter spesialis kandungan dan reproduksi perempuan.

"Bahaya sekali penularan penyakitnya, luar biasa karena darah bisa mengandung apa saja seperti virus, bakteri atau jamur," kata Budi.

Kandungan darah dalam pembalut bekas yang direbus pun dapat menularkan berbagai penyakit, seperti infeksi virus hepatitis dan HIV. Perpindahan darah juga bisa menularkan penyakit tuberkulosis, sifilis, dan malaria.

Budi pun menyatakan bahwa penyimpangan konsumsi rebusan air pembalut ini sangat konyol, tidak benar secara etika, moral, dan ilmu kesehatan.

Ahli kimia farmasi BNN, Mufti Djusnir, mengatakan, bila dilihat gambarannya, biasanya ini dilakukan oleh pencandu.

"Dari hasil penelitian di balai rehabilitasi BNN, kemudian dirumuskan oleh para peneliti, dokter, dan pskiater, menyatakan bahwa pencandu itu kadang sulit dapat narkoba karena mata rantai diputus oleh pemasok. Kemudian, caranya diubah dan mereka cari bentuk lain."

"Saya rasa lebih pada sugesti. Mereka para pecandu itu kan punya grup dan ada diskusi misalnya barang enggak ada lagi. Lalu, dia mau pakai apa lagi? Nah mungkin di grup itu ada yang mencetuskan dengan rebusan itu," kata Mufti.

"Sugesti seperti itu sangat kental untuk sesama pemakai narkoba. Buktinya, biasanya pakai ganja terus kurang on, pakai sabu yang lebih on, belakangan merasa kurang, lalu pakai pil. Karena hakikatnya, pencandu itu tingkatkan dosis dan ragamnya meningkat terus, sehingga saya rasa modus itu berkembang dari sana."

Mengapa anak-anak ini minum air rebusan pembalut?

Jefri Tambayong, Presidium Nasional Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN), menilai maraknya fenomena remaja mabuk dengan air rebusan pembalut dikarenakan sifat remaja yang sering coba-coba.

Indra Dwi Purnomo, psikolog Fakultas Unika Soegijapranata, mengatakan bahwa anak-anak yang minum air rebusan pembalut tersebut mengalami sensasi kepala ringan seperti terbang dan halusinasi.

"Mereka menuturkan fly, kepala ringan, dan halusinasi tapi seram. Mereka sulit menuturkan kengeriannya. Mereka coba dua kali, kemudian berhenti," kata Indra.

Untuk mendapatkan pembalut bekas, menurut hasil penelusuran Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, para remaja mendapatkannya di tempat-tempat pembuangan sampah. Namun, ada juga yang sudah beralih ke pembalut baru.

"Kebanyakan mereka itu anak-anak dan remaja jalanan yang biasa ngelem, ngomix dan ngoplo. Karena sekarang sabu mahal dan susah, lem pun juga harganya naik, dan pil koplo juga naik, mereka ini beralih ke pembalut. Awalnya pembalut bekas yang di tempat sampah, tapi sekarang ke yang baru karena bersih," kata Suprinarto, Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan bahwa bahwa pihak BNN akan mencoba menindaklanjuti kasus ini.

Menurutnya, pembalut mengandung bahan psikoaktif atau bahan lain, tetapi masih butuh pendalaman dan pemeriksaan laboratorium.

BACA JUGA