Bata ciptakan Red Label guna gaet pasar milenial

Salah satu gerai sepatu Bata di Thailand.
Salah satu gerai sepatu Bata di Thailand. | ltdedigos /Shutterstock

Bata merupakan salah satu jenama sepatu yang kesohor di Indonesia. Tak sedikit yang mengiranya--mungkin juga termasuk Anda--sebagai perusahaan asli Tanah Air, apalagi nyaris setiap lebaran tiba Bata melancarkan video promosinya di televisi.

Sebenarnya Bata adalah perusahaan yang didirikan 123 tahun lalu di Republik Ceko oleh Tomas Bata. Kini markas besar perusahaan tersebut terletak di Lausanne, sebuah kota di Swiss. Indonesia hanyalah satu dari 18 negara tempat Bata memproduksi jualan mereka.

Tahun ini Bata mulai melakukan beberapa ekspansi, yang pertama adalah dengan membuat lini baru, Bata Red Label.

"Bata Red Label dikembangkan oleh Bata bersama brand sepatu asal Amerika Utara yaitu Aldo. Secara bersama-sama kami mengkombinasikan kenyamanan dan fashion terbaru dengan harga yang terjangkau," ungkap Merri Sondang, Marketing Manager PT Sepatu Bata Indonesia, saat konferensi pers di Botani Square, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/3/2018), seperti dikutip Jawa Pos.

Nama Red Label pun dibuat tak asal pilih. Menurut Merri, nama tersebut merupakan representasi warna merah pada logo Bata yang yang telah dipergunakan selama kurang lebih 120 tahun lamanya serta menjadi saksi dari perjalanannya. Tak ayal warna ini pun melekat dalam benak masyarakat.

Bata Red Lebel dirancang di Amerika Utara, negara asal jenama Aldo, dan terinspirasi oleh gaya perkotaan New York & London.

Ada perbedaan yang cukup signifikan antara Bata dengan Red Label. Seperti dilansir Merdeka.com, Red Label akan membawa napas baru yang lebih modis dan kekinian bagi para pecinta mode lewat koleksi perdananya bertajuk "The Ultimate Collection".

Hal ini diwujudkan dalam ragam model sepatunya seperti selop, sepatu hak datar, loafer, sepatu hak pendek (kitten heels), dan sebagainya yang cocok untuk berbagai kebutuhan perempuan. Warna dan corak sepatu pun dibuat lebih berani, misalnya saja warna-warna keemasan yang elegan hingga motif flora nan manis.

Sedangkan untuk koleksi lelakinya, Bata Red Label menawarkan beberapa model sepatu yang maskulin serta multiguna seperti pantofel hingga kets.

"Koleksi ini, ditujukan untuk masyarakat yang suka tampil dan terlihat lebih muda. Tampil seksi dan nyaman dengan harga yang terjangkau merupakan salah satu tujuan utama dari Bata," jelas Merri.

"Setiap orang sepatutnya bisa mengekspresikan karakter mereka melalui penampilannya, persis seperti koleksi Red Label, yang menyuarakan kecantikan dan gaya terbaru."

Lini terbaru itu diakui memang diciptakan guna menggaet pasar generasi milenial yang gemar mencoba hal-hal baru. Meskipun tak selalu berada di ujung tombak tren mode dunia, namun Bata berharap Red Label dapat jadi media untuk menyapa generasi teranyar calon pecintanya.

Meski demikian, jenama yang telah hadir di Indonesia 80 tahun lamanya ini juga akan tetap mempertahankan para pelanggan setianya.

"Kita tetap akan ada loyal user, dan kita harap akan ada new user," imbuhnya.

Adapun koleksi terbaru Bata Red Label tersebut saat ini sudah resmi diluncurkan secara serentak di toko Bata di seluruh dunia dengan kisaran harga Rp300 ribu hingga Rp500 ribuan.

Rajeev Gopalakrishnan, President Bata of South East Asia, menambahkan bahwa hadirnya Bata Red Label diharapkan akan memperkuat penguasaan pasar di Indonesia.

Hingga akhir tahun ini Bata memiliki target pangsa pasar sebesar 10 persen di Indonesia. Untuk mencapai target tersebut Bata juga akan terus menambah gerai dengan menyiapkan dana US $3 juta (Rp41,3 miliar). Sedikitnya 25 gerai akan dibangun tahun ini dan 40 toko akan direnovasi dengan konsep baru.

Diakuinya pula, selama ini Bata di Indonesia dikenal sebagai brand lokal. Untuk mengubah citra tersebut, nantinya Bata juga akan diikuti nama negara di mana Bata dipasarkan, seperti di Italia, Swiss, Indonesia, Thailand dan Singapura.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR