KAIN TRADISIONAL

Batik gonggong khas Tanjung Pinang

Gedung Gonggong, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Indonesia.
Gedung Gonggong, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Indonesia. | Dwi Yulianto /Shutterstock

Laut dan segala isinya begitu dipuja masyarakat Tanjung Pinang. Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi di wilayah pesisir membuat mereka mengandalkan laut untuk hidup.

Ada satu makhluk laut yang mendapat tempat khusus di tengah masyarakat Tanjung Pinang. Namanya Laevistrombus turturella spesies siput laut ini dikenal masyarakat lokal sebagai gonggong.

Wujud hewan ini mirip siput pada umumnya. Tercatat, gonggong memiliki lima bentuk cangkang yang berbeda.

Gonggong juga dijadikan motif batik oleh masyarakat lokal. Penggagasnya seorang seniman asli Tanjung Pinang, Efiyar M. Amin.

Ide ini muncul karena Efiyar melihat banyak turis menyambangi Tanjung Pinang sebelum mereka melancong ke Gurindam dan Bintan. Pikirnya, batik gonggong bisa jadi cendera mata yang unik dan khas dari kota di tepi laut ini.

Dilansir Info Batik, Efiyar mulanya merintis batik gonggong pada 2010. Berawal dari pengaplikasian motif gonggong pada kain, membuat capnya, lalu belajar membatik gonggong.

Di atas kain, bentuk gonggong dimodifikasi sedemikian rupa menyerupai bunga serta ornamen lain. Jadi motifnya tak melulu hanya seperti siput.

Efiyar kemudian membuka toko "Selaras" untuk menjual batik gonggong. Selang sebulan, pada perhelatan Pekan Ekonomi Kreatif Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjung Pinang tahun 2010, Efiyar juga memperkenalkan batik gonggong.

Bersama sahabatnya, Onny, Efiyar membesarkan nama Batik Gonggong. Kini mereka memiliki toko Batik Gonggong di Jalan RH Fisabilillah, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

"Meski belum diwajibkan, tapi sudah banyak PNS (Kota Tanjungpinang) yang menggunakan batik gonggong sebagai seragam," ujar Anggi, salah satu pegawai di gerai Batik Gonggong.

Ide batik gonggong memang asli Tanjung Pinang. Namun, rupanya batik ini diproduksi di Pekalongan.

Kualitas air di Kepulauan Riau lah yang membuat Efiyar dan Oni terpaksa memproduksinya di luar kampung halaman mereka. Air di Tanjung Pinang mengandung bauksit atau biji aluminium.

Mereka pernah beberapa kali mencobanya. Namun, produksi gagal terus.

Akhirnya dipilihlah Pekalongan yang sudah berpengalaman memproduksi batik. Meski diproduksi di Pekalongan, menurut Anggi batik gonggong hanya boleh dijual di toko Batik Gonggong.

Bahkan, Efiyar sudah mengantongi hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM sejak Oktober 2011.

Ciri khas batik gonggong selain motif adalah warnanya. Kebanyakan mereka berwarna cerah. Ada merah, kuning, ungu, juga biru langit.

Ia menjelaskan, ada 35 variasi motif batik gonggong. Beberapa di antaranya gonggong julur kacang, gonggong beriring, kuntum kemuning, awan larat kuntum gonggong, ketam atau kepiting, dan pucuk rebung.

Soal harga, batik gonggong terbilang variatif mulai dari Rp180 ribu hingga Rp959 ribu. Seperti halnya batik lain, batik semi tulis tentu lebih mahal dari batik cap, apalagi print.

Toko Batik Gonggong juga menjual batik dalam bentuk pakaian jadi. Baju perempuan dibanderol paling mahal Rp350 ribu. Sementara kemeja laki-laki dijual Rp130 ribu sampai Rp190 ribu.

Selain batik, sejak dahulu gonggong juga dijadikan cendera mata. Cangkang hewan ini biasanya dijadikan gantungan kunci, atau diberi stik dan dijadikan hiasan layaknya bunga bertangkai.

Sudah sejak tahun '50-an gonggong juga mendapat tempat di meja makan penduduk lokal. Selain rasanya yang lezat, gonggong juga mudah diolah.

Begitu istimewanya gonggong, Pemerintah Kota Tanjung Pinang menjadikannya bentuk Gedung Gonggong atau Tugu Gonggong Legenda.

Berdiri megah di kawasan wisata Laman Boenda tepi laut, gedung ini berfungsi sebagai pusat informasi pariwisata juga tempat menampilkan kebudayaan lokal dari kuliner sampai pertunjukan.

BACA JUGA